Sebagai juga seorang yang menulis puisi, saya terkesan membaca puisi ini. Ini 
mungkin ditulis oleh seorang yang bukan penyair tapi saya merasakan ada  muatan 
nilai-nilai sastra yang cukup mengesankan. Ada ungkapan sbb:
"Ia yang jatuh cinta pada pagi, setelah dirajam nyeri".Kalimat puitis yang 
cukup mahal.
Tapi yang paling menonjol dari kesan-kesan yang saya terima adalah KEANEHAN 
yang saya rasakan. Seorang Muslim yang berkaliber seperti Ulil Absar Abdala 
yang adalah pula tokoh NU, dalam sajaknya sendiri telah mengkristenkan dirinya 
sambil tetap berada dalam Islam dan bahkan juga telah menjadi penganut dan 
pengikut Yesus Kristus: "YA, YESUSMU ADALAH JUGA YESUSKU"
Dari segi pandangan Islam mungkin pernyataan demikian sudah "kebablasan" 
meskipun dalam dunia puisi tidak ada istilah kebablasan, semua emosi mendapat 
tempat dalam puisi dan memang di sinilah wadahnya(asalkan jangan dalam politik 
karena menurut Lenin: emosi dalam politik adalah pengkhianatan).
Mungkin benang merah yang ingin dimunculkan Ulil Ansar Abdala adalah perdamaian 
total antar semua agama: semua agama adalah satu dengan satu Tuhan. Tapi dalam 
praktek, agama adalah agama yang setiap agama punya perbedaan satu sama lain 
meskipun itu mutlak tidak berarti harus selalu perang agama, saling bermusuhan, 
saling mencela dan berebut dominasi yang  selalu memakan korban manusia sia-sia.
Kita bukan tidak setuju dengan maksud baik Ulil. Tapi penyederhanaan terhadap 
hal yang selalu rumit, mungkin bahkan akan menimbulkan kerumitan yang lebih 
kompleks lagi. Biarkan tiap agama itu berbeda karena memang demikian juga 
adanya manusia dilahirkan: ujud karena perbedaan. Persoalannya adalah bagaimana 
pengurusannya. Bagaimana pendapat bung Dahana?
ASAHAN.

----- Original Message ----- 
From: Salim Said 

Sent: Monday, April 09, 2012 2:36 AM
Subject: Fwd: Fw: PUISI PASKAH - Ulil Absar Abdala


Mungkin ada yang tertarik membaca dan mengomentarinya. Silahkan.


---------- Forwarded message ----------



----- Forwarded Message -----
From: 
Sent: Sunday, April 8, 2012 9:19 AM
Subject: Fwd: FW: Puisi Paskah - Ulil Absar Abdala

Posted: Wed, 04-05-2011 7:22 am    Post subject: Puisi Paskah Ulil Absar Abdala


PUISI PASKAH 

Karya: Ulil Absar Abdala (Cendekiawan Muslim) 


Ia yg rebah, di pangkuan perawan suci, bangkit setelah tiga hari, melawan mati. 

Ia yg lemah, menghidupkan harapan yg nyaris punah. 

Ia yang maha lemah, jasadnya menanggungkan derita kita. 

Ia yang maha lemah, deritanya menaklukkan raja-raja dunia. 

Ia yang jatuh cinta pada pagi, setelah dirajam nyeri. 

Ia yang tengadah ke langit suci, terbalut kain merah kirmizi: Cintailah aku! 

Mereka bertengkar tentang siapa yang mati di palang kayu. 

Aku tak tertarik pada debat ahli teologi. 

Darah yang mengucur itu lebih menyentuhku. 

Saat aku jumawa dengan imanku, tubuh nyeri yang tergeletak di kayu itu, terus 
mengingatkanku: Bahkan Ia pun menderita, bersama yang nista. 

Muhammadku, Yesusmu, Krisnamu, Buddhamu, Konfuciusmu - mereka semua 
guru-guruku, yang mengajarku tentang keluasan dunia, dan cinta. 

Penyakitmu, wahai kaum beriman: 
Kalian mudah puas diri, pongah, jumawa, bagai burung merak. 

Kalian gemar menghakimi! 

Tubuh yang mengucur darah di kayu itu, bukan burung merak. 

Ia mengajar kita, tentang cinta, untuk mereka yang disesatkan dan dinista. 

Penderitaan kadang mengajarmu tentang iman yang rendah hati. 

Huruf-huruf dalam kitab suci, kerap membuatmu merasa paling suci. 

Ya, Jesusmu adalah juga Jesusku. 

Ia telah menebusku dari iman yang jumawa dan tinggi hati. 

Ia membuatku cinta pada yang dinista! 

Semoga Semua Hidup Berbahagia dalam kasih Tuhan. 

[Puisi tersebut dibuat cendekiawan NU Ulil Abshara Abdala, yang punya radio 
ARH, seorang muslim yang kemarin diincar bom buku di Utan Kayu, Jakarta]

Kirim email ke