http://www.shnews.co/detile-1863-ambon-rusuh-44-warga-terluka.html


Ambon Rusuh, 44 Warga Terluka 
Izaac Tutalessy | Selasa, 15 Mei 2012 - 16:15:11 WIB



(dok/SH)Sejumlah pihak menyesalkan insiden tersebut. 
AMBON – Perayaan Hari Perjuangan Pahlawan Nasional Pattimura di Kota Ambon, 
Selasa (15/5) pagi, diwarnai bentrokan antarwarga. Bentrokan terjadi sekitar 
pukul 05.10 WIT saat iring-iringan pembawa obor Pattimura dari Kawasan Batu 
Merah melintasi Kawasan Mardika, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Sedikitnya 44 
warga dilaporkan terluka. 

Akibat kejadian tersebut, perang batu antarwarga tidak dapat dihindari. Warga 
bahkan ada yang terlihat membawa alat tajam, seperti parang dan panah. Akibat 
kejadian itu, ratusan orang diperkirakan luka-luka akibat lemparan batu. 

Polisi dan aparat TNI yang disiagakan untuk mengamankan HUT Pattimura bahkan 
kewalahan menghalau kedua kelompok warga. Sejumlah aparat yang mengamankan 
bentrokan tersebut tidak luput dari lemparan batu. 

Untuk mengantisipasi bentrokan agar tidak menjadi besar, polisi bahkan 
melepaskan tembakan ke udara berulang-ulang untuk menghalau massa.
Hingga berita ini diturunkan, aparat TNI dan polisi masih bersiaga di lokasi 
kejadian untuk mengamankan situasi. 

Hingga kini belum ada keterangan secara resmi dari pihak kepolisian terkait 
penyebab terjadinya bentrokan tersebut. Namun, akibat kejadian itu, suasana 
Kota Ambon sempat mencekam. Jalan Jenderal Sudirman bahkan ditutup hingga kini. 
Pihak Polda Maluku baru akan menggelar jumpa pers pada Selasa sore. 

Dua mobil kendaraan taktis jenis Anoa milik Kodam XVI Pattimura dan satu unit 
mobil Barakuda milik Polda Maluku masih disiagakan di tengah-tengah lokasi 
kejadian. Akibat bentrokan ini, 44 warga luka-luka. 

Sebagian besar korban mengalami sabetan parang, terkena busur panah, lemparan 
batu, dan ada pula yang terkena ledakan mirip bom rakitan. Bom rakitan itu 
diduga dilemparkan ke arah kerumunan warga di Jalan Tulukabessy, Kecamatan 
Sirimau. Para korban dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haulussy, Rumah 
Sakit Sumber Hidup, dan Rumah Sakit Bhakti Rahayu. 

Kerusakan juga terjadi di beberapa titik. Sejumlah kerusakan yang terjadi 
antara lain sembilan unit motor terbakar, dua unit rumah warga ludes terbakar, 
dan satu toko juga dibakar massa. Terlihat juga satu mobil Toyota Avanza rusak 
berat. 

Bentrokan bermula dari iring-iringan rombongan penari cakalele yang membawa 
obor Pattimura dari Negeri Batumerah akan diserahkan secara estafet ke 
masyarakat Mardika. Namun, tanpa diduga, terjadi keributan dengan warga yang 
sedang berdiri di tepi jalan. Akibatnya, obor-obor bambu yang dibawa rombongan 
penari ini dilemparkan ke arah penonton dan mengakibatkan sejumlah orang 
mengalami luka bakar. Dalam sekejap mata terjadi aksi saling lempar dengan batu 
dan benda keras lainnya. 

"Saya terkena lemparan obor di bagian pinggang hingga terbakar dan satu rumah 
di perbatasan dua negeri ini juga terbakar," kata Rein Leohena, salah satu 
korban yang dirawat di Rumah Sakit Bhakti Rahayu Ambon, Selasa dini hari. 

Ketua Sinode GPM, Pendeta John Ruhulessin, berulang kali menenangkan massa dan 
mengimbau mereka untuk tidak melakukan tindakan anarkistis, termasuk 
pemblokadean kalan, membakar ban, atau melempari aparat keamanan dengan benda 
keras.

Disesalkan
Majelis Latupati (pemangku adat) Maluku menyesalkan perayaan HUT Pahlawan 
Nasional Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura) ke-195 ternodai ketegangan 
antarwarga di perbatasan kawasan Mardika dan Batumerah, kecamatan Sirimau, Kota 
Ambon. 

"Sungguh heroisme Pahlawan Nasional Pattimura ternodai karena generasi penerus 
tongkat estafet bangsa Indonesia di Kota Ambon ini tersulut emosi sehingga 
terjadi ketegangan," kata Sekretaris Majelis Latupati Maluku, Jhon 
Pattisahusiwa, di Ambon, Selasa pagi. 

Raja Negeri Sirisori Islam ini mengaku bingung atas terjadinya gangguan saat 
prosesi perayaan HUT Pattimura, yang diawali prosesi adat di Gunung Saniri, 
Saparua (Maluku Tengah) yang menjadi tempat pertemuan Pattimura dan rekan-rekan 
mengatur strategi untuk menyerang Benteng Duurstede pada 1817. 

Ketegangan terjadi saat obor yang apinya dinyalakan Latupati di Gunung Saniri 
itu diarak pemuda Batumerah menuju Pattimura Park sebagai lokasi perayaan HUT 
yang dipimpin Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu. "Kami sangat menyesalkan 
insiden ini karena menunjukkan dihargainya pengorbaan Pahlawan Nasional 
Pattimura yang sebenarnya harus dijunjung tinggi dengan memelihara stabilitas 
keamanan," tandas Pattisahusiwa. 

Apalagi, lanjutnya, Kota Ambon sedang berbenah untuk menyelenggarakan MTQ 
tingkat nasional ke-24 pada 8–19 Juni 2012. "Jadi Latupati sedang berkoordinasi 
dengan para raja-raja, terutama di Kota maupun Pulau Ambon, agar mengarahkan 
warganya untuk tidak terprovokasi," kata Pattisahusiwa.

Prosesi Adat 
Sebelumnya, ratusan pemuda dari berbagai desa di Pulau Saparua, Maluku membawa 
obor Pattimura secara estafet dari Desa Saparua, Kabupaten Maluku Tengah hingga 
ke pusat Kota Ambon, bertepatan dengan peringatan Hari Pattimura ke-195, Selasa 
subuh. 

Prosesi adat pengambilan api untuk menyulut obor Pattimura dilakukan para 
Latupati (pemimpin adat) se-Pulau Saparua di puncak Gunung Saniri yang 
merupakan gunung tertinggi di pulau tersebut pada Senin petang. 

Pengambilan api di puncak gunung Saniri dimaksudkan untuk mengingatkan kembali 
generasi muda akan semangat kepahlawanan Kapitan Pattimura bersama para pejuang 
lainnya saat menggelar pertemuan akbar menyusun strategi penyerangan terhadap 
penjajah. 

Sebelum ritual adat digelar, para ahli waris bersama para Latupati telah 
menggelar ritual dan adat di rumah bekas tempat tinggal keluarga Pattimura di 
Desa Tuhaha. Di rumah tersebut juga tersimpan pakaian serta parang dan salawaku 
yang pernah digunakan Pattimura saat memimpin perang melawan penjajah. 

Setelah itu, barulah keluarga dan para Latupati yang menggunakan pakaian 
serbahitam dan bagian lehernya dihiasi lenso (sapu tangan) adat, berjalan 
menuju puncak Gunung Saniri untuk memulai prosesi pengambilan api, Mereka 
dikawal puluhan pemuda yang menggunakan celana berwarna merah dan memegang 
pedang, sambil menarikan tarian cakalele (tari perang). 

Proses hingga menghasilkan unar atau titik api yang akan digunakan untuk 
menyulut obor induk ini hanya bisa dilakukan keturunan Pattimura, yakni dari 
marga Matakena, Tatipikalawan, dan Polattu, dan dipimpin Raja Negeri Tuhaha, 
Mery Tanalepy. 

Wakil dari tiga marga ini bertugas menggosok dua bilah bambu, di mana pada 
bagian bawah salah satu bambu telah diletakkan parung atau sejenis serabut 
kelapa yang mudah terbakar. Proses pengambilan api ini disaksikan ratusan warga 
di Pulau Saparua, Haruku, dan Pulau Ambon. 

Mereka hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga menit untuk menghasilkan titip 
api. Titik api itu kemudian membakar "parung" yang kemudian digunakan untuk 
menyalakan obor induk setinggi 1 meter serta dua obor pendamping dengan ukuran 
masing-masing 60 sentimeter. 

Ratusan warga yang mengikuti proses pengambilan api itu sontak berteriak saat 
obor Pattimura dinyalakan, diiringi tarian cakalele dan suara tabuhan tifa juga 
tiupan tahuri (kulit bia). 

Sebanyak 240 pemuda dari delapan desa di Ambon bergantian membawa obor secara 
estafet, dan saat tiba kawasan Pattimura Park, obor tersebut diterima Wali Kota 
Ambon Richard Louhenapessy dan kemudian diserahkan kepada Upulatu (pemimpin 
tertinggi) Karel Albert Ralahalu guna menyulut obor utama yang berada di tengah 
kawasan Pattimura, sekaligus menandai dimulainya upacara peringatan. 

(Ant) 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke