Ref: Bukan saja desa Austria dibuat di Tiongkok, tetapi juga ada replika kota 
kecil Swedia bernama  “Sigtuna dengan danaunya “ Melaren” dinamakan  Laudian 
dan danau  Mei lan Hu :http://www.panoramio.com/photo/32888 . 

Di Jepang di pulau Kiyushu juga ada “kampung”  Belanda namanya “Huis Ten Bosch” 
jadi namanya mirip Den Bosch. Disini juga diadakan semacam pasar jual keju 
seperti di Gouda, Belanda. 


http://www.shnews.co/detile-2816-desa-austria-buatan-cina.html

Desa Austria Buatan Cina 
Dina Damayanti | Selasa, 05 Juni 2012 - 16:03:54 WIB

Dibaca : 39 



(Reuters/Photo)Cina tak hanya piawai memalsukan barang, kini desa Austria pun 
habis-habisan ditiru.HUIZHOU - Cina dikenal sebagai negara yang jago dalam hal 
membuat barang palsu, mulai dari iPhones hingga tas Hermes Birkins. Nyatanya, 
tidak hanya ahli memalsukan barang, Cina kini juga mengkloning salah satu desa 
di Austria.

Tak tanggung-tanggung demi menciptakan replika desa tercantik di Austria, 
Hallstatt, yang terdaftar sebagai salah satu warisan dunia UNESCO, Cina 
mengeluarkan biaya hingga US$ 940 juta. Meski menimbulkan kontroversi, desa 
kloningan ini baru saja dibuka untuk pengunjung di provinsi Guangdong sebelah 
selatan Cina.

Dari sekian banyak produk 'made in China' yang ada di pasaran, agaknya desa 
replika ini merupakan proyek paling ambisius yang pernah dibuat Cina.

Cina berusaha habis-habisan menyontek desa yang terletak di tepi sungai di 
Eropa yang dikenal sebagai tujuan wisata turis dan produk garamnya, termasuk 
membuat replika menara jam gereja, rumah kayu bergaya Eropa dan properti 
lainnya yang akan dijual kepada para investor.

Proyek yang didanai oleh taipan tambang China ini, membuat sejumlah warga desa 
Hallstatt merasa marah dan terkaget-kaget. Mereka awalnya tidak menyangka ada 
yang berupaya untuk meniru keunikan mereka, termasuk rumah-rumah di desa mereka 
yang telah berusia berabad-abad.

Dari kota berpasir Huizhou, yang dekat dengan pusat pabrik Cina di Delta Sungai 
Pearl, butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke desa Hallstatt buatan 
China ini yang diharapkan akan menjadi atraksi wisata baru.

Sudut-sudut pengambilan foto bertema taman bermain Disney bertebaran di plaza 
utama desa replika itu, yang meniru pasar Hallstatt.

"Saat saya menginjakkan kaki kesini, saya merasa seperti berada di Eropa," kata 
Zhu Bin, warga Huizhou berusia 22 tahun, seperti dikutip dari Reuters, Senin 
(4/6). "Penjaga keamanan mengenakan kostum-kostum menarik. Semua rumah yang 
didirikan bergaya Eropa."

Didirikan di atas lahan 1 juta meter persegi, alat-alat berat dan lahan 
konstruksi tersebar hingga ke atas bukit tandus di atas rumah-rumah beratap 
runcing, seakan memberi janji bahwa kota yang baru ini akan terus berkembang. 

Meski pun menerima sambutan yang berbeda-beda, pejabat berwenang di Hallstatt 
kini justru bersikap melunak setelah melihat adanya peluang pemasaran di 
jantung salah satu pasar wisata yang paling cepat berkembang di dunia ini.

"Pembangunan desa ini tidak terlalu kontroversial. Kami hanya terkejut bahwa 
ada sebuah desa kecil di Austria dibangun di sini dan kini kami sangat bangga 
bahwa itu bisa terlaksana," kata Walikota Hallstatt Alexander Scheutz, yang 
terbang bersama dengan sebuah delegasi Austria untuk menghadiri acara pembukaan 
sekaligus menandatangani dokumen kerja sama di bidang kebudayaan.

Hari Jumat lalu, para pengunjung dan wartawan yang merekam gambar-gambar di 
lokasi ini diminta untuk segera meninggalkan desa ini sebelum kunjungan 
mendadak Scheutz dilakukan.

Direktur Wisata Hallstatt, Pamela Binder, mengatakan Hallstatt telah menerima 
pembuatan replika China ini.

"Awalnya kami merasa sedikit tidak percaya diri. Kenapa ada replika Hallstatt 
dan kemudian kami merasa beruntung dan bangga," sahut Binder.

Menurut pejabat delegasi Austria di China, tahun 2005, tak lebih dari 50 
wisatawan Cina yang mengunjungi Hallstatt. Namun kini ribuan wisatawan Cina 
terbang ke kota di Austria setiap tahunnya.

Namun sejumlah warga Hallstaat tetap merasa keberatan dengan pembuatan replika 
desa mereka.

"Saya merasa ini bukan ide yang bagus. Hallstatt menjadi unik karena budaya dan 
tradisinya. Anda tidak bisa menirunya. Saya melihat beritanya dan fotonya dan 
replikanya kelihatan berbeda. Menurut saya ini tidak bisa diterima," sahut 
warga Hallstatt, Karin Holl.

(Reuters) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke