Refl: Michael Jackson juga mengalami hal perubahan wana kulit hitam menjadi 
putih, tetapi tidak dikucilkan.  Ini keterangan singkat tentang perubahan warna 
kulit manusia: “Human skin color is primarily due to the presence of melanin in 
the skin. Skin color ranges from almost black to white with a pinkish tinge due 
to blood vessels underneath.[1] Variation in natural skin color is mainly due 
to genetics, although the evolutionary causes are not completely certain” ( 
http://en.wikipedia.org/wiki/Human_skin_color ).  Dua wanita ini dikucilkan 
karena penduduk masih tetap berada dalam pembodohkan sekalipun diteriak merdeka 
merdeka selama 67 tahun, tetapi bukan merdeka dari keterbelangan. Merdeka, 
merdeka untuk kaum penguasa tipu rakyat.

http://health.kompas.com/read/2012/03/24/13402917/Berubah.Warna.Kulit.Dua.Perempuan.Ini.Dikucilkan

Berubah Warna Kulit, Dua Perempuan Ini Dikucilkan
Taufiqurrahman | Asep Candra | Sabtu, 24 Maret 2012 | 13:40 WIB 
Share:
 
Taufiqurrahman/K17-11
Apsani (kanan) warna kulitnya berubah total hanya tersisa di bawah matanya. 
Sedangkan kulit Maisudah (kiri) baru di bagian kaki, tangan dan bibirya yang 
berubah warna.


PAMEKASAN, KOMPAS.com-  Apsani (55) warga Dusun Lembana Timur, Desa Kaduara 
Barat, Kecamatan Larangan dan Maisudah (45) warga Desa Kertagena Laok, 
Kecamatan Kadur, Pamekasan, Jawa Timur, dikucilkan oleh warga lainnya akibat 
penyakit kulit yang dideritanya.

Seluruh kulit Apsani kini berubah menjadi putih dan warna kulit asli yang 
tersisa hanya di bagian wajah di bawah kedua matanya. Sementara perubahan yang 
dialami Maisudah baru tampak di bagian kaki. Tangan dan bibirnya yang sudah 
mengalami perubahan warna.

Apsani mengaku sudah menderita penyakit itu sudah 10 tahun, sedangkan Maisudah 
baru delapan bulan. Gejala penyakit yang dialami kedua perempuan itu awalnya 
sama, yakni demam tinggi, sekujur tubuh sakit dan kulitnya seperti ada 
bintik-bintik putih yang mau menetas.

"Waktu itu demam yang saya alami sampai tiga hari dan saya tidak bangun dari 
tempat tidur," cerita Apsani, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (23/03/2012).

Setelah tiga hari, baru keluar bintik-bintik putih yang jumlahnya hanya bisa 
dihitung jari tangan disertai dengan rasa gatal yang berkepanjangan. Lama 
kelamaan, bintik-bintik putih itu terus menyebar menggerogoti warna kulit kedua 
perempuan yang tidak ada hubungan darah itu.

"Saya dibawa periksa ke dokter sama anak saya. Namun kata dokter waktu itu 
hanya infeksi kulit biasa," kata Apsani.

Obat yang diberi dokter tidak membawa perubahan berarti buat Apsani, sehingga 
ia memilih tidak berobat dan membiarkan penyakit itu terus menggerogoti seluruh 
tubuhnya hingga seluruh warna kulitnya berubah total selama 10 tahun. 

Sedangkan Maisudah mengalami nasib lebih memilukan. Ia sama sekali tidak bisa 
berobat ke dokter karena sudah 3 tahun ditinggal suami yang menikah dengan 
perempuan lain. 

"Tidak ada uang untuk berobat. Hidup saya hanya menjadi kuli tani yang dibayar 
Rp. 8.000, setengah hari. Saya ditinggal suami karena penyakit ini," katanya 
lirih.

Bagi kedua perempuan ini, penyakitnya itu sudah menjadi beban hidupnya. Sebab 
masyarakat enggan untuk berinteraksi langsung dengannya. 

"Masyarakat merasa jijik jika berkumpul dengan saya. Sehingga ketika ada acara 
apa-apa, saya diasingkan dan tidak pernah diajak berkumpul," ungkap Maisudah.

Keduanya sadar jika masyarakat tidak menghendakinya. Sehingga keduanya memilih 
hanya berdiam di rumahnya. "Biarlah masyarakat yang tidak mau dengan saya tidak 
usah berkumpul. Sebab penyakit ini bukan kehendak saya," ujar Maisudah.

Namun, kedua perempuan ini masih memiliki harapan untuk sembuh dari 
penyakitnya. Terutama Maisudah yang kondisinya masih belum parah. "Setiap orang 
pasti ingin sembuh dari penyakit. Namun jika tidak punya biaya, harus ke mana 
saya mencarinya," terangnya.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke