http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/hut-suharto-di-bulan-sukarno

Sabtu 9 Juni  

B

 
Map 
HUT Suharto di "Bulan Sukarno"
Diterbitkan : 8 Juni 2012 - 1:15pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto: Ranesi) 
Diarsip dalam: 

Indonesia berada di tengah gelombang perubahan. Bulan Juni diawali dengan 
tanggal kelahiran Sukarno pada pekan pertama, disusul tanggal kelahiran Suharto 
pada pekan kedua. Masing-masing menjadi simbol yang merujuk pada dua zaman yang 
berbeda. 

Dan perbedaan itu kian menajam di masa pasca-reformasi ini. Indonesia 
diprediksi meningkat makmur dan kelas menengah yang konsumtif tengah menanjak 
sambil berkeluh kesah kangen Suharto. Namun, bulan Juni, bagi publik, tetap 
‘Bulan Sukarno.’

Sampai di pelosok kampung Pasar Minggu semua itu terasa. Dua poster raksasa 
menggambarkan Sukarno berpidato dengan semangat revolusioner. Teks-teks pada 
poster itu menyindir suasana ekonomi dewasa ini yang disebut dirajai 
“liberalisasi”. Sebuah majalah menampilkan Sukarno sebagai tokoh yang dikagumi 
dunia dengan berbagai contoh yang sulit ditemui di zaman sekarang. Sebuah 
pameran digelar khusus tentang Sukarno.

Para sejarawan berpesan, ada apa sih masa kini? Mengapa langka pemimpin dan 
kepemimpinan, bahkan mungkin juga langka perasaan kelangkaan kepemimpinan itu 
sendiri? Kemanakah anak-anak bangsa ini? Ada yang mengibaratkan suasana ini 
seperti fenomena Facebook dan media sosial: mesin telusurnya berputar sendiri 
terus menerus tanpa membutuhkan arah dan pemimpin.

Survey
Sebuah survey harian Kompas menunjuk pada lapisan menengah yang memacu 
kebahagiaan dengan berkonsumsi. Porsi mereka melompat hingga 65% menjadi 130an 
juta dalam 9 tahun terakhir tapi pada saat yang sama lapisan tersebut 
dinamakannya “kelas penonton.” Dr. Batara Simatupang, ekonom yang dulu memuja 
perekonomian sosialis, mengakui prospek ekonomi Indonesia membaik, sekalipun 
bertumpu pada sektor jasa yang padat dan sektor manufaktur yang menurun.

Semua ini berkat kestabilan politik. Bila ini berlangsung lama, ini satu 
landasan yang baik, tapi awas, demikian Batara memperingatkan, dampak krisis 
moneter dan politik dari krisis Eropa dan Amerika, khususnya bagi ekonomi yang 
justru lagi menanjak seperti Cina, India dan Indonesia. Pers dunia, tidak hanya 
Australia, tapi juga harian kondang The Financial Times, memprediksi ekonomi 
Indonesia akan terus meningkat.

Menohok SBY
Semua itu menohok sang presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY memimpin negara 
yang di satu pihak dipuji dunia sebagai telah memacu pertumbuhan ekonomi, namun 
di lain pihak membiarkan intoleransi. Bukan sekadar membiarkan, namun seperti 
mengizinkan karena nyata sekali bahwa polisi memilih opsi yang aman dan 
menguntungkan diri.

Selepas ramai soal Irshad Manji dan Lady Gaga, kini ibadah Kong Hu Cu di Medan 
pun diprotes. Kita tidak mengenal lagi rasa ‘kompleks minoritas’. Sebagian 
kelompok Muslim yang dulu, oleh sosiolog Belanda Prof. W.F. Wertheim disebut 
‘mayoritas yang berperilaku minoritas’, kini berubah menjadi minoritas 
(radikal) yang berperilaku mayoritas kebablasan. Artinya mereka tetap 
‘berperilaku minoritas’, namun kini lebih menonjolkan kemayoritasannya.

Intoleransi
Sejumlah propinsi dan kabupaten mengumumkan Perda Shari’ah sebagai semacam 
simbol kemenangan. Kebanyakan publik diam. Bahkan negara yang konstitusinya 
dilanggar itu, melalui Menlu Marty Natalegawa dan Menteri Agama Suryadarma, 
membantah gejala intoleransi itu. Sementara adzan yang tahun 1980an masih 
sayup-sayup, kini menembus setiap rumah, adalah sebuah symptomnya. Majalah The 
Economist pekan ini menulis corak Islam di Indonesia sebagai “tolerating 
intolerance”.

Intoleransi itu pula yang kini membuahkan dinamika baru. Lapisan menengah yang 
disebut “kelas penonton” tadi, meski menanjak makmur berkat kebijakan negara, 
kini pun gerah dengan keramaian para petualang negara dan vigilante berjubah. 
Mereka merindukan “ketegasan penguasa seperti di zaman Suharto”. Kontradiksi 
antara negara dan lapisan ini berkembang tajam.

Hari lahir Pancasila
Di tengah suasana seperti itulah HUT Suharto 9 Juni berlalu sepi, sementara HUT 
Sukarno 6 Juni ditandai dengan mengenang Hari Lahir Pancasila (1 Juni), Hari 
Wafat Sukarno (21 Juni). Tidak saja karena Hari Lahir ke-111 Sukarno maka bulan 
Juni itu menjadi ‘Bulan Sukarno.’ Tapi juga karena di tengah semua itu sejumlah 
manifestasi mencerminkan beda zaman di bawah kedua pemimpin negara itu.

Buku klasik Richard Robison tentang lahirnya kapitalisme Indonesia, dengan 
senyum Suharto di sampulnya, diluncurkan di Universitas Indonesia. Hersri 
Setiawan, mantan tapol Pulau Buru, menampilkan ulang berbagai essay-nya tentang 
perempuan dan mengasuh anak, “Awan Theklek, Mbengi Lemek” – judul yang cukup 
berbicara tentang nasib perempuan sebagai alas kaki di siang hari dan sebagai 
alas tidur di malam hari. Perempuan yang oleh Orde Baru ditetapkan jadi 
penunjang suami belaka itu, kini mengukuhkan keluarga batih yang menjadi sendi 
kapitalisme.

"Sebuah rapat Gerwani"
Tak kalah menarik, seorang penulis dari keluarga korban Prahara 1965, Brhe 
Redana meluncurkan novel berjudul “65” yang disebutnya merupakan “sebuah 
eksperimen untuk menunjukkan sisi politis dari kebudayaan pop”. Dan di situ, 
seorang selebritas, Roy Marten, menyampaikan pengakuannya pernah melaporkan 
“sebuah rapat Gerwani” di sebuah rumah yang kemudian dibakar tentara. Roy dan 
Brhe yang telah lama bersahabat itu kini berekonsiliasi di panggung.

Akhirnya, HUT Suharto di ‘Bulan Sukarno’ sebagai insiden dua zaman itu 
mendapatkan ilustrasi yang tajam ketika keduanya ditampilkan sebagai anak-anak 
zaman. Dengan mencatat Sukarno sebagai putra terlahir fajar, sejarawan Peter 
Carey baru-baru ini menggambarkan kepemimpinan Sukarno – seperti Dipanegara - 
sebagai tokoh pembaharu zaman. Sebaliknya, Sujiwo Tejo yang menonjolkan Suharto 
sebagai ‘anak tanpa bapak’, memaknai kepemimpinan Suharto sebagai anak sejarah 
Jawa yang sarat suksesi berdarah. Seperti Lembu Petheng dan Ken Arok, “Suharto 
juga tak jelas siapa bapaknya, (dan) orang yang tak jelas siapa bapaknya itu 
”tidak memiliki rasa minder terhadap masa lalu.”

Di tengah kelangkaan kepemimpinan negara, kontradiksi-kontradiksi semacam itu 
rupanya makin menarik perhatian orang.


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke