Senin, 25 Juni 2012 | 05:58 WIB
Ruhut: Jika SBY Tak Bertindak, Demokrat Karam
TEMPO.CO , Jakarta:Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat Ruhut Sitompul 
berkeyakinan Susilo Bambang Yudhoyono akan mengambil tindakan terhadap Ketua 
Umum Demokrat Anas Urbaningrum sepulang dari lawatan ke luar negeri pekan ini. 
“Jika tidak ada sikap dari SBY, dipastikan Demokrat akan karam,” kata Ruhut 
kepada Tempo, Ahad 24 Juni 2012.

Dalam pidatonya di Forum Pendiri dan Deklarator Partai dua pekan lalu, 
Yudhoyono secara tersurat meminta Anas dan sejumlah kader Partai Demokrat yang 
bermasalah untuk lengser. Namun hingga saat ini tak ada langkah konkret dari 
Anas dan kawan-kawan melaksanakan arahan itu. Jika ucapan tak didengar, kata 
Ruhut, langkah selanjutnya adalah tindakan tegas.

“(Sikap SBY) ini ada tahapan-tahapannya. Kemarin kan sudah dengan bahasa tubuh, 
terus dengan ucapan, selanjutnya dengan tindakan," ujarnya. Menurut Ruhut, 
Demokrat tak bisa menunggu proses hukum yang dijalankan Komisi Pemberantasan 
Korupsi.

Proses hukum di KPK yang cenderung berjalan lamban justru akan menyandera 
partai lebih lama. Karena itu, langkah kongres luar biasa juga tak bisa diambil 
oleh Yudhoyono. "Tidak bisa KLB. Karena, kalau KLB, harus menunggu Anas jadi 
tersangka dulu," katanya.

Meski begitu, Ruhut tak memandang KPK sengaja mengulur-ulur waktu dalam 
mengusut peran Anas dalam kasus korupsi di proyek Hambalang. Ia pun memaklumi 
proses yang dijalani KPK. "Kalau kita lihat kasus Miranda Goeltom, nama dia 
sudah disebut sejak awal 2008. Tapi ini banyak yang sudah jadi tersangka dan 
bebas dia baru jadi tersangka (Januari 2012).”

Ketua Demokrat Bidang Pemuda dan Olahraga Gede Pasek Suardika menolak 
mengomentari pernyataan Ruhut. "Saya tidak mengomentari pernyataan yang 
ujungnya mengadu domba," katanya.

Sebelumnya, Anas menilai pidato Yudhoyono tak hanya diarahkan ke dirinya. “Itu 
panduan (bagi semua) kader-kader Partai Demokrat," katanya, Jumat pekan lalu.

Meski tak hadir dalam acara tersebut, Anas mengatakan pidato Yudhoyono itu 
merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi kader Partai Demokrat. Forum 
pendiri partai dianggapnya sebagai bentuk dukungan terhadap DPP. Ihwal polemik 
di antara kader, Anas menuduh ada pihak-pihak yang ingin membuat kekacauan 
dalam Demokrat.

ANGGA SUKMA WIJAYA | FEBRIYAN


 
Pemerintah SBY Diminta Tegas Terhadap Kekuatan Antipancasila
Robertus Bellarminus | Pepih Nugraha | Minggu, 24 Juni 2012 | 19:54 WIB 

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam memperingati 'Bulan Bung Karno', Ketua DPP PDI 
Perjuangan Maruarar Sirait, meminta pemerintah tegas mengawal Pancasila. Hal 
itu disampaikan kepada wartawan saat acara 'Malam Orasi Kebudayaan dan Pentas' 
yang bertemakan "Membumikan Pancasila Merajut Nusantara", Sabtu (23/6/2012) 
malam. 

"Pemerintahan SBY - Boediono harus berani dan tegas kepada kekuatan-kekuatan 
yang antipancasila dan yang anti terhadap pluralisme," kata Sirait. 

Ia meneruskan, peran pemuda saat ini penting dalam mengamalkan ajaran Bung 
Karno dan terus mengawal Pancasila. Ia mengatakan, Bung Karno mampu 
mengkonsolidasi, menyatukan lintas agama, lintas suku, dan lintas 
internasional. 

"Karena 'kan harus jelas, Pancasila itu yang setujui rakyat Indonesia. Yang 
setuju kemerdekaan ini rakyat Indonesia. Dan ini yang harus kita kawal. Saya 
yakin, semakin banyak yang mengawal, semakin banyak anak muda yang menyakini 
Pancasila sebagai ideologi, dasar dan filosofis bangsa Indonesia," ujar Sirait. 

Pada akhirnya, walaupun PDIP sebagai partai oposisi, Ia mengharapkan, agar 
Pemerintah yang ada terus memperjuangkan ke-Bhinekaan. "Kami mendoakan 
pemerintah SBY untuk berani memperjuangkan ke-Bhinekaan ini. Itu pesan yang mau 
kami sampaikan," kata Sirait yang juga Anggota Komisi XI DPR RI. 





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke