http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/12/06/03/m51lw4-pertumbuhan-masjid-di-indonesia-rendah
Pertumbuhan Masjid di Indonesia Rendah
Sunday, 03 June 2012, 20:09 WIB
Republika/Agung Supriyanto   
 
Masjid Istiqlal di Jakarta.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jumlah pertumbuhan masjid di Indonesia rendah. 
Demikian yang terlihat dari data statistik pertumbuhan masjid di Indonesia yang 
dimiliki Kementrian Agama (Kemenag) Republik Indonesia (RI).
Kepala Pusat Kerukunan Beragama Kemenag RI, Abdul Fatah, menyatakan berdasarkan 
data tahun 2010, pada tahun 1997 hingga 2004 jumlah gereja Katolik bertambah 
153 persen dari 4.934 menjadi 12.473, gereja Protestan 131 persen dari 18.977 
menjadi 43.909, jumlah vihara bertambah 368 persen dari 1.523 menjadi 7.129, 
jumlah pura Hindu naik 475,25 persen dari 4.247 menjadi 24.431, sedangkan 
masjid hanya bertambah 64 persen dari 392.044 menjadi 643.843.

Abdul Fatah juga menyampaikan jumlah penduduk dan rumah ibadah di Indonesia. 
“Jumlah umat Islam 207.176.162 sedangkan jumlah masjid 239.497, jumlah umat 
Kristen 16.528.513 dengan jumlah gereja Kristen 60.170, jumlah umat Katolik 
6.907.873 dengan jumlah gereja Katolik 11.021, jumlah umat budha 1.703.254 
dengan jumlah vihara 2.354, jumlah umat Hindu 4.012.116 dengan jumlah pura 
24.837, dan jumlah umat konghucu 117.091 dengan jumlah kelenteng 552,” kata 
Abdul dalam pesan singkatnya kepada Republika Ahad (3/6).

Menurut Abdul, rendahnya pertumbuhan jumlah masjid di Indonesia dikarenakan 
masyarakat Indonesia lebih cenderung untuk menambah kapasitas masjid 
dibandingkan menambah jumlah unit masjid.

Hal senada diungkapkan Direktorat Urusan Agama Islam (Urais) dan Pembinaan 
Syariah Kemenag RI, A. Jauhari. Jauhari mengatakan terdapat paham keagamaan 
dalam umat Islam Indonesia yaitu satu desa satu masjid.

“Umat Islam di Indonesia masih menganut paham bahwa satu desa cukup satu 
masjid. Masjid tidak boleh lebih dari satu dalam satu desa. Jika ditambah, akan 
menjadi persoalan. Karena itu, masyarakat kita lebih memilih memperbesar masjid 
dibandingkan membangun masjid baru,” ujar Jauhari.

Jauhari mengungkapkan umat Islam cukup beribadah dalam satu tempat yaitu 
masjid. Sedangkan umat lainnya, kata Jauhari, jika berbeda aliran berbeda pula 
tempat ibadahnya. “Karena itu mereka membangun rumah ibadah,” ungkap Jauhari.

Jauhari mengatakan rendahnya pertumbuhan masjid dibandingkan dengan rumah 
ibadah lainnya merupakan bukti bahwa agama lainnya memperoleh hak yang sama 
untuk membangun rumah ibadah. “Perizinan pembangunan rumah ibadah tidak susah. 
Buktinya pertumbuhan rumah ibadah lainnya bertambah,” kata Jauhari



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke