*9 Juni 2012***

*Menghadapi ancaman protes ke-5 TimSes, Bareskrim dan somasi dengan enteng
KPUD menjawab “Keluhan dan protes akan ditampung dalam berita acara, namun
proses DPT dan proses pilkada akan berjalan terus. Nanti kalau ada yang
ketahuan nyoblos 2 kali, ya gampang,… tinggal kami larang aja… Tapi kalau
ada Cagub yang tidak mau terima DPT, ya silakan mengundurkan diri, gitu
aja, tidak ada masalah…”  Seperti halnya gubernur lama, Dulkapil DKI juga
ikut mendukung DPT karya KPU DKI: “…e-KTP tidak bisa  dijadikan sebagai
DPT, khan pendataan e-KTP penduduk DKI masih belum selesai, wong hingga
kini baru terdata 70% koq… (Lha sekarang bilang gitu, padahal ketika bosnya
terima penghargaan Mendagri, mereka ayem aja?). Sekarang lagi setelah DPS
selesai dan disahkan KPUD menjadi DPT, rajinnya Dulcatpil baru akan
repot-repot akan  verifikasi DPT.  Apa sih maunya…?*

*Penggelembungan DPT, menyita energi kita.  Gubernur lama bersama  KPUD –
Dukcapil saling dukung dalam bentuk triad yang  bikin repot. Mengenal gaya
triad itu, kita sudah tidak perlu ngotot  bolak-balik mengurusi  DPT fiktif
hasil rekayasa yang menggelembung. Sesudah pengesahan DPT kita tolak, untuk
apa masih tetap kita mau terima dan masih kita mau pakai? Nanti setelah
pilkada usai, pemenang diumumkan dan dilantik, apa kemudian kembali kita
teruskan dengan somasi dengan harapan bisa dilakukan pilkada ulang?
Seandainyapun nanti dilakukan pilkada ulang, bahkan … … …*

*Beberapa hari ini saya kurang istirahat. Selain saya meminta bu An dan
anak-anak menemani apoh yang dalam pemulihan, setiap hari tejadi pemadaman
PLN.  Bahkan Selasa dinihari, pasar dekat toko kami ‘terbakar’.  Kemarin
Kamis setelah sepanjang malam PLN padam,  sepanjang siang terik  dari jam
8:30 hingga jam 16,  PLN kembali memadamkan listrik. Aneh, Jumat ini PLN
masih terus menyala. Mudah2 an listrik hari ini aman… *

*Saya jadi ingat waktu kami berjuang melawan Soerjadi – Fatimah Achmad –
Buttu Hutapea produk kongres Medan yang didukung pak Yogi dan pak Feisal …
Wah, jangan sampai terjadi lagi, karena ini urusan bisa jadi
bnr-bnr-bnr-cpd …    :`(*

**** *Tinggalkan Polemik DPT  :   Boikot   Pilkada*

Teman2,

KPUD menyatakan siap menerima dan akan mencatat setiap protes, tuntutan dan
somasi para Cagub Baru sebagai berita acara, namun catatan itu tidak akan
mengganggu jalannya pilkada DKI.

Cerita dulu nih …

·        Tahun 2007, saat debat Cagub DKI di TV, pembawa acara menanyakan:
Apa solusi bagi kemacetan dan banjir Jakarta? Cagub A menjawab: “Serahkan
pada ahlinya. Coblos kumisnya”.  Cagub B menjawab: “ Eh salah, potong aja
kumisnya”. Seperti yang dulu saya tulis di milis, Cagub B yang tidak
memelihara kumis, terpancing masuk dalam gaya permainan Cagub A yang
kebetulan berkumis. Karena sub-concius-mind pemirsa cenderung tidak
mencerna kata ‘potong’, maka yang diingat pemirsa adalah kata ‘ahlinya’ dan
‘kumisnya’. Sejak saat itu, dalam sub-concious-mind (memori-bawah-sadar)
pemirsa, akan terekam anchor (short-cut/ konotasi ingatan) yang mempercayai
bahwa  cagub yang berkumis adalah sang akhli yang mampu dan akan mengurusi
banjir serta macetnya Jakarta.

*Seandainya Cagub B ingin unggul, jangan bermain dengan gaya permainan yang
dikuasai lawannya: Collapse anchor Cagub A dan ganti: “ Masalah itu tidak
bisa diatasi dengan menggunakan kumis, karena kumis tidak bisa  dan tidak
akan melakukan apa-apa. Untuk itu kita mulai dari sini (telapak tangan
mendekap jantung,  isyaratkan mata yang menyorot dan sentuh kening). Beri nilai
tambah: “Untuk mengurangi erosi dan hambatan aliran, saya akan perbaiki dinding
dan dasar sungai dan jaga kebersihan aliran air setiap saat, … setiap saat
... Jika sungai bersih dan bebas tumpukkan sampah, air sungai akan
mengalir dengan lancar ke laut, insya Allah Jakarta  tidak akan banjir...
Saat ini jalur bis yang menyita sekitar 25% lebar jalan, biasanya kosong,
karena hanya boleh digunakan oleh beberapa puluh bis-bus-way,. Sementara
dalam kepadatan ratusan ribu kendaraan (termasuk bis-non-bus-way) hanya
bisa tersisa 75% lebar ‘kotor’ jalan. Namun dalam penggunaan jalan  yang
makin sempit itu diperparah dengan posisi bus-way, tanggul pemisah yang
membahayakan, jembatan serta halte bis-bus-way di tengah jalan, sehingga
lebar jalan efektif berkurang lagi sebesar 10%. Dalam kompresi (pemampatan)
sekian banyak kendaraan dengan masing-masing perilaku dan kepentingan),
yang dijejalkan untuk bersaing memperebutkan (ngetem, saling potong,
serobot) jalur  yang tersisa (65% lebar efektif),  akan menimbulkan gaya
gaya ‘friksi’ (hambatan akibat ‘gesekan alur’), akan menghasilkan
perlambatan yang setara dengan pengurangan 10% lebar efektif, sehingga
kesalahan konsep lokasi jalur ‘bis’, setara dengan pengurangan 45% lebar
efektif jalan.  Kebalikkannya…  Seandainya jalur di sebelah kiri
dijadikan Public
Transportaion Way tanpa tanggul, dimana jalur yang secara tertib bisa
dipakai oleh semua kendaraan bagi kepentingan para penumpang umum, maka
ketertiban itu akan setara dengan penghematan 10% lebar jalan. Selanjutnya
pada trotoir sebelah kiri kita bangun 1-Stop-Public-Trans-Shelter yaitu
barisan-multi-terminal-halte yang berfungsi menurunkan dan menaikkan
penumpang secara serempak (misal sekaligus 10 kendaraan berbaris dengan
kesempatan ngetem untuk dropping/ lifting paling lama 180 detik, maka akan
terjadi penghematan waktu yang setara dengan 10% lebar jalan. Berkat
kepraktisan penggunaan Public-Trans-Way dan 1-Stop-Public-Trans-Shelter,
banyak orang ke/ di/ dari Jakarta memilih menggunakan transportasi umum,
yang akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang menyita luas jalan,
sehingga setara dengan penghematan 10% lebar efektif jalan. Jadi dengan
konsep ’hati – mata – ide’,  kita  akan menghapuskan pemborosan 45% lebar
efektif dan menghemat 30% lebar efektif, sehingga secara total ditaksir
akan mereduksi kemacetan hingga 45%+ 30%= 75%...  Libatkan pemirsa: ”Mungkin
diantara pemirsa ada yang memiliki gagasan pesawat pembersih air sungai
atau  pengering banjir…? Saya tertarik dan akan terbuka untuk itu… ”*

·        Sejak keluar kuliah, saya suka main badminton. Karena tenaga fisik
lemah (pengaruh  psikotropika), hanya wanita yang mau mengajak saya main.
Namun setelah pak Eduard Ladasi bergabung di PB, beliau selalu mengajak
saya berpasangan dengannya. Bahkan dengan pak Edi, saya berani melawan
pasangan pria dimana yang seorang terkenal dengan smashnya yang sangat
kuat. “Ayo kita habiskan Mul…”kata pak Edi. Mereka kami kalahkan karena
tidak terpancing melawan dengan gaya smash kuat. Tanpa menguras tenaga,
kami menang dengan gaya halus, main netting yang tipis-kecil.



* *

Dalam perspektif lebih jauh, saya kira saat ini DPT bermasalah itu bagai
bola yang dikendalikan kekuasaan triad KPUD - gubernur lama - Catatan Sipil
DKI. Jika kita terpancing untuk mengikuti polemik DPT  tersebut, kita akan
mondar-mandir mengikuti bola dalam lapangan wilayah kekuaan triad. Tenaga
dan waktu kita akan terkuras karena triad itu adalah kerja sama dari 3
komponen saling terikat dan saling mendukung untuk memberikan kita hasil
seperti target yang sejak semula mereka rencanakan.

~ ~ ~

Saya merasa lega karena akhirnya 5 timses menunjukkan kesiapan untuk
memboikot pilkada seandainya KPU tidak memperbaiki DPT; Keputusan yang
tepat.

Pada pertandingan badminton internasional, seandainya lapangan basah oleh
keringat, pemain akan minta ijin waktu jeda, supaya petugas bisa
mengeringkan lapangan licin dan berbahaya.  Karena itu, akan lebih aman,
seru dan tidak membosankan pemirsa, jika para  Cagub Baru untuk sementara,
sambil menghemat tenaga, keluar dahulu dari lapangan yang sementara
dikuasai triad.  Setelah polemik DPT dibersihkan, dengan tenaga dan
semangat yang sudah kembali fresh, para Cagub Baru bisa kembali memasuki
pertandingan terhormat yang bersih dan lebih menarik.

Para Cagub baru perlu mengambil sikap itu.

Mungkin pedoman ini bisa diterapkan. Para timses Cagub baru, bisa melakukan
komunikasi dan perundingan informal untuk mengambil kesamaan sikap. Ini
bisa dilakukan sebagai berikut:

 1. Segenap Timses Cagub Baru secara resmi menyusun *Surat Pernyataan
Bersama* yang berisi:  *Penolakan* atas DPT yang secara *otentik* dan *
signifikan* bermasalah, serta *Permintaan* agar Pilkada DKI menggunakan DPT
berdasarkan data dari e-KTP versi 30 Mei 2012. Seandainya hingga *batas
waktu *(saya usulkan Senin 18 Juni 2012 / 23 hari sebelum tanggal Pilkada)
belum ada perbaikan, para Cagub minta *Pilkada diundur* untuk masa reses,
atau para Cagub akan melakukan *pemboikotan*. Surat Pernyataan Bersama ini
ditanda tangani oleh para *Cagub, Cawagub dan Ketua Timses* baru yang akan
ditujukkan kepada *KPUD *disertai tembusan bagi Mendagri, Presiden,
Mahkamah Konstitusi, MPR serta terbuka kepada masyarakat.

2. Para Timses Cagub *harus segera* (Senin 11 Juni juga boleh)
mengajukan *gugatan
resmi* yang disampaikan kepada *Mahkamah Konstitusi*. Gugatan itu
menyampaikan laporan akan kasus DPT yang menunjukkan *
kejanggalan-kejanggalan* yang diduga secara terencana disusun dan
ditetapkan secara sepihak oleh KPU-DKI. Selanjutnya seandainya Surat
Pernyataan Bersama tidak ditanggapi KPU-DKI *dalam jangka waktu yang diminta
*, para kontestan yang menanda tangani Surat Pernyataan Bersama, akan
melakukan *pemboikotan Pilkada* serta *melimpahkan kasus perkara* ini untuk
diselesaikan melalui *keputusan pengadilan Mahkamah Konstitusi*.



Teman2,

Waktu baru pindah ke SMA Fons Vitae, saya adalah murid pemalu yang
prestasinya kurang bagus. Waktu itu guru fisika kami adalah seorang guru
‘killer’ yang saat ulangan hanya memberi 2 macam nilai, yaitu nilai 8 bagi
yang betul 100%, dan nilai 5 bagi yang memiliki kesalahan (ini seperti
sistim binary: 1 dan 0, atau artinya jika tidak nilai= 100, maka nilainya=
0). Saat itu ada 2 anak yang dapat nilai 5 (saya dan seorang teman), sedang
48 anak lainnya bernilai=8. Mungkin karena di SMP saya sering disebut
guru-guru paspal sebagai ‘si tukang bikin rumus’, saya melihat ada
kejanggalan dalam penggunaan rumus Fisika. Ketika saya protes, pak
Sumartono (belakangan menjadi bapak baptis saya) menyadari adanya kesalahan
rumus. Saat itu kertas ulangan kami dikumpulkan kembali. Nilai 5 di kertas
dua murid dicoret dan diganti dengan angka 8. Lalu 48 orang teman saya
cemberut karena nilai 8nya dicoret pak guru, diganti dengan angka 5. (Wah,
rupanya anak baru ini ternyata pinter bikin kesel juga ya…?)

Teman2,

Tidak guna para Cagub Baru ikut Pilkada meperebutkan suara dari DPT hasil
rekayasa. Pemboikotan akan tetap efektif walau hanya dilakukan oleh satu
adau dua kubu Cagub Baru. Namun akan lebih kuat lagi jika pemboikotan
dilakukan secara serempak oleh ke lima kubu yang menolak DPT fiktif.

Biarlah sementara kondisi lapangannya belum aman, para pemain keluar
dahulu. Kini kita beri kesempatan saja bagi gubernur lama untuk bertanding
badminton sendirian, sehingga ia bisa meraih suara DPT tersebut sendirian:
Sepuas-puasnya. Toh nanti hasilnya bakal dianulir MK. Walaupun menang
semuanya dan meraih= 122,4 % suara, karena DPTnya memang bodong, kumispun
akan gugur sendiri menjadi = NOL. walau demikian, seandainya lapangan sudah
kering, tidak licin yang memungkinkan para pemain leluasa bermain secara
all-out, mereka bisa kembali memasuki lapangan dengan aman, dan para
penonton puas menyaksikan pertandingan bermutu yang seru.

Saya senang kalau teman PB Garuda atau PBSS bilang: “Ayo Mul, kita cari
keringat. Menang atau kalah, yang penting hati senang.” Tapi akan lebih
gembira jika pak Edi mengajak: “Ayo Mul, kita cari lawan yang seru. Kita
akan habiskan si Gagan dan om Epek. Kalah senang, menang apalagi…”

Ayo, teman2.

Dengan rasa tanggung jawab kita bantu lancarnya Pilkada DKI. Dukung Cagub
pilihan masing-masing: Kalah secara terhormat. Menang dengan bermartabat.



Salam,

Mulyadi Dharmadi

* *

*arsip-arsip lama**_______________________________________________*

* *

*_________________________________________________________________________**5
Juni 2012***

***  **5  Cagub  Tolak  DPT :  What  Next?*



Teman2,

Dengan mengabaikan  protes dan kritik, 2 Juni lalu KPUD menetapkan DPS yang
menggelembung dengan penambahan calon pemilih fiktif menjadi DPT.

Sementara gubernur lama mendukung keputusan KPUD, 5 timses Cagub baru
menyatakan penolakkan, karena indikasi penggelembungan calon pemilih fiktif
dengan jumlah  sangat signifikan.

Sebenarnya apa dasar penetapan DPT?

*1 Mei* *2012:* Di Balaikota DKI**

*Mendagri Gamawan Fauzy* memberi penghargaan kepada gubernur DKI karena
keberhasilan  Pemprov DKI mendata 100% penduduk dalam pelaksanaan program
wajib e-KTP  dengan total seluruhnya adalah 5.660.660 orang. Walau jumlah
ini dibawah target yang diharapkan Pemprov DKI (7.472.259 orang).   Namun
pada kenyataan setelah seluruh  penduduk DKI memenuhi panggilan, jumlah
yang terekam pada e-KTP hingga 26 April 2012 sudah terhenti  pada angka
5.660.660 orang. Angka itu sudah  tidak bisa bertambah lagi karena total
100% jumlah penduduk berdomisili di Jakarta yang mendapat panggilan, sudah
datang melaksankan perekaman  wajib e-KTP di kantor Pemprov DKI. Gubernur
Fauzy Bowo, mengaku bangga  atas penghargaan yang diterimanya dari
Mendagri dan berterima kasih atas kesempatan pertama bagi Pemprov DKI
dalam  penerapan KTP Elektronik (e-KTP) berbasis NIK Nasional.



*2 Juni 2012*: KPUD secara sepihak menetapkan DPS menjadi DPT

Setelah simpang siur revisi dengan perhitungan yang kacau dan tidak jelas,
kritik dan protes atas dugaan penggelembungan DPS, 2 Juni 2012, KPUD
menetapkan DPT yang akan mengikuti Pikada menjadi 6.983.692.

Dibandingkan dengan jumlah pemengang e-KTP dengan NIK resmi adalah =
6.983.692- 5.660.660=  1.323.032 atau terdapat penambahan sebesar 23,4%.

Keanehan lainnya adalah, justru setelah beberapa kali revisi sebelumnya
dimana KPUD mengaku sudah mencoret ratusan ribu suara fiktif jumlah DPT
justru tidak banyak berubah.

KPUD sendiri mengaku tidak menggunakan data e-KTP dalam menetapkan DPS dan
DPT, melainkan dengan cara mengunjungi penduduk dari rumah ke rumah. KPUD
mengaku telah mendapatkan informasi dengan cara menanyakan pengakukan para
penduduk. Sedangkan penambahan jumlah penduduk dibanding data e-KTP versi 1
Mei 2012, karena KPUD sudah memasukkan semua penduduk yang belum ber e-KTP
namun pada tanggal 11 Juli sudah berusia 17 tahun.



*Mana yang lebih akurat:*  e-KTP atau kunjungan KPUD dari rumah-rumah?


*Data e-KTP:  **100% total* penduduk DKI yang hingga *30 April* 2012  sudah
berusia 17 tahun atau sudah menikah Jumlah* 5,660.660 *adalah *100%
akurat*untuk  penduduk DKI hingga saat itu. sehingga bisa dijadikan
dasar sebagai
warga DKI yang berhak memilih yang pengesahannya sudah *diperkuat* oleh
pernyataan* Mendagri* dan Fauzy Bowo.

*Kunjungan KPUD:*  Dari rumah-kerumah adalah pekerjaan yang tidak efektif,
simpang siur dan sulit dicek  kebenarannya. Karena tanpa kepemilikan e-KTP,
NIK maupun kehadiran calon pemilih tidak diperlukan, maka Informasi yang
diterima adalah sebatas pengakuan warga yang sempat ditemui. Konon
kelebihan sekitar 1,3juta DPT dari data e-KTP disebabkan dimasukkannya
penduduk DKI akan berusia 17 tahun antara 1 Mei hingga 11 Juli (banyak
sekali?). Karena KPUD memasukkan Karena sumber informasi tidak jelas serta
prosedur pelaksanaan yang tumpang tindih, resiko penyimpangan sangat
tinggi. Itulah sebabnya para Timses banyak menemukan kejanggalan yang kasat
mata seperti DPS ganda. NIK yang kembar/  tidak standar/ luar Jakarta/
fiktif/ kosong dll. Karena tidak ada patokan yang standar itulah, KPUD
menyatakan bahwa jumlah DPS  tidak pasti  dan setiap saat selalu berubah.
Lagi pula, seseorang yang akan berusia 17 tahun tanggal 11 Juli,  belum
memiliki e-KTP dan berdomisili di luar Jakarta dan belum pernah ditemui
petugas, bagaimana pula sudah dimasukkan sebagai calon pemilih resmi yang
sudah masuk ke dalam DPT tanggal 2 Juni?  Artinya metode yang digunakan
oleh KPUD tanpa standar yang pasti, makal DPT yang dihasilkan adalah *TIDAK
AKURAT*.

* *

* *

*3 Juni 2012:* Dari pihak para Cagub terdapat 2 kubu yang berbeda.

1.      Satu Timses (gubernur lama) menyatakan ‘dukungan’ terhadap
keputusan KPUD  yang menetapkan DPT tersebut. Banyak orang menduga, sebelum
pilkada dimulai, kubu gubernur lama akan sudah mengantungi  1,323.032 suara
fiktif.

2.      Lima  Timses (Cagub Baru)  menolak DPT tersebut, karena beberapa
 indikasi sangat jelas yang menunjukkan  terjadinya  rekayasa
penggelembungan dengan jumlah signifikan. Penambahan suara fiktif itu bisa
diketahui  dengan bukti-bukti otentik sangat jelas.

Saya agak heran jika dalam melaksanakan program e-KTP, Desemver 2011
pemprov DKI MENETAPKAN TARGET = 7.472.259 ORANG  (bukan PRAKIRAAN JUMLAH
ORANG  ataupun PERSENTASE PELAKSANAAN (misalnya 100% TERLAKSANA). Istilah
target sebenarnya berarti sasaran diingini yang akan diperjuangkan.
Mengingat angka target e-KTP  Desember 2011 sangat dekat dengan jumlah DPS
versi pertama KPUD , saya menduga bahwa sebenarnya sudah lama gubernur lama
merencanakan penggelembungan DPT.

Sikap 5 kontestan Cagub baru yang menolak DPT yang menggelembung adalah
keputusan yang benar.

Demi menjaga netralitas, saya berusaha menjaga jarak sama dengan ke5 Cagub
baru yang menolak DPT fiktif. Karena itu saya tidak akan memberikan
informasi konsep solusi teknis (banjir dan macet) secara personal kepada
salah satu kandidat, selain apa yang akan saya sampaikan secara umum kepada
publik.

Seandainya kelak ada satu diantara ke 5 Cagub baru (semoga demkian)
berhasil memenangkan jabatan Gubernur dalam Pilkada DKI ini serta tertarik
untuk membeli konsep, saya akan membantunya secara baik dan bertanggung
jawab.

*What Next?*

 Penolakan 5 kandidat Gubernur Baru adalah kekuatan dasar yang mampu
menggagalkan rekayasa DPT. Namun dasar itu harus diteruskan dengan tindakan
yang konstruktif:

1.      Masing-masing Timses Kandidat Baru membuat pernyataan tertulis yang
berisi penolakkan terhadap DPT yang tidak sama yang ditujukan kepada
KPUD-DKI dan Panwaslu. Penolakkan itu tidak bisa diartikan sebagai
pengunduran diri, tetapi sebagai pernyataan tidak yakin akan akurasi data
yang dalam DPT adalah sepenuhnya benar dan legal.

2.      Ke 5 Timses Cagub Baru menyusun *Surat Pernyataan Bersama* dalam
bentuk *Pengaduan** *serta *Keberatan** *penetapan DPT berdasarkan metode
yang digunakan oleh KPUD, serta *Memohon *agar  penetapan DPT bisa
ditetapkan sesuai dengan data e-KTP per 20 April 2012. Surat Pernyataan
Bersama akan *Ditandatangani Bersama* oleh ke 5 Tim (Cagub, Cawagub dan
Ketua Timses DKI) sebagai pihak yang mengajukan.

3.      Surat Pernyataan Bersama akan disampaikan kepada *Mendagri Gamawan
Fauzy*, yang akan juga disampaikan sebagai tembusan bagi *Presiden
RI*,  *Mahkamah
Konstitusi*/up  Ketua MK dan  kepada *MPR*/  up Ketua MPR serta terbuka
untuk disosialisasikan kepada pers dan masyarakat.

4.      Seandainya KPUD tidak melakukan koreksi atas DPT itu hingga Senin
11 Juni, ke 5 Timses Cagub Baru sudah harus mengajukan *GUGATAN RESMI* atas
DPT yang dibuat KPUD yang ditujukan kepada *MAHKAMAH KONSTITUSI*.

5.      Ke 5 Timses Cagub Baru harus *berembuk* untuk mencari kesepakatan
sikap menyambut Pilkada 11 Juli. Salah *satu pilihan* yang paling efektif
 berdasarkan *Kesepakatan 5 Cagub Baru* untuk *memboikot Pilkada* dan
membiarkan Foke sendirian  meraih 100,00% suara yang pasti akan dianulir
oleh MK. Tanpa harus dilawan, Foke akan gugur dengan sendirinya.

Teman2,

Kita harapkan atas perhatian bapak Presiden SBY, bapak Mendagri Gamawan
Fauzy bisa membantu menengahi karuk-maruk DPT DKI sesegera mungkin. DPT
yang baku dan benar  agar Pilkada bisa dilangsungkan secara tepat waktu.
Seandainya perbedaan ini bisa diselesikan sebelum pilkada, kita bisa
menghindari kemungkinan adanya diskualifikasi, pembatalan ataupun pilkada
ulang yang  akan memboroskan energi dan biaya serta bisa mendatangkan
ketidak pastian ibu kota yang akan berdampak secara nasional.

Salam,

Mulyadi Dharmadi





________________________________________________________________________*4
Juni 2012*

*** Tanggung jawab KPU :  Pastikan DPT= DCS= eKTP= 5.660.660*

* *

Teman2,

2 hari yang lalu tanggal KPU DKI mengumumkan Daftar Calon Pemilih Sementara
(DCS) versi 30 Mei, sebagai  revisi jumlah DCS versi 20 Mei dengan
menghapus 800ribu DCS fiktif. Namun menurut laporan pengecekan pihak
kontestan, DCS fiktif yang tersisa sangat banyak, yaitu masih sebanyak
1.269.577 (=22,7%) lebih banyak dari pemegang e-KTP yang adalah sebesar
5.660.660 orang.

Menurut rencana, 1 Juni hari ini KPU akan mengumumkan DCS versi terbaru
untuk esok hari 2 Juni disahkan menjadi Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Pekerjan KPU sebenarnya tidaklah rumit. Cukup mengkopi data pemilik e-KTP
untuk dijadikan sebagai DCS bagi DPT. Cukup itu saja, tidak perlu
diperbanyak lagi. Mudah dan sederhana. Sebagai mana data yang tertera pada
e-KTP DKI yang berjumlah 5.660.660 orang, itulah DCS yang layak disahkan
sebagai DPT.

Seandainya DCS yang akan diumumkan hari ini berjumlah cukup 5.660.660,
yaitu bagi semua pemilik e-KTP DKI yang sah, saya kira tidak ada masalah
seandainya KPU menetapkan DPC itu menjadi DPT.

Namun seandainya belum sama, agar tidak menimbulkan kekacauan, KPU harus
menunda penetapan seraya memperbaiki serta memberikan klarifikasi yang
diperlukan.

Di lain pihak, saya sangat mengharapkan kerja cepat segenap tim sukses dan
pihak independen untuk membagi tugas dalam meneliti DCS yang akan diumumkan
pagi  ini.

Saya harap dalam kerja cepat sistimatis bersama dengan pembagian tugas 20
orang dalam 1 tim, pemeriksaan 5,7juta data DCS akan bisa selesai dalam
waktu 180 menit. Agar mudah, bisa dibandingkan dengan info data DCS yang
dianggap sah versi 30 Mei.

Seandainya DCS versi 1 Juni diumumkan jam 9 pagi, dengan kerja cepat tim
jam 12 siang  sudah teridentifkasi seandainya ada kejanggalan.

Setelah itu jam 13 sudah hasil pengecekkan bisa
dikonfirmasikan/dipertanyakan kepada KPU. Selanjutnya KPU memiliki waktu
beberapa jam untuk memberikan klarifikasi seandainya ada keraguan.

Namun akan lebih baik lagi setelah pengumuman DCS versi hari ini, KPU
memberi waktu jeda beberapa hari untuk menunggu seandainya ada pertanyaan,
konfirmasi sambil memberikan klarifikasi hal2 yang diperlukan.Seandainya
sudah tidak ada masalah yang signifikan, tentu DCS itu sudah benar dan siap
disahkan menjadi DPT.



Teman2,

Di era digital kini, pekerjaan copying& pasting dan sorting& counting
adalah mudah dan cukup cepat.

Let us keep those easy things simple.



Salam,

Mulyadi Dharmadi

* *

* *

______________________________________________________ *1 Juni 2012*

*** Pilkada Sukses = Ibu Kota Lancar =  Indonesia Jaya *

Teman2,

Menjelang putaran awal Pilkada DKI, saya membaca beberapa kejanggalan kasat
mata yang bisa mempengaruhi hasil bahkan keabsahan pikada DKI.
Keluhan-keluhan itu antara lain…

1.      Selama masa tenang, semua  poster para kandidat kecuali pak Fauzy,
harus diturunkan dari tempat umum.  Saya berpendapat, agar peraturan itu
bersifat netral, selama masa tenang, semua poster kandidat gubernur DKI
harus sudah diturunkan dari tempat publik TANPA KECUALI.  Sudah 5 tahun ini
pak Fauzy memasang posternya di tempat2 umum. Jadi walau tanpa poster di
masa tenang menjelang pilkada , para pemilih pasti sudah kenal pak Fauzy.

2.      Sejumlah laporan menyebutkan jumlah Daftar Pemilih Sementara (DPS)
jauh lebih banyak dibanding para pemegang e-KTP. 30 Mei kemarin KPU DKI
melakukan koreksi  dengan menyatakan sudah mengurangi 800ribu suara fiktif.
Namun, sebuah  laporan hari ini menyatakan jumlah DPS masih 1.269.577 jiwa
(setara 22,7%) lebih banyak dibanding pemegang e-KTP DKI.  Kelebihan jumlah
DPS dari pemilik KTP DKI adalah pemilih fiktif dengan Nomor Induk
Kependudukan (NIK) ganda, tanpa NIK , NIK non DKI, NIK tidak standar dan
NIK palsu.

Selisih ini adalah suara fiktif yang merupakan indikasi akan terjadi
 penggelembungan suara. Sementara protes masih berlangusung, KPU menyatakan
1 Juni besok akan diumumkan rencana daftar DPT sebelum secara resmi
ditetapkan lusa tanggal 2 Juni 2012.  Saya berpendapat  penertapan itu
hanya boleh dilaksanakan setelah KPU  membetulkan jumlah DPS (draft DPT)
sehingga jumlahnya persis sama dengan 5.660.660 orang  (pemegang e-KTP
DKI). Seandainya jumlahnya belum sama, agar tidak menimbulkan masalah di
kemudian hari, KPU harus melakukan klarifikasi dengan penjelasan logis,
otentik serta transparan atas terjadinya kesalahan signifikan yang sangat
kasat mata ini. Seandainya KPU tidak bisa menjelaskan alasan secara
bertanggung jawab, KPU belum layak menyatakan DCS itu sudah ditetapkan
menjadi  DPT yang sudah tidak boleh dikoreksi lagi. Apalagi selsisih
sebesar 22,7% adalah nilai besar yang sangat signifikan.  Antisipasi
kecurangan sebelum  terlanjur kekacauan terjadi.

3.      Dikhawatirkan bisa terjadi  politik uang. Setiap kontestan yang
terbukti  melakukan money politik harus  digugurkan. Namun sebelum hal itu
terjadi, akan lebih produktif jika semua tim sukses, segenap peserta,
pengawas dan penyelenggara pilkada mawas diri dan senantiasa waspada.
Antisipasi lebih baik daripada mengobati.

Sementarra KPU DKI masih belum menyatakan koreksi terbaru DPS  (mudah2 an
esok jumlahnya sudah cukup 5.660.660 orang,  100% persis), kita bersyukur
Cagub-gubernur Fauzy Bowo akhirnya menyatakan siap mengikuti diskusi dengan
para calon gubernur DKI yang lainnya. Pada era modern, pemilih cerdas
perlu mengetahui kwalitas pemimpin dengan mempelajari visi dan wawasannya,
karena dari situ kita bisa memprakirakan kwalitas kinerja, kejujuran,
program yang kemudian akan menentukan keberhasilan dalam pelayanan serta
pengelolaan segenap potensi Ibu Kota negara kita.

Diskusi depan publik, sebenarnya  ajang kompetensi untuk menunjukkan
kwalitas kemampuan calon pemimpin Ibu Kota yang akan datang. Gubernur
 2007-2012 gagal membuktikan janji saat kempanye  pilkada 2007.  Kegagalan
pak Fauzy  selama 5 tahun,  adalah guru yang dibayar dengan SANGAT MAHAL,
dengan mengorbankan waktu, BBM, ketentraman yang merupakan sebenarnya
adalah hak jutaan masyarakat DKI dan Indonesia.  Kita harus belajar atas
kesalahan tahun 2007, agar warga DKI jangan sampai memilih gubernur karena
janji kosong dan karena kumis.

Menyambut rencana diskusi para Cagub yang akan diikuti Cagub-gubernur
Fauzy, topik diskusi tidak usah terlalu teoritis, rumit dan melebar.
Sebaiknya tetap berfokus pada  2 materi PR standar yang belum dikerjakan
pak Fauzy: Solusi Macet & Solusi Banjir. Selama 15 tahun pak Foke berkuasa,
banyak kehilangan kesempatan bahkan kerugian dialami masyarakat akibat
kemacetan lalu lintas dan banjir tahunan di Jakarta. Seandainya para
kontestan menunjukkan kemampuan mengerjakan dua PRnya pak Fauzy secara
baik, maka pasangan bisa dianggap berkwalitas karena  mereka juga akan
kompeten  pada tugas dan tanggung jawab lainnya.

Menjelang diskusi ini saya akan bersikap netral, karena saya belum
memberitahu secara khusus kepada kontestan manapun jawaban quiz itu, selain
apa yang sering saya sampaikan kepada publik. Selain itu, konsep solusi
banjir dan macet yang pernah saya tawarkan kepada pak Fauzy dan pak
Mangindaan, tetap terbuka kepada siapapun yang menjadi gubernur DKI.

A.     Materi Solusi Kemacetan

Sejak lama saya menyaksikan penempatan Bus Way (Jalur Bis) dan Halte Bis
berada ditengah-tengah jalan dan disebelah kanan jalan, adalah kesalahan
konsep yang menimbulkan  banyak masalah. Yang menjadi masalah adalah
sebagian pintu penumpang bis di kota Jakarta yang  berada di kiri ditutup
las karena  dipindahkan ke sebelah kanan.

Pertanyaan:

1.      Apa solusi para calon gubernur agar dalam keterbatasan lahan jalan,
masyarakat-kota dan masyarakat-antar-kota lebih  menikmati kepraktisan
 transportasi umum kota Jakarta.

2.      Pekerjaan apa yang harus dilakukan, berapa lama pelaksaannya dan
hasil apa yang bisa dijanjikan.

B.     Materi Solusi Banjir.

Menurut mekanika fluida, cairan akan mengalir lebih cepat seandainya cairan
itu diusahakan seencer mungkin, serta hambatan (gaya gesek dan gaya tumbuk
dengan kelokan berliku/ tumpukan sampah tersangkut) diminimalkan hingga
mendekati nol.. Hambatan akan semakin kecil seandainya aliran sungai
cenderung lurus serta memliki dinding/ dasar yang teratur licin, bebas
sangkutan serta bebas erosi.

Pertanyaan:

1.      Seandainya Cagub menerima dana sebesar Rp. 3,45 Trilyun, bagaimana
cara para Cagub mengalokasikan dana itu untuk membebaskan Jakarta dari
banjir? Apakah dana Rp3,45 Trilyun cukup? Seandainya kurang, berapa lagi
perlu tambahan biaya? Seandainya berlebih, kemana akan dialokasikan sisa
dana anggaran proyek?

2.      Apa yang akan dikerjakan, berapa lama pelaksaan dan hasil apa yang
dijanjikan?



Survey Metro TV menunjukkan bahwa perolehan suara pak Fauzy jauh di bawah
50%. Ini bisa ditafsirkan bahwa sebagian besar masyarakat Jakarta yang
mengharapkan progress, sudah tidak tertarik akan janji-janji Foke, pak
Kumis.  Walau demikian karena terdeteksi ada beberapa kasus yang bisa
menjurus kepada kecurangan, saya harap itu bisa segera diantisipasi. Kita
harapkan segenap tim sukses serta parpol pendukung dan kita semua melakukan
segala hal yang diperlukan agar pilkada DKI berhasil dengan bersih,
transparan dan bebas kecurangan.

Teman2,

Kita dukung Pilkada DKI.  Jangan ada kecurangan dan golput. Setiap satu
suara adalah penting & berharga…

Pilkada Sukses = Ibu Kota Lancar =  Indonesia Jaya !

Salam hangat dari pMul…


------------------------------------

Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected]

Kunjungi situs INTI-net    
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://adv.justbeenpaid.com/?r=kQSQqbUGUh&p=jsstripler5Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke