Memasukkan Unsur Tionghoa ke Dalam Pakem
Penulis : Paul Himawan

 (foto:dok/SH)
JAKARTA - Tok tok tok tok tok. Surep toto pitonono, Suwergine daging, 
rephanenggih swasono tentrem, toto hanggayuh pitono luhur, bahagyo tentrem 
lamun hangesti luhuring agunan� ucap Dalang Ki Robbi Wignya Carita setiap 
membuka sebuah pagelaran wayang.

Ki Robbi bukanlah dalang biasa. Mengapa? Dia merupakan salah satu dalang 
peranakan Tionghoa.

Ayahnya adalah The Kie Tjwan dan ibunya Lim Pong Han. Kendati berdarah 
Tionghoa, sejak kecil Robbi telah jatuh cinta pada wayang. Bukan orang tuanya 
yang memperkenalkan ia dengan wayang, melainkan pembantunya. Waktu Robbi masih 
kecil, sang pembantu kerap mengajaknya menonton pagelaran wayang kulit.

Itulah ihwal kecintaan Robbi pada wayang kulit. Karena cinta, sekitar 15 tahun 
lalu, Ki Robbi yang bernama lengkap Robbi Santoso alias The Thin Thue ini 
memutuskan belajar mendalang. Ia bahkan rela hijrah dari Malang, Jawa Timur, ke 
Solo, Jawa Tengah, demi mencapai cita-citanya. Di kota ini, ia berguru kepada 
Darsono, Joko Rianto, dan sejumlah dalang beken lainnya.

Di sini saya belajar ontowocono, titi laras gending, tatakan pakeliran, sabet, 
dan lainnya. Sampai sekarang saya masih belajar,� ujarnya merendah, Kamis pekan 
lalu.

Dalam mendalang, Robbi cenderung meniru gaya almarhum Ki Nartosabdo, dalang 
wayang kulit legendaris asal Jawa Tengah. Kendati demikian, Robbi tetap punya 
ciri khas tersendiri. Di antaranya kemampuan dia menyelipkan kisah-kisah jenaka 
dalam bahasa China Hokian.

Misalnya saya bilang kalau makan nasi itu bahasa Chinanya jok fan, minum air 
hok sue. Kalau Anda ditanya makan nasi tapi enggak minum air itu bilang saja 
kesereten. Kayak gitu penonton sudah pada tertawa,� ucap Robbi yang lahir di 
Malang, 44 tahun lalu.

Robbi rajin mempromosikan wayang kulit di komunitas peranakan Tionghoa. Di 
Solo, dia senantiasa mengajak sahabatnya, baik yang tengah mendirikan pabrik, 
acara selamatan, kawinan, atau peringatan 1.000 hari kematian untuk menggelar 
acara wayang.

Menurut Robbi, wayang tetap penting bukan hanya sebagai strategi pembauran 
etnis Tionghoa dan Jawa, tapi cerita dalam wayang juga sangat relevan dengan 
perilaku manusia masa kini.

Sifat-sifat dan lakon wayang masih cocok dengan situasi sekarang. Ternyata 
masih ada manusia yang serakah, licik, semuanya tergambar di wayang. Teknologi 
boleh maju pesat, tetapi sifat manusia tetaplah sama,� katanya.

Tak hanya itu, ujar Robbi, wayang juga penting untuk melestarikan budaya. Saya 
prihatin kok kebudayaan Jawa yang adiluhung, ternyata sekarang makin 
tersingkirkan. Orang-orang Jawa bahasa Jawanya sudah mulai hilang semua. 
Padahal ciri suatu bangsa kan karena bahasanya. Dibilang Jawa kalau berbahasa 
Jawa,� ujar pria yang sehari-hari berprofesi sebagai pedagang onderdil sepeda 
motor di Solo ini.

Akulturasi

Peneliti wayang China-Jawa dari Universitas Indonesia, Dwi Woro Retno Mastuti 
menilai keterlibatan aktif peranakan China jadi dalang merupakan bentuk 
akulturasi dan memperkaya budaya Nusantara. Menurut Dwi, selain Robbi, dalang 
sepuh peranakan China yang juga unik adalah Widayat Djiang yang menambahkan 
unsur kungfu di dalam cerita wayangnya.

Ketika dikonfirmasi, Widayat Djiang alias Tjioe Bian Djiang mengaku mendapat 
inspirasi menambahkan unsur kungfu setiap kali mementaskan wayang. Saya 
mendalang sejak umur 12 sampai sekarang 72 tahun. Penemuannya itu baru 10 tahun 
lalu,� kata Widayat yang mengaku memasukkan jurus-jurus kungfu karena suka film 
kungfu, khususnya film Bruce Lee.

Di wayang saya buat koprol-koprol, jungkir balik mirip kungfu. Kita juga pakai 
drum seperti alat tabuhan ala Tionghoa. Jadi seolah-olah gerakannya seperti 
kungfu," kata Widayat.

Selain Robbi dan Widayat, dalang peranakan lainnya berasal dari Pemalang adalah 
Mangun Yuwono alias Tiongho Go Kim Yang. Darah Tionghoa Mangun (31) berasal 
dari ibunya, Yusaini alias Jo Sin Cu. Dari garis keturunan ayah, Mangun bisa 
dibilang memang penjaga tradisi wayang. Dari kakek moyang sampai ayah saya, 
semuanya dalang. Saya generasi ke-10,� ucapnya bangga.

Dalam mendalang Mangun mengaku menyesuaikan dengan ritme warga Pantai Utara 
(Pantura). Dalam pertunjukan saya tidak pernah bertele-tele karena khas orang 
Pantura itu blak-blakan, banyak gerak dan sabet,� tutur Mangun yang saat 
belajar dalang di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo, pernah 
diceletuki seorang guru, Lha iki Cino opo biso ndalang (ini kan China, apa bisa 
ndalang).� Gara-gara celetukan itu Mangun merasa tertantang dan ingin 
membuktikan keraguan sang guru.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI), Ekotjipto mengaku mendukung 
perkembangan dalang peranakan. Banyak etnis Tionghoa yang cinta budaya Jawa, 
bahkan kalau di wayang orang ada banyak orang Tionghoa yang mendalami masalah 
tari,� katanya.

Wayang hanyalah salah satu sarana kesenian yang ditempuh etnis Tionghoa untuk 
berakulturasi dengan budaya lokal. Kesenian lain yang menjadi sarana akulturasi 
warga keturunan adalah musik gambang kromong dan drama lenong yang amat populer 
di kalangan orang China Benteng di Jakarta pinggiran.

"Musik gambang kromong yang bertempo lambat amat disukai orang-orang tua karena 
tidak banyak menguras tenaga ketika ditarikan. Liriknya pun cenderung ringan 
dan jenaka sehingga sering mengundang senyum," kata Ikke Sarkim (40), putri 
bungsu legenda lenong di daerah Serpong, Sarkim (Liem Kim Siong), yang kini 
meneruskan usaha ayahnya yang berdiri sejak 1962.

http://www.sinarharapan.co.id/content/read/memasukkan-unsur-tionghoa-ke-dalam-pakem/

10.03.2012 09:47
[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke