http://www.shnews.co/detile-2872-jayapura-sudah-tidak-aman-lagi-.html


Jayapura Sudah Tidak Aman Lagi 
Odeodata H Julia | Rabu, 06 Juni 2012 - 14:23:41 WIB



(dok/ist)Penembakan di Jayapura tanggung jawab negara, terutama TNI dan Polri. 
JAYAPURA - Aksi penembakan terhadap warga sipil yang dilakukan orang tidak 
dikenal (OTK) dalam beberapa waktu belakangan ini mendapat tanggapan serius 
dari Wakil Ketua II DPRD Kota Jayapura, Papua, Darwis Massi. 

Menurut Darwis, melihat rentetan kejadian tersebut, baik yang menimpa seorang 
WNA asal Jerman Pieter Dietmar Helmut (55) dan terakhir menimpa seorang pelajar 
sekolah SMU Kalam Kudus, Gilberth Febrian Manika (16), wakil rakyat yang 
diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai keamanan di Papua, 
khususnya Kota Jayapura, sudah tidak aman lagi. 

"Kejadian penembakan membuat kita semua prihatin, karena harus kembali jatuh 
korban. Kali ini korbannya adalah seorang pelajar. Dengan adanya insiden 
tersebut, kami menilai Papua sudah tidak kondusif dan tidak aman lagi," 
ujarnya. 

Menurutnya, saat ini masyarakat Kota Jayapura sudah tidak merasa nyaman untuk 
beraktivitas, karena hak merasa aman sudah tercabut. Kasus-kasus penembakan 
yang terjadi di Kota Jayapura merupakan tanggung jawab negara, terutama TNI dan 
Polri, untuk mengungkap kasus-kasus yang sudah sering terjadi di Papua dengan 
secara profesional dan penuh ketegasan. 

“Permasalahan ini tidak boleh dianggap remeh, kecil, dan sepele. Ini karena 
kita lihat bahwa kejahatan yang terjadi di Papua, khususnya Kota Jayapura, 
semakin terstruktur, terorganisasi. Untuk itu pihak keamanan harus lebih 
proaktif," ujarnya. 

Menyinggung kejadian yang terjadi belakangan ini apakah ada kaitannya dengan 
rencana kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) ke Papua untuk 
membuka pelaksanaan Raimuna X, menurut Darwis, bisa saja dispekulasi ke arah 
sana, bahwa ada momen besar ke depan. Akibatnya ada pihak-pihak tertentu yang 
tidak menginginkan Raimuna ini bisa sukses dan dimanfaatkan dengan melakukan 
tindakan-tindakan kejahatan seperti ini. 

Sementara itu, pascaoperasi Gilbert masih belum melewati masa kritisnya. Korban 
masih menunggu waktu selama 24 jam untuk evaluasi kondisi. Korban usai operasi 
masih ditambah 11 kantong darah dan sembilan tabung oksigen. Menurut keterangan 
keluarga, paru-paru Gilbert dipotong sebagian akibat peluru yang menembus dada 
korban tembus tulang belakang. 

Di tempat yang sama Ketua Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Jayapura Paulus meminta 
Kapolda Papua agar pelaku segera ditangkap dan dihukum sesuai hukum yang 
berlaku. Ini karena korban adalah seorang anak yang tak berdosa. 

Seperti diketahui, sejak dua tahun berturut-turut kasus penembakan juga terjadi 
di Kampung Nafri, Distrik Abepura, Kota Jayapura. Namun sampai saat ini pelaku 
penembakan belum terungkap oleh aparat keamanan. 

(Sinar Harapan) 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke