Betul sekali bung Kuntyo!. Sekarang tiba waktunnya kita tersenyum lebar(tak usah melanjutkan perdebatan) sambil bertepuk dada: "Indonesia tak pernah dijajah Belanda" dan peringatan 350 tahun Indonesia"merdeka" perlu dirayakan setiap tahun sebagai ganti peringatan 17 Agustusan. Marilah kita berbangga hati dan mengumumkannya ke seluruh dunia:"INDONESIA TAK PERNAH DIJAJAH" !!! Terima kasih Belanda, terima kasih Jan Pieter zoon Coen (murjangkung), terima kasih VOC, terima kasih Meneer Resink, terima kasih Prof.Dr. Taufik Abdullah yang telah "meluruskan" sejarah Indonesia yang pernah bengkok seperti akar bahar dan sekarang kembali lurus seperi batang lilin dan yang terahir terima kasih pada kebutaan dan ketulian yang telah mengirim kita ke alam fiksi dan mitologi. Heerlijk!. ASAHAN. ----- Original Message ----- From: koentyo soekadar To: [email protected] ; Zaenal Muttaqin ; Usep Setiawan ; teddy sunardi ; Teddy P. Rachmat ; sjafrie sjamsoeddin ; Sinansari Ecip ; sayidiman suryohadiprojo ; Salim Said ; Salahuddin Wahid ; sabam sirait ; Rusadi Kantaprawira ; RODON PEDRASON ; Rizal Sukma ; Retno L Marsudi ; Rachmat Pambudy, Dr. Ir Ms ; R.M.A.B Kusuma ; Prof.Dr. Sjafii Maarif ; Prof.Dr. Ryaas Rasyid. ; Prof.Dr. Amir Santoso ; Prof. Hikmahanto Yuwono ; Prof. Dr. Djoko Rahardjo ; Pro.Dr. Bungaran Saragih ; Mustafa Kamal ; mohtar Mas'oed ; Mohamad Sobari ; Mangadang Napitupulu ; Makmur Makka ; Liddle, Bill ; La Ode Muhammad D. ; Kusnadi Kardi ; Kiki Syahnakri ; Juwono Sudarsono ; Joseph Daves ; Jayadi Hanan ; ishaq iskandar ; Irawan Purwono ; Ir. A.M. Luthfi ; ips/Fadli Zon ; Indria Samego ; Ikrar Nusa Bhakti ; Ichsan Loulembah ; Ibrahim Isa/Holland ; HS Dillon ; Hendri Saparini, Dr. ; Handojo Priopranoto ; halim perdanakusuma ; Ganjar Pranowo ; Freddy Tulung ; Farouk Muhammad. ; Farid Prawiranegara ; Fahrul Razi Jenderal ; Fahmi Idris ; Erry Ryana Harjapamekas ; Endriartono Sutarto ; Dr. Yuddi Chrisnandi ; Dr. Taufik Abdullah ; Dr. Saafroedin Bahar ; Dr. Joe Sulaiman ; Donny Gahral Adian Dr. ; Dinna Wisnu ; Didik Rachbini, Professor Dr. ; Dharmawan Ronodipuro ; Dewi Fortuna Anwar ; Dedy Jamaludin Malik ; Daud Sinjal ; Christianto Wibisono ; chappy hakim ; Chan ; Burhanuddin Abdullah ; Bambang Harimurty ; Bahtiar Effendy ; B. J Habibie ; August Parengkuan ; ASAHAN ; Andi Wijayanto ; amran nasution ; Ali Mohamad Sungkar ; alfan alfian ; Ahmad Zen Umar Purba ; Ahmad Yani Basuki ; Ahmad W. Pratiknya ; Agus Widjojo ; Agus Abubakar ; Achmad Sujudi Dr. ; achmad Mubarok ; Abuprijadi Santoso (Tosi) ; Abidin Abidin ; Abdillah Toha II ; A.H. Amparita ; A. Rahman Tolleng ; A Dahana ; 'Djoko Suyanto ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; Group Diskusi Kita ; Salim Said Cc: [email protected] ; SASTRA PEMBEBASAN ; SANTRI KIRI ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; AKSARA SASTRA Sent: Thursday, June 28, 2012 12:37 PM Subject: RE: [mimbar-bebas] Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh Belanda
enggak koq, kita nggak dijajah, mereka cuma bertamu saja sebentar (350 tahun) untuk mengisi kapal-kapalnya dengan bahan makanan dan air minum ------------------------------------------------------------------------------ To: [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected] CC: [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected]; [email protected] From: [email protected] Date: Wed, 27 Jun 2012 14:24:02 +0200 Subject: Re: Fw: [mimbar-bebas] Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh Belanda Beberapa bulan yl saya pernah terlibat perdebatan soal ini dengan beberapa orang pro "Indonesia tidak pernah dijajah Belanda selama 350 tahun" atau saya singkat saja "Indonesia merdeka 350 tahun", atau lebih singkat lagi "IM350". Secara sepihak perdebatan itu saya hentikan karena kami tidak menemui titik temu meskipun telah memberikan alasan atau argumentasi masing-masing. Namun saya tetap menganggapnya sebagai persoalan yang menarik untuk diperdebatkan. Dan sekarang ketika seorang sarjana sejarah Prof. Dr. Taufik Abdullah juga menyatakan pendapatnya bahwa "Indonesia tidak pernah dijajah 350 tahun" atau yang juga pro "IM350", persaoalannya bagi saya sudah bukan saja menarik tapi juga menggugah. Beberapa tahun lalu (kalau tidak salah di tahun 2006), saya pernah bertemu dengan Prof. Taufik Abdullah di satu pertemuan yang diorganisasi NIOD di Den Haag. Saya sebagai tamu yang tidak diundang (diajak oleh Ajip Rosidi) lalu terlibat omong-omong"over koetjes en kalvjes" dengan Prof. Taufik Abdullah. Sudah pasti Prof. Taufik tidak mengenal saya tapi karena saya melihat Prof. Taufik mudah diajak bicara saya lalu mengambil inisiatif belajar kenal dengannya meskipun tanpa mengenalkan diri. Sudah tentu yang saya maksud adalah rasa respek saya terhadap Prof. Dr. Taufik Abdullah ketika itu. Tapi pendapat tentu juga bisa berbeda. Dan bila pendapat tentang "IM350" dilontarkan oleh seorang sarjana setingkat Prof.Dr. Taufik Abdullah tentu masaalahnya jadi lain, yaitu seperti yang saya katakan sebagai menggugah. Kata "Indonesia" dalam negara Republik Indonesa atau NKRI yang sekarang, memang tidak dijajah Belanda selama 350 tahun karena Republik Indonesia baru didirikan atau lahir sesudah Proklamasi Kemerdekaan di tahun 1945( toh pernah kembali dijajah Belanda meskipun dalam skala yang amat kecil di tahun-tahun 1947-1949).Tentu Republik yang kita maksudkan, manusia-manusianya yang berasal dari berbagai suku bangsa seperti Jawa, Madura, Sunda, Bugis, Minangkabau, Melayu dsb, dsb yang dulu dijajah Belanda sudah sejak 350 tahun lalu. Kita tidak mau terlibat ke dalam debat kusir hanya soal kata "Indonesia". Indonesia, meskipun belum disebut dan dikenal sebeluam tahun 1928 (Sumpah Pemuda), namun suku-suku bangsa yang sejak 350 tahun lalu seperti Jawa, Sunda, Melayu, Batak, Bugis dsb.dsb, tidak pernah berubah sebagai penduduk yang hidup di wilayah Nusantara: Bugis tidak berubah menjadi Batak atau Melayu tidak pernah berubah menjadi Dayak dsb, dsb. Dan baru sesudah Republik Indonesia diproklmasikan pada 17 Agustus 1945,semua suku-suku bangsa yang hidup di Indonesia menamakan dirinya sebagai orang Indonesia, Bangsa Indonesia, yang hidup dan menjadi warga negara Republik dari negara Indonesia dan nama mereka sebagai suku bangsanya masing masing juga tidak berubah: Bugis tetap Bugis, Batak tetap Batak, Melayu tetap Melayu dsb, dsb dan juga keturunan mereka yang sejak 350 tahun lalu adalah juga Indonesia menurut sebutan sekarang karena Indonesia yang sekarang tidak lahir dari langit yang menjadi sebuah bangsa yang sama sekali baru yang tidak punya keturunan kecuali para putra dan putri langit. Anggapan demikian suduh pasti sebuah kelucuan dan a historis, buta sejarah, anti pengetahuan. Sebutan Indonesia, tidak terlepas dari asal usul bangsa, asal usul suku bangsa yang telah lahir jauh sebelum 350 tahun lalu meskipun belum bernama Indonesia. Jadi masuk akalkah kalau kita katakan "Indonesia tidak pernah dijajajah 350 tahun!?". Kalau Indonesia itu sekedar secarik kertas Proklamasi 17 Agustus yang diproklamirkan oleh Ir. Soekarno, dengan cara debat kusir memang bisa kita katakan "Indonesia Proklamasi"tidak pernah dijajah Belanda karena dia cumalah secarik kertas. Belanda menjajah manusia bukan kertas dan pernyataan semata. Indonesia tidak sekedar lambang dari sebuah bangsa tapi juga yang penting adalah sejarah dari satu bangsa, Indonesia punya sejarah meskipun sebelum bernama Indonesia dan dalam sejarahnya, Indonesia memang pernah dijajah Belanda selama 350 tahun dan itulah salah satu sejarah Indonesia, yang juga sejarah semua suku-suku bangsa yang hidup di Indonesia dari dahulu hingga sekarang: Orang Jawa masih ada, orang Sunda masih ada, orang Melayu masih ada dan semua suku-suku bangsa yang dulu pernah hidup di jaman penjajahan Belanda semuanya masih ada hingga sekarang ini. Menghilangkan semua manusia-manusia Indonesia yang pernah ada dan sedang ada ini dengan menyebut : "Indonesia tidak pernah dijajah Belanda 350 tahun" berarti menganggap Indonesia itu hanyalah sebagai " Negara Kertas Republik Indonesia" atau Republik tanpa manusia dan cumalah sekedar secarik kertas pernyataan kemerdekaan : Belachelijk! Sekali lagi: Indonesia tidak sekedar lambang dan nama tapi juga adalah sebuah sejarah masa lalu dan yang ujud masa kini. "Indonesia yang tidak pernah dijajah"adalah Indonesia yang tidak punya sejarah, dan hanya ada dalam khayalan, dalam fiksi, dalam kertas, dalam MITOS para "patriotik" yang tidak tahu apa arinya berjuang, apa ratinya rakyat, apa artinya negara dan negeri, apa artinya penjajahan, apa artinya kemerdekaan. Lalu apalagi yang bisa kita harapkan dari para "sejarawan" bangsa saya yang tidak punya pengertian dasar tentang sejarah bangsanya sendiri? Satu kenyataan, memang ada orang orang Belanda yang bersimpati kepada bangsa Indonesia, kepada NKRI dan menolak serta mengutuk politik Kolonialisme lama Belanda yang dilancarkaan oleh bangsanya di masa lalu. Sebagian mereka ada yang memang jujur dan tulus. Tapi kita juga harus waspada terhadap yang punya maksud-maksud tertentu dan tersembunyi. Tidak boleh terlena hingga mabuk kepayang oleh hiburan mereka yang mengakui "kehebatan"orang Indonesia yang umpamanya dengan cara mengatakan: "tidak benar Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahuan" atau mengatakan: "Orang Belanda cuma melihat Indonesia hanya dari kaca jendela kapal-kapal VOC mereka" atau paling-paling cuma meledakkkan meriam sundut sekedar untuk mengucapkan "hatur nuwun" kepada penduduk pesisir yang gagah perwira agar diberi cengkeh dan pala ala kadarnya. Ini hiburan murah untuk meluluhkan hati orang Indonesia agar tidak menganggap kaum kolonialisme Belanda itu jahat bahkan bermurah hati yang jauh-jauh datang untuk "bersahabat" dan bukan untuk menjajah. Belachelijk! Mereka meng-abadikan kejayaan sejarah gemilang mereka dalam menaklukkan dan menjajah Indonsia dengan membangun kembali kapal VOC yang bernilai puluhan juta euro (saya sudah pernah mengunjunginya) dan meskipun pernah terbakar hampir habis lalu dibangun kembali untuk melambangkan tekad mereka dalam mengawetkan sejarah kegemilangan mereka dalam menjajah dan menaklukkan Indonesia yang begitu besar dan luas oleh sebuah negeri kecil, teramat kecil tapi hebat dan perkasa. Dan ada orang Indonesia yang merasa bangsanya tidak pernah dijajah Belanda. BELACHELIJK!!! ASAHAN. Original Message ----- From: Salim Said To: Group Diskusi Kita ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] ; 'Djoko Suyanto ; A Dahana ; A. Rahman Tolleng ; A.H. Amparita ; Abdillah Toha II ; Abidin Abidin ; Abuprijadi Santoso (Tosi) ; achmad Mubarok ; Achmad Sujudi Dr. ; Agus Abubakar ; Agus Widjojo ; Ahmad W. Pratiknya ; Ahmad Yani Basuki ; Ahmad Zen Umar Purba ; alfan alfian ; Ali Mohamad Sungkar ; amran nasution ; Andi Wijayanto ; ASAHAN ; Asahan Aidit ; August Parengkuan ; B. J Habibie ; Bahtiar Effendy ; Bambang Harimurty ; Burhanuddin Abdullah ; Chan ; chappy hakim ; Christianto Wibisono ; Daud Sinjal ; Dedy Jamaludin Malik ; Dewi Fortuna Anwar ; Dharmawan Ronodipuro ; Didik Rachbini, Professor Dr. ; Dinna Wisnu ; Donny Gahral Adian Dr. ; Dr. Joe Sulaiman ; Dr. Saafroedin Bahar ; Dr. Taufik Abdullah ; Dr. Yuddi Chrisnandi ; Endriartono Sutarto ; Erry Ryana Harjapamekas ; Fahmi Idris ; Fahrul Razi Jenderal ; Farid Prawiranegara ; Farouk Muhammad. ; Freddy Tulung ; Ganjar Pranowo ; halim perdanakusuma ; Handojo Priopranoto ; Hendri Saparini, Dr. ; HS Dillon ; Ibrahim Isa/Holland ; Ichsan Loulembah ; Ikrar Nusa Bhakti ; Indria Samego ; ips/Fadli Zon ; Ir. A.M. Luthfi ; Irawan Purwono ; ishaq iskandar ; Jayadi Hanan ; Joseph Daves ; Juwono Sudarsono ; Kiki Syahnakri ; Kusnadi Kardi ; La Ode Muhammad D. ; Liddle, Bill ; Makmur Makka ; Mangadang Napitupulu ; Mohamad Sobari ; mohtar Mas'oed ; Mustafa Kamal ; Pro.Dr. Bungaran Saragih ; Prof. Dr. Djoko Rahardjo ; Prof. Hikmahanto Yuwono ; Prof.Dr. Amir Santoso ; Prof.Dr. Ryaas Rasyid. ; Prof.Dr. Sjafii Maarif ; R.M.A.B Kusuma ; Rachmat Pambudy, Dr. Ir Ms ; Retno L Marsudi ; Rizal Sukma ; RODON PEDRASON ; Rusadi Kantaprawira ; sabam sirait ; Salahuddin Wahid ; Salim Said ; sayidiman suryohadiprojo ; Sinansari Ecip ; sjafrie sjamsoeddin ; Teddy P. Rachmat ; teddy sunardi ; Usep Setiawan ; Zaenal Muttaqin Sent: Tuesday, June 26, 2012 4:26 AM Subject: Fwd: Fw: [mimbar-bebas] Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh Belanda Yang dijajah Belanda dulu itu belum lagi Indonesia, melainkan sekumpulan wilayah yang dikontrol oleh berbagai kerajaan kecil dan kadang besar. Ketika Belanda datang ke Nusantara, tidak ada dan belum ada pemerintahan yang menguasai secara utuh seluruh wilayah yang di kemudian hari menjadi Hindia Belanda sebelum pada akhirnya menjadi Republik Indonesia. Adalah sebuah ironi bagi Belanda bahwa penjajahannya atas wilayah yang Nusantara itu, dikemudian hari, yaitu pada awal ke 20 secara perlahan bertransformasi menjadi Indonesia. Transformasi mulai mendapatkan bentuknya setelah Gubernur Jenderal Van Heutz selesai menaklukkan seluruh Nusantara dan meletakkannya di bawa kontrol pemnerintah Hindia Belanda yang duduk di Batavia. Konsep Indonesia itu sendiri adalah sebuah fenomena politik yang lahir pada dekade ke dua abad ke 20. Kalau cara pandang ini dipergunakan maka Belanda memang tidak menjajah Indonesia selama 350 tahun. Cerita atau mitos Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun adalah semboyan politik yang diciptakan para elit politik untuk membangunkan bangsa Indonesia agar bangkita bersama mengakhiri kolonialisme. Tindakan (kampanye) politik seperti ini sangat banyak bisa kita temukan pada masa pergolakan nasional dan masa revolusi. Hari kebangkitan Nasional (20 Mei 1968) adalah ciptaan masa revolusi untuk menyadarkan bangsa Indonesia waktu itu bahwa perjuangan kita sudah berlangsung lama. Sekarang kita tahu bahwa Boedi Oetomo itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kebangkitan nasional. BO adalah gerakan priyai Jawa yang masih berdasarkan kesadan sebagai bangsa Jawa yang harus dicerahkan. Diponegoro, Hasanuddin, Pangeran Samber Nyowo, Imam Bonjol dan banyak lagi lainnya, semua memang melawan Belanda, tapi semua juga tidak ada urusannya dengan Indonesia, sebab waktu itu memang belum lahir konsep Indonesia sebagai sebuah bangsa. Ketika mereka yang pernah perang dengan Belanda ini ramai-ramai diangkat menjadi pahlawan nasional, maksudnya semata untuk menunjukkan bahwa kita punya sejarah panjang dalam melawan Belanda.Semangat mereka kita perlukan dalam kita mempertahankan Republik Indonesia yang ingin dihapuskan oleh Belanda yang beberapa tahun sebelumnya telah bertekuk lutut kepada Jepang di Kali Jati. Dalam hal ini sejarah sudah direkayasa untuk dipakai sebagai alat politik. Sekarang kita sudah harus mempelajari dan mengajarkan sejarah seperti semestinya, artinya bukan lagi direkayasa untuk kepentingan politik. ---------- Forwarded message ---------- From: ASAHAN <[email protected]> Date: 2012/6/25 Subject: Fw: [mimbar-bebas] Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh Belanda To: SASTRA PEMBEBASAN <[email protected]>, AKSARA SASTRA <[email protected]>, [email protected], Group Diskusi Kita <[email protected]>, [email protected], [email protected], [email protected], Salim Said <[email protected]>, SANTRI KIRI <[email protected]>, [email protected] Kalau tidak pernah dijajah 350 tahun, lantas berapa tahun dong! Nol tahun?. Artinya Indonesia sudah merdeka sejak 350 tahun lalu? Nah ini benar-benar MITOS!!!. Jadi memang ada benarnya apa yang pernah dikatakan seorang sastrawan Belanda Adriaan van Dis: "orang Indonesia itu buta sejarah" atau lebih tepatnya kaum Intelektuil Indonesia itu pada umumnya buta sejarah atau seperti juga yang pernah dikatakan Paramoedya Ananta Toer: Kaum Intelektuil Indonesia selalu tiarap di bawah kekuasaan yang manapun. Yang hidup dalam mitos itu sesungguhnya adalah justru sebagain besar kaum Intelektuil Indonesia itu sendiri. Mereka belajar sampai "ke negeri Cina"(Pecinan) adalah cuma untuk jadi pembesar, pegawai tinggi, penguasa negara dsb yang enak-enak dan bukan untuk mengabdi bangsa dan negara serta rakyat Indonesia dan bila tujuannya telah tercapai suka sekali berbangga diri umpamanya sambil mengatakan: "Indonesia tidak pernah dijajah Belanda". Kedengarannya hebat laksana sebuah "BOM"dalam penelitian kembali sejarah Indonesia dan diharapkan akan menghasilkan ratusan Ph.D.bidang ilmu sejarah bila memilih tema "Indonesia tidak pernah dijajah Belanda", "Usia Indonesia merdeka sudah berumur lebih dari 350 tahun"... Hura! Belanda kalah, Indonesia jaya! Hura! Hura!Hura!. Mudahnya jadi seorang intelektuil patriotik. ASAHAN. ----- Original Message ----- From: Sunny To: Undisclosed-Recipient:; Sent: Saturday, June 23, 2012 6:03 PM Subject: [mimbar-bebas] Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh Belanda Att: Berita lama untuk mengasah otak. http://forum.kompas.com/nasional/27406-indonesia-tak-pernah-dijajah-350-tahun-oleh-belanda.html Indonesia Tak Pernah Dijajah 350 Tahun oleh Belanda | hertanto | Rabu, 20 Januari 2010 | 09:18 WIB MEDAN, KOMPAS.com Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Prof Taufik Abdullah, mengatakan, Indonesia tidak pernah dijajah oleh pemerintah kolonial Belanda selama 350 tahun. "Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup di bawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun. Ini tidak sesuai dengan fakta, yang terjadi justru Belanda memerlukan lebih dari 300 tahun untuk menaklukkan beberapa daerah di Hindia Belanda," katanya di Medan, Selasa (19/1/2010). Hal tersebut dikatakannya di sela seminar nasional pengusulan Sultan Serdang ke-5, Sulaiman Syariful Alamsyah (1881-1945), sebagai Pahlawan Nasional. Taufik mengatakan, orang-orang Belanda pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1552 di bawah pimpinan Cornelius de Houtman yang mendarat di salah satu pelabuhan dan pusat kekuasaan di Nusantara saat itu, yakni Banten. Kolonialisme Belanda berakhir pada tahun 1942 ketika Hindia Belanda diserbu dan diduduki oleh bala tentara Jepang. "Logikanya, apakah masuk akal kalau dikatakan bahwa Belanda langsung berkuasa ketika mereka baru saja datang di Banten," katanya. Taufik mengatakan, ironi dalam mitos yang dianggap sejarah itu juga berlanjut pada abad ke-17 yang boleh dikatakan sebagai zaman ketika berbagai kerajaan di Kepulauan Nusantara diperintah oleh raja-raja besar dan berkuasa. Abad ke-17 adalah masa berjayanya Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang meluaskan kekuasaannya ke tanah Semenanjung dan Pantai Barat Sumatera, demikian juga dengan Sultan Agung yang meluaskan kekuasaannya ke seluruh Jawa, kecuali Banten dan Batavia. Begitu juga dengan Raja Tallo yang sekaligus menjabat Perdana Menteri Kerajaan Gowa dan Sultan Hasanuddin, Raja Gowa (1653-1669). Mereka memerintah di kerajaan masing-masing dan biasa juga terlibat dalam kompetisi dan konflik sesama mereka. Pada masa itu pula mereka menghadapi dengan gagah berani infiltrasi kekuatan asing, seperti Belanda, Spanyol, dan Portugis. "Lalu, bagaimana harus dipahami kalau di bawah kolonialisme Belanda memerintah, raja-raja di Nusantara itu memiliki kekuasaan yang cukup besar dan bahkan sibuk memperluas wilayah kekuasaan mereka masing-masing," katanya. Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup di bawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected] Kunjungi situs INTI-net http://groups.yahoo.com/group/inti-net Kunjungi Blog INTI-net http://tionghoanet.blogspot.com/ http://tionghoanets.blogspot.com/ Tulisan ini direlay di beberapa Blog : http://jakartametronews.blogspot.com/ http://jakartapost.blogspot.com http://indonesiaupdates.blogspot.com *Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan* CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE ! http://adv.justbeenpaid.com/?r=kQSQqbUGUh&p=jsstripler5Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/inti-net/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
