Ref: Mengapa tidak dibilang terus terang pemerintah, karena para petinggi 
pemerintah dari ranting kekuasaan sampai ke puncak kekuasaan adalah oknom-oknom 
intelektual  bergelar akademik doktor, professor, jenderal, SH, Drs, PhD, MA, 
Ir, Haji  dst ?

http://www.suarapembaruan.com/politikdanhukum/negara-dinilai-gagal-kaum-intelektual-jangan-cuci-tangan/21733

Negara Dinilai Gagal, Kaum Intelektual Jangan Cuci Tangan
Selasa, 26 Juni 2012 | 17:18

 Radityo Gambiro [google] [JAKARTA ] Indonesia sebagai negara gagal versi FFP, 
seharusnya dijadikan kaum intelektual bangsa menjadi motivasi dan proaktif 
membenahi negeri. Kegagalan negara berarti tanggungjawab seluruh anak bangsa, 
tanpa membedakan tanggungjawab dan jabatan.

"Sebaiknya yang  mengaku pengamat ataupun pakar, ilmuwan, tokoh masyarakat dan 
lain - lain melakukan pengkajian secara berkala dari masa ke masa untuk 
kemudian mencari solusinya untuk masa mendatang," ujar Ketua Divisi Kaderisasi 
dan Pendidikan Latihan DPP Partai Demokrat, Raditiyo Gambiro di Jakarta, Selasa 
 (26/6).

Lembaga survei dan publikasi, The Fun for Peace (FFP) merilis Indeks Negara 
Gagal (Failed States Index/FSI) 2012 yang dipublikasikan di Washington DC, 
Amerika Serikat. Indonesia menduduki peringkat ke-63 dari 178 negara.  Dalam 
indeks yang dikeluarkan lembaga riset itu, negara yang berada di peringkat 
pertama adalah Somalia. 

Sementara Finlandia  di posisi paling aman, bersama Swiss dan Denmark.Raditiyo 
menyayangkan ekspresi kalangan intelektual ketika ikut mevonis Indonesia 
sebagai negara gagal. Seolah, mereka yang mengaku pakar, ilmuwan dan tokoh 
masyarakat bukan menjadi bagian dari negeri ini. 

"Daripada ribut - ribut soal ranking Indonesia sebagai "Negara Gagal" ke 62 
versi FFP, sebaiknya kita ikut mencari solusinya untuk masa mendatang," tegas 
Raditiyo, yang juga Wakil Ketua Komisi VIII DPR.

Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR ini menilai negara menuju gagal bukan 
vonis negara tersebut gagal. Seluruh komponen bangsa masih punya kesempatan 
untuk membenahi negari ini agar terhindar dari kegagalan. "Ketimbang hanya 
mengkritisinya tanpa menghasilkan tawaran solusi yang konkrit dan komprehensif. 
Yang akhirnya tidak menjadi sesuatu yang konkrit seperti halnya pembicaraan di 
warung - warung kopi," tegas Raditiyo.

Kalau mau, lanjut Raditiyo, 12 variabel yang dijadikan pokok penilaian FFP 
menjadi acuan para pakar melakukan pengkajian Indonesia dari masa ke masa. 
Harapan, reaksi atas penilaian FFP bisa komprehensif, bijaksana dan 
menghasilkan alternatif sebagai solusi memperbaiki situasi dan kondisi 
Indonesia pada masa akan datang."Kecuali mereka yang mengaku pengamat, ilmuwan, 
pakar, tpkoh masyarakat dan lain - lain ini memang hanya memanfaatkan momentum 
sebagai sarana popularitas pribadi. Walahualam," prihatin dia.
Raditiyo mengajak seluruh kalangan berfikir jernih serta objektif untuk menilik 
persoalan bangsa. Pembangunan negeri tak jangan berpangku tangan kepada 
pemerintah semata. "Seluruh anak bangsa, seharusnya ikut ambil bagian membuat 
yang terbaik bagi negeri. Bukan sebaliknya menjerumuskan negara dan bangsanya 
sendiri," tegas dia.

Himbauan senada dilontarkan  Sekjen International Conference for Islamic 
Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi. Ia menyatakan tidak sepenuhnya Indonesia 
negara gagal. Namun, harus diakui bahwa ini memliki persoalaan fundamental yang 
menuju negara gagal."Kalau hari ini Indonesia disebut negara gagal tentu tidak. 
Hari ini regulasi masih jalan. Namun, Indonesia punya masalah fundamental yang 
by proses bisa menuju negara gagal . Pertama sistem ketatanegaraan yang tidak 
integrated/incorporated ', kedua, masalah leadership," tegas dia.

Bahkan, kata mantan Ketua PBNU itu, UUD 1945 yang diamandemen pascareformasi 
tidak sepenuhnya sesuai dengan norma/jiwa Pancasila untuk tidak mengatakan 
bertentangan."Dari UU ke political will executif banyak yang bertentangan. 
Hubungan trias politica saling mengunci atau menjadi alat bargaining. Otonomi 
daerah mengarah ke federasi bahkan konfederasi yang berujung disintegrasi dan 
sparatisme. [Ant/L-


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke