Elektabilitas Prabowo Tinggi, tapi Tidak Aman
Penulis : Hindra Liauw

JAKARTA, KOMPAS.com - Elektabilitas atau tingkat keterpilihan Ketua Dewan 
Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto pada pemilu presiden 2014 kini setara 
dengan politisi lainnya, seperti Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia 
Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal 
Bakrie.

Hasil survei nasional "Tantangan Calon Presiden Populer" oleh Saiful Mujani 
Research and Consulting (SMRC) terhadap 1.230 responden pada 20-30 Juni 2012, 
misalnya, menunjukkan bahwa popularitas mantan Komandan Jenderal Kopassus ini 
sebesar 10,6 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Mega yang meraih 8 
persen dan Aburizal sebesar 4,4 persen.

Kendati demikian, hal ini tak berarti langkah Prabowo menuju kursi RI 1 menjadi 
mulus. Pengamat politik, Salim Said, mengatakan bahwa lawan-lawan politiknya 
dapat mengungkit dugaan keterkaitannya dengan penculikan aktivis 1998. Hal itu 
diperkuat dengan keputusan Dewan Kehormatan ABRI (kini TNI) yang memberhentikan 
Prabowo sebagai perwira TNI karena terbukti bertanggung jawab atas penghilangan 
sejumlah aktivis pro-demokrasi pada 1997. "Posisinya masih tak aman. Itulah 
dinamika politik," kata Salim kepada para wartawan di Jakarta, Minggu 
(8/7/2012).

Terkait hal itu, survei SMRC menunjukkan bahwa hanya tiga dari 10 orang 
responden yang memiliki hak pilih yang mengetahui bahwa Prabowo diberhentikan 
sebagai perwira TNI karena terbukti bertanggung jawab atas penghilangan 
tersebut. "Dengan kata lain, track-record Prabowo tidak diketahui oleh umumnya 
masyarakat kita. Karena itu, isu ini belum terlihat signifikan," kata peneliti 
SMRC, Grace Natalie.

Salim mengatakan, masyarakat Indonesia memang memiliki ingatan yang pendek 
terkait berbagai isu. Sejumlah aktivis 1998, seperti Fadli Zon, bahkan merapat 
ke barisan Gerindra. "Ini membuat orang-orang yang beranggapan bahwa Prabowo 
jahat menjadi ragu," kata Salim.

Editor :
Laksono Hari W


Prabowo Tak Terpengaruh Masa Lalu
TEMPO.CO -- 09 Juli 2012

TEMPO.CO , Jakarta -- Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 
Fadli Zon memastikan calon presiden dari partainya, Letjen (Purn) Prabowo 
Subianto tak bakal terpengaruh pemberitaan negatif yang kerap dihembuskan untuk 
mengganjal pencalonannya menjadi RI-1.


»Prabowo tidak akan menghentikan langkah,” kata Fadli Zon, ketika dihubungi 
Ahad 8 Juli 2012. Justru hasil survei sejumlah lembaga riset menunjukkan 
penilaian publik terhadap mantan menantu Presiden Soeharto ini, terus membaik.


»Masyarakat menaruh harapan pada pundaknya,” kata Fadli. Menurut Fadli, 
besarnya dukungan warga pada Prabowo menandakan keinginan kuat rakyat untuk 
berubah. »Prabowo diharapkan bisa membawa perubahan itu,” kata Fadli. Hasil 
survei politik Saiful Mujani Research and Consultant yang dirilis Ahad 8 Juli 
2012 menunjukan keunggulan Prabowo dibandingkan sejumlah calon lain dalam 
tingkat popularitas dan ketersukaan publik. Meski begitu, ada defisit 
persentase yang cukup besar antara tingkat dikenalnya Prabowo dan tingkat 
disukainya tokoh itu.


»Kami sudah menjelaskan semua soal 1998 sejak lama,” kata Fadli. »Jadi tidak 
ada masalah.” Dia juga yakin citra buruk Prabowo akan terkikis sedikit demi 
sedikit. »Soal citra itu kan akan hilang karena citra bukan kenyataan,” katanya.


FEBRIYAN



Lapindo Masih Bakal Jadi Sandungan Ical Menuju RI 1
Penulis : Hindra Liauw | Minggu, 8 Juli 2012 | 16:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kendati Ketua Umum DPP Partai Golkar Aburizal "Ical" 
Bakrie telah mendeklarasikan dirinya sebagai calon presiden pada Pemilu 2014, 
serta mulai melakukan sosialisasi dan membangun simpati, elektabilitasnya 
diperkirakan belum akan melambung.

Tak terlihat pula kekuatan afeksi positif terhadap dirinya. Kasus luapan lumpur 
Lapindo ditengarai menjadi batu sandungan Ical menuju ajang perebutan kursi 
presiden.

Hal ini berdasarkan hasil temuan survei nasional "Tantangan Calon Presiden 
Populer" yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terhadap 
1.230 responden di seluruh Indonesia pada 20-30 Juni 2012. Survei ini dilakukan 
dengan metode wawancara tatap muka dengan tingkat kesalahan sekitar 3 persen.

Pada survei tersebut, sebanyak 80 responden mengaku mengetahui bencana luapan 
lumpur Lapindo. Sebanyak 65,9 persen responden yang mengaku tahu mengatakan, 
penyebab luapan lumpur Lapindo adalah akibat pengeboran.

Lebih lanjut, 43,7 persen responden tersebut juga mengatakan, pemilik Lapindo 
adalah keluarga Ical. Sebanyak 89,4 persen responden mengatakan bahwa keluarga 
Ical harus bertanggung jawab atas luapan yang melanda wilayah Porong dan 
sekitarnya.

"Sebanyak 83,9 persen mengatakan, keluarga Bakrie belum memenuhi tanggung jawab 
tersebut. Hanya 11,8 persen yang mengatakan bahwa keluarga Bakrie telah 
memenuhi tanggung jawabnya. Sementara itu, 4,7 responden mengaku tidak tahu," 
demikian salah satu petikan hasil survei tersebut.

Sebanyak 43,2 persen responden itu berpendapat, keluarga Ical tak memiliki niat 
baik untuk menyelesaikannya. Sementara itu, 37,8 mengatakan bahwa keluarga 
Bakrie memiliki niat baik untuk menyelesaikannya, dan 19 persen responden 
menjawab tidak tahu.

Menurut peneliti SMRC Grace Natalie, kontender Ical pada ajang perebutan pemilu 
presiden 2014 dapat mengambil keuntungan dari opini negatif tentang Ical dalam 
hubungannya dengan masalah Lapindo.

Berdasarkan survei tersebut, tingkat popularitas Ical mencapai 70,1 persen. 
Namun, hanya 4,4 persen saja yang mengatakan akan memilih Ical jika pemilu 
presiden dilakukan hari ini.

Editor :
Tri Wahono

Kirim email ke