Sengketa
Giliran China Kecam Filipina
Josephus Primus | Josephus Primus  Kapal Patroli China

KOMPAS.com - Sengketa Laut China Selatan antara China dan Filipina bakal 
berakhir panjang. Setidaknya, sampai kini, dalam catatan Xinhua dan OANA pada 
Senin (23/4/2012), kedua negara masih saling tuding. 

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China  Liu Weimin mengatakan pihaknya 
mengecam seruan  Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario kepada negara 
lain untuk bersikap mengenai Laut China Selatan. Dia menambahkan bahwa sikap 
China untuk menjaga wilayah dan kedaulatannya adalah jelas dan tegas.
    
Del Rosario, dalam pesan yang dikirim kepada wartawan pada Minggu, mendesak 
negara-negara lain untuk mempertimbangkan jika  China melakukan tindakan keras 
di Pulau Huangyan di Laut China Selatan.
    
Menurut China, Filipina telah mengklaim kedaulatan atas pulau itu, yang 
merupakan bagian dari wilayah China. "China khawatir atas kedaulatan Pulau 
Huangyan dan pemerintah China bersikap untuk menjaga wilayah dan kedaulatannya 
jelas dan tegas," kata  Liu Weimin pada konferensi pers reguler.
    
Dalam pesan tersebut, del Rosario pun menyerukan negara-negara lain untuk 
mengambil sikap pada tindakan China mengenai Laut China Selatan itu. "Ini hanya 
akan mempersulit dan meningkatkan masalah untuk meminta negara lain guna 
berpihak atas masalah kedaulatan," kata Liu.
    
Dia menambahkan bahwa langkah tersebut tidak akan membantu  menyelesaikan 
situasi saat ini.
    
Pada  10 April, menurut pihak China, dua belas perahu nelayan China diganggu 
oleh kapal perang Angkatan Laut Filipina sementara mereka berlindung dari cuaca 
yang keras di laguna dekat Pulau Huangyan.  Dua kapal Pengawas Marinir  China 
melakukan patroli rutin di daerah tersebut kemudian datang untuk menyelamatkan 
para nelayan itu.

Kirim email ke