Sumbangsih SIAUW GIOK TJHAN dan BAPERKI”

Di Eropah, yang saya tahu, seperti umpamanya di Belanda atau di Perancis para 
etnis Tionghoa tidak ada yang ribut-ribut mempersoalkan konsep asimiliasai atau 
integrasi. Bilapun gejala dua konsep itu terasa ada, yang pasti tidak dibikin 
ribut, tidak diperdebatkan apalagi sampai puluhan tahun seperti di Indonesia.

Bagi mereka (etnis Tionghoa) asimilasai atau integrasi adalah sebuah pilihan 
pribadi, pilihan bebas dan tak seorangpun yang boleh mengusiknya termasuk 
penguasa negara di mana mereka telah menjadi warga negaranya. Ada yang matanya 
masih sipit berat yang mungkin masih dari generasi kedua tapi yang lahir di 
satu negara Eropah, sudah begitu lancar menguasai bahasa yang mereka gunakan 
tak bisa dibedakan lagi dengan "penduduk asli" dan semua perilakunya sudah sama 
sekali "Barat", sudah tidak tahu apa itu angpau atau ba cang dan sudah tidak 
lagi mewarisi tradisi nenek moyang asal negerinya, singkat kata sudah 100 
persen "Belanda"atau "Perancis" meskipuh mata  dan mukanya masih 100 persen 
muka nenek moyang mereka.

Dan tidak seorangpun yang berani mengejek atau terpikir untuk mengejek mereka 
sebagai"ke-Belanda-Belandaan"atau "Ke-Perancis-Perancisan". Semua mereka adalah 
Belanda atau Perancis bila telah menjadi warga negaranya meskipun dalam otak 
masing-masing terserah saja mau cenderung ke budaya yang mana  dan tidak satu 
orangpun yang bisa memaksa:"kamu harus pilih "integrasi" atau asimilasi"dong! 
Go to hell with "integrasi" and "integrasi"saya tidak tahu binatang apa itu!

Tapi di Indonesia, soal itu saja harus mencari dan membikin seorang pahlawan 
besar dan setiap orang,   setiap detik harus menjawab pertanyaan: Yu, 
intergrasi atau asimilasi? Integrasi kek, asimilasi kek, silahkan saja, enggak 
perlu ribut-rubut, saling cela, saling maki, saling hina, debat puluhan tahun, 
itu-itu lagi yang dicomot dan tidak perlu ada pahlawan. suharto saja yang ingin 
dianggkat jadi pahlawan nasional oleh kalangannya  sendiri sudah bukan main 
sulitnya. Sekarang mau bikin "pahlawan integrasi"... shit!
ASAHAN.

----- Original Message -----
  From: ChanCT
  To: Salim Said Group
  Sent: Friday, March 23, 2012 4:05 AM
  Subject: Buku: Sumbangsih SIAUW GIOK TJHAN dan BAPERKI�


  BUKU:

  Sumbangsih SIAUW GIOK TJHAN dan BAPERKI�


  Untuk memperingati Hari Ulang Tahun Siauw Giok Tjhan ke-98, 23 Maret 2012 
hari ini, saya mengorbitkan buku SUMBANGSIH SIAUW GIOK TJHAN dan BAPERKI dalam 
SEJARAH INDONESIA”, setelah selesai diedit kembali oleh Siauw Tiong Djin.

  Sebenarnya, buku Sumbangsih SGT & BAPERKI” yang sudah terbit Mei 2000 yl. 
adalah kumpulan tulisan dan kata sambutan saat acara Bedah Buku Siauw Giok 
Tjhan, Perjuangan seorang Patriot Membangun nasion Indonesia dan Masyarakat 
Bhineka Tunggal Ika� yang ditulis oleh Siauw Tiong Djin, pada 28 Agustus 1999, 
di Jakarta.

  Jadi, BUKU tersebut merupakan kumpulan aneka-ragam pandangan-pandangan pakar 
dan pemerhati nation building, khususnya masalah Tionghoa di Indonesia dalam 
menilai perjuangan Siauw Giok Tjhan dan BAPERKI, organisasi yang dipimpinnya. 
Bagaimana pakar-pakar itu melihat sejarah lampau, khususnya menilai perjuangan 
Siauw Giok Tjhan yang di“HILANG”kan dalam sejarah Indonesia selama lebih 32 
tahun masa ORBA, Soeharto berkuasa. Sementara Prof. Zhou Nanjing dari Univ. 
Beijing, seorang akademikus ahli masalah Tionghoa di kawasan Asia Tenggara, 
dengan tandas menyatakan “Siauw Giok Tjhan-isme telah KANDAS”. Konsep pemecahan 
masalah Tionghoa di Indonesia yang diperjuangkan Siauw dan BAPERKI dengan 
bersandar pada Soekarno dan PKI telah kandas setelah Soeharto berkuasa, 
terbukti satu konsep yang salah dan tidak mungkin tercapai.



  Namun Xu Ren, mantan Konsul Jenderal Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta dan 
mantan Komisaris Bank Of China yang juga mengenal pribadi Siauw, menentang 
keras pendapat Prof. Zhou. Xu Ren dengan 0ptimis menyatakan dengan tegas, 
konsep “INTEGRASI” yang diperjuangkan Siauw bukan saja yang benar dan masih 
relevan sampai sekarang ini, juga mempunyai hari depan yang cemerlang. Begitu 
juga kalau kita perhatikan tulisan Arief Budiman, sekalipun Arief Budiman tidak 
pernah mengenal Siauw pribadi, bahkan dimasa muda tahun 60-an berdiri diposisi 
LPKB yang jelas bertentangan dengan konsept-politik Siauw, justru setelah 
melihat konsep "ASIMILASI" diterima dan dipraktekkan selama ORBA berkuasa, bisa 
menyadari konsep "ASIMILASI" yang diperjuangkan semula salah dan sebaliknya 
membenarkan konsep "INTEGRASI" yang diperjuangkan Siauw, dan, … menganggap 
Siauw seorang yang pantas dikagumi.

  BUKU ini juga sengaja kembali mengetengahkan Pidato Bung Karno dihadapan 
Kongres ke-8 BAPERKI, 14 Maret 1963, yang jelas bermakna "NATION BUILDING" bagi 
bangsa Indonesia yang majemuk. Menjabarkan bagaimana seharusnya kita bersikap 
dalam menghadapi kemajemukan yang ada dalam hidup bermasyarakat. Hidup dengan 
menerima segala perbedaan yang ada dan tidak berusaha keras menghilangkan 
perbedaan dengan prinsip saling menerima dan menghormati keberadaan seseorang 
yang berbeda dengan dirinya sendiri. Pidato Bung Karno ini, juga merestui 
pandangan yang diperjuangkan Siauw dan BAPERKI, hendaknya Tionghoa di Indonesia 
diperlakukan sebagai salah satu SUKU dari tubuh BANGSA INDONESIA yanga tidak 
terpisahkan.  Posisi Tionghoa di Indonesia harus disamakan dan tidak beda 
dengan suku-suku lain yang ada di Indonesia. Wujud nyata dari lambang BHINEKA 
TUNGGAL IKA  yang seharusnya dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat majemuk 
seperti di Indonesia.

  Hanya saja sayang, sudah tiada kawan yang masih menyimpan foto-foto saat 
Bedah Buku dilangsungkan tahun 1999 itu, beberapa tokoh yang aktive berperan 
ketika itu, seperti Oey Hai Djoen dan Joesoef Isak sudah tiada, masing-masing 
tenggelam dalam kesibukan kerja tidak memperhatikan penyimpalan data setelah 
BUKU diterbitkan. Jadi saya kali ini hanya bisa menampilkan foto-foto lama 
sekenanya yang ada saja sebagai tambahan kenangan pada Siauw dan kegiatan 
dimasa hidupnya.

  Mudah-mudahan saja dengan kembali mengorbitkan BUKU tersebut, bisa membantu 
dan bermanfaat bagi banyak kawan, khususnya generasi muda yang tidak pernah 
mendengar nama Siauw apalagi mengetahui peran perjuangan dalam sejarah bangsa 
Indonesia. Melalui BUKU tersebut, merenungkan bagaimana pakar-pakar menilai 
perjuangan Siauw Giok Tjhan untuk lebih lanjut bersikap dan menentukan peran 
dirinya sebagai salah satu elemen bangsa didalam masyarakat majemuk ini.

  Bagi yang ingin mengunduh Buku: Sumbangsih Siauw Giok Tjhan dan BAPERKI� ini 
silahkan klik web. GELORA45: http://home.netvigator.com/~sadar/

  Salam,

  ChanCT


Kirim email ke