UUFF --UUFF....  ... Ada baiknya jika masyarkat bangsa ini tidak selalu MAU 
DAN  AGAR BERHENTI MEMBELI " AYAM DAN KELINCI DIDALAM KARUNG TERTUTUP 
------- 

Note : Tentang Tokoh Ekonom Prof.Widjojo Nitisastro mungkin saja beliau itu
seorang Ekonom yg jujur yg Kehidupan berada  dan  Karriernya memuncak
ditengah -
              tengah Jaman ORBA disaat  Memuncakknya Kekuasan Autokrasi
Soeharto. (Mungkin suatu Kebetulan dan suatu hal yg sulit dihindarkan
baginya sebagai 
              seorang Pakar yang cenderung mengabdikan pada keahliannya dlm
bidang ekonomi - Dan memakmurkan Negaranya ketimbang Memakmurkan Kekuasaan
              Pribadinya Soeharto danKeluarganya serta para Kawula Dan abdi
dalam sang Raja Ken Arok tsb...
              Tetapi lain pula halnya dng Para Ekonom dan para TOKOH ORBA
selanjutnya yg membonceng Nama Beliau dng Memebersihkan nama Beliau dari The
              Barkley Mafia- hanya agar memberi kesan dimata umum , bhw
Merekapun adalah setaraf dan sama Mutunya dng Prof.Widjojo Nitisastro ......
              
 
mrc
 

 
-------Original Message-------
 
From: Marco
Date: 26.3.2012 18:17:56
To: [email protected];  !B.DORPI P.;  Al Faqir Ilmi; 
[email protected];  B.DORPI P. UBANTU;  Barisan Merahputih;  ChanCT; 
Charles Christano;  [email protected];  Hsin Hui Lin;  K.djie;  Luluk
Uliyah;  Lusi D.;  Milis Pers;  [email protected]; 
[email protected];  Roeslan;  Simpati MMS; 
[email protected];  Sunny
Subject: Re: [inti-net] Bukan Mafia Berkeley - Arsitek Tanpa Pamrih -
Membentuk Dream Team Penyelamat Ekonomi Indonesia
 
UUFF --UUFF....  ... Ada baiknya jika masyarkat bangsa ini tidak selalu MAU 
DAN  AGAR BERHENTI MEMBELI " AYAM DAN KELINCI DIDALAM KARUNG TERTUTUP 
------- 
 
mrc.-
 
 
-------Original Message-------
 
From: [email protected]
Date: 26.3.2012 10:16:57
To: [email protected]
Subject: [inti-net] Bukan Mafia Berkeley - Arsitek Tanpa Pamrih - Membentuk
Dream Team Penyelamat Ekonomi Indonesia
 
  
Bukan Mafia Berkeley 
Thursday, 15 March 2012 02:20 

Di mata ekonom Faisal Basri, Widjojo merupakan peletak dasar perencanaan
pembangunan nasional yang modern. "Dia sangat peduli pada faktor penduduk
dan pengendalian jumlah penduduk," katanya. Dalam pandangan Widjojo,
pertumbuhan penduduk yang terlalu tinggi dan tidak terkendali akan membuat
pembangunan suatu negara semakin sulit, terutama pemenuhan kebutuhan sandang
 pangan dan papan. Untuk itu perlu pengaturan pertumbuhan penduduk melalui
Keluarga Berencana.

Tuduhan dari sejumlah kalangan bahwa beliau dengan Mafia Berkeley
bentukannya telah mengusung agenda neo-liberal dari Barat, justru tidak
disepakati oleh Faisal. Studi Widjojo pada kependudukan, migrasi, dan
perencanaan yang meningkatkan peran negara untuk mengintervensi melalui
kebijakan dan perangkat kelembagaan ekonomi, menurut Faisal justru
berlawanan dengan paham kebebasan pasar yang dianut kaum neo-liberal.

Hal itu tergambar pada terbentuknya Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk
mengintervensi harga beras di pasar, berdirinya pabrik pupuk dan semen oleh
negara, penentuan suku bunga, Repelita, dan keluarnya sejumlah Inpres untuk
sejumlah sektor. Kritik Faisal pada pemikiran Widjojo terletak pada
pandangannya bahwa demokrasi akan muncul setelah masyarakat sejahtera.
?Namun setelah Pelita III justru mulai kacau karena keluarga Soeharto mulai
mengacak-acak perencanaan itu,? ungkap Faisal.

Kepedulian pada kependudukan nampak nyata pada usaha Widjojo membidani
lahirnya Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia bersama
dengan Nathanael Iskandar, Kartono Gunawan, dan Kartomo Wirosoehardjo.
Selain sebagai sahabat karib dan sekaligus mentor, Kartomo memandang Widjojo
sebagai seorang ilmuwan yang ingin mengabdikan dirinya pada negara. ?Beliau
tidak suka politik, tapi ingin mengabdikan dirinya untuk kepentingan negara,
 ujar Kartomo. (GAG)
http://www.gatra.com/terpopuler/46-ekonomi/10065-bukan-mafia-berkeley

Arsitek Tanpa Pamrih 

Widjojo Nitisastro hadir di tengah urgensi pembenahan perekonomian yang
carut-marut. Memahami dinamika riil di lapangan, pro kepada rakyat, dan
mementingkan pembangunan menjadi ciri pemikirannya. Semua itu masih relevan
hingga kini. --- 

Ketika Indonesia diterpa masalah ekonomi yang dilematis, peka, dan berdampak
politis berupa kenaikan bahan bakar minyak, saat itulah Widjojo Nitisastro,
sang arsitek ekonomi Orde Baru pergi menghadap Sang Khalik. 

Peletak fondasi ekonomi nasional pasca keruntuhan Orde Lama itu
menghembuskan nafas terakhir Jumat dini hari pekan lalu di RS Cipto
Mangunkusumo. Kepergiannya sontak mengajak banyak orang untuk mengingat jasa
 peran, dan pengabdiannya ketika bangsa dan negara menghadapi persoalan
ekonomi yang berat dan akut.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, usai melayat almarhum di Gedung Bappenas,
menilai Widjojo sebagai sosok perancang pembangunan yang andal dan berkelas
dunia. "Beliau memiliki andil besar bagi pembangunan bangsa," katanya.

Sebagai ekonom yang menggunakan pendekatan demografi untuk ilmu ekonomi,
Widjojo pun dekat dengan sejumlah perwira di Angkatan Darat, termasuk
Soeharto. "Bersama tim ekonomi bentukannya, mereka sering disebut Mafia
Berkeley oleh para pengkritiknya, namun Widjojo lebih bersikap seperti
halnya peribahasa - anjing menggongong, kafilah berlalu,? kata pria berusia
84 tahun itu kepada Taufiqurrohman dari GATRA.

Meski mengaku dekat secara pribadi, Kartomo mengaku ada perbedaan pemikiran
antara dirinya dengan Widjojo, yang lebih menganut aliran teori pembangunan.
Keberadaan Widjojo dalam lingkungan kekuasaan membuat ide, pemikiran dan
paradigmanya menjadi lebih mudah diimplementasikan dalam sebuah kebijakan
pemerintahan pada rentang waktu yang relatif panjang. "Pemikirannya tidak
lepas dari ekonom dunia asal Estonia, Ragnar Nurske, yang menekankan
peningkatan investasi untuk menggenjot pembangunan ekonomi," ujar Kartomo.

Pembangunan yang kontinu melalui program pelita hingga tahap kelima
merupakan implementasi dari pemikiran Widjojo. Untuk menopang pembangunan
berkelanjutan dibutuhkan kepemimpinan yang kuat dan stabilitas baik ekonomi
dan politik-keamanan. Paradigma ini cocok pada sosok kepemimpinan Soeharto.
Namun, model tersebut, menurut Kartomo tidak bisa diteruskan karena
konstelasi kekuatan dunia berubah setelah bubarnya Uni Soviet.

Zaman sudah berubah. Kini orientasi dan kondisi ekonomi global sudah berbeda
jauh sehingga menurut Kartomo ada pemikiran Widjojo yang sulit untuk
diterapkan. Separo lebih dunia berpaham liberal. "Paham liberalisme meminta
peran dan intervensi negara seminimal mungkin, jadi sangat bertolak belakang
dengan pemikiran Widjojo," katanya. Apalagi kini DPR juga menjadi lebih
menentukan dalam kebijakan-kebijakan ekonomi maupun politik. 

Dalam hal kebijakan ekonomi, harus diakui Widjojo adalah sosok yang mau
memahami dinamika riil di lapangan. Hal itu nampak dari kesediaan beliau
untuk mendengarkan saran-saran dari kalangan industri dan dunia usaha
sepanjang hal itu benar dan tepat.

Di mata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan dan Kepala Bappenas, Armida
Salsiah Alisjahbana, sosok Widjojo Nitisastro, apabila dilukiskan, bisa
dikatakan dalam lima kesan. Pertama, ia adalah sosok konsisten dalam
pemikiran, dan detil dalam konteks perencanaan pembangunan. Kedua, sosok
pekerja keras yang tidak kenal lelah. "Tanpa pamrih, benar-benar mencurahkan
tenaga dan pikirannya," ungkap Armida.

Ketiga, sosok teladan di dalam pemimpin suatu tim yang sangat efektif.
Keempat, sosok yang sangat low profile dan banyak bekerja sehingga tanpa
bicara pun orang tahu bagaimana gagasan dan hasil kerjanya. "Dan kelima,
beliau sosok yang memiliki jiwa pendidik yang bagus hingga akhir hayat,"
katanya kepada Muhammad Gufron Hidayat dari GATRA, Selasa lalu.

Sumbangsihnya untuk negara dan bangsa bisa dilihat di 15 tahun pertama Orba.
Sistematisasi, perincian, dan pengisian perencanaan pembangunan dalam
tahapan-tahapan pembangunan hingga implementasinya meletakkan fondasi yang
kuat untuk sebuah negara berpenduduk sekitar 160 juta, yang secara ekonomi
telah lumpuh. Setelah itu Widjojo berada di balik layar sebagai penasehat
ekonomi presiden.

Meksipun kondisi Indonesia dan global telah berubah, namun menurut Armida
pemikiran Widjojo mengenai fokus-fokus pembangunan pada ketahanan pangan,
energi, infrastruktur, pembangunan daerah, dan sistematika dari perencanaan
secara bertahap masih relevan. "Perhatian pada program peningkatan sumber
daya manusia dan pemerataan pembangunan tidak bisa diabaikan begitu saja,"
ungkapnya.

Meskipun sudah tidak mengajar aktif, namun perhatian Widjojo kepada
mahasiswa sangatlah besar. "Cara beliau mengirim fotokopi artikel di Far
Eastern Economic Review melalui amplop coklat kepada kami untuk dibahas
adalah sangat khas," ungkap Armida. Kesan lain yang selalu diingat Armida
adalah analisis, prediksi dan pemikiran Widjojo yang selalu kontemporer.

Saat diskusi soal perekonomian dan pandangan mengenai pengembangan SDM di
kampus, Widjojo sempat mengingatkan bahwa krisis ekonomi di Thailand bisa
terjadi di Indonesia. "Itu saya tidak akan lupa. Lalu, pada bulan September
Indonesia mengalami krisis," kenangnya.

Menurut Armida, untuk mengenal jejak pemikiran Widjojo, generasi selanjutnya
dapat membaca dua buku yang sangat bernilai. Pertama buku berjudul 
Pengalaman Pembangunan Indonesia" yang terbit tahun 2010. Isinya kumpulan
tulisan dan uraian Widjojo. Kedua, buku yang ditulis oleh 55 sahabatnya
mengenai sosok Widjojo yang ditulis antara tahun 1996-1997 untuk mengenang
70 tahun usianya. Uniknya, buku itu baru bisa terbit hampir sepuluh tahun
kemudian.

G.A. Guritno, Bernadetta Febriana, dan Birny Birdieni

(Laporan Utama Majalah GATRA edisi 18/19, terbit Kamis tanggal 15 Maret
2012) 

Membentuk Dream Team Penyelamat Ekonomi Indonesia 

Wakil Presiden Boediono menyebut, kepergian almarhum Widjojo sebagai
kehilangan seorang tauladan. "Lebih dari sebagai ekonom dan pejabat tinggi,
beliau adalah seorang yang seluruh hidupnya dibentuk oleh kerja yang intens,
bersungguh-sungguh, dan ikhlas. Dengan itulah beliau mengabdi untuk tanah
airnya," kata Boediono saat memberikan sambutan ketika menjadi inspektur
upacara pemakaman di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Boediono lantas menerawang sejenak ke pertengahan tahun 1960-an. Pada waktu
itu, produksi barang kebutuhan masyarakat nyaris terhenti total, anggaran
belanja negara mengalami defisit karena tersedot oleh ekonomi perang',
barang-barang menghilang, infrastruktur rusak, perdagangan hampir tidak
berjalan, dan inflasi melambung hingga 650%. Kondisi itu membuat rakyat
menderita.

Dalam kondisi rakyat yang masih digelayuti trauma politik pasca aksi makar
yang gagal dari Partai Komunis Indonesia, Widjojo muncul. Ekonom muda, yang
cemerlang sejak mahasiswa, itu berhasil mengumpulkan sejumlah teknokrat
dalam sebuah 'dream team'. Boediono menilai tim tersebut layak dicatat
sebagai tim ekonomi yang paling solid dalam sejarah kebijakan ekonomi
Indonesia.

Sebuah kalimat dari Boediono patut dicamkan oleh siapapun karena menjadi
ironi bagi penyelenggaraan negeri, yang kini dipenuhi praktek korupsi,
kolusi dan nepotisme ini. "Namun demikian, satu hal jelas, dalam keadaan itu
 dan dalam posisinya yang berpengaruh itu, Widjojo Nitisastro tidak pernah
mementingkan dirinya sendiri, tidak akan pernah memperkaya dirinya sendiri".
(GAG)

Visit 
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://lowongannet.blogspot.com
http://iklanbarisbisnis.blogspot.com/
http://groups.yahoo.com/group/inti-net
http://tionghoanet.blogspot.com
http://tionghoanets.blogspot.com


 
 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke