Mahasiswa Indonesia di China 10.957 Orang
Farida Denura| Senin, - 09:53:34 WIB
http://www.shnews.co/duniakampus/detile-529-mahasiswa-indonesia-di-china-10957-orang.html

JAKARTA-Jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di China 
meningkat setiap tahunnya dan sekarang sudah mencapai 10.957 orang.

Jumlah mahasiswa Indonesia itu menempati peringkat tujuh setelah Rusia, 
sedangkan terbanyak pertama hingga ketiga masing-masing dari Korsel, Amerika 
Serikat, dan Jepang, kata Beijing Language and Culture Institute dalam siaran 
persnya, Sabtu.

“Hal ini bisa dipahami, karena selain biaya terjangkau, mutu pendidikan, 
fasiltas laboratorium dan kampus, kemajuan dan perkembangan pesat China juga 
makin banyaknya program studi gelar yang menggunakan bahasa pengantar Inggris,” 
kata Ir Samuel Wiyono MBA.

“Bak gayung bersambut, pelajar dan mahasiswa Indonesia pun menurut kalangan 
perguruan tinggi secara umum berprestasi dan rajin sehingga disukai oleh pihak 
institusi pendidikan di China," jelasnya.

Oleh sebab itu BLCI sebagai Lembaga Pendidikan Bahasa Mandarin yang membantu 
pelajar Indonesia belajar di China sejak tahun 2004,  kembali menggelar Pameran 
Pendidikan China ke-14 (14th China Education Fair) di tiga kota sekaligus.

Di Mangga Dua Square Jakarta 21-22 April, 25-26 April di Hotel Fave Denpasar 
Bali, dan 28-29 April di Hotel Tunjungan, Surabaya.

“Demi kemudahan para siswa nantinya, kami dari BLCI juga akan mengantar para 
siswa sampai di asrama di China,” jelasnya.

Pameran Pendidikan ini merupakan yang terbesar dan terlengkap karena rencananya 
diikuti 24 perguruan tinggi dan sekolah dari 16 kota besar di  China, termasuk 
dari  Beijing, Shanghai, dan Guangzhou serta beberapa kota besar China yang 
menyandang gelar sebagai “Kota Pelajar”.

Pameran pendidikan ini menyajikan berbagai ragam pendidikan, mulai dari belajar 
bahasa Mandarin saja, studi tour, sekolah Menengah (SMP/SMU), Foundation, 
Diploma, Gelar Sarjana S1 atau pun Pascasarjana S2, baik yang menggunakan 
pengantar bahasa Mandarin maupun Inggris.

Selain gelar sarjana dan pascasarjana dari universitas pemerintah China, 
sejumlah perguruan tinggi menawarkan gelar universitas dari Australia, Inggris, 
atau Amerika Serikat, baik seluruhnya ditempuh di China atau beberapa tahun 
terakhir di Amerika, Inggris, Australia atau pun Kanada.

Bahkan, beberapa perguruan tinggi menawarkan program sertifikasi professional 
Akutansi ACCA (Australia) atau CGA (Kanada), yang seluruh perkuliahannya 
dilaksanakan di China.

Dengan banyaknya program studi yang menggunakan bahasa Inggris, mahasiswa asing 
yang belum dapat berbahasa Mandarin tetap dapat langsung kuliah ke jenjang 
gelar, tanpa harus belajar bahasa Mandarin dahulu, jadi waktu kuliahnya lebih 
singkat.

Mengenai uang kuliah di Negara Panda itu, menurut Samuel bervariasi mulai dari 
Rp18 jutaan/tahun sampai Rp45 jutaan/tahun di perguruan tinggis milik 
Pemerintah China yang berstandar internasional.

(Ant)

Kirim email ke