http://www.mediaindonesia.com/read/2012/07/07/330924/70/13/Peta-Kemiskinan-


Peta Kemiskinan 


Kamis, 05 Juli 2012 00:00 WIB     BADAN Pusat Statistik (BPS) mengeluarkan 
kabar gembira. Jumlah penduduk miskin Indonesia terus menurun dari waktu ke 
waktu meskipun tidak secara signifikan. 

Menurut BPS, Senin (2/7), warga miskin telah berkurang 890 ribu jiwa, yakni 
dari 30,1 juta jiwa pada Maret 2011 menjadi 29,13 juta jiwa pada Maret 2012 
atau turun 0,53%. Di perkotaan, jumlah orang miskin berkurang 399.500 orang dan 
di perdesaan 487 ribu orang. 

Berdasarkan angka mutlak, penduduk miskin di Indonesia masih terpusat di Pulau 
Jawa. Berdasarkan angka relatif atau persentase, penduduk miskin tertinggi ada 
di Maluku dan Papua, sedangkan terendah ada di Kalimantan. 

BPS juga mencatat faktor pendorong penurunan angka kemiskinan itu, antara lain 
penaikan upah buruh harian tani dan bangunan, penggelontoran raskin, dan 
pemberian pelayanan kesehatan gratis. 

Bukan kali ini saja BPS melontarkan data tentang penurunan jumlah penduduk 
miskin Indonesia. Hal itu telah dilakukan berulang kali. Data yang dibuka ke 
publik antara lain menyebutkan berkurangnya jumlah orang miskin sebesar 1%. 

Ada dua persoalan menyangkut data BPS itu. Pertama, data BPS itu mencerminkan 
pemerintah gagal menurunkan kemiskinan di negeri ini. Turun 1% bukanlah 
prestasi. Kedua, benarkah data BPS betul? Apakah jumlah orang miskin versi BPS 
itu mencerminkan realitas sesungguhnya? 

Sudah lama muncul gugatan tentang kriteria yang digunakan BPS untuk memotret 
kemiskinan. Hingga kini BPS masih mematok golongan miskin ialah mereka dengan 
pengeluaran sekitar Rp8.000 per orang per hari. 

Kriteria BPS itu jelas masih jauh dari ukuran yang dikeluarkan Bank Dunia, 
yakni sebesar US$2 per orang per hari atau sekitar Rp19 ribu per orang per 
hari. 

Itulah sebabnya, banyak pihak menilai kriteria BPS untuk mengukur kemiskinan 
sudah tidak rasional. Celakanya, justru data BPS itulah yang digunakan 
pemerintah untuk menanggulangi persoalan kemiskinan. 

Tidak mengherankan bila kemudian timbul jurang yang menganga begitu lebar 
antara fakta dan data tentang kemiskinan. Di beberapa daerah, angka kemiskinan 
malah naik. Misalnya di Yogyakarta, jumlahnya naik sekitar 181 ribu orang dan 
di Riau bahkan melonjak 483 ribu jiwa. 

Fakta juga masih memperlihatkan begitu membeludaknya warga miskin berebut zakat 
yang dikeluarkan para dermawan pada saat hari-hari besar. Begitu pula, masih 
banyak warga yang mengadu nasib di negeri orang. 

Keakuratan dan kredibilitas pemetaan kemiskinan jelas sebuah kebutuhan dan 
keharusan, termasuk perlunya pendekatan komprehensif. Kemiskinan tentu tidak 
bisa dilepaskan dari laju pertumbuhan penduduk masih sangat tinggi, yakni 1,5% 
per tahun. 

Karena itu, penyimpangan pemetaan hanya membuat perkara kemiskinan tidak pernah 
terselesaikan. Celakanya, pemerintah lebih percaya dan bangga akan data dan 
angka-angka, tapi membutakan mata sekaligus mengabaikan realitas kemiskinan 
yang mendera hidup rakyat sehari-hari. 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke