Demonstrasi yang Kebablasan
http://www.tempo.co/read/opiniKT/2012/03/29/1799/Demonstrasi-yang-Kebablasan

Rabu, 28 Maret 2012 | 05:35 WIB


Demonstrasi akhir-akhir ini sudah berlebihan, bahkan cenderung anarkistis. 
Setiap orang memang berhak memprotes rencana pengurangan subsidi bahan bakar 
minyak. Tapi demonstrasi yang diikuti kekerasan justru membuat masyarakat 
terganggu. 


Di Jakarta atau Makassar--dua kota dengan demonstrasi terpanas 
kemarin--sebenarnya polisi tidak melarang unjuk rasa. Antisipasi yang dilakukan 
kepolisian tidak untuk menghalangi demonstrasi mereka, tapi sekadar membatasi 
tempat aksi. Keliru bila keberadaan petugas ini disambut dengan lemparan batu, 
bahkan bom molotov. Cara ini hanya memancing kericuhan. 


Keinginan polisi mencegah demonstrasi di dekat Istana Kepresidenan juga bisa 
dipahami. Undang-Undang tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat jelas 
melarang unjuk rasa di dekat Istana dan obyek vital. Di kebanyakan 
negara--bahkan yang sangat demokratis sekalipun--demonstrasi dilarang mendekati 
tempat tinggal kepala negara dan kepala pemerintahan. 


Sesuai dengan undang-undang, rencana demonstrasi, termasuk tempat dan rute, 
serta koordinatornya harus diberitahukan kepada kepolisian. Para demonstran 
juga diwajibkan mematuhi sederet aturan, antara lain dilarang membawa benda 
yang membahayakan keselamatan umum. Tentu membawa bom molotov dan batu tidak 
diperbolehkan. Pelanggaran terhadap aturan seperti inilah yang membuat 
kepolisian mempunyai alasan untuk membubarkan demonstrasi, bahkan menangkap 
para pelaku unjuk rasa.


Para demonstran selama ini cenderung mendobrak barikade polisi. Ini justru 
membuat kita bertanya-tanya apa tujuan mereka berunjuk rasa. Demonstrasi, 
bagaimanapun, hanyalah salah satu cara berkomunikasi, salah satu alat untuk 
mengungkapkan keinginan atau pendapat. Tujuan kegiatan ini tentu agar unek-unek 
mereka terdengar lebih keras--dibanding jika disampaikan lewat cara lain, 
seperti tulisan di media massa. Namun demonstrasi tidak boleh berubah menjadi 
upaya memaksakan kehendak. 


Yang mereka protes--pengurangan subsidi bensin--sebenarnya bukanlah absolute 
evil, bukan sesuatu yang sudah pasti keburukannya. Bahkan, dalam pandangan 
orang yang berakal sehat, pengurangan subsidi ini adalah sesuatu yang harus 
dilakukan pemerintah. Harga minyak dunia yang terus melambung membuat negara 
kita kewalahan. Kalau subsidi BBM tak dipangkas, justru akan membebani anggaran 
negara, dan ujung-ujungnya membuat perekonomian nasional terseok-seok. 


Kurang tepat bila para pengunjuk rasa beranggapan membela kepentingan rakyat 
banyak. Selama ini yang menikmati subsidi BBM--tahun lalu mencapai Rp 164,7 
triliun--justru golongan menengah ke atas. Masyarakat termiskin tak 
menikmatinya lantaran tidak sanggup membeli sepeda motor, apalagi mobil. Tentu 
pengurangan subsidi yang membuat harga BBM naik akan memicu kenaikan harga 
bahan kebutuhan sehari-hari. Itu sebabnya, penduduk yang paling miskin perlu 
diberi kompensasi, hal yang kini sedang dibahas oleh pemerintah dan Dewan 
Perwakilan Rakyat.


Unjuk rasa memang hak setiap orang. Tapi kita berhak pula menilai apakah 
tuntutan mereka masuk akal. Orang juga akan kesal bila demonstrasi yang mereka 
gelar justru merugikan masyarakat. l



http://www.gatra.com/nasional-cp/1-nasional/10687-fpr-kecam-tindakan-polisi-terhadap-demonstran-bbm

FPR Kecam Tindakan Polisi terhadap Demonstran BBM 
Thursday, 29 March 2012 06:06 
Jakarta - Front Perjuangan Rakyat (FPR) mengecam tindakan aparat kepolisian 
yang melakukan kekerasan terhadap demonstran penolak kenaikan harga bahan bakar 
minyak (BBM).

“Mengecam kekerasan aparat terhadap massa aksi menentang rencana kenaikan harga 
BBM,” tegas Koordinator FPR, Rudy HB Daman di Jakarta, Rabu (28/3).

Selain itu, FPR juga mendesak aparat menghentikan tindak kekerasan terhadap 
demonstran penentang rencana pemerintahan SBY tersebut.

Menurutnya, pemerintahan SBY melakukan sejumlah manuver unjuk kekuatan 
Polri-TNI untuk merespon aksi penolakan penaikan BBM dan menakuti rakyat yang 
justru memanaskan situasi.

Kebijakan berlebihan menangani demostran itu, menunjukan betapa reaktifnya SBY 
melalui aparat keamanan menghadapi rakyat Indonesia.

"Reaksi berlebihan dan kekerasan yang digunakan aparat terlihat dalam 
penanganan aksi unjuk rasa di Jakarta maupun di Makassar," ujarnya.

Dikatakan, janji pemerintah akan menangani aksi secara damai, hanyalah sebatas 
slogan kosong, karena faktanya; represifitas, intimidasi, hingga provokasi 
tetap dijalankan aparat keamanan. Sejumlah peserta unjuk rasa, terbukti 
mengalami luka-luka, seperti luka akibat tembakan gas air mata, tembakan peluru 
karet, dan pemukulan.

Selain itu, FPR tetap menolak kenaikan harga BBM dan TDL, menuntut dinaikkannya 
upah, turunkan harga kebutuhan pokok, dan menolak dominasi kapitalis monopoli 
internasional atas penguasaan minyak dan gas, tambang dan mineral, serta 
kekayaan alam lainnya milik rakyat Indonesia. [IS]





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke