http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/semua-capres-2014-bentukan-orde-baru


 
Map 
Semua Capres 2014 Bentukan Orde Baru
Diterbitkan : 1 Juni 2012 - 1:23pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto: 
Aboeprijadi Santoso) 
Diarsip dalam: 
  a.. 
Pilpres 2014 masih dua tahun lagi, namun Indonesia dari pekan ke pekan, ramai 
oleh isu yang itu-itu lagi. Aburizal Bakrie alias Ical, dipastikan jadi Capres 
Golkar. Namun Ical pagi-pagi sudah menafikan calon-calon lain, hingga merugikan 
partai itu sendiri. PDI-P ada di tangan Megawati, namun belum mau menetapkan 
capresnya. Paling hangat, Partai Demokrat kedodoran. Hanya Gerindra-lah yang 
siap dengan Capres Prabowo Subianto. 

Laporan Aboeprijadi Santoso dari Jakarta 

Yang menarik, dua sejarawan, Peter Carey dan Asvi Warman Adam, seperti 
memperingatkan janganlah para pemimpin baru Indonesia kelak bernasib seburuk 
Sukarno. Sukarno “dibunuh tiga kali”, kata Asvi, dan “dikhianati oleh 
historiografi musuhnya," tegas Carey. 

Bagi bos Partai Golkar, Abu Rizal Bakrie, isu Capres 2014 tidak terlampau 
menguntungkan. Aksi Ical yang pagi-pagi sudah meniadakan peluang calon lain 
dari partainya, terutama menafikan Jusuf Kalla yang dijagokan Akbar Tanjung, 
malah merugikan citra partai warisan Orde Baru yang memiliki mekanisme partai 
terbaik dan sumber daya terbesar ini. Malang pula, semua ini jatuh bersamaan 
dengan ulang tahun keenam musibah lumpur perusaahaan milik Bakrie Lapindo di 
Sidoarjo, yang belum juga teratasi. Bakrie malah mengingatkan perluasan musibah 
itu kini menjadi tanggungan anggaran pemerintah.
 
PDI-P seperti kapal di tengah dua ombak: ombak TK (Taufik Kiemas)  dan ombak 
Megawati. TK berulangkali mengisyaratkan secara terbuka tiba saatnya mengangkat 
calon-calon muda untuk Capres baru. Namun dia tidak mendukung Puan, sang putri 
yang justru didukung oleh sang ibu, Megawati. Akibatnya PDI-P seperti membeli 
waktu, sambil mengukur peluang-peluang untuk maju dengan calon dari partai 
sendiri atau pun partai lain.
 
Namun yang paling kedodoran adalah sang partai terbesar, Partai Demokrat. 
Seperti semua partai, PD pun dihujam tuduhan korupsi besar. Sejak Nazaruddin 
bernyanyi tentang peran dan keterlibatan sang Ketua Partai Anas Urbaningrum, 
aroma korupsi  membuat PD terdesak. Maka tak mengherankan, lahirlah isu baru 
untuk mengalihkan perhatian, sekaligus mengukur cuaca politik, yaitu isu Ibu 
Negara Ani Yudhoyono sebagai Capres PD.
 
Isu hangat
Datang dari sementara pejabat PD, isu itu kontan ramai ditanggapi dari luar dan 
dalam. Tapi, bukankah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri pernah 
menegaskan tidak akan mencalonkan anggota keluarganya, termasuk Ibu Ani? Maka 
pejabat tertinggi partai yang terdekat dengan presiden, T.B. Silalahi, pun 
membantah isu tadi. 

Tapi publik tahu PD-lah yang paling repot dengan soal Capres 2014. Apalagi kini 
Andi Malaranggeng makin disebut-sebut dalam soal korupsi stadion Hambalang. 
Anas adalah pilihan Ibu Suri, Ibu Sarwo Edhie, dan Andi favoritnya SBY mau pun 
Ibu Ani. Dengan gugurnya peluang keduanya, maka agaknya perlu melakukan 
‘testing the water’ alias mengukur reaksi  publik. Rachland Nashidik meremehkan 
isu itu sebagai “obrolan warung kopi”.
 
Suara keras, seperti “SBY dosa tujuh turunan kalau mencalonkan Ibu Ani”, hanya 
datang dari luar, yaitu dari Adnan Buyung Nasution. Bahkan Silalahi dan Ibu Ani 
sendiri tidaklah dengan tegas memusykilkan kemungkinan Ibu Ani maju jadi 
Capres. Bukankah Ibu Ani sendiri sangat aktif sebagai politikus dalam PD dan 
salah satu stafnya terdekat Assegaaf kini naik jadi bos fraksi PD di DPR?
 
Lebih menarik, penegasan secara tak langsung datang dari SBY sendiri. Ada apa 
gerangan presiden baru-baru ini perlu menemui Capres Gerindra Prabowo Subianto? 
Alasan reuni Akabri 1973 tidaklah pas, karena Prabowo jebolan 1974. Membuka 
opsi Ibu Ani sebagai Cawapres-nya Prabowo?
 
Nasib buruk
Apapun alasannya, tampilnya seorang ibu pejabat dalam politik Istana adalah 
bagian dari tradisi Jawa juga. Berbicara dalam konteks lain, dua sejarawan 
dalam sebuah diskusi publik seolah mengingatkan. Jangan sampai Capres, Presiden 
atau pun pemimpin baru Indonesia kelak bernasib seburuk Sukarno. 

Profesor emeritus Peter Carey dari Universitas Oxford yang menghabiskan 40 
tahun hidupnya untuk meneliti riwayat Pangeran Dipanegara, mencatat banyak 
persamaan. Sukarno mau pun Dipanegara pernah beristri atau dekat dengan 
sedikitnya tujuh perempuan. Keduanya berasal dari keluarga Jawa dan non-Jawa 
(Sukarno ada campuran Bali, Dipanegara berdarah Bima, NTB).
 
Namun yang penting, keduanya terlahir sebagai putra fajar. Mereka 
menyingsingkan fajar bagi negerinya, membuka era baru dengan keberanian melawan 
penguasa Batavia dan memerdekakan negerinya. Keduanya berjiwa ksatria, karena 
pada akhirnya tidak memilih melawan musuhnya demi menjaga kelangsungan dan 
persatuan negerinya. Yaitu ketika Dipanegara mau diajak damai tapi dibuang ke 
Makassar, dan Sukarno ketika membiarkan dirinya ditahan, dihina dan tidak 
dirawat dengan baik. 

Jadi keduanya ada riwayat dikhianati, dan akhirnya disudutkan oleh 
historiografi  musuhnya. Ketika sejarah berada di pihak pemenang politik, 
dengan menuduh Dipanegara mengganggu ketentraman Jawa dan Sukarno dituduh 
menyulut G30S.
 
"Dibunuh"
Sejalan dengan semua ini, sejarawan Asvi Warman Adam mencatat kalau PKI dibunuh 
dua kali. Kali pertama oleh tentara, dan kali kedua oleh sejarawan. Maka 
Sukarno secara nyata mau pun metaforis dibunuh tiga kali, dengan tuduhan 
pengkhianatan tadi.
 
Betapa pun, penting dicatat, baik Sukarno mau pun Dipanegara, sesuai dengan 
tradisi Jawa, keduanya menjadi besar berkat ajaran dan binaan mentor-mentornya. 
Ada Tjokroaminoto di Surabaya yang menuntun Sukarno. Namun siapa gerangan yang 
membina para Capres 2014 yang kini digadang-gadang oleh kaum elit partai-partai 
tadi?

Mereka, termasuk Megawati dan Ical, sedikitnya bentukan Orde Baru. Bahkan, dari 
SBY, Wiranto, hingga Prabowo, mereka semua tidak menjadi besar di bawah mentor 
besar sekaliber Tjokroaminoto, melainkan di bawah Jendral Besar Suharto dan 
Orde Baru.



  a.. Peter Carey 
  © Foto: Aboeprijadi Santoso - www.rnw.nl

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke