Soal Sukhoi Jatuh, Ini 2 Permintaan Putin ke SBY
Hindra Liu | Laksono Hari W | Jumat, 11 Mei 2012 | 01:16 WIB
AFP/ALEXEY DRUZHININ / RIA NOVOSTIPresiden Rusia Vladimir Putin


JAKARTA, KOMPAS.com  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berkomunikasi 
dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait musibah jatuhnya pesawat penumpang 
Sukhoi Superjet 100 buatan Rusia di sekitar lereng Gunung Salak, Bogor, Jawa 
Barat, Rabu (9/5/2012) sore.

Pada pembicaraan yang berlangsung Kamis (10/5/2012) pukul 22.30 WIB, Presiden 
Putin menyampaikan dua permintaan kepada Presiden Yudhoyono. "Pertama, Presiden 
Putin meminta kerja sama dengan Indonesia untuk proses identifikasi forensik 
terhadap korban musibah tersebut, di mana Rusia juga memiliki ahli-ahli di 
bidang tersebut," kata Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku 
Faizasyah kepada para wartawan, Kamis tengah malam.

Presiden Putin juga menawarkan kerja sama untuk mengirimkan pakar yang akan 
mengidentifikasi reruntuhan pesawat berpenumpang 47 orang tersebut.

Menurut Faiza, Presiden Yudhoyono telah menyetujui dua permintaan tersebut. 
Bahkan, Kepala Negara telah menghubungi instansi-instansi terkait di Indonesia 
untuk segera merealisasikan kerja sama tersebut. Kedua kedutaan besar, baik RI 
maupun Rusia, juga akan dihubungi untuk menindaklanjuti hal tersebut.

"Presiden Yudhoyono meminta agar hal tersebut diinformasikan kepada pihak 
keluarga korban sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah," kata Faiza.

Pada kesempatan tersebut, kedua kepala negara juga saling menyampaikan dukacita 
yang mendalam atas musibah ini. Dari 47 penumpang, delapan di antaranya adalah 
warga Rusia. Sebelumnya, Presiden Yudhoyono telah menginstruksikan agar musibah 
jatuhnya pesawat dengan nomor penerbangan RA 36801 itu diinvestigasi secara 
saksama.

Secara terpisah, Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev menyatakan telah 
membentuk sebuah komisi untuk menyelidiki penyebab musibah tersebut. Komisi ini 
dipimpin oleh Menteri Industri dan Perdagangan Rusia Yury Slyusar dan 
beranggotakan para pejabat dari Kementerian Luar Negeri dan United Aircraft 
Corporation.

SSJ100 adalah pesawat penumpang pertama buatan Rusia sejak Uni Soviet runtuh 
awal 1990-an. Pesawat ini dilengkapi dengan teknologi canggih fly-by-wire dan 
dikembangkan bersama dengan beberapa perusahaan dirgantara dari negara barat, 
seperti Boeing dari Amerika Serikat, Alenia dari Italia, dan Snecma dari 
Perancis.

Rusia berharap SSJ100 akan membangkitkan lagi industri manufaktur pesawat sipil 
Rusia. Olga Kayukova, juru bicara United Aircraft Corporation selaku perusahaan 
induk Sukhoi, mengatakan, pihaknya berencana memproduksi hingga 1.000 unit 
pesawat SSJ100, yang sebagian besar akan dipasarkan ke luar negeri. Di 
Indonesia, Sukhoi berharap bisa menjual 42 unit pesawat.


Sukhoi dan Tekad Kebangkitan Rusia
| Laksono Hari W | Jumat, 11 Mei 2012 | 06:18 WIB
 AFP/NATALIA KOLESNIKOVA Sebuah pesawat Sukhoi Superjet 100 tampil dalam 
pameran dirgantara MAKS 2009 di Zhukovsky, 19 Agustus 2009. Pesawat serupa 
diterbangkan dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Rabu (9/5/2012) 
sore dan jatuh di sekitar Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, beberapa 
menit setelah lepas landas.
1
Membangun industri dirgantara sama sekali bukan perkara mudah, bahkan bagi 
negara yang pernah memiliki basis industri pesawat udara yang sangat besar 
seperti Rusia. Kiprah legendaris pesawat-pesawat tempur buatan Rusia terbukti 
tidak menjamin negara itu akan sukses saat membuat dan memasarkan pesawat 
penumpang komersial.

Itulah yang terjadi di Rusia pada era 1990-an. Di tengah keruntuhan 
infrastruktur industri dirgantara di Rusia setelah pembubaran Uni Soviet, 
beberapa pemain utama industri tersebut berusaha bertahan.

Pabrikan-pabrikan pesawat Rusia, seperti Tupolev dan Ilyushin, mencoba 
mengembangkan pesawat baru yang mengadaptasi berbagai desain dan teknologi 
Barat. Pesawat Tupolev Tu-204, misalnya, dirancang untuk menandingi Boeing 757. 
Adapun Ilyushin Il-96 berambisi menjadi pesaing Boeing 777 dan Airbus 330.

Namun, pesawat-pesawat itu tidak pernah laku di luar para pelanggan tradisional 
Rusia sejak era Uni Soviet, seperti Kuba, Korea Utara, Iran, dan beberapa 
negara Afrika. Menurut artikel Andrew E Kramer di The New York Times, hanya 
sekitar selusin Il-96 yang terjual, salah satunya menjadi pesawat kepresidenan 
Fidel Castro dari Kuba.

Produsen pesawat di Rusia akhirnya mengakui bahwa terlalu berat bersaing dengan 
Airbus dan Boeing. Namun, Rusia tak mau menyerah begitu saja. Para pelaku 
industri memutuskan banting setir, mengincar pasar dengan pesaing lebih kecil, 
seperti Bombardier dari Kanada dan Embraer dari Brasil. Mereka juga membuat 
kerja sama produksi dengan perusahaan-perusahaan Barat untuk mengisi celah 
ketinggalan teknologi dan membantu menembus pasar global.

Di sinilah Sukhoi Superjet 100 (SSJ100) lahir. Diproduksi oleh pabrikan Sukhoi, 
yang terkenal sebagai pembuat jet tempur legendaris, SSJ100 diharapkan akan 
menjadi awal kebangkitan industri dirgantara Rusia. Dengan kapasitas 75-95 
tempat duduk dan jarak jelajah 3.000-4.500 kilometer, pesawat ini berada di 
kelas yang sama dengan Embraer E-170 dan Bombardier CRJ-700.

Sukhoi pun menggandeng beberapa perusahaan dirgantara Barat, seperti Alenia 
Aeronautica dari Italia, Thales dan Snecma dari Perancis, dan Liebherr dari 
Swiss untuk mengembangkan pesawat penumpang yang lebih cocok dengan ”selera” 
Barat. Boeing dari Amerika Serikat pun digandeng sebagai konsultan.

Dengan sistem kontrol elektronik fly-by-wire dan mesin turbofan baru, Kramer 
mencatat, SSJ100 sudah tak terasa seperti pesawat-pesawat penumpang era Uni 
Soviet. SSJ100 pun menawarkan kelebihan dengan memasang harga lebih rendah 
daripada pesaingnya, yakni sekitar 31,7-35 juta dollar AS per unit.

Namun, dengan segala kelebihan itu, SSJ100 tak serta-merta laku keras. Berbagai 
masalah teknis muncul, mulai dari rusaknya detektor, kebocoran pemasok udara 
kabin, hingga masalah roda pendarat.

Citra pesawat buatan Rusia yang sering jatuh beberapa tahun belakangan ini juga 
menjadi kendala pemasaran SSJ100. Itu sebabnya, Sukhoi berusaha semaksimal 
mungkin mempromosikan pesawat itu ke negara-negara calon pembeli potensial. 
Dalam rangka tur promosi itulah, SSJ100 mampir di Indonesia pekan ini. 
(AFP/BBC/DHF)



Evakuasi Korban Sukhoi
Mereka Mendaki dengan Dagu Hampir Menyentuh Tanah
Antony Lee | Marcus Suprihadi | Jumat, 11 Mei 2012 | 08:39 WIB
 KOMPAS/ANTONY LEE Itong, dari Tagana Kabupaten Bogor, menceritakan betapa 
beratnya medan pencarian korban dan pesawat Sukhoi Superjet 100, Jumat 
(11/5/2012) pagi tadi.

BOGOR, KOMPAS.com- Tim evakuasi yang menuju lokasi jatuhnya pesawat Sukhoi 
Superjet 100 di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, harus menghadapi 
medan yang sangat berat. Posisi tebing yang terjal membuat mereka harus mendaki 
dengan dagu hampir menyentuh tanah.

"Sejak awal kondisi jalan sudah menanjak. Sekitar 45 menit perjalanan, sudah 
sangat terjal dan tidak ada jalan yang rata. Selepas itu mendaki sudah dengan 
posisi dagu hampir mengenai tanah," tutur Itong, dari Tagana Kabupaten Bogor, 
Jumat (11/5/2012) pagi.

Itong dan sejumlah anggota tim yang kehabisan logistik sempat bertahan di 
ketinggian 1.800 meter dari permukaan laut, belum sempat mencapai titik lokasi 
2.089 meter dari permukaan laut.

Sebanyak 52 anggota tim lainnya yang didominasi personel Satuan Pelopor Brimob 
Mabes Polri dan beberapa wartawan melanjutkan perjalanan. "Kami turun pukul 
06.00 pagi tadi. Kondisi yang memberatkan selain terjal juga jarak pandang 
pendek. Jalan licin dan harus babat alas untuk mencarikan rute yang tidak 
terlalu terjal," kata Itong.

Kirim email ke