Ref. Kalau anak buah krocok harus baris-baris belok kiri, belok kanan, tembak, mana ada waktu dan kenalan gross supplier, paling-paling disuruh mengawasi kiriman penting “rahasia negara”. Tiap usaha bisness tentu saja ada bossnya, mungkin bukan satu boss, tetapi beberapa boss. Timbul pertanyaan apakah impor ini baru kali pertama??
Dan apakah pil-pil ini untuk dijual ataukah dipakai sebagai obat perangsang, dikasi kepada anak buah agar “get high”, supaya berani mati menghadapi musuh waktu di lapangan operasi menghadapi musuh? http://www.gatra.com/hukum/31-hukum/13253-tni-akan-telusuri-qbig-bossq Adakah "Big Boss" di Balik Serma S? Wednesday, 30 May 2012 00:06 2 Komentar Barang bukti 1.412.476 butir ekstasi [Istimewa] Jakarta - Terbongkarnya penyelundupan 1.412.476 butir pil ekstasi dari Shenzen, China, oleh Badan Narkotika Nasional, pada Senin (28/5), mengejutkan banyak pihak. Apalagi "impor" pil haram tersebut diduga melibatkan seorang anggota TNI berpangkat bintara, beserta tujuh warga sipil yang diduga anggota sindikat penyelundup narkoba. Serma S, inisial oknum tersebut, bertugas di Primer Koperasi (Primkop) Kalta Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI. Ia diduga memalsukan dokumen-dokumen penyelundupan ekstasi yang dikirim ke koperasi tersebut. Ia sendiri yang mengurus administrasi barang tersebut, dengan memalsukan tanda tangan kepala koperasi Primkop Kalta, serta menambahkan tulisan 'BAIS TNI'. Sehari setelah pengungkapan kasus narkoba dalam jumlah besar tersebut, Mabes TNI memberikan tanggapan. Bahkan Kepala Pusat Penerangan TNI, Laksamana Muda TNI Iskandar Sitompul menegaskan, pihaknya akan menelusuri keterlibatan anggota lainnya selain Serma S, apakah ada oknum lainnya yang terlibat, atau lebih dari itu, ada big boss alias bos besarnya. "Ke depan akan kita kembangkan lagi. Ini sudah sejauh mana keterlibatannya atau ada big boss lagi di atasnya," ujar Laksda Iskandar kepada wartawan, Selasa (29/5), di Jakarta, sebagaimana dilansir Antara. Menurutnya, dalam melakukan aksi penyelundupannya, Serma S sejauh ini diketahui bekerja sendiri. Setelah dicek ke koperasi tempat ia bekerja, tak ada satu alamat surat yang benar yang ditujukan ke Bais TNI. "Jadi pada saat kemarin yang diikuti oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) itu, semua alamatnya ke Utara, tidak ada ke Bais TNI, di mana kita ketahui Bais TNI itu berada di Kalibata (Jakarta Selatan, Red.)," jelasnya. Iskandar menegaskan, Serma S jelas telah menyalahgunakan kewenangannya. Bahkan, menurutnya, tidak ada instruksi ke koperasi apa pun terkait penyelundupan ekstasi itu. "Koperasi sendiri tidak tahu ada hal-hal seperti ini. Bintara itu dia berjalan sendiri. Jadi dia memalsukan dengan dirinya sendiri dan grupnya yang tujuh orang itu," ungkapnya, seraya menyebutkan, Serma S sudah menjadi anggota koperasi milik Bais, Primer Koperasi Kalta selama 14 tahun. Namun, ia menambahkan, Serma S bukanlah pengurus koperasi, meski ia sudah lama bekerja di sana. TNI masih mendalami sejauh mana Serma S memalsukan dokumen-dokumen penyelundupan ekstasi yang dikirim ke koperasi TNI tersebut. "Jadi mari kita tunggu dulu, lagi didalami dia memalsukan ini sampai sejauh mana," jelasnya. Perkara penyelundupan pil ekstasi dalam jumlah fantastis itu jelas merupakan perkara serius. Apalagi diduga melibatkan seorang oknum bintara TNI dan warga sipil residivis kasus narkoba. Untuk mengungkap siapa di belakang upaya penyelundupan itu, diperlukan waktu untuk menyelidikinya. Mudah-mudahan aparat penyidik bisa segera mengungkap dan menangkap, siapa dalang di balik semua ini. [TMA] [Non-text portions of this message have been removed]
