Apa Saja Garapan Perusahaan Istri Anas di Hambalang?

TEMPO.CO, Jakarta -Dutasari Citralaras kebagian menggarap proyek pusat olahraga 
di Bukit Hambalang. Mahfud Suroso, bos Dutasari, menyebut mengajukan Rp 324 
miliar dari proyek pengadaan senilai Rp 1,2 triliun. Berikut ini jenis 
pekerjaan yang digarap perusahaan yang pernah dimiliki Atthiyah Laila, istri 
Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, itu.

Pekerja Proyek: PT Dutasari Citralaras
Jenis Pekerjaan: Sistem Mekanikal dan Elektrikal

A. Pekerjaan Sistem Mekanikal dan Elektrikal Harga Kontrak

1. Mobilisasi dan demobilisasi Rp 2,766 miliar
2. Site plan Rp 147,664 miliar
3. Asrama putri junior Rp 13,268 miliar
4. asrama putri elite Rp 12,825 miliar
5. Asrama putra junior Rp 13,751 miliar
6. asrama putra elite Rp 13,413 miliar
7. SMP Atlet Rp 5,265 miliar
8. SMA Atlet Rp 5,191 miliar
9. Gedung perpustakaan Rp 4,146 miliar
10. Gedung lapangan tembak Rp 5,890 miliar
11. Gedung kolam renang Rp 10,231 miliar
12. Gedung atletik dan gelanggang Rp 9,645 miliar
13. Gedung lapangan tenis dan bulu tangkis Rp 6,870 miliar
14. Gedung lapangan basket dan sepak takraw Rp 6,198 miliar
15. Gedung senam dan gulat Rp 5,243 miliar
16. Gedung gelanggang olahraga Rp 5,318 miliar
17. Gedung angkat besi Rp 5,327 miliar
18. Gedung serbaguna Rp 5,327 miliar
19. Gedung sport science Rp 4,992 miliar
20. Gedung penunjang dan pool mobil Rp 3,242 miliar
21. Gedung pos jaga dan tugu retail Rp 1,040 miliar
22. Gedung lapangan bola Rp 5,289 miliar
23. Amfiteater Rp 327,4 juta
24. Renovasi masjid Rp 1,123 miliar
25. Lapangan panahan Rp 318,7 juta
26. Lapangan extreme sport Rp 318,7 juta

Subtotal A Rp 295 miliar

B. Biaya Perizinan dan Penyambungan

1. Biaya penambahan penyambungan dan uang jaminan langganan 6.660 kVA ke PLN Rp 0
2. Biaya penyambungan ke PDAM Rp 0
3. Biaya penyambungan ke Telkom 150 line Rp 0

Subtotal A+B Rp 295 miliar
PPN 10% Rp 29,5 miliar
Total Rp 324 miliar

l SUKMA | DIOLAH DARI DOKUMEN DUTASARI CITRALARAS



Bos Dutasari Akui Garap Proyek Hambalang Rp 300 M
TEMPO.CO – 39 menit yang lalu
  a.. b..
Bos Dutasari Akui Garap Proyek Hambalang Rp 300 M
TEMPO.CO, Jakarta - Mahfud Suroso, bos Dutasari Citralaras, mengakui menggarap 
pengadaan listrik di proyek pusat olahraga di Bukit Hambalang. Dutasari, Mahfud 
menjelaskan, sekitar Oktober 2010 diundang PT Adhi Karya, selaku pekerja proyek 
itu, untuk bekerja sama. Awalnya, Dutasari mengajukan harga penawaran Rp 370 
miliar. Tapi penawaran itu masih dianggap mahal.


”Akhirnya kami teken kontrak pada Desember 2010 dengan harga Rp 295 miliar plus 
pajak 10 persen. Jadinya Rp 324,5 miliar,” kata Mahfud saat ditemui di 
kantornya Rabu 6 Juni 2012.


Dia menjelaskan, kerja sama dengan Adhi Karya bukan kali ini saja dilakukan, 
tapi sudah sejak 1994. Menurut Mahfud, Adhi Karya memiliki daftar vendor 
(rekanan) yang banyak.


Mahfud juga menepis tudingan M. Nazaruddin ihwal aliran dana Rp 100 miliar. 
Duit itu disebut Bendahara Partai Demokrat tersebut sebagai dana pemenangan 
Anas Urbaningrum dalam Kongres Demokrat. ”Kongres berlangsung pada Mei. 
Sementara proyek ini baru teken kontrak pada Desember. Duit dari mana Rp 100 
miliar?” ujarnya.


Rufinus Hutauruk, pengacara Nazaruddin, mengatakan, meski kongres digelar pada 
Mei 2010 dan proyek diteken Desember 2010, Adhi Karya sudah memberi panjar 
karena berhasil memenangi proyek. ”Proyek dimenangi Adhi Karya melalui Dutasari 
dan Anugrah. Itu berkat 'tangan-tangan' Anas,” ujarnya kemarin.


Kasus Hambalang hingga kini diusut Komisi Pemberantasan Korupsi. Wakil Ketua 
KPK Bambang Widjajanto mengatakan Dutasari menguasai Rp 300 miliar dari Rp 2,5 
triliun total nilai proyek Hambalang.


l FEBRIYAN | ANGGA SW | TRI SUHARMAN | SUKMA





http://www.suarapembaruan.com/politikdanhukum/keseriusan-kpk-makin-diragukan-ketika-bilang-tak-ada-aliran-dana-ke-hambalang/20986

PPATK Ungkap 23 Tranksaksi Mencurigakan ke Hambalang

Keseriusan KPK Makin Diragukan Ketika Bilang Tak Ada Aliran Dana ke Hambalang
Rabu, 6 Juni 2012 | 9:28

 Logo KPK. [Antara] [JAKARTA] Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku  belum 
menemukan bukti yang menguatkan adanya aliran dana dari proyek pembangunan 
sport center di Hambalang, Jawa Barat.

Akibatnya, kasus tersebut belum juga naik dari penyelidikan ke penyidikan. 
Pernyataan KPK ini sulit dipercaya, ketika pada saat yang bersamaan Pusat 
Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) mengaku sudah mengirimkan 10 
Laporan Hasil Analisis (LHA) kepada KPK terkait proyek pembangunan Pusat 
Pendidikan Pelatihan Sekolah Olahraga Nasional (P3SON) di Hambalang, Jawa Barat.

Hal itu disampaikan Ketua PPATK, M Yusuf, di Jakarta, Selasa (5/6).

"10 LHA terbaru yang dikirim oleh PPATK kepada KPK, dalam konteks pembangunan 
P3SON dan rumusan anggarannya. Dari 10 LHA yang diserahkan, jumlah transaksinya 
cukup banyak, kita melakukan spesifikasi. Terakhir ada 23 transaksi 
mencurigakan menyangkut Hambalang," kata Yusuf.

Menurutnya, mengenai kemajuan perkembangan 23 transaksi mencurigakan tersebut 
berada sepenuhnya di tangan KPK. PPATK hanya menunggu hasil analisis apalagi 
yang diminta KPK.

"Saya sendiri sudah berusaha semaksimal mungkin. Karena ini merupakan suatu hal 
yang bisa kita dukung untuk membersihkan negara ini," ujarnya.

Dia mengungkapkan, bersama dengan pimpinan KPK, dirinya intens berkomunikasi. 
PPATK dan KPK juga saling memberikan petunjuk dari mana harus mulai melakukan 
penyelidikan dan cara penyelidikan.

"Kami siap mendukung untuk tindak lanjutnya. Secara teknis kami tidak punya 
kapasitas untuk menilai. Tapi yang perlu untuk dicermati adalah apakah 
penambahan itu memang legal atau tidak," ungkapnya. Lantas mengapa KPK mulai 
berkelit? Apakah KPK sudah diintervensi kekuasaan?  [CKP/L-8]

Kirim email ke