Ref: . Bukankah belajar ialah untuk menambah ilmu pengetahun,  jadi bagaimana 
bisa dikatakan ada pornografi, kalau yang belajar tidak mengetahui pornografi 
itu apa dan bagaimana bentuk serta prosedurnya? Sedikit-sedikit ada malsiat 
porno di sana sini.

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/06/01/120090/Buku-Pelajaran-Diduga-Benuansa-Pornografi-Penerbit-Siap-Tanggung-Jawab

01 Juni 2012 | 23:48 wib

Buku Pelajaran Diduga Benuansa Pornografi, 
Penerbit Siap Tanggung Jawab

SOLO, suaramerdeka.com – Penerbit buku “Ada Duka di Wibeng” yang diduga 
mengarah ke pornografi PT Era Adicitra Intermedia Solo siap bertanggung jawab. 
Termasuk merevisi isu buku yang dikeluhkan masyarakat.

Menurut Direktur PT Era Adicitra Intermedia, Heri Sulistyanto, tanggung jawab 
tersebut sebagai bentuk profesionalisme. Pihaknya pun dengan terang-terangan 
akan membuka pembicaraan dengan elemen di Kabupaten Kebumen yang notabene 
mengeluhkan isi buku tersebut. "Ini artinya koreksi bagi kami. Namun apa yang 
kami terbitkan sesuai dengan kaidah-kaidahnya," ungkapnya pada Suara Merdeka, 
saat ditemui di Jalan Slamet Riyadi 485 Kelurahan Pajang, Laweyan, Solo Jumat 
(1/6).

Dikatakan Heri, buku jenis fiksi atau novel remaja tersebut telah sesuai dengan 
Panitia Penelitian Buku Non-Teks Pelajaran (PPBNP). Yakni melalui keputusan 
Kepala Pusat Pembukuan Kemendiknas Nomor 1715/ ab.2/ll2001 tahun 2009 
tertanggal 19 Mei, sehingga layak beredar di masayarakat. Apalagi isi buku 
tersebut tentang akhlakul karimah dan budi pekerti. "Kemudian yang tidak tepat 
itu bacanya sepenggal. Soalnya halaman 1 hingga 93 itu contoh pergaulan buruk. 
Kemudian di halaman selanjutnya itu hal pokok. Kami ajak pembaca atau remaja 
jangan sampai menirunya," tandas dia.

Dia membantah, buku “Ada Duka di Wibeng”  tidak menjurus ke pornografi seperti 
yang memanas akhir-akhir ini. Menurutnya tidak ada bahasa fulgar. Namun lebih 
pada bahasa gaul anak remaja. Apalagi maksud di dalam buku yang sudah dicetak 
dua kali pada 2008 dan 2012 sangat jelas jika dibaca secara utuh. Mengingat 
dewasa ini, pergaulan anak zaman sekarang sudah mengkhawatirkan. “Tapi kami 
tetap akan menelusuri, kenapa bisa sampai pada anak SD. Soalnya kan kami hanya 
menerbitkan, kemudian ada agen-agennya sendiri yang mendistribusikan buku 
tersebut,” jelasnya.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke