SBY Pertimbangkan Bantuan Indonesia ke IMF
Penulis : Hindra Liauw | Selasa, 3 Juli 2012 | 23:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi, Firmansyah, 
mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih mempertimbangkan pemberian 
pinjaman kepada Dana Moneter Internasional sebagai komitmen untuk memperkuat 
permodalan lembaga tersebut.

Firman mengatakan, pertimbangan itu dilakukan karena rencana pemberian pinjaman 
ini bersifat sensitif. "Isu IMF sensitif terhadap pengalaman Indonesia," kata 
Firmansyah ketika dihubungi wartawan, Selasa (3/7/2012).

Rencana pemberian bantuan ini sempat menjadi salah satu topik bahasan pada 
sidang kabinet menteri beberapa waktu lalu. Firman mengatakan, Presiden memilih 
untuk bersikap hati-hati.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, Indonesia akan 
memberikan pinjaman kepada IMF maksimal sebesar 1 miliar dollar AS. "Indonesia 
sebetulnya sudah menindaklanjuti komitmen tersebut. Pertemuan G20 akan 
meningkatkan kekuatan IMF di aspek permodalan. Yang kemarin di Meksiko adalah 
pinjaman dari negara anggota IMF kepada IMF supaya keuangan IMF lebih kuat," 
kata Agus di DPR, Jakarta, Kamis (28/6/2012).

Agus menjelaskan, sekarang ini sebenarnya sudah terkumpul sebesar 430 miliar 
dollar AS di IMF. Dana tersebut dibutuhkan IMF bukan hanya untuk menyehatkan 
ekonomi Eropa, tetapi termasuk juga negara-negara berkembang. Indonesia yang 
pernah meminjam dari IMF pada tahun 2006 pun akan berkontribusi bagi permodalan 
lembaga itu.

Pemberian pinjaman ke IMF akan menandakan posisi Indonesia sudah lebih baik. 
Apalagi, kata Agus, Indonesia juga harus memerhatikan negara-negara lain yang 
perlu dibantu. Pinjaman ke IMF ini juga sebagai upaya mengantisipasi krisis 
agar tidak membahayakan perekonomian dunia. "Ini kesempatan yang baik karena 
Indonesia juga pernah pinjam IMF di 2006, kita sudah kembalikan," ujar Agus.

Mengenai besaran secara pasti, Agus mengatakan bahwa pemerintah masih 
membicarakannya. Namun, ia menyebukan maksimal dana yang dipinjamkan sebesar 1 
miliar dollar AS. "Belum bisa disebutkan tetapi saya rasa maksimal 1 miliar 
dolar AS," tegasnya.

Ia menambahkan, pinjaman ke IMF itu bukan dari APBN. Itu semacam suatu 
pengelolaan dana yang merupakan bagian dari cadangan devisa negara. Praktiknya 
itu seperti uang kas dalam suatu perusahaan. Sebagian di antaranya, misalnya, 
seperempat uang kas dalam bentuk tunai dan selebihnya ditempatkan di bank.

"Kalau kita nanti memberikan bantuan pinjaman kepada IMF itu akan tetap ada di 
neraca Indonesia di cadangan devisa Indonesia tapi hanya tercatat sebagian 
ditempatkan di IMF," kata Agus. 

Editor :
Laksono Hari W

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke