Ketika Ahok Berbicara tentang Bhinneka Tunggal Ika
Riana Afifah | Benny N Joewono | Senin, 23 April 2012

KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES
Bakal calon wakil gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) 
mengunjungi pameran Betawi Punye Gaye di Bentara Budaya Jakarta, Kamis 
(19/4/2012). Pameran yang akan berlangsung dari 20-29 April 2012 ini memamerkan 
berbagai benda yang menjadi ciri khas Betawi, seperti replika rumah Betawi, 
ondel-ondel, perhiasan hingga perabotan.


JAKARTA, KOMPAS.com  Semboyan Indonesia, yaitu Bhinneka Tunggal Ika, yang 
diartikan berbeda-beda tetapi tetap satu ini tampaknya sudah mulai luntur bagi 
masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dengan isu primordialisme yang muncul di 
tiap daerah dalam setiap pemilihan umum kepala daerah (pilkada).
Begitu pula dengan Jakarta, isu primordialisme semakin kuat akhir-akhir ini. 
Bakal calon wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), 
menuturkan, awalnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) berpikir 
berulang kali untuk menempatkan dirinya mendampingi Joko Widodo dalam Pilkada 
DKI Jakarta 2012.

"Ada anggapan kalau sama Ahok, udah China dan Kristen kan menurunkan nilai 
jual. Tapi selama ini kan PDI-P selalu berteriak-teriak tentang empat pilar," 
kata Ahok saat berkunjung di redaksi Kompas.com, Selasa (17/4/2012).

Seperti diketahui, empat pilar kehidupan berbangsa yang memang selalu 
disuarakan oleh partai berlambang banteng dengan moncong putih ini terdiri dari 
Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), 
dan Bhinneka Tunggal Ika.

"Harusnya empat fondasi ya. Kalau pilar itu gampang roboh, jadi fondasi-lah 
lebih kokoh. Nah di dalamnya kan ada Bhinneka Tunggal Ika. Ini mau 
menyelesaikan Bhinneka Tunggal Ika, tapi takut taruh Ahok karena warna kulit 
dan keyakinan dia. Lucu gitu, lho," ungkap Ahok.

Menurutnya, seseorang harus dilihat dari kemampuan dan rekam jejaknya, bukan 
hanya dari asal keturunan dan keyakinannya. Bahkan, ia menegaskan bahwa masalah 
keyakinan adalah masalah pribadi seseorang dan bukan sesuatu yang harus diumbar 
dan dijadikan bahan penilaian untuk memutuskan sesuatu.

"Itu urusan saya pribadi. Kenapa orang jadi takut masang seorang Ahok yang 
Kristen? Ini kan lucu. Memang realitanya ada orang enggak mau milih yang beda 
agama. Ini yang mau kita selesaikan tentang ke-Indonesia-an," ungkap Ahok.

"Kami ini targetnya jelas, kami bukan petinju yang asal mukul. Target kami 
sangat jelas, yaitu jangka panjang tentang Indonesia; dengan ke-Indonesia-an, 
dengan mimpi Indonesia. Mimpi rumah Indonesia di atas empat fondasi, di mana 
semua suku, agama, ras berhak tinggal dan mendapat hak yang sama," tandasnya.

Seperti yang tercatat dalam sejarah, pada tahun 1964, Jakarta pernah dipimpin 
oleh orang keturunan Manado dan beragama Kristen. Bahkan, dari 12 tokoh yang 
pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, sebanyak 10 tokoh tidak lahir di 
Jakarta dan bukan merupakan keturunan asli Jakarta.

Hanya dua tokoh yang memang lahir dan besar di Jakarta, yaitu Surjadi Soedirja 
dan Fauzi Bowo. Sementara itu, gubernur legendaris DKI Jakarta, yaitu Ali 
Sadikin, berasal dari Sumedang dan tidak besar di Jakarta. Namun, sumbangsih 
dan programnya untuk Jakarta dapat dinikmati oleh warga Jakarta hingga saat ini.

Begitu pula dengan Soemarno yang lahir di Jember, meski tidak memiliki latar 
belakang asli Jakarta, ia mampu merealisasikan pembangunan Monas dan Patung 
Selamat Datang yang hingga kini menjadi ikon Ibu Kota.

Lalu, masihkah isu primordialisme ini menghancurkan Bhinneka Tunggal Ika yang 
menjadi semboyan Indonesia?

Bukankah seharusnya Bhinneka Tunggal Ika ini menjadi pengikat primordialisme 
agar bangsa Indonesia tidak tercerai-berai?

Hanya masyarakat yang dapat menilai dan menentukan sikap yang terbaik untuk 
bangsa ini.



Pilkada DKI
Ini Jawaban Jokowi Tentang Masalah Baju Koko
Riana Afifah | Hertanto Soebijoto | Minggu, 22 April 2012 | 22:33 WIB
 KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES Calon gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo 
atau akrab dipanggil Jokowi, menjawab pertanyaan wartawan saat berkunjung ke 
Kantor Redaksi Kompas.com, Palmerah, Jakarta, Sabtu (31/3/2012). Jokowi 
merupakan calon gubernur yang diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan untuk bertarung dalam pemililhan kepala daerah DKI Jakarta 2012.

JAKARTA, KOMPAS.com - Terkait kontroversi terhadap ucapannya tentang baju koko 
beberapa waktu lalu, bakal calon Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menanggapinya 
dengan bijak dengan tidak banyak berkomentar.

"Dalam masa-masa seperti ini, ada yang namanya negative campaign. Ya sudah 
biasa saja," kata Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, ketika dijumpai seusai 
menghadiri acara diskusi Jakarta Baru : Kenapa Harus Jokowi-Ahok? di Waroeng 
Solo, Jakarta, Minggu (22/4/2012).

Bahkan ia mengungkapkan bahwa tiap hari Jumat, dia biasa mengenakan baju koko 
untuk sholat Jumat. "Biasanya kalau sholat Jumat saya juga pakai baju koko. 
Tidak ada masalah kok," tutur Jokowi.

Ia juga mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud untuk menghina atau 
apapun pada budaya tertentu. "Waktu itu diplintir saja pernyataan saya," ungkap 
Jokowi.

Sebelumnya diberitakan, Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) mendesak Jokowi untuk 
minta maaf terkait ungkapannya bahwa penggunaan baju koko hanya untuk mencari 
simpati publik dan terkesan religius. Namun hal tersebut dimentahkan oleh 
budayawan Betawi, Ridwan Saidi.

"Nggak perlu LKB nyuruh minta maaf. Masalah baju koko ini tidak ada kaitan 
dengan Betawi dan agama," ujar Ridwan.

Kirim email ke