Refl: Sudah termiskin, guru-gurunya pun berkompetensi paling buruk. Biasanya di 
masyarakat miskin  banyak hal buruk dan terburuk, jadi  apakah ada kemungkinan 
untuk bisa menjadi tidak buruk atau baik? Satu hal yang hebat ialah Papua, 
sekalipun termiskin menurut sensus BPS 2010, tetapi guru-gurunya tak kalah 
dengan di Jawa. Apakah angka 41,1 sengaja dibuat oleh panasnya pergolakan 
politik di Papua supaya kelihatan bagus?


http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=37473

MINGGU, 17 Maret 2012 | 


Maluku Paling Terburuk Kompetensi Guru


JAKARTA, AE.- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) akhirnya 
mengumumkan hasil akhir uji kompetensi awal (UKA) guru tahun 2012 yang telah 
dilaksanakan pada bulan Februari 2012 lalu. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh menyebutkan, 
propinsi yang memiliki nilai rata-rata UKA tertinggi adalah Daerah Istimewa 
Yogyakarta (DIY) dengan nilai rata-rata 50,1.

Setelah DIY, propinsi yang masuk 10 besar adalah propinsi DKI Jakarta (49,2), 
Bali (48,9), Jawa Timur (47,1), Jawa Tengah (45,2), Jawa Barat (44,0), 
Kepulauan Riau (43,8), Sumatera Barat (42,7), Papua (41,1) dan Banten (41,1).

Sedangkan untuk nilai tertinggi nasional adalah 97,0 dan nilai terendah adalah 
1,0. Sehingga, rata-rata nasional nilai UKA 2012 ini adalah 42,25 dengan 
standar deviasi 12,72.

‘’Dengan berat hati, saya harus menyebutkan bahwa 5 propinsi yang memperoleh 
nilai rata-rata terendah, antara lain Maluku (34,5), Maluku Utara (34,8), 
Kalimantan Barat (35,40), Kalimantan Tengah (35,5), dan Jambi (35,7),’’ungkap 
Nuh saat memaparkan pemaparan hasil UKA 2012 di Gedung Kemdikbud, Jakarta, 
Jumat (16/3) sore.

Nuh menyebutkan, di dalam pelaksanaan UKA 2012 ini, ada sebanyak 285.884 orang 
guru yang mendaftar. Akan tetapi, yang mengikuti ujian hanya 281.016 orang 
guru. Sedangkan sisanya 4.868 orang guru tidak mengikuti ujian. “Mungkin yang 
tidak mengikuti ujian ini karena alasan sakit atau lainnya,” imbuhnya.

Jika dilihat dari kualifikasi pendidikannya, mantan Rektor ITS ini menerangkan 
ada sekitar 211.858 orang guru lulusan S1, 34.614 orang guru lulusan D2, 19.039 
orang guru lulusan SMA, dan sisa lainnya lulusan SMP, SMA, D1, D3, S2 dan S3. 
“Dari ratusan ribu guru yang mengikuti uji kompetensi yang lulusan S3 hanya 9 
orang. Tapi mungkin saja jurusan S3 yang diambil bukan jurusan pendidikan,” 
imbuhnya.

Dengan adanya hasil tersebut, Nuh menyimpulkan bahwa distribusi nilai UKA 2012 
perlu dirancang secara khusus untuk pendidikan dan latihan guru dalam rangka 
sertifikasi serta perencanaan yang matang. “Yakni, mulai dari metodelogi dan 
materi agar kompetensi guru setelah mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi 
Guru (PLPG) memperoleh hasil yang signifikan,” tukasnya.



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke