Bukan Mafia Berkeley 
Thursday, 15 March 2012 02:20 

Di mata ekonom Faisal Basri, Widjojo merupakan peletak dasar perencanaan 
pembangunan nasional yang modern. "Dia sangat peduli pada faktor penduduk dan 
pengendalian jumlah penduduk," katanya. Dalam pandangan Widjojo, pertumbuhan 
penduduk yang terlalu tinggi dan tidak terkendali akan membuat pembangunan 
suatu negara semakin sulit, terutama pemenuhan kebutuhan sandang, pangan dan 
papan. Untuk itu perlu pengaturan pertumbuhan penduduk melalui Keluarga 
Berencana.

Tuduhan dari sejumlah kalangan bahwa beliau dengan Mafia Berkeley bentukannya 
telah mengusung agenda neo-liberal dari Barat, justru tidak disepakati oleh 
Faisal. Studi Widjojo pada kependudukan, migrasi, dan perencanaan yang 
meningkatkan peran negara untuk mengintervensi melalui kebijakan dan perangkat 
kelembagaan ekonomi, menurut Faisal justru berlawanan dengan paham kebebasan 
pasar yang dianut kaum neo-liberal.

Hal itu tergambar pada terbentuknya Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk 
mengintervensi harga beras di pasar, berdirinya pabrik pupuk dan semen oleh 
negara, penentuan suku bunga, Repelita, dan keluarnya sejumlah Inpres untuk 
sejumlah sektor. Kritik Faisal pada pemikiran Widjojo terletak pada 
pandangannya bahwa demokrasi akan muncul setelah masyarakat sejahtera. ?Namun 
setelah Pelita III justru mulai kacau karena keluarga Soeharto mulai 
mengacak-acak perencanaan itu,? ungkap Faisal.

Kepedulian pada kependudukan nampak nyata pada usaha Widjojo membidani lahirnya 
Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bersama dengan 
Nathanael Iskandar, Kartono Gunawan, dan Kartomo Wirosoehardjo. Selain sebagai 
sahabat karib dan sekaligus mentor, Kartomo memandang Widjojo sebagai seorang 
ilmuwan yang ingin mengabdikan dirinya pada negara. ?Beliau tidak suka politik, 
tapi ingin mengabdikan dirinya untuk kepentingan negara," ujar Kartomo. (GAG)
http://www.gatra.com/terpopuler/46-ekonomi/10065-bukan-mafia-berkeley


Arsitek Tanpa Pamrih 

Widjojo Nitisastro hadir di tengah urgensi pembenahan perekonomian yang 
carut-marut. Memahami dinamika riil di lapangan, pro kepada rakyat, dan 
mementingkan pembangunan menjadi ciri pemikirannya. Semua itu masih relevan 
hingga kini. --- 

Ketika Indonesia diterpa masalah ekonomi yang dilematis, peka, dan berdampak 
politis berupa kenaikan bahan bakar minyak, saat itulah Widjojo Nitisastro, 
sang arsitek ekonomi Orde Baru pergi menghadap Sang Khalik. 

Peletak fondasi ekonomi nasional pasca keruntuhan Orde Lama itu menghembuskan 
nafas terakhir Jumat dini hari pekan lalu di RS Cipto Mangunkusumo. 
Kepergiannya sontak mengajak banyak orang untuk mengingat jasa, peran, dan 
pengabdiannya ketika bangsa dan negara menghadapi persoalan ekonomi yang berat 
dan akut.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, usai melayat almarhum di Gedung Bappenas, 
menilai Widjojo sebagai sosok perancang pembangunan yang andal dan berkelas 
dunia. "Beliau memiliki andil besar bagi pembangunan bangsa," katanya.

Sebagai ekonom yang menggunakan pendekatan demografi untuk ilmu ekonomi, 
Widjojo pun dekat dengan sejumlah perwira di Angkatan Darat, termasuk Soeharto. 
"Bersama tim ekonomi bentukannya, mereka sering disebut Mafia Berkeley oleh 
para pengkritiknya, namun Widjojo lebih bersikap seperti halnya peribahasa - 
anjing menggongong, kafilah berlalu,? kata pria berusia 84 tahun itu kepada 
Taufiqurrohman dari GATRA.

Meski mengaku dekat secara pribadi, Kartomo mengaku ada perbedaan pemikiran 
antara dirinya dengan Widjojo, yang lebih menganut aliran teori pembangunan. 
Keberadaan Widjojo dalam lingkungan kekuasaan membuat ide, pemikiran dan 
paradigmanya menjadi lebih mudah diimplementasikan dalam sebuah kebijakan 
pemerintahan pada rentang waktu yang relatif panjang. "Pemikirannya tidak lepas 
dari ekonom dunia asal Estonia, Ragnar Nurske, yang menekankan peningkatan 
investasi untuk menggenjot pembangunan ekonomi," ujar Kartomo.

Pembangunan yang kontinu melalui program pelita hingga tahap kelima merupakan 
implementasi dari pemikiran Widjojo. Untuk menopang pembangunan berkelanjutan 
dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan stabilitas baik ekonomi dan 
politik-keamanan. Paradigma ini cocok pada sosok kepemimpinan Soeharto. Namun, 
model tersebut, menurut Kartomo tidak bisa diteruskan karena konstelasi 
kekuatan dunia berubah setelah bubarnya Uni Soviet.

Zaman sudah berubah. Kini orientasi dan kondisi ekonomi global sudah berbeda 
jauh sehingga menurut Kartomo ada pemikiran Widjojo yang sulit untuk 
diterapkan. Separo lebih dunia berpaham liberal. "Paham liberalisme meminta 
peran dan intervensi negara seminimal mungkin, jadi sangat bertolak belakang 
dengan pemikiran Widjojo," katanya. Apalagi kini DPR juga menjadi lebih 
menentukan dalam kebijakan-kebijakan ekonomi maupun politik. 

Dalam hal kebijakan ekonomi, harus diakui Widjojo adalah sosok yang mau 
memahami dinamika riil di lapangan. Hal itu nampak dari kesediaan beliau untuk 
mendengarkan saran-saran dari kalangan industri dan dunia usaha sepanjang hal 
itu benar dan tepat.

Di mata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan dan Kepala Bappenas, Armida 
Salsiah Alisjahbana, sosok Widjojo Nitisastro, apabila dilukiskan, bisa 
dikatakan dalam lima kesan. Pertama, ia adalah sosok konsisten dalam pemikiran, 
dan detil dalam konteks perencanaan pembangunan. Kedua, sosok pekerja keras 
yang tidak kenal lelah. "Tanpa pamrih, benar-benar mencurahkan tenaga dan 
pikirannya," ungkap Armida.

Ketiga, sosok teladan di dalam pemimpin suatu tim yang sangat efektif. Keempat, 
sosok yang sangat low profile dan banyak bekerja sehingga tanpa bicara pun 
orang tahu bagaimana gagasan dan hasil kerjanya. "Dan kelima, beliau sosok yang 
memiliki jiwa pendidik yang bagus hingga akhir hayat," katanya kepada Muhammad 
Gufron Hidayat dari GATRA, Selasa lalu.

Sumbangsihnya untuk negara dan bangsa bisa dilihat di 15 tahun pertama Orba. 
Sistematisasi, perincian, dan pengisian perencanaan pembangunan dalam 
tahapan-tahapan pembangunan hingga implementasinya meletakkan fondasi yang kuat 
untuk sebuah negara berpenduduk sekitar 160 juta, yang secara ekonomi telah 
lumpuh. Setelah itu Widjojo berada di balik layar sebagai penasehat ekonomi 
presiden.

Meksipun kondisi Indonesia dan global telah berubah, namun menurut Armida 
pemikiran Widjojo mengenai fokus-fokus pembangunan pada ketahanan pangan, 
energi, infrastruktur, pembangunan daerah, dan sistematika dari perencanaan 
secara bertahap masih relevan. "Perhatian pada program peningkatan sumber daya 
manusia dan pemerataan pembangunan tidak bisa diabaikan begitu saja," ungkapnya.

Meskipun sudah tidak mengajar aktif, namun perhatian Widjojo kepada mahasiswa 
sangatlah besar. "Cara beliau mengirim fotokopi artikel di Far Eastern Economic 
Review melalui amplop coklat kepada kami untuk dibahas adalah sangat khas," 
ungkap Armida. Kesan lain yang selalu diingat Armida adalah analisis, prediksi 
dan pemikiran Widjojo yang selalu kontemporer.

Saat diskusi soal perekonomian dan pandangan mengenai pengembangan SDM di 
kampus, Widjojo sempat mengingatkan bahwa krisis ekonomi di Thailand bisa 
terjadi di Indonesia. "Itu saya tidak akan lupa. Lalu, pada bulan September 
Indonesia mengalami krisis," kenangnya.

Menurut Armida, untuk mengenal jejak pemikiran Widjojo, generasi selanjutnya 
dapat membaca dua buku yang sangat bernilai. Pertama buku berjudul "Pengalaman 
Pembangunan Indonesia" yang terbit tahun 2010. Isinya kumpulan tulisan dan 
uraian Widjojo. Kedua, buku yang ditulis oleh 55 sahabatnya mengenai sosok 
Widjojo yang ditulis antara tahun 1996-1997 untuk mengenang 70 tahun usianya. 
Uniknya, buku itu baru bisa terbit hampir sepuluh tahun kemudian.

G.A. Guritno, Bernadetta Febriana, dan Birny Birdieni

(Laporan Utama Majalah GATRA edisi 18/19, terbit Kamis tanggal 15 Maret 2012) 

Membentuk Dream Team Penyelamat Ekonomi Indonesia 
  
Wakil Presiden Boediono menyebut, kepergian almarhum Widjojo sebagai kehilangan 
seorang tauladan. "Lebih dari sebagai ekonom dan pejabat tinggi, beliau adalah 
seorang yang seluruh hidupnya dibentuk oleh kerja yang intens, 
bersungguh-sungguh, dan ikhlas. Dengan itulah beliau mengabdi untuk tanah 
airnya," kata Boediono saat memberikan sambutan ketika menjadi inspektur 
upacara pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Boediono lantas menerawang sejenak ke pertengahan tahun 1960-an. Pada waktu 
itu, produksi barang kebutuhan masyarakat nyaris terhenti total, anggaran 
belanja negara mengalami defisit karena tersedot oleh ekonomi perang', 
barang-barang menghilang, infrastruktur rusak, perdagangan hampir tidak 
berjalan, dan inflasi melambung hingga 650%. Kondisi itu membuat rakyat 
menderita.

Dalam kondisi rakyat yang masih digelayuti trauma politik pasca aksi makar yang 
gagal dari Partai Komunis Indonesia, Widjojo muncul. Ekonom muda, yang 
cemerlang sejak mahasiswa, itu berhasil mengumpulkan sejumlah teknokrat dalam 
sebuah 'dream team'. Boediono menilai tim tersebut layak dicatat sebagai tim 
ekonomi yang paling solid dalam sejarah kebijakan ekonomi Indonesia.

Sebuah kalimat dari Boediono patut dicamkan oleh siapapun karena menjadi ironi 
bagi penyelenggaraan negeri, yang kini dipenuhi praktek korupsi, kolusi dan 
nepotisme ini. "Namun demikian, satu hal jelas, dalam keadaan itu, dan dalam 
posisinya yang berpengaruh itu, Widjojo Nitisastro tidak pernah mementingkan 
dirinya sendiri, tidak akan pernah memperkaya dirinya sendiri". (GAG)

Visit 
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://lowongannet.blogspot.com
http://iklanbarisbisnis.blogspot.com/
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
http://tionghoanet.blogspot.com
http://tionghoanets.blogspot.com

Kirim email ke