Ref: Kepala BKKBN Pusat, Sugiri Syarief [MATARAM] Hasil pendataan keluarga yang dilakukan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan, jumlah keluarga di Indonesia sebanyak 62,4 juta. ( 27 Juta Keluarga Miskin Bergantung Hidup Pada Usaha Mikro, Kamis, 28 Juni 2012 | 17:41 (http://www.suarapembaruan.com/nasional/27-juta-keluarga-miskin-bergantung-hidup-pada-usaha-mikro/21835 ). Sesuai sensus BPS 1210 terdapat 10 propinsi termiskin di NKRI.
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/07/06/m6p3vd-kemiskinan-yang-dapat-gelincirkan-iman Kemiskinan yang Dapat Gelincirkan Iman Jumat, 06 Juli 2012, 04:15 WIB Pilpres dan Kemiskinan REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Dr HM Harry Mulya Zein Tidak dapat dipungkiri bahwa kemiskinan merupakan penyakit yang amat berbahaya bagi keselamatan dan keutuhan akidah, terutama jika si miskin hidup di lingkungan orang-orang kaya yang sama sekali tidak peduli dengan nasib mereka. Terlebih jika si miskin termasuk orang yang sudah mati-matian bekerja keras (tetapi nasibnya juga tidak berubah), sementara si kaya nampaknya hanya duduk-duduk saja. Dalam keadaan itu, si miskin cenderung menawarkan semacam keragu-raguan untuk mempertanyakan kebijaksanaan dan keadilan Allah SWT dalam mendistribusikan harta kepada umat manusia. Pendapat itu tidak berbeda dengan sebuah syair: Banyak orang pandai yang dilelahkan oleh pendapat-pendapatnya. Tetapi banyak orang bodoh yang ternyata banyak mendapatkan rizki. Inilah yang menyebabkan hati menjadi bingung. Dan orang yang pintar menjadi zindik Menurut ulama besar dari Mesir, Prof Dr Yusuf Qaradhawi (2002), kemiringan akidah bersumber dari masalah kemiskinan dan ’ketidakdilan distribusi’. Al-Mishry (seorang sufi) mengatakan, ”Paling kafirnya (ingkar) manusia adalah orang miskin yang tidak sabar”. Tidak aneh jika Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Hampir saja, kefakiran menjadi kekafiran”. Karena itu, marilah kita memohon perlindungan kepada Allah SWT dari segala bahaya kefakiran (kemiskinan) dan kekafiran ini beliau ekspresikan dalam rangkaian dia: ”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran”. ”Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran, kekurangan (kemiskinan) dan kehinaan. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari berbuat dhalim atau saya yang dizalimi”. Jika saja kemiskinan bisa membahaya akidah dan kemimanan, tidak kalah penting (untuk diperhatikan) bahwa kemiskinan juga bisa berdampak negatif terhadap prilaku dan moral seseorang. Kesengsaraan dan kepedihan hidup yang diderita oleh orang miskin-apalagi di sekitarnya hidup dalam kecukupan-sering menjadi stimulus negatif untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Wajar kalau banyak pakar mengatakan: Shaut al-Ma’iddah aqwa min shaut al-Dlamir (bunyi perut yang keroncongan karena lapar lebih nyaring (bisa mengalahakan) suara hati nurani). Rasulullah SAW pernah menjelaskan kepada kita tentang bahaya hidup dalam keterhimpitan kemiskinan, kaitannya dengan prilaku (moral): Ambillah pemberian selama itu masih berupa pemberian. Tetapi kalau sudah suap atas utang maka jangan kalian ambil. Dan kalian tidak meninggalkannya selama kaliah butuh dan fakir.” Kemiskinan juga bisa membuat seorang muslim bisa menjadi pencuri, pelacur, koruptor dan lainnya dan ada baiknya kita menyimak sebuah hadis Rasulullah SAW: ”Sedekahmu kepada si pencuri, mudah-mudahan bisa mencegah dia untuk mencuri lagi. Sedekahmu kepada si pelacur, mudah-mudahan bisa mencegah dia untuk melakukan perzinahan lagi.” ++++ http://www.republika.co.id/berita/nasional/jabodetabek-nasional/12/07/02/m6j3v1-bps-kemiskinan-di-jakarta-menurun-tapi-tidak-besar BPS: Kemiskinan di Jakarta Menurun, tapi tidak Besar Senin, 02 Juli 2012, 17:30 WIB globalmuslim.web.id Pengentasan kemiskinan masih jauh panggang dari api (ilustrasi). REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta menyatakan tingkat kemiskinan di Jakarta pada Maret 2012 menurun. Jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan menurun sebesar 3,69 persen dibanding Maret tahun sebelumnya. "Menurun, tetapi tidak masif. Dari Maret 2011 hingga Maret tahun ini menurun hanya 220 orang saja," kata Sri Santo Budi, Kepala Bidang Statistik Sosial, BPS DKI Jakarta, Senin (2/7). Namun, kata Sri, tingkat kemiskinan di Jakarta merupakan paling rendah dibandingkan kota lain di Indonesia. Meskipun, penurunannya sangat rendah, penekanan angka kemiskinan di Jakarta telah mencapai titik 'hardrock'. "Seolah susah untuk diturunkan lagi, karena jika diukur sudah rendah. Namun bukan berarti tidak bisa diturunkan. Masih mungkin, tapi dilakukan dalam jangka panjang," kata dia. Menurutnya, kebijakan yang dibuat pemerintah sangat memengaruhi bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk miskin. Seperti kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM). Jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi besarnya Garis Kemiskinan (GK). Karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Penduduk Jakarta yang hidup di bawah garis kemiskinan pada Maret 2012 sebesar 363.200 orang. Sedangkan pada Maret 2011 jumlahnya 363.420 orang. Garis kemiskinan juga mengalami peningkatan. Pada Maret 2012 garis kemiskinan di Jakarta sebesar Rp 397.052 per kapita per bulan, lebih tinggi dibanding Maret 2011. Yaitu sebesar Rp 355.480 per kapita per bulan. Komposisi garis kemiskinan menunjukkan garis kemiskinan makanan sebesar Rp 244.832. Dan garis kemiskinan non makanan sebesar Rp 134.220. Meskipun kecil, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan juga mengalami penurunan. Pada periode Maret 2011 hingga Maret 2012 indeks kedalaman kemiskinan turun dari 0,60 menjadi 0,50. Sedangkan indeks keparahan kemiskinan menurun dari 0,15 menjadi 0,13. Penurunan nilai kedua indeks ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung meningkat dan mendekati garis kemiskinan makanan dan garis kemiskinan non makanan. Garis kemiskinan makanan merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum yang disetarakan dengan 2.100 kilo kalori per kapita per hari. Garis kemiskinan nonmakanan adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Mara Oloan Siregar, Asisten Kesejahteraan Masyarakat DKI Jakarta, membenarkan tentang lambatnya penurunan angka kemiskinan di Jakarta. Ia mengatakan bahwa untuk mengurangi jumlah penduduk miskin di Jakarta, pemerintah harus lebih fokus dalam penanganannya,agar tepat sasaran. Segala faktor harus diperhatikan, ujarnya, seperti kelompok usia, keterampilan, dan latar belakang pendidikan. Redaktur: Djibril Muhammad Reporter: Ira Sasmita [Non-text portions of this message have been removed]
