http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=42&id=38178

ABTU, 12 Mei 2012 | 624 Hits

Boediono, JK, dan Masjid 

Oleh: Ilham Kadir, (Mahasiswa PPS UMI Makassar, Peneliti LPPI Indonesia Timur) 



Mungkin ada yang bertanya, apa relasi Wakil Presiden Boediono, Mantan Wakil 
Presiden HM Jusuf Kalla yang akrab dipanggil JK, dan Masjid? Ceritanya bermula 
ketika Wapres Boediono 

berpidato dalam pembukaan Muktamar ke-6 Dewan Masjid Indonesia (DMI) pada Jumat 
(27/4/2012) di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur. Saat itu Wapres meminta 
pengeras suara masjid supaya diatur.

Tak pelak, banyak yang beraksi atas Pidato Wapres yang dianggap kontroversial 
tersebut. Ada yang menyayangkan karena ha itu diucapkan seorang Wapres yang 
juga seorang muslim. Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII), Syuhada 
Bahri, misalnya.

“Saya sangat menyayangkan seorang Wapres, apalagi muslim berkata seperti itu. 
Ini disebabkan posisi beliau. Bukankah pada saat pemilu, suara 60 persen yang 
memilih pasangan SBY-Boediono itu adalah umat Islam? Mestinya janganlah sakiti 
umat dengan pernyataan seperti itu,” ujar Syuhada.

Hal sama disampaikan Ali Mustafa Ya’qub, Imam Besar Masjid Istiqlal yang 
menyatakan, “Sebenarnya ini (azan) tidak laik dibahas lagi. Orang-orang di Bali 
yang non-Muslim saja tidak masalah. Mereka justru merasa diuntungkan dengan 
adanya suara azan Subuh. Mereka bisa dibangunkan.” Setali tiga uang dengan 
Ketua Majelis Ulama Pusat, KH Amidhan. Beliau menjelaskan bahwa ciri khas azan 
harus keras karena tujuannya memanggil orang salat berjemaah ke masjid dan 
sebagai tanda telah masuknya waktu salat.

Namun ada juga yang menanggapi biasa-biasa saja, sebagaimana Yopie Hidayat, 
Juru Bicara Wakil Presiden. “Tolong pernyataan tersebut (pidato Wapres) jangan 
dipolitisasi. Dilihat lagi konteks pernyataan tersebut. Boediono hanya memberi 
usul agar dimusyawarahkan,” ujar Yopie.

Hemat penulis, kekeliruan Wapres Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Dua ini 
terletak pada persoalan azan yang merupakan salah satu pokok syiar Islam. 
Padahal jika fokus pada pengaturan “toa” bisa lebih tepat. Misalnya, “toa” bisa 
diarahkan keluar masjid hanya untuk azan, puji-pujian, dan khotbah Jumat. Bisa 
juga untuk pengumuman menyangkut kepentingan publik.

Masalah azan dengan suara menyentak dalam pandangan Wapres hanya terdapat pada 
kota-kota besar tertentu, khususnya di tengah permukiman yang penduduknya 
heterogen. Apalagi pada waktu bulan puasa ada masjid yang menyalakan “toa” 
dengan volume full sampai pukul 02.00, atau ada masjid yang menyetel siaran 
bacaan Alquran sejak pukul 03.00, sementara azan Subuh dikumandangkan satu jam 
kemudian. Jelas hal ini harus dievaluasi. Namun secara umum, azan sangat 
membantu mengingatkan umat Islam akan masuknya waktu salat.

JK dan Masjid
Kecuali itu, angin segar juga menerpa para penggiat masjid. Pada acara Muktamar 
ke-6 DMI tersebut, JK terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Dewan Masjid 
Indonesia. Salah satu pertimbangan mengapa harus JK yang didaulat menjadi ketua 
umum adalah sosoknya yang tidak pernah jauh dari masjid. Perhatian dan 
keterlibatan JK pada masjid bukan hanya sebatas mendirikan masjid, memberikan 
bantuan, dan menjadi pengurus masjid, melainkan juga dapat dikatakan bahwa 
masjid bagi JK adalah bagian dari dirinya sendiri.

Keberadaan DMI adalah aset umat yang hendaknya lebih mampu membaca dan 
mengikuti derap kemajuan umat yang diayominya. Perubahan sosial kemasyarakatan 
dan kehidupan para penghuni masjid dan umat tentu tidak akan bisa terpenuhi 
apabila DMI tidak dirurus oleh tokoh yang memiliki pengaruh dan kesungguhan 
yang sudah teruji sebagaimana sosok JK.

Sosok JK juga sejak dulu selalu berkecimpung dalam dunia masjid. Bahkan ketika 
beliau menjabat sebagai Wakil Presiden pun, perhatian JK terhadap masjid tak 
pernah surut. Setidaknya ada dua masjid yang beliau urus ketika menjabat 
Wapres, yaitu Masjid Raya Makassar, dan Masjid Al Markaz Al Islami. Semua 
persoalan masjid tak luput ia perhatikan dan pertanyakan kepada pengurus 
harian, semisal sajadah yang kotor, perpustakaan, taman kanak-kanak masjid, 
lampu kristal, sampai burung hantu yang bertengger di kubah masjid.

Diceritakan bahwa suatu ketika panitia Masjid Al Markaz mengeluhkan kehadiran 
seekor burung hantu yang menjadikan kubah masjid sebagai sarang. Burung yang 
sudah beranak pinak tersebut mengotori lampu kristal dan lantai masjid. 
Kehadiran burung hantu itu sudah sangat meresahkan pengurus masjid karena tidak 
jarang burung tersebut membawa bangkai tikus ke masjid.

“Kami kesulitan mengusir burung hantu itu,” lapor pengurus pada JK. Tapi itulah 
sosok JK, selalu memberi jalan keluar dengan spontan dan tanpa basa-basi. 
Beliau menanggapinya dengan enteng, “Burung hantu kan suka yang gelap dan hidup 
di malam hari. Tidak senang kalau siang atau terang, karena itu kalau mau 
mengusir burung itu, maka pasangi saja lampu sorot biar dia rasa tidak nyaman 
dan pergi,” tutur JK.

Soal keikhlasan dalam mengurus masjid, JK bisa jadi tauladan. Ini masih 
berkisar tentang Masjid Al Markaz, tempat ibadah kebanggaan kaum muslimin di 
Sulsel. Sebagaimana dituturkan Husain Abdullah dalam buku “Jusuf Kalla The 
‘Real’ President”, ketika JK ditanya alasan Al Markaz diberi nama Masjid 
Jenderal M Jusuf. Kenapa bukan M Jusuf saja, dan tidak perlu menggunakan kata 
“Jenderal” karena tidak lazim sebuah masjid diberi nama tentara, apalagi 
jenderal dan umumnya nama-nama masjid itu diambil dari nama para wali atau 
nama-nama (asma’) Allah.

JK beralasan bahwa ia sengaja menegaskan kata Jenderal-nya menjadi Masjid 
Jenderal M Jusuf Al Markaz Al Islami, agar kelak di kemudian hari, kata 
jenderal tersebut menjadi penjelas dan pembeda antara namanya dengan nama 
Jenderal M Jusuf.

Itulah sedikit certia tentang hubungan antara JK dengan masjid. Menjadi 
pemimpin memang harus ikhlas dalam berbuat, dapat memberi jalan keluar dan 
inspirasi, serta membangun harapan. Bukan menjadi pengeluh dan pengkritik 
terhadap kekayaan khazanah kebudayaan dan kepercayaan bangsa. Wallahu A’lam! (*)

KOMENTAR BERITA "Boediono, JK, dan Masjid " 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke