http://www.harianterbit.com/artikel/rubrik/artikel.php?aid=151830
62,7% Remaja SMP tidak perawan lagi
Tanggal : 01 Jun 2012
Sumber : Harian Terbit
BERDASAR penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak terdapat 62,7 persen
remaja SMP di Indonesia sudah tidak perawan lagi. Hal itu disebabkan besarnya
rasa keingintahuan remaja SMP terhadap seks.
"Semakin banyaknya peredaran video mesum yang semakin meningkat bisa menjadi
penyebab seks bebas. Hasil penelitian itu juga menunjukan 93,7 persen siswa SMP
dan SMA pernah melakukan ciuman," jelas Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan
Pemberdayaan Keluarga, Badan Koordinasi Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN), Sudibyo Alimoeso saat membuka GenRe Goes to School
di SMA 11 Kota Bekasi, kemarin. Bahkan, katanya, sekitar 21,2 persen remaja SMP
mengaku pernah aborsi dan 97 persen remaja SMP dan SMA pernah melihat film
porno. Fenomena ini membuktikan perilaku seks bebas di kalangan remaja ini
mungkin hanya salah satu implikasi masalah dari sederet persoalan yang dihadapi
oleh remaja masa sekarang.
Penelitian tersebut rada mengejutkan. Sebab, jika remaja SMP saja angkanya
hampir duapertiga maka di tingkat remaja SMA berapa banyak angkanya? Lalu
pergaulan seperti apa yang terjadi di tingkat mahasiswa? Teoritis, karena ada
wajib belajar SLTP dan SLTA berarti remaja kita boleh dikata semua sekolah.
Adalah wajar jika kita mempertanyakan mutu pendidikan di Indonesia.
Yang kita tahu lembaga pendidikan itu hadir, pertama untuk melembutkan hati
manusia sehingga ia menjadi sopan, santun, dan baik budi pekertinya. Untuk itu
pendidikan idealnya menjamin negeri ini tidak ada korupsi, atau tindak
kejahatan, dan pornografi. Minimal tindak kejahatan makin berkurang karena
semua orang nyaris terdidik secara baku dan massal. Artinya orang berpendidikan
seharusnya makin peka terhadap harkat dan martabat sehingga tidak akan sudi
melakukan hal yang memalukan diri sendiri maupun orang lain, makin toleran
sehingga malu dan takut jika memakan hak orang lain, apalagi orang banyak atau
hak negara.
Kedua untuk mengasah otak anak didik sehingga cerdas dan makin tanggap terhadap
tantangan zaman dan cara mengantisipasinya. Keadaan yang paling bagus dari
hasil pendidikan adalah ketika murid itu bisa terdidik mandiri (tidak cengeng,
tidak mudah bergantung pada orang lain), produktif, kreatif dan inovatif.
Apalagi jika sampai menjadi perintis dan penemu/pencipta sesuatu yang
bermanfaat bagi orang banyak. Mungkin Thomas Alva Edison dan Bill Gate bisa
merupakan kelainan namun harus diakui banyak karya besar mereka justru lahir
karena mereka tidak betah sekolah.
Ketiga, pendidikan harus menjadi pandu agar sikap dan perilaku atau
tindakan-tanduk peserta didik itu tergiring untuk menerapkan ajaran sehingga
terbukti santun, toleran, pandai menghormat dan menghargai orang lain, minimal
makin tahu diri sehingga mereka bisa empan papan angon mongso, yakni luwes dan
pas ketika memapankan diri pada tempat atau posisi yang seharusnya, dan
terampil ketika harus mengantisipasi situasi dan kondisi di mana dia hadir/ada.
Dalam kerangka yang besar, maka orang yang terdidik itu orang yang tampil
sederhana/rendah hati tapi percaya diri karena dia tahu bobot dirinya dan bobot
tanggungjawab pergaulan maupun aktivitasnya.
Kita hanya ingin dunia pendidikan menata ulang basic pendidikan luhur kita
karena sungguh amat memprihatinkan di negeri yang katanya agamis, berbudaya
adiluhung, dan semua penduduk relatif terdidik, faktanya di negeri ini korupsi
membudaya, pornografi merajalela, dan tindak kejahatan seperti mewabah. Paling
tidak dunia pendidikan harus mau bersinerji dengan para tokoh masyarakat,
ulama, maupun negarawan yang bersih. Sebab, dunia pendidikan justru harus
menyatu dan ramah dengan lingkungan dan hajat hidup orang banyak. **
[Non-text portions of this message have been removed]