Surat Penarikan Penyidik KPK Aneh
Khaerudin | Robert Adhi Ksp

JAKARTA, KOMPAS.com Surat penarikan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi oleh 
Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia dinilai aneh.

Baru pertama kali ini ada surat penarikan penyidik yang langsung disertai nama 
penggantinya. Ini janggal sekali.

Dokumen surat penarikan yang ditemukan Kompas menyebut, surat dari Mabes Polri 
tersebut tak hanya menyebut nama dua penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi yang 
hendak ditarik, tetapi juga menyertakan nama penggantinya.

Seorang pejabat di KPK yang dikonfirmasi Kompas membenarkan kejanggalan 
tersebut. Dia mengatakan, dalam sejarahnya, surat penarikan penyidik oleh Mabes 
Polri tak pernah secara langsung menyebutkan nama penyidik penggantinya.

"Baru pertama kali ini ada, surat penarikan penyidik yang langsung disertai 
nama penggantinya. Ini janggal sekali," kata pejabat tersebut.

Kejanggalan lain, penyidik pengganti dalam surat tersebut merupakan perwira 
yang sekarang ini menjabat sebagai Wakil Kasatreskrim Polrestabes Makassar. 
Diduga perwira pengganti ini merupakan pesanan Ketua KPK Abraham Samad.

Abraham sebelumnya sempat diduga berada di balik pergantian tiga penyidik KPK 
yang tengah menangani kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank 
Indonesia (DGS BI). Bahkan, ketiganya dikabarkan mengantongi sejumlah petunjuk 
yang bisa mengarahkan pihak bank yang menjadi sponsor suap dalam kasus ini. 
Namun Abraham membantah bahwa dirinya berada di balik penarikan ketiga penyidik 
KPK.

Menurut Abraham, justru dia yang mendorong agar Miranda Swaray Gultom 
ditetapkan sebagai tersangka. Terkait ketiga penyidik yang hendak ditarik ini 
memiliki petunjuk tentang siapa sponsor suap dalam kasus ini, Abraham 
mengatakan, KPK mendorong agar siapa pun yang berada di belakang kasus suap DGS 
BI ini diusut.

Kirim email ke