Ref: Hanya Polri? Jalan panjang yang tak terhingga akhirnya? http://www.mediaindonesia.com/read/2012/07/02/330162/70/13/Jalan-Panjang-Reformasi-Polri-
Jalan Panjang Reformasi Polri Senin, 02 Juli 2012 00:00 WIB IBARAT bambu, begitulah tuntutan yang dihadapi Polri di usia ke-66. Bertambahnya usia bukan hanya membuatnya makin kukuh berdiri, melainkan juga kian kuat dan liat menghadapi tantangan dan terpaan angin. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam upacara HUT Bhayangkara di lapangan Mako Brimob, Depok, Minggu (1/7), menantang Polri untuk meningkatkan pelayanan, menuntaskan reformasi, memberantas KKN, dan mumpuni menangani berbagai kejahatan konvensional, terorisme, hingga kejahatan dunia maya. Amanat Presiden sebenarnya sejurus dengan tema HUT Polri tahun ini. Polri berkomitmen memberi pelayanan prima, anti-KKN, antikekerasan, dan memantapkan keamanan dalam negeri dan supremasi hukum. Polri sudah menjalankan sebagian komitmen itu. Namun, mereka masih menyisakan sebagian komitmen lainnya sebagai pekerjaan rumah. Untuk keamanan dalam negeri, capaian Polri yang diapresiasi ialah pemberantasan terorisme. Detasemen Khusus 88 berhasil melumpuhkan gembong teroris Imam Samudra dkk, Azahari, dan Noordin M Top. Dalam hal pemberantasan peredaran narkoba, Polri mengklaim sudah memutus keseluruhan jaringan peredaran narkoba dari Iran, Belanda, dan Malaysia yang masuk ke Indonesia. Polri juga mengklaim sudah menuntaskan jaringan peredaran narkoba di LP Salemba dan Tangerang. Di sisi hubungan publik, kehadiran polisi-polisi rupawan di jalan raya yang tangkas memberi informasi tentang lalu lintas melalui layar televisi sedikit banyak menghapus citra seram dan dingin kepolisian. Namun, Polri harus mengakui pekerjaan rumah yang terbengkalai juga masih menumpuk. Upaya penegakan hukum yang dilakukan kepolisian tercoreng oleh para anggota Polri sendiri yang terlibat korupsi, pembalakan liar, makelar kasus, hingga skandal penyogokan. Masih hangat dalam ingatan bagaimana Gayus Tambunan bisa menonton pertandingan tenis di Bali setelah menyogok Kepala Rutan Brimob. Di sisi lain, Polri tampak lemah di hadapan kelompok tertentu. Pembatalan konser Lady Gaga dan pembubaran diskusi buku Irshad Manji hanya dua contoh betapa Polri takluk di hadapan kelompok tertentu. Di berbagai daerah, polisi juga seperti membiarkan penyerangan terhadap komunitas minoritas, semisal penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Cikeusik dan penganut Syiah di Madura. Berbagai kasus kesewenang-wenangan polisi juga masih marak terjadi. ICW melaporkan sepanjang 2011 ada 97 orang tak bersalah ditembak polisi, dengan 19 tewas dan 78 lainnya luka. Di 2012, selama semester pertama, ada 18 kasus penzaliman dilakukan polisi yang melibatkan 34 anggota. Delapan di antaranya kasus salah tembak dan 10 lainnya penyiksaan. Kekurangan-kekurangan seperti itu tentunya tidak dapat dikesampingkan dalam ingar-bingar HUT ke-66 Polri. Tanpa perbaikan tata kelola di institusi sendiri dan penegakan hukum yang adil pada seluruh lapisan masyarakat, berbagai target yang ingin dicapai akan seperti angin lalu. Lebih dari itu, reformasi yang telah lama didengungkan Polri pun masih sebatas kosmetik. Harus ada keberanian pimpinan Polri untuk memperbaikinya. [Non-text portions of this message have been removed]
