---------- Forwarded message ----------
From: "gri. mhmd" <[email protected]>
Date: Tue, 3 Jul 2012 21:04:09 +0700
Subject: #sastra-pembebasan# GRATIS SAMPAI SMA SUDAH NGAK ZAMAN?
To: sastra-pembebasan <[email protected]>

Dibalik pencalonan dalam pilgub (pemilihan gubernur) DKI Jakarta,
Ahok, panggilan Basuki Cahaya Purnama yang menjadi pasangan Joko
Widodo, selain mengkampanyekan program apa yang mereka sebut KARTU
PINTAR dan pemberian beasiswa terhadap anak yang mereka namakan
"berprestasi", ternyata, belum menjadigubernur saja sudah melontarkan
kata-kata yang menyakitkan Rakyat. Kata yang menyakitkan itu adalah
ucapan  "Gratis sampai SMA sudah nggak zaman. Tahun 2015 sudah masuk
era perdagangan bebas. Jadi bisa kasih beasiswa anak yang berprestasi
tapi nggak mampu untuk kuliah,"

Ucapan itu bersumber dari pola pikir yang menganggap bahwa sebagian
bear Rakyat penduduk Jakarta hidup berkecukupan. Pasangan Jokwi tidak
melihat  bagaimana penghiduan sebenarnya rakyat pinggir kota.
Jangankan untuk membiayai sampai tingkat SMA, sedangkandi tingkat
SD-SMP saja banyak tidak sampai selesai, disebabkan yang dinamakan
GRATIS itu hanyalah uang pembayaran sekolah. Sedangkan
kebutuhan-kebutuhan belajar  sehari-hari (transportasi, buku-buku,
pendidikan ekstra kurikuler seperti renang dll. Setiap saat anak murid
akan menagih dan meminta uang kepada orang tuanya. Padahal, tidak
setiap saat anak meminta uang itu, sang orang tua dapat memenuhi
permintaan anaknya. Itu, jika anak yang bersekolah di keluarga itu
hanya seorang. apalagi jika lebih dari seorang.
Pada kenyataannya, sistem pendidikan selama ini sejalan dengan sistem
perdagangan yang dianut oleh rezim pemerintah. Jika orang tua sang
murid tidak dapat memenuhi ketentuan sekolah, maka anak murid itulah
yang menjadi korban diskriminasi di sekolah oleh guru maupun
teman-temannya.
Jadi dibali kampanyenya ingin menjadi gubernur, terselip sikap
menyakitkan dan pembodohan terhadap rakyat Jakarta.
PANTASKAH CALON GUBERNUR SEPERTI ITU MENJADI PILIHAN RAKYAT JAKARTA?

Salam
 nurman


JAKARTA, KOMPAS.com - Calon wakil gubernur DKI Jakarta dari
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Gerindra yaitu Basuki
Tjahaja Purnama bersama dengan pasangannya Joko Widodo terkenal dengan
programnya untuk pendidikan berupa Kartu Pintar.
Namun inovasi untuk program pendidikan ini tampaknya akan ditambah
dengan memberi beasiswa untuk anak yang berprestasi sehingga dapat
mengenyam pendidikan hingga jenjang sarjana.
"Gratis sampai SMA sudah nggak zaman. Tahun 2015 sudah masuk  era
perdagangan bebas. Jadi bisa kasih beasiswa anak yang berprestasi tapi
nggak mampu untuk kuliah," kata Ahok, sapaan  akrab Basuki Tjahaja
Purnama, di Balaikota, Jakarta, Senin (2/7/2012).

Ia mengungkapkan bahwa biaya pendidikan di Jakarta terbilang cukup
besar dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Namun dengan
anggaran yang besar, masalah pendidikan masih membayangi Jakarta.

"Misalnya anggaran pendidikan di DKI hampir Rp 10 triliun, dibanding
dengam APBD Surabaya hanya Rp 5 triliun. Artinya untuk ngurusin
pendidikan di DKI dua kali APBD di Surabaya," ujar Ahok.

"Tapi dengan anggaran sebesar itu, masih ditemukan anak ijazahnya
ditunggak. Sementara yang anggarannya lebih kecil malah lebih rapi,"
imbuhnya.

Untuk itu, ia berkomitmen dengan pasangannya Joko Widodo akan
melakukan transparansi anggaran jika nanti terpilih. Dengan demikian,
aliran dan alokasi dana APBD jelas sehingga dapat diwujudkan gratis
sekolah hingga jenjang sarjana dengan sistem beasiswa.

"Ini kan ada transparansi. Akan kami buka nanti. Dengan mutu
pendidikan DKI, diharapkan tidak ada pengangguran," tandasnya.

Editor :
Kistyarini

Kirim email ke