http://www.mediaindonesia.com/read/2012/06/11/325387/70/13/Budaya-Instan

Budaya Instan 
Senin, 11 Juni 2012 00:00 WIB     

KULTUR instan seperti sudah merasuki bangsa ini. Untuk meraup kekayaan dan 
merengkuh kekuasaan, orang cenderung menempuh jalan pintas, bukan dengan kerja 
keras dan cerdas. 

Dalam hal meraup kekayaan, lihat saja yang dilakukan Koperasi Langit Biru (KLB) 
dan PT Gradasi Anak Negeri (GAN). Meski baru berdiri tahun lalu, KLB sudah 
menjaring uang Rp6 triliun dari 140 ribu nasabahnya. 

Belum usai kekagetan akan kasus investasi bodong KLB, pekan lalu terungkap 
penipuan oleh PT GAN. Hanya butuh lima bulan bagi PT GAN untuk menggaet 21 ribu 
investor yang menyetor hingga total Rp390 miliar. Para nasabah sedikitnya 
menyetor Rp5 juta dan dijanjikan bisa menggembung hingga puluhan juta dalam 
waktu relatif singkat. 

Praktik itu sesungguhnya bukan hanya menunjukkan kelihaian bandit masa kini 
mengeruk duit nasabah secara instan. Penipuan berkedok investasi tumbuh subur 
juga karena budaya instan yang kian melenakan masyarakat kita. Meski punya uang 
yang sebetulnya cukup untuk membeli ‘kail’, masyarakat kita lebih suka langsung 
mendapat ‘ikan’. 

Budaya instan pula yang menyuburkan praktik korupsi di negeri ini. Para 
koruptor menempuh jalur pintas untuk cepat kaya raya dengan menilap duit 
rakyat. 

Tak sedikit pula pejabat publik negeri ini yang menduduki kekuasaan karena 
perilaku instan. Mereka merengkuh kekuasaan dengan berbuat curang dalam pemilu 
atau pemilu kada. 

Budaya instan sungguh sebuah teladan buruk bagi anak bangsa. Tidak mengherankan 
bila generasi muda pun terbuai ingin sukses dengan cara-cara instan. Contohnya, 
bukannya belajar keras, banyak siswa kita malah menempuh jalan pintas dengan 
menyontek atau membeli soal untuk lulus ujian nasional. 

Kultur instan sejatinya tak ada dalam kamus sejarah bangsa ini. Kemerdekaan 
kita diraih dengan darah dan keringat, bukan hibah dari penjajah. 

Bapak bangsa kita pun tidak pernah menyanjung cara instan. Ketika Soekarno 
menyebut bahwa bangsa kita bangsa yang kaya, ia selalu mengikutinya dengan 
teriakan untuk menggali dan bekerja. 

Proses dan kerja keraslah sejatinya yang senantiasa membawa kebanggaan bangsa 
ini. Lihat saja budaya kita yang terkenal di seanterao dunia adalah budaya yang 
lahir dari proses kreatif dan kerja keras. Keindahan batik, keperkasaan perahu 
pinisi, sampai keberhasilan ketika menjadi negara swasembada beras ialah karena 
kita tidak malas berkeringat. 

Sudah saatnya kita kembali pada mental bangsa yang besar, yang menghargai 
proses, kerja keras dan cerdas, serta kreativitas, untuk menggapai cita-cita. 
Budaya instan hanya menjadikan kita bangsa yang kerdil.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke