Ref: Apakah perlu suara adzan sekeras mungkin sesuai kapitas loudspeaker?

http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/12/06/07/m58rre-menyoal-pernyataan-wapres-dan-mantan-wapres-ri-tentang-adzan
Menyoal Pernyataan Wapres dan Mantan Wapres RI tentang Adzan
Kamis, 07 Juni 2012, 16:59 WIB
 

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Membaca berita dari berbagai media perihal adzan. Wakil Presiden RI Budiono 
menyatakan bahwa adzan akan lebih baik jika dikumandangkan dengan pelan, 
sayup-sayup akan lebih meresap di kalbu. Sementara, mantan Wakil Presiden RI 
Jusuf Kalla (JK) menyatakan bahwa adzan lebih baik dikumandangkan dengan keras. 

Pak Budiono menyatakan hal tersebut di depan para pemuka agama, demikian juga 
Pak JK. Komentar dari berbagai lapisan masyarakat beragam. Dari mulai yang 
mencela bahwa pemahaman Pak Budiono terhadap pentingnya adzan dan sholat 
terbatas, sampai kemudian komentar yang memuji pemahaman Pak JK terhadap Islam 
yang lebih baik.

Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menetap di Madinah dan 
selesai membangun masjid, kaum muslimin yang ingin sholat di masjid tersebut 
menurut waktunya, mendatangi masjid tanpa pemberitahuan. Selesai sholat, mereka 
pulang ke rumah masing-masing. Kemudian, mereka akan datang ke masjid pada awal 
waktu sholat berikutnya, demikian seterusnya.

Melihat kondisi demikian, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berpikir, 
alangkah baiknya jika kaum muslimin mengetahui sesuatu tanda kapan waktu sholat 
tiba dan dekatnya waktu sholat hendak didirikan. Kemudian, Nabi shallallahu 
‘alaihi wasallam mengumpulkan para Sahabat dan minta pendapatnya.

Ada yang mengusulkan agar menggunakan lonceng, tetapi beliau kurang berkenan 
karena orang-orang Nasrani telah memakainya, kemudian ada yang mengusulkan agar 
memakai terompet, namun kembali beliau kurang berkenan karena orang-orang 
Yahudi telah mempergunakan. Pada hari itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam 
dan para sahabat belum memperoleh cara terbaik bagaimana memanggil kaum 
muslimin bahwa waktu sholat sudah tiba dan pemberitahuan bahwa sholat sudah 
akan didirikan.

Pada suatu hari, Sahabat Abdullah bin Zaid al-Anshari al-Khazraji dalam tidur 
bertemu dengan seorang laki-laki yang membawa lonceng, kemudian beliau 
bertanya: “Wahai hamba Allah, apakah engkau hendak menjual lonceng?” 

Kemudian hamba Allah tersebut bertanya: “Apa yang hendak engkau lakukan 
terhadap lonceng ini?” 

Maka beliau menjawab: “Untuk memanggil sholat.” 

Hamba Allah tersebut kemudian berkata: “Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu 
yang lebih baik darinya?” 

Kemudian beliau bertanya lagi: “Apa itu?” 

Hamba Allah tersebut berkata: “Ucapkanlah Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Asyhadu 
Allah Ilaaha illallaah, Asyhadu allaa Ilaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar 
Rasulullaah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah. Hayya alash Shalaah, Hayya 
alash Shalaah. Hayya alal Falaah, Hayya alal Falaah. Allaahu Akbar, Allaahu 
Akbar. Laa ilaaha illallaah."

Kemudian Abdullah menyampaikan mimpi tersebut pada Rasulullah shallallahu 
‘alaihi wasallam. Maka, Beliau bersabda: “Itu adalah mimpi yang benar, insya 
Allah. Pergilah pada Bilal dan ajarkan hal itu kepadanya karena suaranya lebih 
nyaring daripada kamu.”

Ketika Bilal mengumandangkannya, Umar bin al-Khaththab mendengarnya. Maka, 
beliau mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: "Wahai 
Nabi Allah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh aku telah 
bermimpi yang sama dengan mimpinya.” 

Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Segala puji bagi Allah.” 

Dalam Sholat Shubuh, Bilal menambahkan "Ash-Shalaatu Khairan minan Naum", dan 
hal ini disetujui oleh oleh Nabi Saw. Kemudian, Nabi Saw. mengajarkan iqamat 
pada Bilal, beliau bersabda: "Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Asyhadu Allah 
Ilaaha illallaah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah, Hayya alash Shalaah. 
Hayya alal Falaah, Qad Qaamatish Shalah, Qad Qaamatish Shalah, Allahu Akbar, 
Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah."

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih Bilal untuk mengumandangkan 
adzan, salah satu pertimbangan Beliau adalah Bilal memiliki suara yang nyaring. 
Selain itu, suaranya pun memang enak (merdu) didengar.

Kota Jakarta dan sekitarnya, seperti Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor, 
memiliki mobilitas warga yang luar biasa. Ditambah dengan kondisi lalu 
lintasnya yang luar biasa semrawut dan penuh kemacetan. Sehingga, sebagian 
besar warga menghabiskan waktu lebih dari 14 jam di luar rumah, untuk menempuh 
perjalanan dari rumah ke tempat kerja dan bekerja keras. 

Kebanyakan para pekerja keluar rumah pukul 5 pagi dan kembali ke rumah sekitar 
jam 9 malam. Bahkan, para pelajar pun harus bangun pukul 04.30 karena sekolah 
di Jakarta dimulai pukul 06.30 WIB. Kesemrawutan lalu lintas, ditambah tindak 
kriminalitas yang setiap saat mengancam, telah mengakibatkan anggota masyarakat 
mengalami kelelahan fisik dan psikis yang luar biasa.

Dalam kondisi seperti ini, istirahat tidur sangat diperlukan oleh warga 
masyarakat. Kelelahan fisik akan membuat para warga tidur sangat nyenyak, 
sehingga waktu Shubuh yang tiba pada sekitar pukul 04.30 WIB akan sulit 
disadari oleh kaum muslim ibukota dan sekitarnya. 

Suara adzan yang keras, yang berkumandang sekitar 3-5 menit, akan sangat 
membantu kaum muslimin untuk segera bangun dan bersiap-siap menuju mesjid dalam 
rangka Sholat Shubuh berjamaah. Bagi kaum muslimin, suara adzan merupakan 
panggilan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya untuk segera 
menunaikan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya. Dengan demikian, pernyataan 
mantan Wakil Presiden RI lebih tepat dibanding pernyataan Wakil Presiden RI 
saat ini. Wallahu a’lam.


Dr. H. Robert Sudaryono
Pusat Kajian Pengembangan Sumber Daya Insani
Kampus IBII Jakarta


Sumber: Syaikh Abubakar Al-Jazairi, Al-Habib Muhammad Rasulullah Saw.
Adzan

Berita Terkait
Beginilah Rasanya Mendengar Suara Adzan di Belanda 
Sepanjang April, Israel Larang Adzan Masjid Ibrahimi Berkumandang 63 Kali 
Berisik, Israel Cari Cara Matikan Adzan 
MUI: Komersialisasi Adzan Hukumnya Hanya Ganggu Kekhusyuan 
Lantunan Adzan dari Makkah Terdengar Hingga Tujuh Km 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke