Harian Komentar
14 Juli 2012
Kaum pria Indonesia rendah partisipasi
“Pakai Kondom tak Enak”
Jakarta, KOMENTAR
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengakui partisipasi pria dalam menggunakan alat
kontrasepsi kondom masih rendah. Mi-nimnya partisipasi pria menggunakan alat
kon-trasepsi berimbas pada sulitnya negara mene-kan laju pertambahan penduduk.
“Terus terang keberha-silan KB di Indonesia karena jasa ibu-ibu. Pasalnya,
partisipasi pria-nya sangat ren-dah sekali,” ujar Nafsiah dalam per-bincangan
via telepon, Jumat (13/07).
Bahkan, kata Menkes, pada 2011, dari pasangan usia subur yang ikut program KB,
partisipasi pria yang menggunakan alat kontrasepsi kondom ditengarai hanya
tersisa 0,5 persen. Jumlah ini malah menurun jika di-bandingkan dengan
partisipasi tahun sebelumnya yang mencapai 1,3 persen.
Di ne-gara maju, parti-sipasi pria dalam program familly planing, jumlahnya
nyaris sama dengan kaum wanitanya. Jujur saja, kata Nafsiah, tanpa partisipasi
ber-makna dari kaum pria, upaya menurunkan tingkat kelahiran (total fertillity
rate-TFR) bakal sangat berat.
Ada banyak alasan kenapa pria enggan malas menggunakan alat kontrasepsi. Mulai
dari dalih agama hingga budaya. Namun Nafsiah menduga faktor egoisme pria lebih
mendominasi diban-ding faktor lainya. “Banyak suami berdalih, kalau pakai
kondom tidak enak,” sebut Nafsiah.
Kepada Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Na-sional (BKKBN), Nafsiah
menya-rankan agar fokus sosialisasi KB tidak hanya pada perempuan. Sosialisasi
pada kaum lelaki juga harus ditingkatkan.
SUKSES
Di sisi lain, Delegasi Indonesia Kamis (11/07) lalu menuai suk-ses saat tampil
memaparkan kunci sukses pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) pada Family
Planning Summit di London, Inggris. Indonesia diberi kesempatan menyampaikan
materi lantaran dinilai telah berhasil menekan laju pertam-bahan penduduknya.
“Gotong royong menjadi kunci dari keberhasilan program KB,” kata Menteri
Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono.
Menurutunya, ada empat lang-kah teknis yang dilakukan peme-rintah untuk menekan
laju pertambahan penduduk.
Pertama, menyosialisasi program hingga pelosok desa. Kedua, menanamkan
paradigma bahwa dengan keluarga kecil, kese-jahteraan ebih mudah diraih.
Ketiga, menggandeng swasta untuk mendukung program tersebut. Dan terakhir,
merang-kul tokoh agama untuk ikut menyebarkan KB.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana
Nasio-nal (BKKBN) Sugiri Syarief me-ngatakan bahwa program KB di Indonesia
tidak selalu berjalan mulus. Setelah mengalami masa keemasan di era Orde Baru,
program ini sempat mengalami stagnasi di awal tahun 2000-an.
Kemandegan KB dimulai sejak diterapkannya otonomi daerah. Akhirnya, hampir di
semua wilayah, program ini akhirnya dikesampingkan, lantaran dianggap bukan
prioritas.
Program ini akhirnya bisa kembali menapak naik, setelah pemerintah memberi
dukungan lewat dana alokasi khusus (DAK) ke daerah.
Family Planning Summit dige-lar oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam
rangka Hari Kependudukan Dunia.
Dalam perhelatan itu, hadiri 4 kepala negara dan 28 pejabat se-tingkat menteri
dari sejumlah ne-gara, termasuk Indonesia.(mio)
[Non-text portions of this message have been removed]