Ref:  Dari sekian ratus ribu  TKI/TW diberbagai negara, kalau  saya tidak salah 
ingat hingga kini  baru  satu wanita Indonesia yang berhasil memperoleh gelar 
akademik sambil bekerja  dan ini berkat dukungan majikannya. Ini videonya : 
http://www.youtube.com/watch?v=NVKt6ciUaM0

Bagaimana di negeri sahabat Arab Saudia yang mempkerjakan kurang lebih satu 
juta TKI,  apakah ada yang disekolahkan atau mempunyai kesempatan belajar 
sambil bekerja? 

http://www.shnews.co/detile-1787-tukang-sapu-lulus-universitas-columbia-.html

Tukang Sapu Lulus Universitas Columbia 
Dina Damayanti | Senin, 14 Mei 2012 - 14:06:38 WIB

Dibaca : 87 


(AP/Photo)Gac Filipaj harus pandai-pandai membagi waktu antara bekerja dan 
kuliah. NEW YORK - Selama bertahun-tahun, Gac Filipaj menyapu lantai, 
membersihkan toilet dan membuang sampah di Universitas Columbia.

Pelarian dari bekas perang Yugoslavia itu, membagi waktu antara pekerjaan dan 
kuliah di salah satu universitas papan atas tempatnya bekerja. Pengorbanannya 
berbuah manis Minggu kemarin. Lelaki berusia 52 tahun itu mengenakan baju toga 
sebagai tanda kelulusannya meraih gelar sarjana ilmu sejarah.

Sebagai karyawan Columbia, ia tidak perlu membayar biaya kuliah. Mata kuliah 
yang disukainya adalah filsuf dan pemimpin Romawi Seneca, ungkap Filipaj saat 
jam istirahat di Lerner Hall, gedung pertemuan mahasiswa yang sehari-hari ia 
bersihkan.

"Saya menyukai karya-karya Seneca karena ditulis sama dengan semangat yang 
diajarkan oleh keluarga saya - jangan mencari ketenaran dan kekayaan, namun 
carilah kehidupan yang sederhana, jujur dan terhormat," katanya, seperti 
dikutip dari AP, Senin (14/5).

Filipaj yang lulus dengan penghargaaan ini, sebanding dengan masa kuliahnya 
yang mencapai 12 tahun, termasuk membaca dalam bahasa Latin dan Yunani kuno.

"Lelaki ini sungguh terhormat, baik dalam hal pekerjaan maupun akademik," sahut 
Peter Awn, Rektor School of General Studies dan dosen ilmu Islam di Universitas 
Columbia. "Ia sungguh rendah hati dan penuh rasa syukur, ia adalah pribadi yang 
menentukan masa depannya sendiri."

Filipaj diterima di Columbia setelah belajar bahasa Inggris untuk 
pertamakalinya, bahasa ibunya adalah bahasa Albania.

Bagi Filipaj, gelar sarjana yang disandangnya ini adalah buah dari 
perjuangannya belajar hingga larut malam selama bertahun-tahun di apartemennya 
di Bronx. Ia mulai membaca buku-buku kuliahnya setelah jam kerjanya pukul 14.30 
hingga 23.00 sebagai tukang bersih-bersih selesai. Sebelum masa ujian atau 
tenggat menyelesaikan karya tulisnya berakhir, ia akan begadang semalaman, pagi 
harinya mengikuti kuliah dan kemudian pergi bekerja.

Hari Minggu pagi yang cerah di kampus Columbia di Manhattan kemarin, Filipaj 
tersenyum lebar sambil mengangkat kedua ibu jarinya saat berjalan meninggalkan 
podium setelah bersalaman dengan Presiden Columbia, Lee Bollinger.

Filipaj kemudian mendapat pelukan hangat dari atasannya, Donald Schlosser, 
asisten Wakil Presiden Columbia untuk divisi operasi kampus.

Usia Filipaj masih berkepala 2 ketika ia meninggalkan Montenegro, yang kemudian 
berganti nama menjadi republik Yugoslavia yang waktu itu tengah menghadapi 
perang saudara yang brutal.
 
Filipaj yang beretnis Albania dan seorang Katolik Roma, meninggalkan peternakan 
warisan keluarganya di sebuah desa kecil di Donja Klezna, di luar kota Ulcinj 
kerena nyaris dijadikan tentara Yugoslavia yang dipimpin oleh Serbia, yang 
dianggap oleh banyak warga Albania sebagai musuh mereka. 

Ia melarikan diri setelah hampir menyelesaikan kuliah hukumnya di Belgrade, ibu 
kota Yugoslavia. 

Awal tinggal di New York, pamannya yang bekerja di restoran dan tinggal di 
Bronx menawarkan tempat tinggal.

"Saya bertanya kepada orang-orang, apa sekolah yang terbaik di New York?" 
sahutnya. Karena Columbia berada di puncak teratas dalam daftar yang dibuatnya, 
"Saya pergi kesana untuk mencari pekerjaan."

Sebagian dari penghasilannya sebagai tukang sapu sebesar US$ 22 per jamnya, 
tetap dikirimkan ke adiknya, iparnya dan dua anak mereka di Montenegro. Filipaj 
tidak memiliki komputer, namun ia membelikan satu set komputer untuk keluarga 
kakaknya, yang penghasilan utamanya hanya dari berjualan susu.

Filipaj juga hidup hemat. Ia tidak memiliki telepon seluler, dan hanya bisa 
dihubungi melalui telepon rumah.

Ia berharap ayahnya masih hidup untuk ikut menikmati keberhasilan yang 
dicapainya ini. Ayahnya meninggal bulan April. Saat itu, ia pulang ke kampung 
halamannya untuk menghadiri penguburan ayahnya, lalu tiga hari kemudian kembali 
ke New York untuk bekerja dan kuliah.

Kala bersantai di rumah, Filipaj sesekali merokok dan menenggak brandy 
'grappa'. "Dan kalau saya minum terlalu banyak, saya langsung tidur saja," 
cetusnya sambil tertawa.

Saat wawancara dengan AP di ruang pertemuan Lerner Hall, Filipaj sedikit pun  
tidak menunjukkan rasa penyesalan ataupun kepahitan dalam menjalani hidupnya 
yang keras. Sebaliknya, ia justru dengan ceria mengungkapkan pertemuannya 
dengan para mahasiswa yang berusia lebih muda darinya yang bertanya-tanya 
mengapa teman sekelas mereka membersihkan kelas setelah pelajaran usai.

Ambisi Filipaj berikutnya adalah mendapatkan master, bahkan gelar Ph.D. dalam 
bidang sejarah Roma dan Yunani. Satu hari nanti, ia berharap bisa menjadi guru, 
sambil menerjemahkan buku-buku klasik kesukaannya ke dalam bahasa Albania.

Saat ini, ia hanya mencoba untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, jika 
memungkinkan ia ingin menjadi pengawas karyawan atau pekerjaan serupa lainnya 
di Columbia.
 
Ia tidak bercita-cita sekolah lebih tinggi demi untuk mendapatkan uang lebih 
banyak.

"Kekayaan ada dalam diri saya, dalam hati saya dan dalam kepala saya, bukan 
dalam kantong saya," sahut Filipaj, yang kini menjadi warga negara Amerika.

Tak lama kemudian, Filipaj mengambil sapu beserta pengkinya dan kembali bekerja.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke