BOCORAN SOAL PERTANYAAN KPK TERHADAP ANAS URBANINGRUM 

by @Kebenaran2000

Ternyata bukan hanya UAN aja yg lembar soalnya selalu bocor sebelum di 
ujikan, pertanyaan di KPK pun sudah bocor tadi malam, Beberapa 
pertanyaan akan di tanyakan kepada AU, termasuk diantaranya asal muasal 
harta kekayaan AU yg saat ini sudah di invetarisir

KPK akan 
memberikan pertayaan -pertanyaan seputar asal muasal uang 50 milyar yg 
dikirim ke bandung untuk pemenang kongres, bukti CCTV Sudah di 
tangan penyidik KPK, saat ini sopir dan para ajudan pengawal sudah 
diamankan di safe house untuk menjaga intervensi pihak luar

Salah satu orang penting di BUMN jasa kontruksi sudah memberikan 
pengkuan kalau dalam pemenangan proyek hambalang pihak BUMN telah 
Memberikan Fee agar dapat memenangkan proyek hambalang, KPK juga sudah 
mendapatkan pengakuaan dari para peserta kongres bandung tentang Uang 
200 juta rupiah yg dibagikan sejak awal pra kongres sampai selesai 
pemilihan ketua umum demokrat yg dimenangkan oleh AU

Hari ini 
(kemarin.red) KPK akan memberikan pertanyaan kepada AU dari mana asal 
harta kekayaannya diantara lain mobil mewahnya yg terparkir di 
garasinya. Mobil harrier putih berplat nomer B.15.AUD dan mobil mewah 
alphard hitam berNopol B .69. AUD karna 2 mobil tersebut bernilai 3 
milyar. KPK akan sering melakukan pembuktiaan terbalik, semua orang tau 
AU bukanlah seorang pengusaha dan AU bukan milyader. Orang tua dan 
mertua AU bukanlah dari golongan konglomerat ,jadi KPK akan mengejar 
terus dari mana asal kekayaan AU yg jelas dilihat

KPK juga akan
 mempertanyakan peran AU dalam proses percepatan pembuatan sertifikat 
hambalang ,dan KPK sudah punya bukti kalau Ada dana yg mengalir ke BPPN 
& sudah ada transkrip dari PPATK, hal itu akan menjadi salah satu yg
 dipertanyakan selain keterang dr nazar

Tak luput juga KPK akan
 mempertanyakan rumah di duren sawit yg baru saja di renovasi yg menelan
 biaya puluhan milyar serta sebidang Tanah di jogya yg dibeli oleh AU 
dgn meminjam nama salah satu kerabatnya,KPK juga akan memangil org 
tersebut untuk dimintain keterangan

KPK juga akan 
mempertanyakan keterlibatan AU dalam pertemuan nazar serta anggota 
komisi yg mengadakan rapat di kantor kemenpora. Wakil Ketua KPK Bambang 
Widjojanto mengatakan komisinya telah mendapatkan informasi penting dari
 Ignatius Mulyono serta aliran dananya

KPK mengendus adanya 
penyimpangan oleh PT Dutasari Citralaras yang menjadi subkontraktor 
perusahaan tempat istri Anas menjadi komisaris.

Anas 
merencanakan proyek Hambalang Ketua Komisi Olahraga Mahyuddin 
membenarkan dirinya, Angelina Sondakh, dan Nazaruddin pernah bertemu di 
kantor AM. menurut Nazar, "Pertemuan membicarakan Hambalang, bukan yang 
lain." Nazar menyatakan pertemuan itu diatur Anas. PT Adhi Karya, yang 
memenangi tender Hambalang, menyerahkan Rp 100 miliar pada Mei 2010: Rp 
50 miliar untuk pemenangan Anas di bandung sisanya sebesar 50 milyar 
untuk anggota DPR serta pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga ini akan
 masuk agenda yg di pertanyakan ke AU

PT Dutasari telah 
melakukan pelanggaran, di antaranya karena mensubkontrakkan lagi 
pekerjaan itu kepada PT Kurnia Mutu.- Tempo, di Dutasari, Athiyyah 
berkongsi dengan Mahfud Suroso, orang dekat Anas, sebagai kurir fee Rp 
100 miliar dari adhi karya ini fakta Yg sedang didalami oleh KPK dan 
menjadi pertanyaan yg harus dijawab oleh AU dalam penyidikan nanti di 
gedung KPK, semoga AU bs jawab

ada tokoh muda Partai Demokrat, 
Munadi Herlambang yg juga di indikasi terlibat suap hambalang, munadi 
juga orang yg membawa uang 300 M Untuk membeli saham PT Garuda Indonesia
 yg sudah diteliti olek KPK karna sebagian uang 300 M tersebut sumbernya
 dari APBN yg dirampok. Munadi herlambang yg juga anak dari dirut bank 
mandiri mukayat ,ini terkenal CS kental dari AU dalam merampok APBN 
negara di proyek.  Munadi herlambang yg juga anak dari dirut bank 
mandiri mukayat, ini terkenal CS kental dari AU dalam merampok APBN 
negara di proyek

Anas menyatakan istrinya berada di Dutasari 
karena kedekatan Mahfud Suroso dgn orang tua mereka. Padahal Anas-Mahfud
 dekat sejak SMA, Padahal Anas-Mahfud sudah kenal dekat sebelum AU 
menikah, ini juga hal yg janggal yg KPK jadikan bukti untuk bantahan AU 
didepan penyidik

Ketua KPK Abraham Samad membenarkan adanya 
indikasi keterlibatan Anas Urbaningrum dalam proyek pembangunan 
hambalang senilai 2,5 trilyun. KPK juga mendapat dukungan penuh dr ketua
 dewan pembina PD,Tim Pencari Fakta (TPF)akan ramai-ramai memberikan 
keterangan di KPK. Keterangan Salah satu angota TPF di PD akan menjadi 
saksi kunci dalam penyidikan kasus AU prihal pengakuaan angie dalam 
membagikan uang

Penyidik KPK hari ini juga akan mempertanyakan 
prihal laporan keuangan serta para donatur di dalam partai demokrat yg 
di catat nazar, Khususnya para anggota DPR yg namanya sering di sebut 
sebut dalam pemeriksaan serta keterangan yg di dapat penyidik KPK

Kita rakyat sudah jelas diperlihatkan bahwa para politikus itu jelas 
perampok uang negara, perampok APBN jgn dimalah diberi karpet merah. 
Semoga saja tuhan memperlihatkan kepada rakyat bahwa mereka benar benar 
di laknat dunia ahkerat karna makan uang rakyat, sungguh tercela

Kita rakyat kecil, gaji di potong pajak oleh negara, uang di kumpulkan 
di setor ke negara tapi di rampok oleh segelintir oknum bajingan. Para 
politisi dan pejabat negara hidup hedonis bergelimpang harta dengan 
mobil yg mewah ini berbanding terbalik dengan rakyat yg miskin

Mana pemimpinku, mana presidenku kemana penegak hukumku ,negara ini tak 
ayal seperti kapal tampa nahkoda terombang ambing dilautan korupsi. 
Semoga AU dan kawan - kawan segera mengaku sebelum laknat allah menerpa 
dirinya dan segera taubatan nasuha, amien (doa rakyat miskin)

Kita bayar pajak dengan tekun dan gigih,tuh para koruptor dan pejabat yg
 nilep uang kita, sungguh biadab mereka, semoga jadi keraknya neraka

KPK: Anas Banyak Tahu soal Hambalang Diamanty Meiliana | Kamis, 05 Juli 2012 - 
16:13:35 WIB

  
JAKARTA - Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Anas 
Urbaningrum dianggap mengetahui adanya tindak pidana korupsi di proyek 
pembangunan Pusat Pelatihan Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional 
(SP3ON) di Bukit Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar). Itu 
sebabnya Anas diperiksa hingga dua kali oleh Komisi Pemberantasan 
Korupsi (KPK).
"Semua yang dimintai keterangan oleh KPK dianggap mengetahui, melihat, 
atau mendengar soal kasus itu. Bukan cuma Pak Anas tetapi ada banyak 
pihak yang diperiksa juga," ujar Juru Bicara KPK, Johan Budi di Jakarta, Kamis 
(5/7).

Ia menyatakan, gelar perkara kasus Hambalang yang akan dilaksanakan 
pekan depan mengindikasikan bahwa KPK sudah memiliki sejumlah alat 
bukti. Namun menurut Johan, syarat dua alat bukti yang cukup untuk 
menjadikan seseorang tersangka belum ada.
Johan menuturkan bahwa tidak tertutup kemungkinan adanya pihak lain 
yang dimintai keterangan lebih dari sekali seperti yang dilakukan 
penyelidik kepada Ketua Umum Partai Demokrat (PD), Anas Urbaningrum.

Menurutnya, gelar perkara pekan depan itu bukan berarti KPK akan 
mengumumkan adanya tersangka. “Gelar perkara ini akan melihat hasil 
apakah sudah dianggap cukup atau belum permintaan keterangan dan alat 
bukti,” kata dia. Johan menyatakan, sejauh ini keterangan yang disampaikan Anas 
masih 
dianggap cukup untuk melengkapi kebutuhan alat bukti. Namun begitu, ia 
menambahkan, bukan berarti alat bukti sudah cukup untuk meningkatkan 
kasus ke penyidikan. Hingga kini KPK sudah memeriksa hingga 70 pihak 
terkait kasus proyek Hambalang. Keterangan yang diperoleh SH menyebutkan bahwa 
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng akan diperiksa 
juga pekan ini. Menurut Johan, hal tersebut mungkin saja karena hingga 
pekan ini berakhir, penyelidik masih akan meminta keterangan dari 
sejumlah pihak.

"Sampai saat ini saya belum dapat informasinya, tapi yang pasti KPK 
selama sepekan ini akan meminta keterangan ke beberapa pihak," ujar 
Johan.

Ketua DPP Partai Demokrat Ruhut Sitompul yang dihubungi SH di Jakarta, Kamis 
siang ini mengatakan, harus segera dilakukan gerakan 
nyata untuk penyelamatan partai bila mengingat terus menurunnya citra PD akibat 
sejumlah kader diduga terlibat dalam kasus korupsi yang sedang 
ditangani KPK. "Harus diamputasi," katanya. Kasus-kasus korupsi yang diduga 
melibatkan petinggi atau kader PD dikatakan Ruhut telah membebani partai secara 
kelembagaan. Oleh karena 
itu, ia mengatakan, kader-kader yang diduga terlibat dalam sejumlah 
kasus korupsi dan suap harus mengundurkan diri. "Kalau tetap ngotot akan rugi," 
Ruhut mengingatkan. 
Ia melanjutkan, hal ini tidak hanya akan merugikan kader tersebut, tapi 
PD juga bakal karam sebelum Pemilu 2014 digelar, jika tidak segera 
diambil langkah-langkah penyelamatan partai.

Irit Bicara 


Sikap berbeda tiba-tiba diperlihatkan Anas Urbaningrum. Usai diperiksaselama 
tujuh jam oleh tim penyelidik KPK, Rabu, Anas menolak untuk 
menjelaskan proses pemeriksaannya. Sikap Anas itu bertolak belakang 
dengan sikapnya pada 27 Juni 2012 ketika diperiksa KPK. Saat itu Anas 
memberikan penjelasan cukup lengkap soal hal-hal apa saja yang 
ditanyakan kepadanya.

“Hal-hal lain kalau teman-teman sekalian ingin mendapatkan info tambahan bisa 
mendapat dari penyelidik KPK,” kata Anas.

Anas hanya mengatakan bahwa ia ditanyakan apakah pernah bertemu dengan 
pihak PT Adhi Karya. Jawabannya kepada penyelidik adalah tidak pernah 
melakukan pertemuan tersebut.
Di hari yang sama, KPK juga memeriksa sopir pribadi Anas yang bernama 
Riyadi serta dua karyawan PT Adhi Karya yang bernama Sutrisno dan Henny 
untuk dimintai keterangan untuk kasus proyek pembangunan Pusat Pelatihan 
Pendidikan dan Sekolah Olahraga Nasional (SP3ON) di Bukit Hambalang, 
Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar).
Pengacara Anas, Firman Wijaya menjelaskan bahwa kliennya juga ditanya 
soal kepemilikan mobil termasuk dokumennya. Namun pihaknya 
mempertanyakan mengapa dokumen yang ditunjukkan tidak sesuai dengan 
identitas Anas. “Alamatnya saja sudah beda. Di situ tertera Jakarta 
Selatan, sedangkan rumah Anas di Duren Sawit, Jakarta Timur,” tegasnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Anas disebut menerima mobil Toyota Harrier 
dari PT Adhi Karya dan Wijaya Karya terkait pemenangan mereka 
sebagai kontraktor utama di proyek Hambalang. KPK memiliki bukti berupa 
berita pembelian Toyota Harrier pada November 2009 di diler mobil Duta 
Motor, Pacenongan, Jakarta Pusat. Mobil mewah itu berpelat nomor polisi 
B-15-AUD.

Menurut mantan Bendahara Umum PD M Nazaruddin, ia hadir ketika uang dari PT 
Adhi Karya tersebut diserahkan ke Anas. Uang cash sebesar Rp 750 juta itu 
dibawa ke Pacific Place, tempat pertemuan 
mereka dan kemudian digunakan untuk membeli mobil yang dilakukan dengan 
menggunakan cek.Tidak hanya itu, Anas juga menjadi penentu jumlah commitment 
fee dalam proyek Hambalang. 


Disebutkan Nazaruddin bahwa Anas menyepakati keputusan Direktur 
PT Dutasari Citalaras Mahfud Suroso dengan PT Adhi Karya. Ada 
kesepakatan commitment fee sebanyak Rp 1,1 triliun atau 18 persen dari total 
nilai proyek. Selain mendapat mobil, Anas mendapat bagian dari fee tersebut. 
Menurut Nazaruddin, Anas mendapat Rp 100 miliar. Dari uang 
inilah Anas memakai Rp 50 miliar untuk memenangkan dirinya sebagai Ketua Umum 
PD saat kongres di Bandung, Jawa Barat, sedangkan sisanya 
dibagi-bagikan.

“Dari Rp 100 miliar itu, sekitar Rp 50 miliar untuk memenangkan 
Mas Anas untuk dibawa ke kongres di Bandung. Uang itu dijadikan uang 
dolar. Itu yang dibawa ke Bandung. Sebanyak Rp 20 miliar untuk 
teman-teman di Komisi X DPR, Rp 10 miliar untuk pemimpin Banggar, 
sekitar Rp 20 miliar untuk Andi Mallarangeng yang diterima oleh Choel 
Malarangeng,” ungkapnya.

Sebelumnya, usai diperiksa di KPK, Rabu (27/6) lalu, Anas membantah 
kepemilikan mobil tersebut. Dia juga membantah memiliki mobil bermerek 
Toyota Alphard yang diduga didapat dari Permai Grup. Mobil itu beralih 
nama dari milik Permai Grup menjadi milik Anas Urbaningrum.

Anas juga membantah keterlibatannya dalam proyek Hambalang. Meski 
pernah menjadi anggota Komisi X DPR, komisi yang bermitra dengan 
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Anas mengaku tidak tahu 
soal proyek Hambalang. "Tidak ada itu, (tudingan) itu cerita mati, 
halusinasi," bantahnya.
 
Demokrat Bertanggung Jawab

Anggota Dewan Pembina PD, Ignatius Mulyono di gedung DPR Senayan 
Jakarta, Rabu siang, mengatakan pemimpin dan anggota PD yang terlibat 
dalam kasus korupsi proyek pembangunan pusat olahraga di Bukit Hambalang harus 
bertanggung jawab. "Mari bertanggung jawab supaya apa yang menimpa Partai 
Demokrat segera 
berakhir, agar badai cepat berakhir," katanya. Ignatius mengatakan, 
kasus korupsi Bukit Hambalang akan terus menggerus citra PD.

Ignatius mengatakan, persoalan dalam korupsi di Hambalang tidak hanya 
sekadar masalah pembebasan lahan dan sertifikasi tanah. Namun, persoalan juga 
terjadi dalam proses pengadaan alat-alat yang mencapai Rp 1,4 
triliun, ditambah anggaran pembangunan Bukit Hambalang yang melonjak 
hingga Rp 1,175 triliun Padahal, dalam APBN 2010, pemerintah bersama DPR telah 
menyepakati penggunaan dana penyelesaian gedung senilai Rp 125 miliar. 
"Yang jadi masalah adalah anggaran (awal) Rp 125 miliar dibintangi, 
sehingga (belakangan) menjadi Rp 2,5 triliun," ujarnya.(Ruhut Ambarita)
(Sinar Harapan)

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke