Perempuan Yang Tidak Memejam Mata ;
Karya Indah Dibalik Peristiwa Berdarah
Oleh Yuniyanti Chuzaifah (Ketua Komnas Perempuan)


Diberi buku bertanda tangan pengarangnya, diberi waktu untuk membaca karya 
berharga pak Putu Oka Sukanta, "Istana Jiwa: langkah perempuan dicelah aniaya", 
lalu diminta jadi pembahas dalam launching yang bersanding dengan hari Kartini, 
terasa membubung. Saya akan tulis dengan hati, mungkin jauh dari sebuah karya 
sastra, tetapi saya hanya ingin menghormati sejarah berkemas sastra ini dengan 
bahasa bersahaja saya bisa.


1. Kesaksian dan Pergulatan Mengurai Sejarah : Refleksi Personal.

Berkebaya jambon (pink tajam), ijo pupus (hijau pucuk daun), wungu terong 
(ungu) -- bahasa kampung saya untuk mengilustrasikan warna jaman dahulu kala--, 
bersanggul Jawa dahulu yang kian langka tergusur kain penutup kepala. 
Dilengkapi dengan silang selendang "ngejreng" dan kain jarik yang lipatannya 
berparit tanda lama terlipat. Perempuan-perempuan pengena pakaian  ini seperti 
penampakan perempuan setengah abad lalu yang tertelan waktu dan muncul lagi tak 
berjadwal. Penampilan mereka kontras bersaing dengan kebaya berpayet dengan 
warna-warna "kota" dan sanggul pelik yang dipakai ibu-ibu lain dengan sengatan 
parfum yang melenakan. Perempuan-perempuan "lama" ibu-ibu 65 ini kaku berdiri, 
bercucur air mata saat nyanyikan lagu Indonesia raya di halaman kediaman Dubes 
RI di Belanda rayakan 17 Agustusan.


Kesaksian saya tahun 2000 itu sungguh berharga, kesaksian masa transisional, 
dimana Menteri Yusril Ihya Mahendra, membuat kebijakan membolehkan mereka 
pulang ke negeri yang memasang penghalang anak negerinya untuk pulang. Pagar 
Kedutaan Indonesia di Wassenaar, sebagai rumah mereka dirasakan terkuak, mereka 
bisa injakkan halaman, bisa berdiri saksikan pengibarkan bendera di rumah 
Indonesia, adalah sebuah peristiwa besar bagi mereka. Ibu-ibu ini adalah mereka 
yang terhalang pulang yang disangkut marut dengan peristiwa 65.


Dipojok tenda, mereka bercerita, setiap  17-an, selama puluhan tahun, hanya 
bisa memegang pagar besi kedutaan seperti napi dibalik jeruji, menyaksikan 
upacara dari luar, ikut lirih menyanyi lagu negeri yang dicintainya dan hanya 
berkebaya kuno yang disetiai dan mensetiainya, yang dilekatkan ke nadi kulit 
mereka untuk merasa menjadi Indonesia.


Berkesempatan studi di Belanda berlalu lalang membuat saya sering tersedak dan 
terisak saat wawancara (ketika diminta sebuah media)  mendengar bengkalai 
nasib-nasib anak negeri yang ditawan, dihadang dan disungkur dari negerinya. 
Mereka ada yang ahli kapal, atom, designer budaya, lihai sastra, petinggi 
tentara sebagai pengawal proklamasi yang tubuhnya masih disemayami peluru 
sebagai prasasti bio-historis. Lalu lain hari bertemu perempuan mantan duta 
bangsa, menguasai 7 bahasa, tokoh organisasi perempuan, dan lainnya.


Makna terhalang pulang di negeri orang, tidak sederhana. Kapital-kapital  
bangsa yang seharusnya bisa membuat bangsa melaju, akhirnya membuat mereka 
layu, terjadi de-skilling, dipaksa kalah, tapi mereka harus hidup untuk 
bertahan hidup atas kebaikan hati negeri-negeri berhati.  Ada yang bekerja di 
pabrik, atau jadi penghuni perpustakaan yang selalu menelan bacaan entah untuk 
diapakan, ada yang rela rumahnya untuk pos ronda diskusi anak-anak Indonesia, 
tak berhitung berapa biaya air yang harus dibayarnya dengan euro bersisa entah 
berapa. Banyak laki-laki yang berjejak pintar, bijak dan menawan, sekarang 
membungkuk, tertatih tua tetapi berbinar menyibak salju hanya antarkan 
seplastik kecil cumi masakannya untuk kami para pelajar, karena mereka ingin 
cucu psikologis yang tak pernah bisa diproduksinya.


"Tak mengapa kami tidak dicinta, tetapi yang penting energi cinta ini bisa 
tetap kami salurkan", begitu saya coba terjemahkan kata senyapnya.  Bagi mereka 
mimpi berkeluarga terpaksa jauh disingkirkannya. Bahkan karpet kamar saya 
pernah tertetes air mata salah seorang tokoh budaya 65an yang mulai sepuh; " 
saya sudah berapa puluh tahun tak bersila seperti di kampung saya Pacitan sejak 
saya di Belanda ini".


Pengal-penggal persentuhan dengan mereka ini, membuat intelegensi saya memudar, 
pening bertanya, siapa penjajah? Kenapa penjajah ini justru sekarang memeluk 
manusia-manusia hebat ini untuk dimanusiakan? Belajar di negeri kompeni ini 
pula yang membuat pemahaman tentang sejarah kelam bangsa ini mengental 
pelan-pelan. Teks-teks sejarah SD, timbunan sejarah yg berseliweran rupanya 
punya versi yang berbeda.


" Nduk, jangan pijit ke Lek Jono, dia dari pulau Buru, pasti sambil mijet akan 
menyebarkan ideologi PKI lagi". Hari yang beda budhe cerita menarik;


" Dulu mbah putri pernah selamatkan mbah Kakung dan pakde (seorang tokoh 
agama), dari kejaran kepala desa PKI. Mbah putrimu pinter, dirayu dengan 
dibuatkan teh manis yang masih mahal waktu itu. Lalu dimasakin ayam piaraannya. 
Akhirnya si kepala desa ini pulang dan pekewuh datang karena mbah putri yang 
selalu selalu santun alihkan perhatian dan dibasani  melipir (pakai bahasa 
halus)". Wah, nenekku seorang negosiator ulung untuk menghindari darah 
bertumpah dibawah kala itu.


Begitu berlalu lalang arus ajaran, cerita dan nasehat dari keluarga besar, yang 
pelan-pelan saya lerai untuk diurai. Selain dari persentuhan diatas, entah 
tahun berapa (kelihatannya tahun sekitar 1996-1998), saya berdua dengan aktivis 
perempuan yang lebih senior berjingkat ke rumah ibu Sulami. Yang saya 
bayangkan, akan datang ke rumah megah karena beliau mantan orang besar, tokoh 
gerakan perempuan  di negeri ini. Tetapi yang saya dapati adalah rumah reyot, 
pengap lembab yang diisi oleh dua nenek-nenek sepuh yang kulitnya bersisik tak 
berasup nutrisi.


Pemandangan ini mengingatkan saya pada rumah-rumah simbah-simbah fakir tetangga 
saya di kampong yang rajin disambangi ibu atau menjadikan saya sebagai duta 
yang sering berhilir mudik hantarkan sedekah yang berbuah cium dan 
mantera-mantera do'a dari simbah-simbah yang biasanya sudah tak bergigi dan 
beraroma keringat tua.

Di rumah reyot ini yang saya dapati rupanya berbeda, dua perempuan yang 
tubuhnya menipu isinya. Mereka terlihat renta tapi masih ber-energi dinamit. 
Yang satu berjualan nasi seperti warteg super sederhana, menjadi therapist 
bahkan ke keluarga penguasa yang dulu menghabisi korban 65. Mereka masih lalu 
lalang menggotong dan memompa air dari sumur bor tetangga yang seharusnya 
dijungkit lengan kekar. Memang kondisi Bu Sulami sedang tersengal dadanya, ia 
sedang sakit,  tapi menyempatkan ambil tulisan pengalamannya dari balik 
tumpukan benda-benda lusuhnya selama di penjara.


"Tolong kalau sempat dibaca, tolong disimpan hati-hati dan pulangnya juga 
hati-hati. Kalau saya terkena apa-apa sudah tua, tetapi kalian masih muda, 
jangan lagi menjadi susah seperti kami". Kurang lebih seperti itu bu Sulami 
ingin menjamin keamanan kami dengan nasehat yang diharapkan jadi doanya yang 
pasti kurang mujarab dalam rezim kala itu.


Tentang Bu Sulami lagi, juga masih terbayang saat kongres I Koalisi Perempuan 
Indonesia I di Jogja 1999, Saya memang menjadi panelis, tetapi saya lupa 
berpanel dengan beliau atau tidak, yang jelas dari dekat saya menyaksikan bu 
Sulami diam, tercekik beberapa saat tak muncul kata apapun didepan ratusan 
kongres perempuan Pertama paska reformasi ini. Entah traumanya kembali, entah 
haru, entah takut kalau ratusan perempuan muda ini terhabisi, entah apa. Yang 
jelas bu Sulami sendiri, juga perempuan-perempuan muda ini berani melihat 
sejarah dari balik gunung kekar, didaki dengan kaki nekad dan mata tak 
berkedip, bahwa sejarah hitam kemanusiaan tidak bisa dibiarkan. Bisa saja 
berbeda atau tak bersetuju dengan ideologinya, tetapi sejarah kekejian ini tak 
bisa dibekam, penghancuran gerakan perempuan tak bisa dibiarkan.



2. Istana Jiwa : Lensa Tajam Perempuan

Membaca karya ini, sepertinya jiwa kita disindir, diberi vitamin, 
diklarifikasi, diajak melihat yang tak terlihat.
Beberapa aspek penting yang direkam dalam novel ini ;

*Sejarah jujur dan berwarna ;


Kebanyakan tulisan pembela korban cenderung menganggap sang korban putih total 
tak ada salah sedikitpun. Mengungkap celah kelemahan korban akan ganggu 
advokasi. Atau biasanya kita diingatkan: "kita konsentrasi dulu pada hal besar, 
baru urusan kecil-kecil nanti belakangan, biar tidak memecah konsentrasi 
perjuangan".


Sejarah demikian sudah menumpuk, dari jaman pra kemerdekaan dimana Sukarno 
gunakan nasionalisme untuk kerap kalahkan isu "penjajahan permanen" perempuan 
yang tak henti setelah proklamasi. Ingat pula saat advokasi Marsinah, " 
konsentrasi dulu pada militerismenya, kekerasan seksual bisa belakangan".


Ingat reformasi? "Kenapa gerakan perempuan ini sibuk urusan perempuan padahal 
ada musuh besar? ".


Tulisan ini ingin melihat sejarah tidak sewarna,  bahwa dibalik korban juga ada 
pelaku dan bisa jadi pelaku untuk kekerasan yang berbeda. Pejuang politik, 
pejuang kemanusiaan kerap lupa ada manusia perempuan. Merasa sah menjadi 
pejuang demokrasi, berteriak merdeka, terkenal jadi pembela kemanusiaan, tetapi 
di rumah sangat otoriter terhadap anak, khianati hak anak untuk meminta waktu 
melihat karya mereka atau mengantarkan potong rambut yang sudah 
berminggu-minggu tertunda. Mereka kerap menyimpan rapat telah menyakiti isteri, 
menghinakan dan meninggalkan.


Sang isteri, demi jaga reputasi suami, berlipat tambah rapat menyimpannya. 
Novel ini berpihak pada siapapun korban, walau pelakunya adalah dewa.  PKI 
disetiai sebagai ideologi melalui partai tetapi disaat yang bersamaan juga 
setia pada agamanya bahkan relakan kekasih hati yang tak seagama. PKI 
disekepingkan dengan atheisme termasuk disoal dalam novel ini. Kejujuran lain,  
rupanya tentara tak sewajah, mereka dilihat sebagai manusia,  ada tentara yang  
berhati, tak setuju tapi hanya bisa membisu, menolong dan menyelamatkan dengan 
diam dan diam-diam.

*Memungut sejarah perempuan ;


Aksara dan cerita dalam Istana Jiwa ini membukakan sejarah dari sudut yang tak 
biasa. Perempuan telaten merintis sebuah gerakan dengan passion, telaten 
merawatnya. Detail tentang penghujatan dan fitnah organisasi perempuan terekam 
dengan baik, dan dicerna oleh perempuan pelaku sejarahnya.  Marah besar tapi 
tidak sembrono suka-suka melawannya, karena gerakan ini sedang dibawah tumit 
besi penguasa.


Sejarah feminis adalah mengakui sejarah personal sebagai sesuatu yang politis 
dan berharga, menyibak yang domestik sama perannya dengan yang publik, tutur 
oral juga pengetahuan bukan yang teoritik akademik yang kadang menyingkirkan 
perempuan yang buta huruf tapi pintar melihat hidup. Sejarah perempuan mengakui 
pengalaman sebagai pengetahuan dan sejarah, bukan dari langit tetapi dari 
kacamata mereka yang melata.

*Dekonstruksi dominasi politik di ranah publik ;

 Sejarah kerap memunculkan perjuangan di publik, yang besar, yang kolektif, 
yang formal. Hal-hal kecil perjuangan domestik kerap tembus pandang. Padahal 
perempuan-perempuan aktor dalam novel ini, pelanjut hidup para napi yang bisa 
jadi hanya bertahan sekian bulan tanpa ransum cinta atau obat-obatan yang 
diantar rutin dan setia. Perempuan tetap jadi pemintar penghantar informasi. 
Penopang psikologis yang merapuh karena harus circus nasib. Perempuan 
merahasiakan gempa politik dan nasib keluarga di depan anak-anak agar kehidupan 
dan mimpi anak berlanjut.  Rela menjahit, jualan barang bekas, jual diri, 
berjudi dll, yang melukai rasa tetapi situasi memaksa. Mempertahankan aset yang 
berpindah pemilik ke lengan serakah, walau banyak yang kalah. Perempuan juga 
jadi pengambil keputusan saat genting, pembela organisasi saat tokoh-tokoh 
maskulinnya dalam penjara.

Sejarah demikian tak akan ada dalam sejarah sekolah, tapi mencuatkan sejarah 
perjuangan perempuan dari balik ranah domestik, personal, nyata. Sungguh dan 
harus!

*Mengkudeta sejarah yang feodalistik dan  elitis ;

Saat kecil saya selalu bertanya ke ayah saya ;

"Kenapa kok tokoh dalam buku sejarah pakai gelar jendral atau tengku,pangeran, 
raden ajeng, cut, dll?".

Betul!!

Hingga sekarang nama jalan di tanah air, mestinya ada nama Marsinah, Ruyati, 
Nasiroh, Nenek Minah, dll.
Menariknya, perjuangan proletar perempuan terbincangkan disini, walaupun 
aktor-aktornya masih elit dan penggunaan istilah "pembantu" yang pasti tak 
disuka gerakan karena sudah ada term PRT. PRT (Pekerja Rumah Tangga) sebagai 
term pengakuan substantif terhadap pekerjaan perempuan, dan term juga bisa 
menjadi alat perjuangan counter hegemoni.

Peristiwa 65, kalau disisir siapa yang sangat berjasa, dari cerita para 
aktivis-aktivis elitnya, bahwa penyelamat keluarga adalah para PRT, tukang 
sayur, simbok-simbok tetangga yang tak bernama. Dari mengevakuasi ke kampung 
halaman atau wilayah aman, anak majikan yang dirawat saat orang tuanya dibunuh 
dan dipenjara, bayi yang dilanjutkan hidupnya dalam gendongan sayurnya, 
berdiplomasi dan merayu biar tak bertumpah darah antar tetangga.

Isteri kedua Rampi, membuat kita terbelah rasa. Pasti spontan akan bela ibu 
Suri dan Maria dan menyalahkan perempuan PRT. Kok mau? kok merebut ? Padahal 
bisa jadi perempuan ini ingin menyelamatkan seorang yang dimatikan dalam raga 
hidup tapi mati sebagai laki-laki dan pejuang. PRT, sejarah panjang yang harus 
ditulis dan diakui.

*Patriarchi memakan korban terutama "diri sendiri" ;

Rampi lolos dari korban pembunuhan, lolos dari penjara, lolos menakhlukkan 
egonya dari politisi tinggi menjadi tukang dagang. Tetapi yang tak pernah 
berhasil adalah menerima dirinya sebagai laki-laki kenyal diantara 2 perempuan 
yang dianggapnya pemenang. Memerangkap diri melihat pewajiban laki-laki sebagai 
pencari nafkah utama, kekaku bakuan peran bahwa singgasana kuasa ada pada 
ekonomi, tidak siap bergantung pada perempuan, kalah dan rendah karena 2 
perempuannya (isteri dan anaknya) bisa mandiri. Rampi akhirnya kalah, lari dan 
menyakiti perempuan ke 3 yang dikawininya. Yang bersisa adalah power 
masculinity, sebagai senjata akhir penakhlukan dalam dunia patriarchy, dengan 
mengundang perempuan lain yang membuat dada perempuan tipis dan pelan mendekat 
ke liang bumi. Perempuan bisa bertahan dalam miskin, bisa liat dalam susah, 
bisa cerdas dalam pelik, bisa kenyal dalam gerus bencana. Tetapi penghinaan 
pada soal hati dan martabat dengan penyisihan melalui perempuan lain, adalah k
 ekerasan yang membuat perempuan cenderung memilih "menyerah", karena tidak 
punya energi untuk merusak banyak hati.

*Media bebas impunitas ;



Novel ini juga nanar memperlihatkan kekejian politik yang menggunakan media 
untuk fitnah dan penghancuran gerakan perempuan. Samar media sebagai aktor yang 
langsung berkepentingan atau disisip, dipolitisasi oleh kelompok penguasa. Yang 
jelas, media sudah membuat setmind publik, menjadi jejak sejarah yang akan 
dibaca multi generasi dalam perpustakaan-perpustakaan seperti KITLV Leiden yang 
mengundang ribuan pengkaji manuskrip dan dokumen tua, bahkan bekas pembungkus 
ikanpun dalam novel itu bisa memicu amarah korbannya. Negara bisa disoal, 
masyakat pelaku atau korban bisa disoal. Tetapi media dalam konteks 65? Mereka 
bergempita mengobarkan berita, tetapi sunyi dari gugatan dan masuk dalam ranah 
impun yang  berlenggang.


3. Perjuangan yang tak kenal Pensiun.

"Barusan berangkat", kata penunggu rumah ibu almarhumah Umi Sardjono saat saya 
terlambat beberapa menit ingin memberikan penghormatan terakhir di rumah duka 
yang pias, senyap tapi setia merekam kelam cerita penghuninya. Padahal seminggu 
sebelumnya, kami beberapa gelintir komisioner Komnas Perempuan ingin datang ke 
pejuang-pejuang sepuh dari berbagai mata angin ideologi mereka. Karena 
satu-persatu sudah menyatu dengan alam, dan cerita mereka harus tetap dirawat.

Komnas Perempuan sebagai mekanisme HAM nasional, sebagai rumah bernyawa gerakan 
perempuan, coba membuat sejarah perempuan kekerasan terhadap perempuan 4 
dasawarsa, tiap Mei mengajak guru sejarah untuk mengamplifikasi kekerasan 
bangsa ini pada anak muridnya, menemani korban untuk pulih dan mendapatkan 
pemulihan agar martabatnya sebagai manusia diakui negara. Selain itu juga 
membawa persoalan ini terus dan terus ke telinga negara, PBB, dan penghuni 
nusantara.


"Luar biasa, mereka sudah jelang usia 80an, masih bertanya apakah ICC 
(International Criminal Court) bisa berpeluang untuk menyoal kekerasan masa 
lalu. Saya jadi bertambah energi, mereka tak kenal lelah.


"Bolehkan foto dengan ibu-ibu 65 ini untuk cover buku yang sedang saya tulis?", 
kata Pramilla Patten, anggota Komite Cedaw yang "dirayu" datang ke Komnas 
Perempuan untuk duduk melingkar, mendengar dan merangkul korban.


"Jeng, kami jadi ingin panjang umur, sungguh", kata salah seorang eyang 
berkaca-kaca menggenggam tangan saya.


Jakarta, 21 April 2012.

Kirim email ke