Ini Alasan Widjajono Mengapa BBM Indonesia Tak Murah
TEMPO.CO – 23-04-2012
Lihat Foto 
  a.. Ini Alasan Widjajono Mengapa BBM Indonesia Tak Murah

TEMPO.CO , Jakarta: - Mendiang Widjajono Partowidagdo, Wakil Menteri Energi dan 
Sumber Daya Mineral mempunyai pemikiran mengapa harga bahan bakar minyak 
Indonesia tidak bisa murah. Dalam surat elektroniknya kepada Tempo, Widjajono 
mengungkapkan pemikiran ini adalah pendapatnya pribadi sebagai akademisi.

Menurut Widjajono, cadangan terbukti minyak Indonesia tinggal 3,7 miliar barel, 
atau hanya 0,3 persen cadangan terbukti dunia.


"Sebagai negara net importer minyak dan tidak memiliki cadangan terbukti minyak 
banyak, tidak bijaksana apabila mengikuti harga BBM murah di negara-negara yang 
cadangan minyaknya melimpah," kata Widjajono dalam surat elektroniknya kepada 
Tempo, 8 April 2012. "Perlu diketahui bahwa pendapatan pemerintah dari minyak 
kita habis untuk subsidi harga BBM."


Dengan asumsi kurs dolar Amerika Serikat Rp 9.000 dan harga minyak mentah dunia 
US$ 105 per barel, maka dari produksi minyak Indonesia sebesar 930 ribu barel 
per hari, pendapatan dari bagian jual beli minyak pemerintah sebesar Rp 205 
triliun.


Bandingkan dengan hitung-hitungan subsidi BBM. Dengan asumsi harga BBM naik Rp 
1.500 per liter untuk harga minyak US$ 105 per barel, subsidinya adalah Rp 137 
triliun. Kalau harga BBM tidak naik, maka subsidinya Rp 178 triliun.


Ini belum termasuk subsidi listrik sebesar Rp 60 triliun, yang akibat naiknya 
harga BBM otomatis seluruh pendapatan pemerintah dari minyak hampir habis. 
Hanya sisa Rp 8 triliun untuk subsidi harga BBM apabila harga BBM dinaikkan Rp 
1.500 per liter. Apabila harga minyak tidak dinaikkan maka kurang Rp 33 
triliun. 


Asumsi harga minyak dalam APBN 2012 sebesar US$ 90 per barel. Artinya kenaikan 
harga minyak sebesar US$ 15 per barel mengakibatkan kenaikan subsidi Rp 55 
triliun. Dengan kata lain, setiap US$ 1 per barel mengakibatkan defisit Rp 3,67 
triliun. 


"Bayangkan kalau harga minyak naik US$ 25 per barel atau lebih. Kita harus 
serius melakukan penghematan," kata almarhum Widjajono dalam surat 
elektroniknya. 


Widjajono pun membandingkan Indonesia dengan negara-negara Amerika Latin 
seperti Brasil, Argentina, dan Cile yang tidak menerapkan subsidi BBM. 
Negara-negara itu menggunakan pendapatan minyaknya untuk pengembangan BBN 
(Bahan Bakar Nabati) dan industri nasional seperti mobil, pesawat, senjata, dan 
pertanian berkembang. 


"Brasil sekarang menjadi negara idola di samping Rusia, India, Cina dan Korea," 
ujarnya. Brasil sudah menguasai teknologi migas lepas pantai. Cadangan dan 
produksi minyaknya meningkat pesat. "Petrobras, perusahaan minyak milik Brasil 
menjadi perusahaan migas terpandang di dunia." 


Widjajono menambahkan, India, Pakistan, Cina, dan Vietnam pun tidak menerapkan 
subsidi BBM. Padahal Cina negara komunis. Di negara-negara itu, pemerintahnya 
lebih memilih subsidi transportasi umum sehingga nyaman. 


Menurut profesor ini, BBM murah hanya diterapkan di negara-negara yang cadangan 
minyaknya melimpah seperti Arab Saudi, Irak, Libya, dan Venezuela. 


Dia pun membandingkan harga BBM Indonesia dengan Iran yang sebesar US$ 0,67 per 
liter, dengan cadangan minyak sebesar 138 miliar barel. Harga bensin ini lebih 
mahal daripada harga BBM Indonesia yang dalam kurs dolar sebesar US$ 0,59 per 
liter, dengan cadangan terbukti minyak Indonesia tinggal 3,7 miliar barel, atau 
hanya 0,3 persen cadangan terbukti dunia.

"Karena mereka mengutamakan gas untuk transportasi," ujarnya.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke