Senin, 02 Juli 2012 | 08:57 WIB
Dahlan Iskan Seperti Koboi Mencari Lawan 

TEMPO.CO, Jakarta - Dahlan Iskan tak pernah mati gaya dalam mereformasi BUMN. 
Tak semua pihak merasa senang. Itu yang terjadi pada sore itu menjelang Natal 
2009. Dahlan Iskan membuka rapat direksi pertamanya di kantor pusat PT PLN 
(Persero) dengan satu pertanyaan: Apa penyebab PLN sulit maju? Beberapa jam 
sebelumnya, bos Grup Jawa Pos itu baru saja dilantik sebagai direktur utama 
perusahaan setrum milik negara. "Jawaban utama kami adalah pengambilan 
keputusan yang bertele-tele," kata seorang direktur PLN yang enggan disebut 
namanya.

Dalam rapat pertama itu pula, Dahlan dan anggota dewan direksi sepakat mengubah 
model lama pengambilan keputusan yang birokratis--dari perencanaan di level 
menengah manajemen, surat-menyurat dan koordinasi lintas divisi, hingga 
keputusan rapat direksi, dan kembali lagi ke bawahan. Kini setiap keputusan 
langsung dibahas di meja direksi dan harus segera dieksekusi.

Semangat perubahan manajemen PLN di bawah Dahlan menular ke urusan lainnya, 
terutama di bagian pengadaan dan pelayanan. Pada bagian pengadaan, perseroan 
memang dituntut efisien sekaligus mengurangi potensi korupsi di tubuh 
perusahaan yang modal kerjanya setahun rata-rata Rp 50 triliun ini. 

Dalam proyek travo, misalnya, Dahlan menarik kewenangan unit-unit di daerah 
yang biasanya menangani pengadaan secara terpisah-pisah. Dengan dikelola kantor 
pusat, pembelian bisa dilakukan sekaligus dalam jumlah banyak, sehingga bisa 
lebih murah. Selain itu, aturan main tender pun hanya boleh diikuti oleh 
produsen. Selama ini pengadaan selalu lewat perusahaan perantara, bukan 
pabrikan.

Hasilnya mengejutkan. Harga travo 500 kilovolt (kV), yang biasanya dibeli 
seharga lebih dari Rp 100 miliar per unit, ternyata bisa dibeli dari produsen 
Rp 40-50 miliar. Begitu pula travo 110 kV, hanya Rp 6 miliar dari sebelumnya Rp 
15 miliar.

Untuk urusan pelayanan, manajemen menggenjot jumlah pelanggan dengan memangkas 
prosedur pemasangan listrik. Sebelumnya masyarakat yang memohon sambungan 
listrik baru harus melalui berbagai persyaratan, seperti mengantongi surat laik 
operasi (SLO) dan desain instalasi. "Itu semua hanya bisa diperoleh lewat 
kontraktor listrik dan Konsuil," kata sumber tadi. 

Celakanya, persyaratan tersebut memperpanjang proses pemasangan sambungan. 
Biayanya pun membengkak. Untuk memasang listrik 450 volt ampere (VA), 
contohnya, pelanggan harus merogoh kocek Rp 2-3 juta. Padahal perhitungan PLN 
seharusnya tak lebih dari Rp 700 ribu. "Sering kali permainan ini melibatkan 
oknum PLN di unit layanan," katanya. Walhasil, Dahlan menghapus persyaratan SLO 
bagi pelanggan yang telah mendaftar dan membayar sambungan listrik baru. 
Hasilnya?

Setahun pertama Dahlan memimpin, PLN mampu menggaet 2,5 juta pelanggan baru 
dari biasanya hanya 1,3 juta per tahun. Tahun lalu bahkan 3,5 juta pelanggan 
baru, sehingga kini perseroan memiliki 46 juta pelanggan. 

Tapi sebagian kalangan gerah dengan terobosan Dahlan. Asosiasi Kontraktor 
Listrik Indonesia (AKLI) menilai kebijakan Dahlan cacat hukum karena melanggar 
Undang-Undang Ketenagalistrikan, yang mewajibkan berbagai persyaratan pada 
pemasangan listrik. Tahun lalu, dua kali mereka menemui Dahlan untuk protes. 
"Dahlan bilang pokoknya ingin cepat, dan menuding kami memperlambat," kata 
Adang Surachman, Ketua Umum AKLI. Adang mengaku siap mendukung niat Dahlan 
meningkatkan jumlah pelanggan. "Tapi harus sesuai dengan aturan, dong."

Gebrakan baru Dahlan juga memancing protes Dewan Perwakilan Rakyat. "Boleh saja 
(seperti) koboi, tapi jangan bentrok dengan undang-undang," kata Wakil Ketua 
DPR Priyo Budi Santoso beberapa waktu lalu. 

AGOENG WIJAYA




Senin, 02 Juli 2012 | 09:25 WIB
Serangan Balik terhadap Dahlan Iskan 
 

TEMPO.CO, Jakarta - Gebrakan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Dahlan 
Iskan mengganti sejumlah direksi dan komisaris perusahaan pelat merah menuai 
protes.

Ini berawal dari protes Dipo Alam dalam dua halaman memorandum yang ditujukan 
kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertanggal 10 April 2012. Dalam 
memorandum itu, Sekretaris Kabinet ini meneruskan laporan Dahlan mengenai 
penggantian direktur utama dan komisaris utama di lima perusahaan negara, yakni 
PT Perkebunan Nusantara III, PT Perkebunan Nusantara IV, PT Rajawali Nusantara 
Indonesia, PT PAL Indonesia, dan PT Pindad.

Pada bagian berikutnya, Dipo mengadu kepada Presiden. Dia menyebutkan 
penggantian pos-pos kunci di BUMN itu dilakukan Dahlan secara tak patut. Dahlan 
dinilai lancung karena main tunjuk direktur atau komisaris tanpa melibatkan Tim 
Penilai Akhir (TPA) yang diketuai Presiden. "Sehingga muncul pengaduan dari 
masyarakat…," kata Dipo, yang mengingatkan bahwa langkah Dahlan itu mulai 
berbuah masalah.

Atas memorandum itu, Presiden memberikan disposisinya dalam tiga poin. Pertama, 
Yudhoyono memerintahkan Dipo menyampaikan secara tertulis hal ini kepada 
Menteri BUMN. “Kecepatan perlu, tapi jangan melanggar aturan. Bisa ada ’bom 
waktu’.”

Seperti dilansir majalah Tempo edisi 2 Juli 2012, peringatan soal ''bom waktu'' 
inilah yang kini bocor ke mana-mana. Dokumen disposisi rahasia Presiden beredar 
keluar dan menguarkan kabar ketegangan yang terjadi dalam Kabinet Indonesia 
Bersatu Jilid II.

Dipo, yang dalam hal ini disebut-sebut satu kubu dengan Menteri Sekretaris 
Negara Sudi Silalahi, kesal lantaran tak direken dalam penempatan pimpinan 
BUMN. Dahlan dianggap terlalu banyak ''bermain sendiri''. “Pak Dipo memprotes 
karena, sebagai Sekretaris TPA, tak diajak ngomong,” kata Menteri Koordinator 
Perekonomian Hatta Rajasa.

Padahal, berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2005, Menteri BUMN 
diperintahkan melaporkan hasil penjaringan calon direksi, komisaris, atau Dewan 
Pengawas BUMN kepada TPA. Dalam tim ini, Dipo duduk sebagai sekretaris, wakil 
ketua dipegang Wakil Presiden, dengan anggota Menteri Keuangan dan Menteri 
BUMN. Di tangan mereka, setiap calon akan melalui penyaringan final.

Salah seorang petinggi BUMN yang dekat dengan Dahlan bercerita, hubungan bosnya 
dengan Dipo dan Sudi memang lebih banyak diwarnai ketegangan. Bahkan sejak 
mantan wartawan itu masih memimpin PT PLN. “Menjelang pelantikannya sebagai 
menteri, Dahlan bertekad memilih sendiri tim penggantinya di PLN. Tapi dari 
Istana datang tekanan untuk menempatkan orang lain,” kata sumber itu, pekan 
lalu.

Langkah lain Dahlan yang juga menuai protes dari koleganya adalah rencana 
perampingan jumlah perusahaan negara. Sebanyak 141 BUMN akan disusutkan Dahlan 
menjadi 70 perusahaan pada akhir 2014. Tak hanya itu, Dahlan juga mengusulkan 
penunjukan direksi dibuat secara cepat. “Pilih direktur utamanya saja untuk 
diajukan kepada Presiden.” Proses selanjutnya menjadi kewenangan Menteri BUMN 
dan tim kecil yang melibatkan direktur utama terpilih.

Dipo Alam, yang dihubungi pada Rabu pekan lalu, menolak mengomentari isi 
dokumen yang beredar itu. Ia mempertanyakan mengapa informasi rahasia semacam 
itu bisa sampai ke media. “Saya hanya menjalankan tugas membantu Presiden 
mengelola kabinet,” katanya saat ditanya mengenai ketegangan hubungannya dengan 
Dahlan.

Dahlan tak mau memberi banyak komentar. Ketika ditemui seusai senam pagi di 
Monumen Nasional, Kamis pekan lalu, Dahlan sempat meminta salinan dokumen yang 
beredar tersebut. Dia bertanya tentang respons Dipo soal ini dan berjanji akan 
membaca lebih teliti isi dokumennya serta memberi penjelasan pada hari 
berikutnya.

Tapi Dahlan batal memberikan keterangan itu. Ia mengaku tak akan banyak bicara 
soal ini lantaran malam sebelumnya kembali mendapat teguran dari Dipo Alam. 
“Saya mendapat kartu kuning karena mengumumkan akan menyumbang (dana) buat 
gedung Komisi Pemberantasan Korupsi,” Dahlan menjelaskan kenapa memilih 
bungkam. “Soalnya, ini kartu kuning ketiga, hahaha….” Ada kemungkinan ia tak 
ingin ''bom waktu'' meledak terlalu dini.

Y. TOMI ARYANTO | NUGROHO DEWANTO | AGOENG


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke