Hhutauruk, UripKurnia, Basuki Tjahaja Purnama <[email protected]>, <
[email protected]>,  JohnOei <[email protected]>, Kristiani Pos <
[email protected]>,  Djohar Koh <[email protected]>,**

* *

*LEADERSHIP62* <[email protected]>, [email protected]
, [email protected], [email protected],
[email protected],

[email protected],  [email protected],
[email protected],  [email protected], *
Persaudaraan **<*[email protected]>,

* *

[email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected],[email protected],
[email protected],   [email protected],



[email protected],
[email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected], *IES* <
[email protected]>

* *

*UNPAR* <[email protected]>,
[email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],
[email protected], [email protected],

* *

* **2 Juli 2012*

*
*

***  Lakukan Verifikasi DPT atau Mundur Secara Terhormat*

* *

Teman2,

Sementara 5 kubu Cagub Baru masih menolak DPT, ke 6 pasangan kontestan yang
ada sudah menanda tangani kesepakatan tata tertib Pilkada.  Kesepakatan itu
bersifat teknikal karena tidak memuat status DPT yang hingga kini masih
dalam masalah dengan sejumlah kejanggalan signifikan. Sementara  terjadi
penambahan 1,3 juta (23%) calon pemilih janggal, banyak laporan warga DKI
yang justru tidak memperoleh surat  tanda peserta Pilkada.**

Dalam kegiatan Pilkada, kita perlu membedakan 2 pokok yang penting:
Substansial dan Teknikal.

Sementara Substansi  berupa hal-hal pokok  *materi dasar* bagi pelaksanaan
Pilkada, pokok Teknikal cenderung mengenai *metode pelaksanaan* Pilkada.
Salah satu inti terpenting Pilkada adalah DPT, yaitu materi yang akan
diperebutkan oleh setiap kontestan. DPT yang menggelembung merupakan
indikasi akan adanya sejumlah besar pemilih fiktif dalam pilkada.

Walau seluruh Cagub sudah menanda tangani kesepakatan teknis, 5 pasangan
Cagub baru masih menolak menanda tangani pengakuan DPT bermasalah itu.
Menurut saya, hal ini  bisa diartikan bahwa 5 pasangan Cagub Baru hingga
kini  masih tidak mengaku persetujuan atas materi substantif DPT  yang
disajikan KPU.



*Proyeksi Pilkada Dalam Kaitan DPT Bermasalah*

Penanda tanganan kesepakatan tata tertib pelaksanaan Pilkada, bukanlah
pengakuan ataupun penolakan substansi  DPT bermasalah. Ini ditunjukkan
dengan sikap 5 Cagub Baru yang masih menolak menanda tangani pengakuan atas
DPT yang sudah disiapkan oleh KPU.Walau DPT itu masih ditolak, hingga saat
ini belum ada peserta pilkada yang menyatakan pemboikotan Pilkada. Dalam
situasi yang belum pasti ini, saya akan menyampaikan suatu proyeksi,
seandainya Pilkada dilaksanakan dengan menggunakan DPT yang hingga kini
masih ditolak.

Saya tidak menganggap akan ada pihak kontestan akan melakukan pengacauan
dalam pilkada ini. DPT itu dianggap janggal karena dalam tempo 33 hari
terjadi penambahan penduduk secara besar-besaran (sebanyak 23% = 1,3 juta),
serta ditemukan sejumlah keanehan masif dalam daftar peserta. Kontradiktif
dengan  begitu  banyak penambahan penduduk ‘fiktif’,  ternyata hingga kini
banyak pula warga DKI resmi yang seharusnya mempunyai hak pilih, tidak
tercantum di situ.

Seandainya benar akan ada penggelembungan suara, metode apa yang paling
mungkin dipakai?

Saya percaya dengan menggunakan beberapa metode sederhana, keberadaan
pemilih ganda akan mudah terdeteksi. Namun sementara Pemprov DKI memiliki
wewenang untuk menerbitkan KTP,  metode yang paling rawan adalah penyewaan
sejumlah besar joki gelap untuk  melakukan pemilihan untuk memberikan suara
fiktif. Jika dibandingkan dengan  joki di wilayah jalan 3in1 Jakarta dimana
setiap kali naik mobil  mereka meminta tarif pada kisaran Rp10ribu/orang,
saya kira cukup dengan bayaran Rp500ribu hingga Rp 1juta/orang, anggaran
maksimal bagi 1,3 juta orang joki cuma seharga Rp 1,3milyar. Harga anggaran
itu sangatlah murah dibanding biaya anggaran yang tersedia dalam kampanye
Pilkada DKI. Dan seandainya terjadi praktek ini, menurut perhitungan  saya,
penggantian gubernur melalui pilkada ini adalah sesuatu yang mustahil.



*Proyeksi Pilkada DPT Bermasalah*

DPT bermasalah menimbulkan keengganan bagi sebagian besar pemengang hak
untuk mengikuti pilkada.  Kondisi itu akan menguntungkan pihak pendukung
DPT bermasalah.  Seandainya Pilkada menggunakan DPT bermasalah tetap
dilaksanakan, menurut prediksi, tidak mungkin akan terjadi penggantian
gubernur.

Apakah ada manfaat pengaduan dan penuntutan di PTUN?

Saat perjuangan para anggota PDI yang setia kepada mbak Mega, saya tahu
bahwa PTUN tidak akan ada manfaatnya. Namun saya tetap menyarankan metode
yang masih cukup aman itu, karena tidak mungkin ada kekuatan yang bisa
dibandingkan dengan dominasi  ABRI saat itu. Kenyataannya, perjuangan
panjang ‘membentur tembok’ yang melelahkan itu baru terlihat jelas
efektifitasnya menjelang dan setelah Orba terguling.

Membandingkan dengan masa lalu, saya percaya bahwa MK dalam kepemimpinan
pak Mahfud MD memiliki kredibilitas serta netralitas yang setara dengan
Komnas HAM dimasa bakti almarhum Baharuddin Lopa. Sebaiknya sikap protes
atas kejanggalan DPT , beserta bukti-buti otentik sudah bisa dilaporkan
kepada MK sejak sekarang ini. Namun seandainya pelaporan DPT dilakukan
setelah para  Cagub dinyatakan kalah dalam Pilkada, saya kira MK akan sulit
melakukan keputusan yang efektif. Kenapa? Karena sudah agak terlambat.
Istilahnya, sudah tahu hape yang dijual rusak, tapi kita mau tetap
membelinya.  “Teliti sebelum membeli. Barang yang sudah di beli, tidak
dapat dikembalikan” adalah pepatah pedagang yang sering kita dengar. Walau
mungkin bisa dikabulkan, pembeli ada pada posisi lebih lemah.

Apakah ada manfaat Cagub Baru ikut serta dalam pilkada?

Dengan asumsi bahwa Cagub Baru tidak akan menang, kesertaan Cagub Baru akan
cenderung berperan sebagai para ‘penggembira’ yang akan meramaikan Pilkada.
Walaupun demikian, kesertaan para Cagub Baru sangat penting  karena
kekuatan pengaruhnya untuk menutup kecurangan pilkada, serta peran
vitalnya  sebagai legitimator bagi pengangkatan dan pelantikan gubernur
produk pilkada itu.





*Apa yang para Cagub Baru bisa lakukan?*

*Berinsyatif untuk melakukan pengecekan DPT*

Ini harus dilakukan dengan meminta  waktu, data serta izin KPU dan Panwaslu
untuk melakukan verifikasi data mengenai keberadaan seluruh subyek yang
tercantum dalam DPT itu.  Para Timses Cagub Baru bisa menugaskan wakilnya
untuk bekerja sama serta meminta dukungan tim pengawas independen untuk
menemui dan melakukan identifikasi  para calon pemilih yang terdaftar.
Setiap peserta DPT  harus  ditemui secara fisik oleh tim verifikasi untuk
diidentifikasi, serta dilakukan pemotretan wajah serta beberapa ciri fisik.

*Bagaimana seandainya permintaan ditolak? *

Saya berpendapat, seandainya para kontestan tidak percaya akan kebenaran
DPT, sebaiknya para Cagub melakukan pengunduran diri dari kesertaan Pilkada
secara baik-baik. Berani mengundurkan diri secara baik-baik, adalah sikap
‘gentleman’ yang sangat terhormat. Saya berpendapat, mengundurkan diri
secara  baik-baik, lebih terhormat dibanding kalah dengan cara yang
menyakitkan.



 Teman2.

Kita tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Kita juga tidak
akan melakukan sesuatu yang diluar kendali kita. Namun apapun yang kita
bisa, biarlah kita lakukan itu dengan cara yang benar. Lebih dari itu,
biarlah pekerjaan itu kita lakukan sebaik-baiknya karena dimulai dengan
niat yang mulia sebagai kontribusi positif kita bagi sesama.





Salam sejahtera,

Mulyadi Dharmadi **

* *

* *

* *

* *

*arsip-arsip lama**_______________________________________________**
_______________________________________________***

*
*

*
*

*
*

*
*

*
*

*
*

* *

___________________________________________________________20 Juni 2012

* *



***  **Tidak Ada Runner-Up Gubernur **Hasil** Pilkada*

* *

v  *Temuan** **DPT Janggal** **= Sampel** **Rekayasa DPT*

Perbedaan jumlah pemegang e-KTP DKI hingga 30 April dengan DPT produk 2
Juni  ini terdapat selisih sekitar 23%. Kecurigaan DPT itu adalah hasil
rekayasa dalam upaya penggelembungan suara untuk menambahkan suara
bagi gubernur
lama, sering dilaporkan ke limaTimses Cagub Baru. Sementara  ke lima kubu
Cagub Baru sudah melaporkan  DPT dengan NIK kosong, kembar atau janggal. saya
yakin NIK fiktif sebenarnya jauh lebih banyak dibanding NIK janggal yang
sudah teridentifikasi secara pasti oleh para timses Cagub baru.Dengan
membandingkan
data 30 April,  DPT yang terindikasi fiktif adalah sekitar 1,3 juta suara.

Penambahan begitu banyak  suara fiktif, secara logis mengindikasikan bahwa
itu adalah salah satu teknik manipulasi penambahan suara.Kenyataan DPT ganjil
yang ditolak oleh 5 kubu Cagub Baru, tapi diterima oleh gubernur lama, kita
bisa menyimpulkan  siapa dibelakang rekayasa DPT itu.

Bagaimana mungkin gubernur yang lama mampu melakukan rekayasa itu? Akhir
tahun lalu gubernur lama menerima 3,45 Trilyun dana anggaran proyek
normalisasi 13 sungai di Jakarta. Hingga akhir masa jabatannya, tidak
tampak ada proyek apapun bagi sungai-sungai yang hingga kini penuh sampah
dan berbau busuk itu.  Seandainya anggaran itu hanya digunakan bagi proyek
fiktif, itu adalah satu sampel dari sekian trilyun panas dari anggaran
proyek fiktif yang sempat ditilap di masa kekuasaan gubernur lama.

* *

v  *Tidak Ada Runner-Up Gubernur** **Dalam Pilkada*



Sementara gubernur lama menyatakan ‘patuh’ kepada KPU untuk memperebutkan
DPT bermasalah, para Cagub Baru terkesan ragu untuk memboikot Pilkada.
Bahkan salah satu kandidat Cagub baru terkesan menyerah kepada KPUD dengan
menyatakan akan mengikutgubernur lama mengikuti pilkada demi memperebutkan
suara dari DPT rekayasa itu.

Kita sadari seandainya salah satu kandidat menerima ekstra suara fiktif sebesar
23% suara, tidak mungkin ada kandidat lain yang bisa menyainginya. Seandainya
suara fiktif semua disediakan bagi gubernur lama yang berhadapan dengan 5
Cagub Baru yang dalam komposisi kekuatan yang seharusnya dalam probabilitas
50:10:10:10:10:10 akan menjadi 73:10:10:10:10:10. Dengan probabilitas
demikian, walau gubernur lama itu sudah  tidak dipercaya masyarakat dan
tidak dikehendaki memperpanjang jabatannya lagi, berkat kekuatan ‘suara
siluman’ yang disiapkannya, hampir dipastikan gubernur dalam 1 putaran akan
unggul secara mayoritas diatas 50%. Sedangkan dari ke 6 kontestan, yang
dipilih dan dinyatakan sebagai pemenang, hanyalah akan ada 1 kubu yaitu
yang meraih suara pemenang. Itu berarti  kubu peraih suara terbanyak ke2=
ke3= ke4= ke5= ke6 adalah= kubu yang kalah dan bukan gubernur terpilih
Pilkada.

* *

v  *Tolak** **DPT bermasalah sejak dini secara** **K**onsisten** **dan sikap
** **K**ongruen*

DPT bermasalah adalah awal dari masalah DKI yang bisa berkelanjutan. Jika
tidak mau masalah, jangan terima masalah. Namun jika yakinjawaban ulangan
kita sudah benar, jangan pedulikan jawaban teman di sebelah.

Jika kita sudah tahu DPT yang disediakan adalah salah, protes dan
penolakkan adalah hak para  pemain. Calon juara All England, secara dini
akan meminta time-out agar petugas bisa  mengeringkan  lapangan yang basah
dan licin. Bahkan pemain profesional beserta tim suksesnya, secara serius
tidak akan mau mengambil resiko seandainya sebelum pertandingan diketahui
bahwa lapangannya rusak atau licin.

Menyaksikan pengalaman keberhasilan berkuasa di Jakarta selama 15 tahun,
mau tak mau kita harus percaya gubernur berkumis inimemang akhlinya bidang
kemacetan dan akhlinya bidang  kebanjiran. Namun menyaksikan penambahan DPT
yang sanggup menambah penduduk DKI sebanyak 23% dalam waktu 33 hari, mau
tak mau kita harus kembali mengakui ketrampilan tangan pak kumis
menciptakankeajaiban
ini. Saat ini gubernur lama mengambil peran sebagai pelopor yang  menerima
DPT bermasalah itu. Seandainya jejak pelopor pro DPTbermasalah ini diikuti
oleh kontestan lain, maka mereka yang terpimpin mengikuti gaya permainan
kumis, pasti akan dikalahkan oleh kandidat berkumis itu.



*Consistent* berarti secara mantap terus melaksanakan hingga selesai. Jika
kita memutuskan untuk meminta perbaikan DPT, tidak usah ragu terus saja
perjuangkan.  Jika kita ragu,

sebentar menerima dan sebentar menolak lagi, itu berarti tidak konsisten.
Para Cagub Baru yang menolak DPT bermasalah, harus  secara serius tetap
memperjuangkan tuntutannya hingga haknya dipenuhi.



*Congruent** *berarti harmonis atau sepadan. Jika kita sudah menolak DPT
bermasalah, jangan mau menggunakannya. Jika kita mau menerima DPT
bermasalah, jangan protes lagi jika kalah karena hasil kemenangan akan
diberikan bagi pelaku rekayasa.







v  *Lalu** **apa yang harus kita lakukan?*



Ø  *Bandingkan data e-KTP dengan data DPT*

Jangan terpancing masuk melawan dalam lapangan manipulasi gubernur lama.
Pak Mendagri menyarankan agar kita membandingkan DPT dengan daftar e-KTP
DKI per 30 April yang lalu. Sebaiknya para Timses Cagub baru meminta
soft-copy data dari Depdagri.  Pilih 200 sampel data e-KTP secara acak,
lakukan verfikasi di rumah tempat tinggal para pemegang e-KTP yang
tercantum pada data tersebut. Seandainya kebenarannya diatas 97%, untuk
menghemat waktu, sementara kita terima bahwa data itu benar.  Kemudian
ke 5 Timses
Cagub Baru perlu membandingkan dengan soft copy DPT dari KPUD.  Kumpulkan
penambahan penduduk yang tidak tercantum dalam  E-KTP namun tercantum dalam
DPT dalam Daftar Obyek Investigasi.  Secara acak, pilih 1000 calon pemilih
dari DOI itu untuk dilakukan verifikasi di rumah-rumah mereka di Jakarta.
Seandainya ternyata obyek yang tidak terverifikasi di bawah 5%, ada
kemungkinan DOI itu memang aktual. Seandainya obyek tidak terverifikasi
antara 10-50%, kemungkinan terjadi tindakan kriminal manipulasi dengan
metode pencampuran (yang aktual dioplos dengan yang fiktif). Seandainya
obyek yang tidak terverifikasi diatas 50%, ini adalah suatu rencana
kejahatan rekayasa Pilkada. Demi efektifitas, verifikasi ini harus sudah
tuntas dilakukan dan dilaporkan sebelum Pilkada dilaksanakan.

Ø  *Laporkan temuan kejanggalan DPT kepada Presiden, (**K**etua) MK**,** **(
**K**etua) MPR.*

Ø  *Jangan ikut serta Pilkada sementara masalah DPT belum jernih dan
diperbaiki.*

Ø  *Lakukan segala sesuatu secara benar sesuai dengan kaidah** **peraturan
dan** **hukum yang berlaku.*

Ø  *Seandainya DPT sudah diperbaiki hingga benar dan bisa diterima oleh
segenap pemain, laksanakan** **Pilkada** **dengan** **sangat**waspada.
Antisipasi segala trik yang mungkin dilakukan secara tidak jujur. *

* *

* *



v  *Satu Gubernur** **pemenang Pilkada.** **Dua** **P**iala** **bagi
peserta Pilkada.*

Final suatu pertandingan, seharusnya akan menghasilkan satu pemenang. Kita
semua pasti ingin menang, dan jika menang  tentu harusdengan cara yang
bermartabat. Seandainya lapangan yang disediakan sudah menentukan hasil
final tanpa melalui pertandingan,   kesertaan para peserta hanya
dimanfaatkan sebagai syarat formal demi legitimasi pengangkatan pemenang.
Para pemain sejati pasti merasa lebih jantan jika dengan segenap kekuatan
bertanding all-out di lapangan yang masih membuka kesempatan bagi kemenangan
mereka. Tidak guna bertanding pada lapangan yang  tidak layak. Tunda
pertandingan lebih baik, dibanding bertanding untuk kalah karena menghadapi
orang yang sudah disiapkan dengan cara rekayasa.



Memang benar, tidak ada runner up gubernur dalam Pilkada. Namun dalam hati
bangsa Indonesia tersedia dua macam piala bagi parapetarung yang sportif:
Menang secara bermartabat. Kalah secara terhormat.



Teman2,

Jumat siang kemarin, saya sengaja ke Jakarta untuk menyampaikan surat
kepada presiden SBY ke kantor SekNeg. Selain memohonkan perhatian bapak
Presiden, saya mengusulkan agar pemegang e-KTP DKI yang terdaftar hingga 30
April bisa dijadikan sebagai calon pemilih yang berhak untuk mengikuti
Pilkada DKI. Jumlah 5.660.660 penduduk pemegang e-KTP, itu adalah penduduk
DKI yang memenuhi tanggung jawab atas panggilan wajib e-KTP sesuai batas
waktu ditentukan, adalah populasi yang cukup tepat untuk mewakili Jakarta
dalam memilih pemimpinnya.  Selain itu,  jumlah yang sudah pasti 5.660.660
itu akan menghindari polemik baru yang bisa memusingkan.

Kita harapkan sekembalinya ke tanah air, bapak Presiden akan menjernihkan
masalah sangat vital Ibu Kota kita. Dukung dalam doa agarpemilih yang
berhak akan secara bertanggung jawab aktif dalam Pilkada yang berkwalitas untuk
menentukan pemimpin baru yang palingtepat bagi Jakarta serta sesuai bagi
Indonesia. Amin.



Salam,

Mulyadi Dharmadi

* *

* *

* *

* *









*
____________________________________________________________________________________________
**9 Juni 2012*

* *



**** *Tinggalkan Polemik DPT  :   Boikot   Pilkada*





Teman2,

KPUD menyatakan siap menerima dan akan mencatat setiap protes, tuntutan dan
somasi para Cagub Baru sebagai berita acara, namun catatan itu tidak akan
mengganggu jalannya pilkada DKI.

Cerita dulu nih …

·        Tahun 2007, saat debat Cagub DKI di TV, pembawa acara menanyakan:
Apa solusi bagi kemacetan dan banjir Jakarta? Cagub A menjawab: “Serahkan
pada ahlinya. Coblos kumisnya”.  Cagub B menjawab: “ Eh salah, potong aja
kumisnya”. Seperti yang dulu saya tulis di milis, Cagub B yang tidak
memelihara kumis, terpancing masuk dalam gaya permainan Cagub A yang
kebetulan berkumis. Karena sub-concius-mind pemirsa cenderung tidak
mencerna kata ‘potong’, maka yang diingat pemirsa adalah kata ‘ahlinya’ dan
‘kumisnya’. Sejak saat itu, dalam sub-concious-mind (memori-bawah-sadar)
pemirsa, akan terekam anchor (short-cut/ konotasi ingatan) yang mempercayai
bahwa  cagub yang berkumis adalah sang akhli yang mampu dan akan mengurusi
banjir serta macetnya Jakarta.

*Seandainya Cagub B ingin unggul, jangan bermain dengan gaya permainan yang
dikuasai lawannya:** **Collapse** **anchor Cagub A dan** **ganti**: “
Masalah itu tidak bisa diatasi dengan menggunakan kumis, karena kumis** **tidak
bisa**  dan** **tidak akan** **melakukan apa-apa. Untuk itu kita mulaidari
sini** **(telapak tangan mendekap** **jantung,**  isyaratkan** **mata** **yang
menyorot dan sentuh** **kening)**. Beri** **nilai tambah**: “Untuk
mengurangi erosi dan hambatan aliran, saya akan** **perbaiki** **dinding
dan dasar sungai dan jaga** **kebersihan aliran** **air setiap saat, …
setiap saat ... Jika sungai bersih dan bebas tumpukkan sampah, air sungai
akan  mengalir dengan lancar ke laut, insya Allah Jakarta  tidak akan
banjir... Saat ini jalur bis yang menyita sekitar 25% lebar jalan, biasanya
kosong, karena hanya boleh digunakan oleh beberapa puluh bis-bus-way,.
Sementara dalam kepadatan ratusan ribu kendaraan (termasuk bis-non-bus-way)
hanya bisa tersisa 75% lebar ‘kotor’ jalan. Namun dalam penggunaan jalan
yang makin sempit itu diperparah dengan posisi bus-way, tanggul pemisah
yang membahayakan, jembatan serta halte bis-bus-way di tengah jalan,
sehingga lebar jalan efektif berkurang lagi sebesar 10%. Dalam kompresi
(pemampatan) sekian banyak kendaraan dengan masing-masing perilaku dan
kepentingan), yang dijejalkan untuk bersaing memperebutkan (ngetem, saling
potong, serobot) jalur  yang tersisa (65% lebar efektif),  akan menimbulkan
gaya   gaya ‘friksi’ (hambatan akibat ‘gesekan alur’), akan menghasilkan
perlambatan yang setara dengan pengurangan 10% lebar efektif, sehingga
kesalahan konsep lokasi jalur ‘bis’, setara dengan pengurangan 45% lebar
efektif jalan.  Kebalikkannya…  Seandainya jalur di sebelah kiri dijadikan**
 **Public Transportaion Way** **tanpa tanggul, dimana jalur yang secara
tertib bisa dipakai oleh semua kendaraan bagi kepentingan para penumpang
umum, maka ketertiban itu akan setara dengan penghematan 10% lebar jalan.
Selanjutnya pada trotoir sebelah kiri kita bangun** **
1-Stop-Public-Trans-Shelter** **yaitu barisan-multi-terminal-halte yang
berfungsi menurunkan dan menaikkan penumpang secara serempak (misal
sekaligus 10 kendaraan berbaris dengan kesempatan ngetem untuk dropping/
lifting paling lama 180 detik, maka akan terjadi penghematan waktu yang
setara dengan 10% lebar jalan. Berkat kepraktisan penggunaan
Public-Trans-Way dan 1-Stop-Public-Trans-Shelter, banyak orang ke/ di/ dari
Jakarta memilih menggunakan transportasi umum, yang akan mengurangi
penggunaan kendaraan pribadi yang menyita luas jalan, sehingga setara
dengan penghematan 10% lebar efektif jalan. Jadi dengan konsep ’hati – mata
– ide’,  kita  akan menghapuskan pemborosan 45% lebar efektif dan menghemat
30% lebar efektif, sehingga secara total ditaksir akan mereduksi kemacetan
hingga 45%+ 30%= 75%...  **Libatkan pemirsa:** **”Mungkin diantara pemirsa
ada yang memiliki gagasan pesawat pembersih air sungai atau  pengering
banjir…? Saya tertarik dan akan terbuka untuk itu… ”*

·        Sejak keluar kuliah, saya suka main badminton. Karena tenaga fisik
lemah (pengaruh  psikotropika), hanya wanita yang mau mengajak saya main.
Namun setelah pak Eduard Ladasi bergabung di PB, beliau selalu mengajak
saya berpasangan dengannya. Bahkan dengan pak Edi, saya berani melawan
pasangan pria dimana yang seorang terkenal dengan smashnya yang sangat
kuat. “Ayo kita habiskan Mul…”kata pak Edi. Mereka kami kalahkan karena
tidak terpancing melawan dengan gaya smash kuat. Tanpa menguras tenaga,
kami menang dengan gaya halus, main netting yang tipis-kecil.



* *

Dalam perspektif lebih jauh, saya kira saat ini DPT bermasalah itu bagai
bola yang dikendalikan kekuasaan triad KPUD - gubernur lama - Catatan Sipil
DKI. Jika kita terpancing untuk mengikuti polemik DPT  tersebut, kita akan
mondar-mandir mengikuti bola dalam lapangan wilayah kekuaan triad. Tenaga
dan waktu kita akan terkuras karena triad itu adalah kerja sama dari 3
komponen saling terikat dan saling mendukung untuk memberikan kita hasil
seperti target yang sejak semula mereka rencanakan.

~ ~ ~

Saya merasa lega karena akhirnya 5 timses menunjukkan kesiapan untuk
memboikot pilkada seandainya KPU tidak memperbaiki DPT; Keputusan yang
tepat.

Pada pertandingan badminton internasional, seandainya lapangan basah oleh
keringat, pemain akan minta ijin waktu jeda, supaya petugas bisa
mengeringkan lapangan licin dan berbahaya.  Karena itu, akan lebih aman,
seru dan tidak membosankan pemirsa, jika para  Cagub Baru untuk sementara,
sambil menghemat tenaga, keluar dahulu dari lapangan yang sementara
dikuasai triad.  Setelah polemik DPT dibersihkan, dengan tenaga dan
semangat yang sudah kembali fresh, para Cagub Baru bisa kembali memasuki
pertandingan terhormat yang bersih dan lebih menarik.

Para Cagub baru perlu mengambil sikap itu.

Mungkin pedoman ini bisa diterapkan. Para timses Cagub baru, bisa melakukan
komunikasi dan perundingan informal untuk mengambil kesamaan sikap. Ini
bisa dilakukan sebagai berikut:

1. Segenap Timses Cagub Baru secara resmi menyusun *Surat Pernyataan Bersama
* yang berisi:  *Penolakan* atas DPT yang secara*otentik* dan
*signifikan* bermasalah,
serta *Permintaan* agar Pilkada DKI menggunakan DPT berdasarkan data dari
e-KTP versi 30 Mei 2012. Seandainya hingga *batas waktu** *(saya usulkan
Senin 18 Juni 2012 / 23 hari sebelum tanggal Pilkada) belum ada perbaikan,
para Cagub minta *Pilkada diundur* untuk masa reses, atau para Cagub akan
melakukan *pemboikotan*. Surat Pernyataan Bersama ini ditanda tangani oleh
para *Cagub, Cawagub dan Ketua Timses* baru yang akan ditujukkan kepada *
KPUD** *disertai tembusan bagi Mendagri, Presiden, Mahkamah
Konstitusi, MPR serta
terbuka kepada masyarakat.

2. Para Timses Cagub *harus segera* (Senin 11 Juni juga boleh)
mengajukan *gugatan
resmi* yang disampaikan kepada *Mahkamah Konstitusi*. Gugatan itu
menyampaikan laporan akan kasus DPT yang menunjukkan *
kejanggalan-kejanggalan* yang diduga secara terencana disusun dan
ditetapkan secara sepihak oleh KPU-DKI. Selanjutnya seandainya Surat
Pernyataan Bersama tidak ditanggapi KPU-DKI *dalam jangka waktu yang diminta
*, para kontestan yang menanda tangani Surat Pernyataan Bersama, akan
melakukan*pemboikotan Pilkada* serta *melimpahkan kasus perkara* ini untuk
diselesaikan melalui *keputusan pengadilan Mahkamah Konstitusi*.



Teman2,

Waktu baru pindah ke SMA Fons Vitae, saya adalah murid pemalu yang
prestasinya kurang bagus. Waktu itu guru fisika kami adalah seorang guru
‘killer’ yang saat ulangan hanya memberi 2 macam nilai, yaitu nilai 8 bagi
yang betul 100%, dan nilai 5 bagi yang memiliki kesalahan (ini seperti
sistim binary: 1 dan 0, atau artinya jika tidak nilai= 100, maka nilainya=
0). Saat itu ada 2 anak yang dapat nilai 5 (saya dan seorang teman), sedang
48 anak lainnya bernilai=8. Mungkin karena di SMP saya sering disebut
guru-guru paspal sebagai ‘si tukang bikin rumus’, saya melihat ada
kejanggalan dalam penggunaan rumus Fisika. Ketika saya protes, pak
Sumartono (belakangan menjadi bapak baptis saya) menyadari adanya kesalahan
rumus. Saat itu kertas ulangan kami dikumpulkan kembali. Nilai 5 di kertas
dua murid dicoret dan diganti dengan angka 8. Lalu 48 orang teman saya
cemberut karena nilai 8nya dicoret pak guru, diganti dengan angka 5. (Wah,
rupanya anak baru ini ternyata pinter bikin kesel juga ya…?)

Teman2,

Tidak guna para Cagub Baru ikut Pilkada meperebutkan suara dari DPT hasil
rekayasa. Pemboikotan akan tetap efektif walau hanya dilakukan oleh satu
adau dua kubu Cagub Baru. Namun akan lebih kuat lagi jika pemboikotan
dilakukan secara serempak oleh ke lima kubu yang menolak DPT fiktif.

Biarlah sementara kondisi lapangannya belum aman, para pemain keluar
dahulu. Kini kita beri kesempatan saja bagi gubernur lama untuk bertanding
badminton sendirian, sehingga ia bisa meraih suara DPT tersebut sendirian:
Sepuas-puasnya. Toh nanti hasilnya bakal dianulir MK. Walaupun menang
semuanya dan meraih= 122,4 % suara, karena DPTnya memang bodong, kumispun
akan gugur sendiri menjadi = NOL. walau demikian, seandainya lapangan sudah
kering, tidak licin yang memungkinkan para pemain leluasa bermain secara
all-out, mereka bisa kembali memasuki lapangan dengan aman, dan para
penonton puas menyaksikan pertandingan bermutu yang seru.

Saya senang kalau teman PB Garuda atau PBSS bilang: “Ayo Mul, kita cari
keringat. Menang atau kalah, yang penting hati senang.” Tapi akan lebih
gembira jika pak Edi mengajak: “Ayo Mul, kita cari lawan yang seru. Kita
akan habiskan si Gagan dan om Epek. Kalah senang, menang apalagi…”

Ayo, teman2.

Dengan rasa tanggung jawab kita bantu lancarnya Pilkada DKI. Dukung Cagub
pilihan masing-masing: Kalah secara terhormat. Menang dengan bermartabat.



Salam,

Mulyadi Dharmadi











* *

*_________________________________________________________________________**5
Juni 2012*







***  5  Cagub  Tolak  DPT :  What  Next?*



Teman2,

Dengan mengabaikan  protes dan kritik, 2 Juni lalu KPUD menetapkan DPS yang
menggelembung dengan penambahan calon pemilih fiktif menjadi DPT.

Sementara gubernur lama mendukung keputusan KPUD, 5 timses Cagub baru
menyatakan penolakkan, karena indikasi penggelembungan calon pemilih fiktif
dengan jumlah  sangat signifikan.

Sebenarnya apa dasar penetapan DPT?

*1 Mei* *2012:* Di Balaikota DKI

*Mendagri Gamawan Fauzy* memberi penghargaan kepada gubernur DKI karena
keberhasilan  Pemprov DKI mendata 100% penduduk dalam pelaksanaan program
wajib e-KTP  dengan total seluruhnya adalah 5.660.660 orang. Walau jumlah
ini dibawah target yang diharapkan Pemprov DKI (7.472.259 orang).   Namun
pada kenyataan setelah seluruh  penduduk DKI memenuhi panggilan, jumlah
yang terekam pada e-KTP hingga 26 April 2012 sudah terhenti  pada angka
5.660.660 orang. Angka itu sudah  tidak bisa bertambah lagi karena total
100% jumlah penduduk berdomisili di Jakarta yang mendapat panggilan, sudah
datang melaksankan perekaman  wajib e-KTP di kantor Pemprov DKI. Gubernur
Fauzy Bowo, mengaku bangga  atas penghargaan yang diterimanya dari
Mendagri dan berterima kasih atas kesempatan pertama bagi Pemprov DKI
dalam  penerapan KTP Elektronik (e-KTP) berbasis NIK Nasional.



*2 Juni 2012*: KPUD secara sepihak menetapkan DPS menjadi DPT

Setelah simpang siur revisi dengan perhitungan yang kacau dan tidak jelas,
kritik dan protes atas dugaan penggelembungan DPS, 2 Juni 2012, KPUD
menetapkan DPT yang akan mengikuti Pikada menjadi 6.983.692.

Dibandingkan dengan jumlah pemengang e-KTP dengan NIK resmi adalah =
6.983.692- 5.660.660=  1.323.032 atau terdapat penambahan sebesar 23,4%.

Keanehan lainnya adalah, justru setelah beberapa kali revisi sebelumnya
dimana KPUD mengaku sudah mencoret ratusan ribu suara fiktif jumlah DPT
justru tidak banyak berubah.

KPUD sendiri mengaku tidak menggunakan data e-KTP dalam menetapkan DPS dan
DPT, melainkan dengan cara mengunjungi penduduk dari rumah ke rumah. KPUD
mengaku telah mendapatkan informasi dengan cara menanyakan pengakukan para
penduduk. Sedangkan penambahan jumlah penduduk dibanding data e-KTP versi 1
Mei 2012, karena KPUD sudah memasukkan semua penduduk yang belum ber e-KTP
namun pada tanggal 11 Juli sudah berusia 17 tahun.



*Mana yang lebih akurat:*  e-KTP atau kunjungan KPUD dari rumah-rumah?


*Data e-KTP:** ** **100% total* penduduk DKI yang hingga *30 April* 2012
sudah berusia 17 tahun atau sudah menikah Jumlah* **5,660.660** *adalah*100%
akurat* untuk  penduduk DKI hingga saat itu. sehingga bisa dijadikan dasar
sebagai warga DKI yang berhak memilih yang pengesahannya sudah *diperkuat*
oleh pernyataan* **Mendagri* dan Fauzy Bowo.

*Kunjungan KPUD:*  Dari rumah-kerumah adalah pekerjaan yang tidak efektif,
simpang siur dan sulit dicek  kebenarannya. Karena tanpa kepemilikan e-KTP,
NIK maupun kehadiran calon pemilih tidak diperlukan, maka Informasi yang
diterima adalah sebatas pengakuan warga yang sempat ditemui. Konon
kelebihan sekitar 1,3juta DPT dari data e-KTP disebabkan dimasukkannya
penduduk DKI akan berusia 17 tahun antara 1 Mei hingga 11 Juli (banyak
sekali?). Karena KPUD memasukkan Karena sumber informasi tidak jelas serta
prosedur pelaksanaan yang tumpang tindih, resiko penyimpangan sangat
tinggi. Itulah sebabnya para Timses banyak menemukan kejanggalan yang kasat
mata seperti DPS ganda. NIK yang kembar/  tidak standar/ luar Jakarta/
fiktif/ kosong dll. Karena tidak ada patokan yang standar itulah, KPUD
menyatakan bahwa jumlah DPS  tidak pasti  dan setiap saat selalu berubah.
Lagi pula, seseorang yang akan berusia 17 tahun tanggal 11 Juli,  belum
memiliki e-KTP dan berdomisili di luar Jakarta dan belum pernah ditemui
petugas, bagaimana pula sudah dimasukkan sebagai calon pemilih resmi yang
sudah masuk ke dalam DPT tanggal 2 Juni?  Artinya metode yang digunakan
oleh KPUD tanpa standar yang pasti, makal DPT yang dihasilkan adalah *TIDAK
AKURAT*.

* *

* *

*3 Juni 2012:* Dari pihak para Cagub terdapat 2 kubu yang berbeda.

1.      Satu Timses (gubernur lama) menyatakan ‘dukungan’ terhadap
keputusan KPUD  yang menetapkan DPT tersebut. Banyak orang menduga, sebelum
pilkada dimulai, kubu gubernur lama akan sudah mengantungi  1,323.032 suara
fiktif.

2.      Lima  Timses (Cagub Baru)  menolak DPT tersebut, karena beberapa
 indikasi sangat jelas yang menunjukkan  terjadinya  rekayasa
penggelembungan dengan jumlah signifikan. Penambahan suara fiktif itu bisa
diketahui  dengan bukti-bukti otentik sangat jelas.

Saya agak heran jika dalam melaksanakan program e-KTP, Desemver 2011
pemprov DKI MENETAPKAN TARGET = 7.472.259 ORANG (bukan PRAKIRAAN JUMLAH
ORANG  ataupun PERSENTASE PELAKSANAAN (misalnya 100% TERLAKSANA). Istilah
target sebenarnya berarti sasaran diingini yang akan diperjuangkan.
Mengingat angka target e-KTP  Desember 2011 sangat dekat dengan jumlah DPS
versi pertama KPUD , saya menduga bahwa sebenarnya sudah lama gubernur lama
merencanakan penggelembungan DPT.

Sikap 5 kontestan Cagub baru yang menolak DPT yang menggelembung adalah
keputusan yang benar.

Demi menjaga netralitas, saya berusaha menjaga jarak sama dengan ke5 Cagub
baru yang menolak DPT fiktif. Karena itu saya tidak akan memberikan
informasi konsep solusi teknis (banjir dan macet) secara personal kepada
salah satu kandidat, selain apa yang akan saya sampaikan secara umum kepada
publik.

Seandainya kelak ada satu diantara ke 5 Cagub baru (semoga demkian)
berhasil memenangkan jabatan Gubernur dalam Pilkada DKI ini serta tertarik
untuk membeli konsep, saya akan membantunya secara baik dan bertanggung
jawab.

*What Next?*


 Penolakan 5 kandidat Gubernur Baru adalah kekuatan dasar yang mampu
menggagalkan rekayasa DPT. Namun dasar itu harus diteruskan dengan tindakan
yang konstruktif:

1.      Masing-masing Timses Kandidat Baru membuat pernyataan tertulis yang
berisi penolakkan terhadap DPT yang tidak sama yang ditujukan kepada
KPUD-DKI dan Panwaslu. Penolakkan itu tidak bisa diartikan sebagai
pengunduran diri, tetapi sebagai pernyataan tidak yakin akan akurasi data
yang dalam DPT adalah sepenuhnya benar dan legal.

2.      Ke 5 Timses Cagub Baru menyusun *Surat Pernyataan Bersama* dalam
bentuk *Pengaduan** *serta *Keberatan** *penetapan DPT berdasarkan metode
yang digunakan oleh KPUD, serta *Memohon** *agar  penetapan DPT bisa
ditetapkan sesuai dengan data e-KTP per 20 April 2012. Surat Pernyataan
Bersama akan *Ditandatangani Bersama* oleh ke 5 Tim (Cagub, Cawagub dan
Ketua Timses DKI) sebagai pihak yang mengajukan.

3.      Surat Pernyataan Bersama akan disampaikan kepada *Mendagri Gamawan
Fauzy*, yang akan juga disampaikan sebagai tembusan bagi *Presiden
RI*,  *Mahkamah
Konstitusi*/up  Ketua MK dan  kepada *MPR*/  up Ketua MPR serta terbuka
untuk disosialisasikan kepada pers dan masyarakat.

4.      Seandainya KPUD tidak melakukan koreksi atas DPT itu hingga Senin
11 Juni, ke 5 Timses Cagub Baru sudah harus mengajukan *GUGATAN RESMI* atas
DPT yang dibuat KPUD yang ditujukan kepada *MAHKAMAH KONSTITUSI*.

5.      Ke 5 Timses Cagub Baru harus *berembuk* untuk mencari kesepakatan
sikap menyambut Pilkada 11 Juli. Salah *satu pilihan*yang paling efektif
 berdasarkan *Kesepakatan 5 Cagub Baru* untuk *memboikot Pilkada* dan
membiarkan Foke sendirian  meraih 100,00% suara yang pasti akan dianulir
oleh MK. Tanpa harus dilawan, Foke akan gugur dengan sendirinya.

Teman2,

Kita harapkan atas perhatian bapak Presiden SBY, bapak Mendagri Gamawan
Fauzy bisa membantu menengahi karuk-maruk DPT DKI sesegera mungkin. DPT
yang baku dan benar  agar Pilkada bisa dilangsungkan secara tepat waktu.
Seandainya perbedaan ini bisa diselesikan sebelum pilkada, kita bisa
menghindari kemungkinan adanya diskualifikasi, pembatalan ataupun pilkada
ulang yang  akan memboroskan energi dan biaya serta bisa mendatangkan
ketidak pastian ibu kota yang akan berdampak secara nasional.

Salam,

Mulyadi Dharmadi





________________________________________________________________________*4
Juni 2012*

* *

*** Tanggung jawab KPU :  Pastikan DPT= DCS= eKTP= 5.660.660*

* *

Teman2,

2 hari yang lalu tanggal KPU DKI mengumumkan Daftar Calon Pemilih Sementara
(DCS) versi 30 Mei, sebagai  revisi jumlah DCS versi 20 Mei dengan
menghapus 800ribu DCS fiktif. Namun menurut laporan pengecekan pihak
kontestan, DCS fiktif yang tersisa sangat banyak, yaitu masih sebanyak
1.269.577 (=22,7%) lebih banyak dari pemegang e-KTP yang adalah sebesar
5.660.660 orang.

Menurut rencana, 1 Juni hari ini KPU akan mengumumkan DCS versi terbaru
untuk esok hari 2 Juni disahkan menjadi Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Pekerjan KPU sebenarnya tidaklah rumit. Cukup mengkopi data pemilik e-KTP
untuk dijadikan sebagai DCS bagi DPT. Cukup itu saja, tidak perlu
diperbanyak lagi. Mudah dan sederhana. Sebagai mana data yang tertera pada
e-KTP DKI yang berjumlah 5.660.660 orang, itulah DCS yang layak disahkan
sebagai DPT.

Seandainya DCS yang akan diumumkan hari ini berjumlah cukup 5.660.660,
yaitu bagi semua pemilik e-KTP DKI yang sah, saya kira tidak ada masalah
seandainya KPU menetapkan DPC itu menjadi DPT.

Namun seandainya belum sama, agar tidak menimbulkan kekacauan, KPU harus
menunda penetapan seraya memperbaiki serta memberikan klarifikasi yang
diperlukan.

Di lain pihak, saya sangat mengharapkan kerja cepat segenap tim sukses dan
pihak independen untuk membagi tugas dalam meneliti DCS yang akan diumumkan
pagi  ini.

Saya harap dalam kerja cepat sistimatis bersama dengan pembagian tugas 20
orang dalam 1 tim, pemeriksaan 5,7juta data DCS akan bisa selesai dalam
waktu 180 menit. Agar mudah, bisa dibandingkan dengan info data DCS yang
dianggap sah versi 30 Mei.

Seandainya DCS versi 1 Juni diumumkan jam 9 pagi, dengan kerja cepat tim
jam 12 siang  sudah teridentifkasi seandainya ada kejanggalan.

Setelah itu jam 13 sudah hasil pengecekkan bisa
dikonfirmasikan/dipertanyakan kepada KPU. Selanjutnya KPU memiliki waktu
beberapa jam untuk memberikan klarifikasi seandainya ada keraguan.

Namun akan lebih baik lagi setelah pengumuman DCS versi hari ini, KPU
memberi waktu jeda beberapa hari untuk menunggu seandainya ada pertanyaan,
konfirmasi sambil memberikan klarifikasi hal2 yang diperlukan.Seandainya
sudah tidak ada masalah yang signifikan, tentu DCS itu sudah benar dan siap
disahkan menjadi DPT.



Teman2,

Di era digital kini, pekerjaan copying& pasting dan sorting& counting
adalah mudah dan cukup cepat.

Let us keep those easy things simple.



Salam,

Mulyadi Dharmadi

* *

* *

______________________________________________________ *1 Juni 2012*

* *

*** Pilkada Sukses = Ibu Kota Lancar =  Indonesia Jaya*

Teman2,

Menjelang putaran awal Pilkada DKI, saya membaca beberapa kejanggalan kasat
mata yang bisa mempengaruhi hasil bahkan keabsahan pikada DKI.
Keluhan-keluhan itu antara lain…

1.      Selama masa tenang, semua  poster para kandidat kecuali pak Fauzy,
harus diturunkan dari tempat umum.  Saya berpendapat, agar peraturan itu
bersifat netral, selama masa tenang, semua poster kandidat gubernur DKI
harus sudah diturunkan dari tempat publik TANPA KECUALI.  Sudah 5 tahun ini
pak Fauzy memasang posternya di tempat2 umum. Jadi walau tanpa poster di
masa tenang menjelang pilkada , para pemilih pasti sudah kenal pak Fauzy.

2.      Sejumlah laporan menyebutkan jumlah Daftar Pemilih Sementara (DPS)
jauh lebih banyak dibanding para pemegang e-KTP. 30 Mei kemarin KPU DKI
melakukan koreksi  dengan menyatakan sudah mengurangi 800ribu suara fiktif.
Namun, sebuah  laporan hari ini menyatakan jumlah DPS masih 1.269.577 jiwa
(setara 22,7%) lebih banyak dibanding pemegang e-KTP DKI.  Kelebihan jumlah
DPS dari pemilik KTP DKI adalah pemilih fiktif dengan Nomor Induk
Kependudukan (NIK) ganda, tanpa NIK , NIK non DKI, NIK tidak standar dan
NIK palsu.

Selisih ini adalah suara fiktif yang merupakan indikasi akan terjadi
 penggelembungan suara. Sementara protes masih berlangusung, KPU menyatakan
1 Juni besok akan diumumkan rencana daftar DPT sebelum secara resmi
ditetapkan lusa tanggal 2 Juni 2012.  Saya berpendapat  penertapan itu
hanya boleh dilaksanakan setelah KPU  membetulkan jumlah DPS (draft DPT)
sehingga jumlahnya persis sama dengan 5.660.660 orang  (pemegang e-KTP
DKI). Seandainya jumlahnya belum sama, agar tidak menimbulkan masalah di
kemudian hari, KPU harus melakukan klarifikasi dengan penjelasan logis,
otentik serta transparan atas terjadinya kesalahan signifikan yang sangat
kasat mata ini. Seandainya KPU tidak bisa menjelaskan alasan secara
bertanggung jawab, KPU belum layak menyatakan DCS itu sudah ditetapkan
menjadi  DPT yang sudah tidak boleh dikoreksi lagi. Apalagi selsisih
sebesar 22,7% adalah nilai besar yang sangat signifikan.  Antisipasi
kecurangan sebelum  terlanjur kekacauan terjadi.

3.      Dikhawatirkan bisa terjadi  politik uang. Setiap kontestan yang
terbukti  melakukan money politik harus  digugurkan. Namun sebelum hal itu
terjadi, akan lebih produktif jika semua tim sukses, segenap peserta,
pengawas dan penyelenggara pilkada mawas diri dan senantiasa waspada.
Antisipasi lebih baik daripada mengobati.

Sementarra KPU DKI masih belum menyatakan koreksi terbaru DPS  (mudah2 an
esok jumlahnya sudah cukup 5.660.660 orang,  100% persis), kita bersyukur
Cagub-gubernur Fauzy Bowo akhirnya menyatakan siap mengikuti diskusi dengan
para calon gubernur DKI yang lainnya. Pada era modern, pemilih cerdas
perlu mengetahui kwalitas pemimpin dengan mempelajari visi dan wawasannya,
karena dari situ kita bisa memprakirakan kwalitas kinerja, kejujuran,
program yang kemudian akan menentukan keberhasilan dalam pelayanan serta
pengelolaan segenap potensi Ibu Kota negara kita.

Diskusi depan publik, sebenarnya  ajang kompetensi untuk menunjukkan
kwalitas kemampuan calon pemimpin Ibu Kota yang akan datang. Gubernur
 2007-2012 gagal membuktikan janji saat kempanye  pilkada 2007.  Kegagalan
pak Fauzy  selama 5 tahun,  adalah guru yang dibayar dengan SANGAT MAHAL,
dengan mengorbankan waktu, BBM, ketentraman yang merupakan sebenarnya
adalah hak jutaan masyarakat DKI dan Indonesia.  Kita harus belajar atas
kesalahan tahun 2007, agar warga DKI jangan sampai memilih gubernur karena
janji kosong dan karena kumis.

Menyambut rencana diskusi para Cagub yang akan diikuti Cagub-gubernur
Fauzy, topik diskusi tidak usah terlalu teoritis, rumit dan melebar.
Sebaiknya tetap berfokus pada  2 materi PR standar yang belum dikerjakan
pak Fauzy: Solusi Macet & Solusi Banjir. Selama 15 tahun pak Foke berkuasa,
banyak kehilangan kesempatan bahkan kerugian dialami masyarakat akibat
kemacetan lalu lintas dan banjir tahunan di Jakarta. Seandainya para
kontestan menunjukkan kemampuan mengerjakan dua PRnya pak Fauzy secara
baik, maka pasangan bisa dianggap berkwalitas karena  mereka juga akan
kompeten  pada tugas dan tanggung jawab lainnya.

Menjelang diskusi ini saya akan bersikap netral, karena saya belum
memberitahu secara khusus kepada kontestan manapun jawaban quiz itu, selain
apa yang sering saya sampaikan kepada publik. Selain itu, konsep solusi
banjir dan macet yang pernah saya tawarkan kepada pak Fauzy dan pak
Mangindaan, tetap terbuka kepada siapapun yang menjadi gubernur DKI.

A.     Materi Solusi Kemacetan

Sejak lama saya menyaksikan penempatan Bus Way (Jalur Bis) dan Halte Bis
berada ditengah-tengah jalan dan disebelah kanan jalan, adalah kesalahan
konsep yang menimbulkan  banyak masalah. Yang menjadi masalah adalah
sebagian pintu penumpang bis di kota Jakarta yang  berada di kiri ditutup
las karena  dipindahkan ke sebelah kanan.

Pertanyaan:

1.      Apa solusi para calon gubernur agar dalam keterbatasan lahan jalan,
masyarakat-kota dan masyarakat-antar-kota lebih  menikmati kepraktisan
 transportasi umum kota Jakarta.

2.      Pekerjaan apa yang harus dilakukan, berapa lama pelaksaannya dan
hasil apa yang bisa dijanjikan.

B.     Materi Solusi Banjir.

Menurut mekanika fluida, cairan akan mengalir lebih cepat seandainya cairan
itu diusahakan seencer mungkin, serta hambatan (gaya gesek dan gaya tumbuk
dengan kelokan berliku/ tumpukan sampah tersangkut) diminimalkan hingga
mendekati nol.. Hambatan akan semakin kecil seandainya aliran sungai
cenderung lurus serta memliki dinding/ dasar yang teratur licin, bebas
sangkutan serta bebas erosi.

Pertanyaan:

1.      Seandainya Cagub menerima dana sebesar Rp. 3,45 Trilyun, bagaimana
cara para Cagub mengalokasikan dana itu untuk membebaskan Jakarta dari
banjir? Apakah dana Rp3,45 Trilyun cukup? Seandainya kurang, berapa lagi
perlu tambahan biaya? Seandainya berlebih, kemana akan dialokasikan sisa
dana anggaran proyek?

2.      Apa yang akan dikerjakan, berapa lama pelaksaan dan hasil apa yang
dijanjikan?



Survey Metro TV menunjukkan bahwa perolehan suara pak Fauzy jauh di bawah
50%. Ini bisa ditafsirkan bahwa sebagian besar masyarakat Jakarta yang
mengharapkan progress, sudah tidak tertarik akan janji-janji Foke, pak
Kumis.  Walau demikian karena terdeteksi ada beberapa kasus yang bisa
menjurus kepada kecurangan, saya harap itu bisa segera diantisipasi. Kita
harapkan segenap tim sukses serta parpol pendukung dan kita semua melakukan
segala hal yang diperlukan agar pilkada DKI berhasil dengan bersih,
transparan dan bebas kecurangan.

Teman2,

Kita dukung Pilkada DKI.  Jangan ada kecurangan dan golput. Setiap satu
suara adalah penting & berharga…

Pilkada Sukses = Ibu Kota Lancar =  Indonesia Jaya !

Salam hangat dari pMul…


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

Gabung di milis INTI-net, kirim email ke : [email protected]

Kunjungi situs INTI-net    
http://groups.yahoo.com/group/inti-net

Kunjungi Blog INTI-net
http://tionghoanet.blogspot.com/
http://tionghoanets.blogspot.com/

Tulisan ini direlay di beberapa Blog :
http://jakartametronews.blogspot.com/
http://jakartapost.blogspot.com
http://indonesiaupdates.blogspot.com

*Mohon tidak menyinggung perasaan, bebas tapi sopan, tidak memposting iklan*

CLICK Here to Claim your Bonus $10 FREE !
http://adv.justbeenpaid.com/?r=kQSQqbUGUh&p=jsstripler5Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/inti-net/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke