Ref: Apakah  para kepala desa ini mendapat inspirasi  untuk perbaikan desa 
mereka  dengan kunjungan ke Singapura?

http://www.shnews.co/detile-3664-ratusan-kepala-desa-pun-ke-singapura.html

Ratusan Kepala Desa Pun ke Singapura 
Novie Waladow | Jumat, 22 Juni 2012 - 15:26:15 WIB

Dibaca : 41 


(dok/ist)Sebanyak 227 kepala desa itu menggunakan Alokasi Dana Desa (ADD). 
MANADO - Selama ini, media biasanya ramai menyoroti kalau pejabat pemerintah 
pusat, DPR, DPRD dan kepala daerah berkunjung ke luar negeri. 

Apalagi, anggota DPR biasanya rutin pelesir ke luar negeri, meski dengan 
embel-embel studi banding. Semua kunjungan ke luar negeri itu dibiayai anggaran 
negara, baik melalui APBN ataupun APBD. 

Seolah tidak mau ketinggalan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa akan 
memberangkatkan 227 kepala desa (kades) atau hukum tua ke Singapura. 

Pemberangkatan yang dirangkaikan dengan pelatihan di Kemendagri itu dibagi 
dalam tiga kelompok terbang dan menggunakan Alokasi Dana Desa (ADD). 

“Semua kades di Minahasa akan berangkat,” kata seorang staf di Badan 
Pemberdayaan Pemerintahan dan Masyarakat Desa (BPPMD) Minahasa. 

Informasi yang dirangkum SH di Pemkab Minahasa, sebelum ke Singapura para kades 
terlebih dahulu akan mengikuti pelatihan selama kurang lebih empat hari tiga 
malam di Kemendagri, kemudian melakukan kunjungan ke Institut Pemerintahan 
Dalam Negeri (IPDN) di Jatinangor, setelah itu melanjutkan tur wisata ke Negeri 
Singa. 

Keberangkatan para kades ini diperkirakan menelan anggaran kurang lebih Rp 10 
juta per kades. Dengan asumsi biaya keberangkatan dari Manado ke Jakarta 
mengikuti pelatihan kemudian ke Jatinangor Rp 4.975.000. 

Dari Jakarta ke Singapura dan menginap tiga malam diperkirakan bisa 
menghabiskan anggaran Rp 5 juta. Ini belum termasuk biaya belanja dan santai 
para kades saat di Singapura nanti. 

Salah satu kades yang enggan namanya diungkapkan mengatakan, ADD sebesar 60 
persen yang akan dicairkan tiap desa beberapa hari ini akan digunakan untuk 
keberangkatan mengikuti pelatihan di Jakarta sebesar Rp 4.975.000. Ketika 
ditanya bagaimana dengan keberangkatan ke Singapura, ia mengatakan itu dari 
uang pribadi para kades. 

“Walau demikian juga bisa diambil dari ADD, pasalnya kami kades mempunyai 
tunjangan operasional, tiap tahunnya mencapai Rp 4-5 juta. Bila kami ingin ke 
Singapura semua hanya bisa dari ADD, dengan catatan kami tidak lagi menerima 
tunjangan operasional selang satu tahun ini,” ujarnya. 

Pelesir 

Kades Mokupa Kecamatan Tombariri, Rivony Runtu Taroreh ketika dikonfirmasi SH 
mengungkapkan, ia akan berangkat pada kloter pertama pada Senin (25/6). “Saya 
sudah mengurus paspor untuk berangkat ke Singapura bersama sejumlah kades 
lainnya,” kata Taroreh. 

Sementara itu, tokoh masyarakat Minahasa, Imanuel Kaseger yang juga mantan 
Kades Tontimomor Kecamatan Kakas dua periode menegaskan, rencana keberangkatan 
para kades di Minahasa ke Singapura itu hanya menghambur-hamburkan uang rakyat. 

“Ini merupakan bentuk pemborosan uang rakyat apalagi dananya diambil dari ADD 
yang sebenarnya digunakan untuk pembangunan infrastruktur di desa,” ujar 
Kaseger. 

Keberangkatan para kades yang menggunakan dana ADD itu juga disorot warga. 
“Kalau pelesir para kades ini adalah penghargaan Pemkab Minahasa, kenapa dana 
keberangkatannya dipotong langsung dari ADD,” kata Stevan R, warga Desa Sea 
Kecamatan Pineleng. 

Menanggapi keberangkatan mengikuti pelatihan dan tur wisata ini, Sekretaris 
BPMPD Minahasa, Ronald Rundengan membantah jika 227 kades akan berangkat ke 
Singapura. “Kalau ikut pelatihan semuanya memang mengikutinya, namun untuk ke 
Singapura hanya sebagian,” ujar Rundengan. 

(Sinar Harapan) 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke