DPR RI Sesalkan Pembubaran Acara Irsyad Manji
Antara

Semarang (ANTARA) - Anggota Komisi III DPR RI Eva Kusuma Sundari menyesalkan 
penyerangan sekelompok massa ke lokasi acara LKIS Sorowajan, Bantul, Daerah 
Istimewa Yogyakarta, untuk membubarkan diskusi, Irshad Manji, pengarang buku 
"Allah, Liberty and Love", Rabu (9/5) malam.

"Sungguh menyesalkan `penyerangan` terhadap Irshad Manji, hanya memunculkan 
kehebohan dan meniadakan kesempatan untuk mendebat, menantang, bahkan 
mementahkan pemikiran-pemikiran yang dituduh `menyesatkan`," kata Eva melalui 
perangkat komunikasi kepada ANTARA di Semarang, Kamis pagi.


Wakil rakyat di Komisi III--membidangi hukum dan perundang-undangan, hak asasi 
manusia, dan keamanan--menyayangkan kelompok intoleran itu bukannya mengirim 
ahli pikir tangguh untuk beradu akal, tetapi justru mengerahkan massa untuk 
merusak properti orang, mengancam, dan memukuli peserta diskusi.


Sebagai anggota masyarakat dari negara hukum dan berdasar kepada konstitusi 
yang demokratis, kata Eva, harusnya segala perbedaan diselesaikan secara 
beradab.


Menurut dia, penyerangan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) terhadap acara 
Lembaga Kajian Ilmu Sosial (LKIS) itu menunjukkan "short minded" (pikiran 
pendek).


"Sikap menolak perdebatan, bahkan juga dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada 
(UGM) Yogyakarta yang harusnya mengembangkan kebebasan akademik," kata Eva yang 
juga Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI itu.


Sebelumnya, Ketua Center for Religius and Cross Cultural Studies (CRCS) Sekolah 
Pascasarjana UGM Yogyakarta, Zaenal Arifin Bagir, menyatakan kecewa dengan 
sikap pimpinan universitas yang membatalkan diskusi bersama Irshad Manji.


"Pembatalan diskusi bersama aktivis feminisme dari New York University, Amerika 
Serikat (AS), Irshad Manji yang akan membedah bukunya berjudul `Allah, Liberty 
and Love` itu merupakan hal yang mengecewakan dan merupakan bukti bahwa 
atmosfer akademik sudah terancam," katanya di Yogyakarta, Rabu (9/5).


Di lain pihak, Eva juga mempersoalkan tindakan aparat Kepolisian Negara 
Republik Indonesia (Polri) dalam menangani insiden di LKIS.


"Para korban justru diinterogasi, dan buku-buku Irsyad Manji dan buku-buku lain 
(yang tidak dilarang Kejaksaan Agung) diusung," ujarnya.


Sebagaimana pola standar eskapisme kepolisian, kata Eva, mereka tidak fokus 
pada tindakan (pidana/kejahatan) kekerasan para aktivis MMI, tetapi justru 
terkesan menyalahkan pihak korban kekerasan, yaitu LKIS sebagai penyelenggara 
diskusi tertutup.


"Secara pribadi, saya menolak pemikiran-pemikiran Irshad Manji, tetapi tidak 
setuju dia diserang karena pemikiran-pemikirannya. Kita harus menarik 
pembelajaran dari reaksi emosional dan `short minded` masyarakat terhadap sosok 
Manji karena eksesnya semata negatif, baik ke dalam (rasa aman masyarakat) dan 
ke luar negeri (sebagai negara muslim paling demokratis)," katanya.


Oleh karena itu, kata anggota DPR RI berasal dari Daerah Pemilihan Jawa Timur 
VI tersebut, polisi harus mulai tegas untuk mengembangkan penegakan hukum 
dengan berkeadilan secara substantif, tidak justru mengkriminalkan korban 
kekerasan.


"Saat yang sama, maraknya kekerasan oleh kelompok masyarakat intoleran (akibat 
lemahnya aparat kepolisian) bukan tanda yang baik bagi kemajuan demokrasi 
karena dasar demokrasi adalah nalar, bukan otot," demikian Eva Kusuma 
Sundari.(rr)


Rabu, 09 Mei 2012 | 21:52 WIB
Diskusi Irshad Manji Bubar Karena Diserang MMI
Besar Kecil Normal

TEMPO.CO, YOGYAKARTA -- Diskusi buku "Allah, Liberty and Love" dengan pembicara 
penulis buku tersebut Irshad Manji dibubarkan massa Majelis Mujahidin Indonesia 
(MMI) di kantor LKIS Yogyakarta, Rabu 9 Mei 2012 malam. Massa MMI yang mencapai 
sekitar 200 orang tiba-tiba menyerbu kantor LKIS sekitar 19.30 WIB. Massa 
merangsek menuju bagian pendapa LKIS yang berada di halaman belakang.

Berdasarkan pengamatan Tempo di lokasi kejadian, diskusi tersebut dimulai 
sekitar pukul 19.00 WIB. Demi keamanan, panitia menutup dan mengunci pintu 
gerbang dan pintu kantor LKIS. Lantaran sempat beredar kabar, bahwa diskusi 
Irshad tersebut akan dibubarkan organisasi massa yang tidak setuju dengan 
pemikiran tokoh feminis tersebut.

Saat diskusi berjalan sekitar 30 menit memasuki sesi tanya jawab antara Irshad 
dengan peserta yang berjumlah sekitar 50 orang. Tiba-tiba massa MMI yang 
berjumlah sekitar 100 orang datang dengan merusak gerendel pintu gerbang. 
Mereka datang dengan mengenakan jaket dan helm.
"LKIS bubar! LKIS bubar!" Teriak massa yang langsung merangsek ke halaman 
belakang tempat diskusi dilakukan.

Massa maju ke lokasi pendopo dengan beringas. Piring-piring berisi kacang, 
pisang rebus ditendang hingga pecah berantakan. Kaca-kaca kantor LKIS dipukul 
hingga pecah. Buku-buku Irsyad yang dipajang di meja dekat pendapa untuk dijual 
dirusak hingga lembaran kertasnya bertebaran di halaman belakang.

Mereka juga berteriak agar selain wartawan, tetap berada di tempat. Kepada 
wartawan yang hadir, MMI membagikan pernyataan sikap.MMI menilai propaganda 
kebebasan dan lesbianisme Irshad Manji merupakan penistaan dan penodaan 
terhadap Islam serta propaganda atheisme terselubung.

Selain itu, siapa saja yang memfasilitasi acara-acara Irshad Manji di 
Indonesia, berarti memfasilitasi aktivitas musuh agama dan musuh agama dan 
musuh negara.

Kejadiannya cukup singkat sekitar 15 menit. Massa kemudian mundur sambil 
memaki-maki orang-orang yang hadir."Islam tidak mengajarkan orang menjadi 
lesbian!" Teriak massa MMI.

Selama massa MMI bertindak brutal, tidak ada satu orang pun polisi yang hadir 
untuk mencegah. Bahkan Tempo hanya menemukan satu orang polisi yang mengaku 
Kepolisian Sektor Banguntapan kabupaten Bantul di jalan depan LKIS. Polisi itu 
membawa senapan laras panjang.

Irshad Manji: Mereka Pengecut!
TEMPO.CO
TEMPO.CO, Jakarta -Penulis asal Kanada Irshad Manji, menyebut para penyerang 
diskusinya sebagai pengecut. Karena para kriminal penyerang peserta diskusi itu 
menyembunyikan wajah mereka di balik masker dan helm. »Mereka adalah pengecut!” 
katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Tempo pada Kamis 10 Mei 2012.

Rabu 9 Mei 2012 malam, massa Majelis Mujahidin merangsek masuk ke area pendopo 
LKiS (Lembaga Kajian Ilmu Sosial), Bantul untuk membubarkan diskusi Irshad 
Manji, pengarang buku Allah: Liberty and Love. Namun Direktur Moral Courage 
Project, Universitas New York ini tak beranjak dari tempat duduk. Begitu 
puluhan orang, yang rata-rata menutupi mukanya dengan helm itu mengusir seluruh 
peserta diskusi.

Massa yang ikut dalam penyerangan yang berlangsung singkat selama 15-an menit 
itu pun tak dapat menemukan keberadaan Irshad Manji yang sebenarnya masih ada 
di pendopo LKiS. Puluhan penyerang itu justru berinisiatif menendangi piring 
tempat jajanan, pot bunga dan memecahkan candela kaca-kaca kantor LKiS. Mereka 
juga menyerang peserta yang sebagiannya wanita dengan memukul dan menyuruh 
pergi dari lokasi diskusi.

Beberapa massa penyerang hanya saling berteriak bersahutan menghujat Irshad 
Manji. »Irshad Manji, Jangan rusak agama kami” dan »Jangan pernah menghina lagi 
agama kami dengan kampanye gay dan lesbi”, begitu mereka berteriak.

Melihat kejadian ini, Irshad merasa Indonesia berubah dari sisi toleransi 
agama. Saat ia datang empat tahun lalu, ia merasakan sebuah negara yang penuh 
dengan toleransi, keterbukaan dan pluralisme. Sehingga ia menyebutkan dalam 
bukunya berjudul 'Allah, Liberty and Love' sebagai negara yang patut ditiru 
negara lain. »Namun sekarang banyak hal yang berubah,” kata wanita berambut 
cepak ini.

MITRA TARIGAN

Kirim email ke