http://www.mediaindonesia.com/read/2012/07/07/331444/70/13/Tragedi-Kemiskinan


Tragedi Kemiskinan 

Sabtu, 07 Juli 2012 00:00 WIB     KEMISKINAN punya dampak begitu mengerikan. 
Tidak hanya bisa memicu manusia menjadi maling demi menyambung hidup, 
kemiskinan ternyata juga mampu mendorong seseorang bunuh diri untuk mengakhiri 
hidup. Efek terakhir itulah yang mengharu biru perasaan kita akhir-akhir ini. 

Lantaran tak kuasa menahan impitan ekonomi, Markiah nekat menjemput kematian 
dengan menceburkan diri ke Sungai Cisadane, Bogor, Rabu (4/7). Tragisnya lagi, 
janda berusia 30 tahun asal Serang, Banten, itu tidak bunuh diri sendirian. 

Ia mengajak buah hatinya berumur tiga tahun, Salman, kembali ke alam baka. Tiga 
anaknya yang lain ia tinggalkan di dunia fana sebagai yatim piatu. 

Menurut Kapolsek Bogor Tengah Ajun Komisaris Victor Gatot Nababan, Markiah 
bunuh diri diduga karena tak kuat lagi menghadapi deraan kemiskinan. Ia putus 
asa menjalani hidup yang kian hari kian sulit setelah suaminya meninggal. 

Nasib Markiah sungguh memilukan. Ia pun bukan orang pertama yang bunuh diri 
karena miskin papa. Pada 11 Agustus 2010, Khoir Umi Latifah melakukan hal 
serupa. Warga Klaten, Jawa Tengah, itu membakar diri bersama dua anaknya. 

Kemudian, pada 25 Oktober 2011, Suharta dan putranya tewas setelah gantung diri 
di Riau. Jauh sebelumnya pada 2007, seorang ibu dan empat anaknya di Malang, 
Jawa Timur, mengambil jalan pintas dengan menenggak racun potasium. Ia memilih 
mati. Ia menyerah melawan kemiskinan yang kejam mendera. 

Kasus-kasus itu hanyalah sedikit contoh dari banyaknya fakta bunuh diri akibat 
kemiskinan di negeri ini. Itulah tragedi luar biasa yang menyayat perasaan dan 
mencabik-cabik kemanusiaan. 

Terus terulangnya bunuh diri karena miskin sulit diterima akal sehat di negeri 
ini yang katanya gemah ripah loh jinawi. Sulit pula dipahami sebab bukankah 
konstitusi dengan gamblang mengamanatkan fakir miskin dan anak telantar 
dipelihara negara? 

Padahal, pemerintah selalu membanggakan keberhasilan menurunkan angka 
kemiskinan. Pada Senin (2/7), Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan warga 
miskin telah berkurang 890 ribu jiwa. Pada Maret 2011, warga miskin berjumlah 
30,1 juta jiwa dan pada Maret 2012 turun 0,53% menjadi 29,13 juta orang. 

Pemerintah boleh silau dengan angka-angka itu. Namun, tragedi Markiah merupakan 
realitas yang musykil dibantah betapa kemiskinan justru makin kuat menjerat 
rakyat. 

Masih berbanggakah pemerintah ketika rakyatnya bunuh diri karena terimpit oleh 
kemiskinan? Juga kepada anggota DPR yang terhormat, masih punya hatikah Anda 
menyaksikan rakyat memilih mati lantaran tak tahan lagi menghadapi kesulitan 
hidup? 

Tragedi Markiah merupakan penegasan bahwa kemiskinan telah menjadi monster 
menakutkan dan perlu langkah nyata untuk memeranginya. Tidak cukup dengan 
memamerkan data di atas kertas yang sepintas memang indah. 

Anekdot orang miskin dilarang sakit atau orang miskin dilarang sekolah karena 
butuh biaya selangit sudah lama mengemuka. Kita tidak ingin ada anekdot 
tambahan bahwa orang miskin tidak dilarang bunuh diri. 

++++



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke