http://epaper.tempo.co/PUBLICATIONS/KT/KT/2012/07/05/ArticleHtmls/DPR-Menilai-Hibah-Hercules-Australia-Janggal-05072012007008.shtml?Mode=0

DPR Menilai Hibah Hercules Australia Janggal 
JAKARTA

Wakil Ketua Komisi Pertahanan Dewan Perwakilan Rakyat, Tubagus Hasanuddin, 
menilai ada yang janggal dalam hibah pesawat Hercules tipe C-130 H dari 
Australia. Keanehan ini karena kebutuhan anggaran untuk memperbaiki pesawat 
sama besar dengan biaya membeli pesawat bekas. “Kalau seperti ini, yang mana 
sisi hibahnya?” katanya kepada Tempo kemarin. 
Dalam konteks hibah itu, kata Hasanuddin, tahun lalu Kementerian Pertahanan dan 
TNI Angkatan Udara melapor kepada Komisi. Saat itu kedua institusi tersebut 
belum menyebutkan nilai kebutuhan anggaran untuk memperbaiki keempat pesawat 
angkut itu. “Karena kami pandang perlu, maka kami menyetujuinya,” ujarnya. 

Pemerintah Indonesia dan Australia resmi meneken nota kesepahaman untuk hibah 
empat pesawat Hercules tipe C-130 H dari Australia, Senin lalu. Penandatanganan 
ke sepakatan dilakukan di Dar win, Australia, antara 

Sekretaris Jenderal Ke men terian Per ta hanan Eris Haryanto dan Panglima 
Angkatan Ber senjata Australia David Hurley. 
Hibah tersebut sempat dinyatakan gagal oleh pemerintah Jakarta beberapa bulan 
kemudian. Baru awal tahun ini Kementerian kembali mengajukan hibah dengan 
anggaran perbaikan US$ 60 juta atau sekitar Rp 570 miliar. Padahal, pada saat 
yang bersamaan, Australia mengajukan penawaran untuk membeli enam pesawat 
sejenis siap pakai. 

“Harganya US$ 90 juta, atau US$ 15 juta per unit. 

Kenapa harga perbaikan sama dengan harga jual?” ujar bekas sekretaris militer 
di era Presiden Megawati Soekarnoputri ini. Dia mengatakan, Komisi akan segera 
memanggil Kementerian dan TNI AU mengenai kejanggalan hibah ini. “Kami akan 
panggil Kementerian dan TNI AU segera.” Namun juru bicara Ke men terian 
Pertahanan, Hartind Asrir, membantah tudingan tersebut. Menurut dia, har ga 
jual pesawat buatan Lockheed Martin dari Amerika Serikat itu dalam kondisi 
prima mencapai US$ 50 juta per unit. 

Berdasarkan penelusuran di laman Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, harga 
Hercules tipe C-130 H berkisar US$ 30 juta sebuah. 

Dia menjelaskan, biaya perbaikan US$ 60 juta baru kalkulasi kasar. Jumlah 
persisnya bergantung pada hasil pemeriksaan. “Nilai itu belum pasti, tergantung 
hasil pemeriksaan tim teknisi kami yang akan terbang ke Australia pekan depan,” 
kata Hartind, yang memperkirakan tim teknisi akan terbang ke Benua Kanguru 
sekitar 10 atau 11 Juli mendatang. 

Hercules hibah dari Australia, menurut Hartind, amat dibutuhkan oleh Indonesia. 

Dari satu skuadron Hercules C-130H (satu skuadron terdiri atas 16 unit) yang 
bermarkas di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, hanya tersisa sekitar 12 unit 
yang siap terbang. ● FEBRIYAN | ELLIZA HAMZAH 

     


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke