http://www.siwalimanews.com/post/bentrokan_berdarah_15_mei_polisi_dikelabui_provokator
Wednesday, 16 May 2012
49 Warga Luka Berat 
Bentrokan Berdarah 15 Mei Polisi Dikelabui Provokator
 
Ambon - Bentrokan berdarah yang terjadi saat arak-arakan obor perjuangan 
Pattimura, Selasa (15/5), diduga kuat sudah dirancang oknum-oknum tertentu. 
Kendati demikian, pihak kepolisian terkesan lambat akibat tidak tanggap 
terhadap kemungkinan terburuk yang bakal terjadi.

Bentrokan tersebut berawal saat arak-arakan obor perjuangan Pattimura yang 
dibawa pemuda dari Desa Batu Merah melewati kawasan persimpangan Jalan Rijali 
dan Tulukabessy, Keca­matan Sirimau, Kota Ambon, pada pukul 05.10 WIT.

Informasi yang dihimpun Siwalima di Tempat Kejadian Per­kara (TKP) terungkap 
saat tiba di lokasi tersebut ternyata ada pemuda Desa Batu Merah yang melakukan 
aksi sumburan api dari obor yang dibawanya. Ternyata warga yang sementara 
menonton di tepi jalan tersebut juga terkena sumburan api, sehingga terjadi adu 
mulut. Perdebatan tersebut akhirnya berkembang menjadi saling lempar obor 
maupun batu.

Situasi akhirnya semakin tak terkendali. Tiga orang pembawa obor pun kabur. 
Entah kemana mereka bertiga melarikan obor tersebut, padahal telah ditunggu 
oleh peserta upacara peringatan Hari Pattimura ke-195 yang dipusatkan di 
Pattimura Park.

Sementara kronologis versi Polda Maluku menyebutkan bentrokan ter­sebut terjadi 
saat obor perjua­ngan Pattimura yang sementara be­rada di tangan pemuda Batu 
Merah hendak dibawa menuju Pattimura Park. Namun tiba-tiba warga dari kawasan 
Mardika menghadang dan meminta pemuda Batu Merah menyerahkan obor tersebut 
kepada pemuda Mardika guna dibawa.

Permintaan tersebut ditolak oleh warga Batu Merah dengan alasan Mardika bukan 
merupakan desa adat sehingga tidak berhak mem­bawa obor tersebut. Adu mulut pun 
terjadi hingga berujung dengan aksi pelemparan batu antar warga yang berada di 
TKP.

Sementara itu, usai rapat koor­dinasi yang berlangsung di Kantor Gubernur 
Maluku, Selasa (15/5), Kapolda Maluku Brigjen Polisi Syarief Gunawan mengaku, 
sebe­lum­nya pihaknya sudah mendapat informasi akan terjadi gangguan keamanan 
di Galala.

Informasi tersebut ditindaklanjuti dengan digesernya personel ke kawasan 
tersebut, sehingga oto­matis perbatasan Batu Merah-Mardika yang merupakan titik 
rawan jumlah personl ikut berkurang.

“Memang kami menerima infor­masi di Galala akan terjadi gangguan keamanan 
sehingga personel kami geser ke sana. Pada saat aparat kita bergeser itulah 
timbul peristiwa berdarah tersebut,” ungkapnya.

Dikatakan, pengamanan arak-arakan obor perjuangan Pattimura melibatkan sebanyak 
650 personel gabungan TNI dan Polri.

Ia juga menyesalkan prosesi arak-arakan yang berlebihan dengan disertai 
akrobatik nyala api yang disumbur peserta arak-arakan.

“Terlalu berlebihan sehingga jatuh korban. Bisa saja akibat ke­mampuan akrobat 
yang disertai sumburan nyala api itu mengena warga dan terpancing emosi. 
Seha­rusnya pawai Obor Pattimura itu dilakukan dengan hikmat karena Pattimura 
merupakan pahlawan yang harus dihormati,” katanya.

Terkait dengan lemparan bahan peledak yang menyerupai bom, mantan Wakil Kepala 
Brimob Polri ini sudah membentuk tim mengusut peledakan bom di perbatasan 
ka­wa­san Batu Merah-Mardika tersebut.

“Saya sudah membentuk tim untuk mengungkap pelaku pelem­paran bahan peledak 
yang menye­rupai bom. Mudah-mudahan sece­patnya diungkap. Masyarakat di­minta 
berdoa dan membantu polisi juga,” harapnya.

Sementara itu Pangdam XVI/Pattimura usai menghadiri syukuran HUT Kodam 
XVI/Pattimura ke-13 meminta warga Kota Ambon me­nahan diri. Pasalnya, tinggal 
satu bulan lagi akan dihelat event MTQ Nasional XXIV di Kota Ambon.

“Mari kita hargai kepercayaan yang diberikan pemerintah pusat. Di hari ulang 
tahun Pattimura ini mas­yarakat Maluku harus menghar­gainya sebagai pahlawan 
yang harus dihormati dan dibanggakan,” tandasnya.

49 Warga Luka Berat

Bentrokan berdarah yang terjadi kawasan persimpangan Jalan Rijali dan 
Tulukabessy, Kecamatan Siri­mau, Kota Ambon, memakan korban sebanyak 49 orang 
luka-luka. Selain itu, tiga unit rumah dan 10 unit sepeda motor juga ikut 
terbakar.

Data yang dihimpun Siwalima dari Humas Polda Maluku dan sejumlah rumah sakit di 
Kota Ambon menyebutkan, sebanyak 49 orang luka-luka termasuk ada juga yang 
sudah memilih pulang ke rumah.

Sedangkan tiga unit rumah yang terbakar di kawasan Mardika itu milik keluarga 
Picaully, Berhitu dan Maruanaya. 10 Unit sepeda motor yang terbakar tersebar di 
Batu Merah (lima unit) dan di kawasan Mardika (lima unit).

Direktur Rumah Sakit (RS) Sumber Hidup, HJ Huliselan menjelaskan, rumah sakit 
yang dipimpinnya itu awalnya didatangi sebanyak 44 korban. Dari jumlah itu, 6 
orang rawat nginap di Sumber Hidup, sisanya dirujuk ke RSUD Haulussy Kudamati 
Ambon dan ada yang memilih pulang setelah mendapat perawatan intensif.

“Jumlah awal itu 44 orang, yang tinggal rawat nginap 6 orang, sisanya dirujuk 
ke RSUD. Baik yang dirujuk maupun yang pulang ke rumah itu sebelumnya kita 
sudah berobat dan melakukan observasi selama satu jam,” jelasnya.

Menurut Huliselan, puluhan korban luka-luka itu akibat terkena serpihan bom, 
panah wayer dan luka bakar. Para korban itu, di antaranya Vicktor Makatita, 
Alfret Titalessy, Michael Muskita, Hendra Latupe­rissa, Marsel Taberima dan 
Lekry Rusli.

Sedangkan di RS Bhakti Rahayu terdapat 11 orang, 4 orang sudah pu­lang ke rumah 
setelah mendapat pera­watan intensif. Para korban dianta­ranya Gilbert 
Wattimena, Gidieon Akihary, Jovan Hendrik, Rudy Manu­puty, Rein Louhena, Deni 
Telehala, Joni Horhoru, Valen, Anyong K, Samy Salampessy dan Nexon Weno.

RSUD Haulussy diantaranya, Hendrik Frans, Yan Muriani, Brian Huliselan, Jemy 
Siahaya, Yeni Sapulette, Yulius Kakisina, Firno Luhukay, Naldo Tuankotta, 
Novendra Huli, Frangky Ruhulesin, Eswal Tentua, Yongky Talakua, Rence, Meriam 
Berhitu, Mariada Tahalele, Falen Lekatompessy, Kace Weridity, Faitan Kalede, 
Samual Souhoka, Elif Leimeheriwa, Januari Hendriks Bob Patty dan D Loupatty.

Para Korban di RS Al-Fatah yakni Aris Fadila, Ely, Firman Bombay, Odel, Hamdan 
Tanase, Firman Tukoway dan Udin. Sedangkan di RS Tentara, Frangky Tuanakota. 
(S-32/S-19)

++++
http://www.ambonekspres.com/index.php?option=read&cat=53&id=38213
RABU, 16 Mei 2012 |

Bentrokan Pecah, 57 Orang Luka-Luka

Rombongan Obor Pattimura Dihujani Batu



Ambon, AE—Sakralnya Peringatan HUT Pattimura dinodai bentrok warga. Bentrok 
pecah ketika arak-arakan obor memasuki Jalan Tulukabessy, antara Negeri 
Batumerah dan Kelurahan Rijali, Selasa pukul 05:15 Wit, kemarin. 

Diperkirakan 57 orang luka, tiga rumah dan enam kendaraan bermotor hangus 
dibakar. Sebuah ledakan besar terjadi. Diduga bom rakitan. 

Tidak ada korban jiwa. Namun saat bentrok mulai pecah aparat keamanan hanya 
segelintir, padahal jumlah massa begitu besar. Letupan tembakan ke atas 
berkali-kali, namun kedua kelompok tetap merangsek maju. Hujan batu antara 
kedua kelompok tak terhindarkan.

Informasi yang dihimpun api obor yang dinyalakan di gunung Saniri pulau 
Saparua, tidak terselamatkan. Akibat bentrok pemuda Batumerah dan salah satu 
kelompok pemuda lainnya di seputaran Karpan dan belakang Soya itu, ritual adat 
sekali setahun untuk memperingati semangat juang Kapitan Pattimura itu jadi 
kacau balau. Api unggun di Pattimura Park khabarnya dibakar tidak menggunakan 
obor dari gunung Saniri di Negeri Tuhaha itu.

Pantauan Ambon Ekspres, suasana semula aman ketika obor Pattimura diiringi para 
pemuda Batumerah yang hampir mencapai 100 orang itu. Setelah obor diserahkan 
oleh Upulatu Hative Kecil di depan tanjung Tantui, bahkan pasukan cakalele 
tidak pulang ke Hative, tetapi menjadi pasukan cakalele yang mengantar pemuda 
Batumerah masuk ke Kota menuju Pattimura Park.

Tidak tahu siapa yang memulai, lemparan batu melayang diatas rombongan obor 
Pattimura dan pasukan cakalele. Situasi yang hikmat seperti itu berobah 180 
derajat ketika sampai di Tulukabessy. Terlihat obor-obor melayang di udara. Ada 
yang jatuh dekat penonton ada pula yang “berlari” mengejar warga lainnya. 

Saling lempar obor menjadi tak terelakkan. Kejar-kejaran terjadi. Pemuda 
Batumerah mengejar kelompok pemuda lain ke arah tanjakan Karpan maupun belakang 
Soya. Mereka sangat marah, setelah pelemparan obor itu. Baku lempar batu 
kemudian terjadi. Dua kelompok massa sambil menahan serangan, berusaha 
merangsek maju.

Aparat keamanan tak berdaya. Hanya melepaskan tembakan ke atas. Jumlah mereka 
masih tampak lebih sedikit dari jumlah massa kedua kelompok yang bertikai. 
Massa Desa Batumerah mundur perlahan sambil menahan serangan massa dari 
tanjakan Karpan. 

Akhirnya sebuah rumah di jalan Mutiara tak jauh dari Desa Batumerah jadi 
sasaran bakar-bakar. Perabot rumah milik keluarga Picauli ini ikut ludes. Satu 
kendaraan roda dua di jalan tersebut yang ditinggal lari pemiliknya, dibalik di 
atas aspal lalu dibakar.

Salah satu pemuda Desa Batumerah Ari menuturkan, lemparan obor yang tampaknya 
dikira jadi pemicu bentrok, menurut dia karena batu lebih dahulu dilemparkan ke 
arah rombongan pembawa obor. Dan sebelum ini terjadi, kelompok pemuda lain 
terlihat ingin mengambil obor Pattimura, tetapi tidak diberikan. 

“Dorang lalu masuk katong barisan, sambil cakalele, seret-seret parang di aspal 
tetapi katong seng pusing, lalu tiba-tiba ada batu jatuh,” ungkapnya. 

Lemparan batu pun berbalas obor “terbang”. Penonton di sisi-sisi jalan bahkan 
tak luput dari sasaran. Barisan pembawa obor dan kelompok pemuda “penyusup” 
yang bercakalele maupun penonton, semua lari. Situasi menjadi tak terkendali. 

Mengetahui kejadian tersebut, massa lain dari dua kelompok terus berdatangan. 
Kosentrasi massa terus meningkat. Hujan batu kembali terjadi, beberapa orang 
luka-luka terkena lemparan batu. Bahkan satu anak panah terlihat menancap di 
dada kiri salah pemuda kelompok Batumerah. Dia jatuh dan dipapah beberapa 
rekannya. 

Sekira pukul 06:15 WIT, sepasukan BKO TNI-AD Yonif 131 Bukit Barisan memasuki 
medan. Juga sebuah panser kavaleri dan sebuah mobil water canon, saling serang 
akhirnya terhenti. Namun massa kedua kelompok masih terkonsentrasi. Aparat 
dengan pengeras suara meminta warga secara persuasif tenang dan kembali ke 
rumah masing-masing.

Namun warga Batumerah sempat dibuat emosi, oleh sepasukan aparat Brimobda 
Maluku datang dengan tameng anti huru hara. Warga pun memprotes. Tak lama 
mereka ditarik, berganti aparat TNI yang melakukan penyekatan setapak demi 
setapak. Hingga seluruh warga pulang ke rumah masing-masing sekira pukul 07:30 
wit.

Akibat bentrok yang terjadi jalan-jalan sepi lengang. Terminal Mardika dan 
pasarnya biasa ramai penumpang dan berjubel pembeli kini terbalik. Satu-satunya 
jalan masuk atau keluar kota Ambon di Desa Batumerah sempat tak dilalui 
kendaraan. Warga hanya berjaga-jaga kalau-kalau muncul bentrok susulan. 

Sementara itu salah satu warga yang mendiami kawasan perbatasan, mengaku sedih 
dan serba salah. “Katong ini serba salah, sama saja warga kelas dua, tidak ada 
jaminan keamanan untuk kami,” ujar seorang bapak yang rumah saudari 
perempuannya dibakar massa di Jalan Mutiara. 

Padahal ungkap dia, rumah tersebut baru saja selesai dibangun, terbakar akibat 
bentrok 11 September 2012 lalu. “Biar saja pemerintah bayar kembali,” katanya.

Udin (30) warga Lorong Tahu heran atas kinerja aparat keaamanan, khususnya 
intelejen. “Di Maluku ini mungkin tidak ada intelejen kapa ya?, sama saja 
buang-buang biaya mereka disekolahkan, tetapi datang tugas di Ambon, konflik 
warga masih saja terjadi,” sesal dia sekaligus sinis.(CR7/M1/HIR/CR1)

ShareThis 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke