http://www.analisadaily.com/news/read/2012/07/14/62827/mirisnya_menjadi_negara_pengimpor/#.UAOqs_XDMeU

Sabtu, 14 Jul 2012 00:04 WIB


Mirisnya Menjadi Negara Pengimpor
Oleh : Tumpak Winmark Hutabarat. 


Indonesia merupakan salah satu negara agraris tropis terbesar di dunia setelah 
Brazil, dari 27 persen zona tropis di dunia, Indonesia memiliki 11 persen 
wilayah tropis yang dapat ditanami dan dibudidayakan setiap tahunnya. Luasnya 
wilayah dan lahan yang dapat ditanami ini menempatkan Indonesia berada pada 
posisi nomor 10 di dunia.
Menurut World Bank, Indonesia berada pada cakupan luas wilayah 1,905 km² dan 
luas lahan yang dapat ditanami seluas 241,880 km² (total 12 persen) dan sisanya 
merupakan perbukitan/pegunungan, dan lain-lain. Luas total daratan Indonesia 
sekitar 1,91 juta km².

Luasnya lahan dan terkenalnya negeri ini dengan sebutan negara agraris ternyata 
hanya sekali mengantarkan kita mengalami swasembada beras, yakni pada tahun 
1980. Sampai sekarang swasembada beras tidak pernah terjadi lagi, malahn hal 
yang lebih para terjadi ketika negara telah gagal membangun industri pangannya, 
bangsa ini harus mengimpor beras setiap tahunnya dari Thailand dan Vietnam 
sampai jutaan ton disusul impor pangan lainnya.

Impor Dalam Angka 

Tahun-tahun terakhir ini negara selalu dipenuhi oleh aktivitas impor pangan, 
terutama sejak ditabuhnya genderang rezim SBY. Menurut Rizal Ramli, kita 
mengimpor 1,6 juta ton gula, 1,8 juta ton kedelai, 1,2 juta ton jagung, 1 juta 
ton bungkil makanan ternak, 1,5 juta ton garam, 100 ribu ton kacang tanah dan 
pernah mengimpor 2 juta ton beras (Indonesiaku Tergadai, 2011).

Kurun waktu awal tahun 2011, berbagai komoditas impor menjadi langganan 
pemerintah. Impor bawang merah mencapai 17,25 juta kilogram senilai US$ 5,9 
juta (BPS, 2011). Impor cabe segar mencapai 2.796 ton dengan nilai 2,49 juta 
dollar AS. Ini hanya beberapa bagian dari sektor pertanian. Bidang peternakan, 
impor daging sapi di Indonesia mencapai angka 72.000 ton, sehingga harga daging 
lokal mengalami penurunan drastis. Ditemukannya impor ikan illegal sebesar 
12.060 ton atau 245 kontainer yang ditemukan di beberapa pelabuhan dan bandara, 
yang ternyata 60 persen berasal dari China jelas mengiris hati para nelayan 
bangsa ini.

Baru-baru ini juga pemerintah telah merilis data bahwa tahun ini kita telah 
mengimpor beras 1,7 juta ton senilai 7 triliun, suatu angka yang sangat 
fantastis dan membuat miris hati petani kita. Selain produk pangan di atas, 
kita juga turut mengimpor susu, telur, ikan, gandum, buah-buahan, 
sayur-sayuran, kopi, teh, cokelat, madu, tembakau, bijia-bijian dan hal 
lainnya, bisa dikatakan hampir seluruh produk makanan terjerembab dalam alur 
impor.

Menuruti Tuntutan Lembaga Internasional

Pada tahun 1984, Indonesia pernah mendapat penghargaan dari FAO karena mampu 
swasembada pangan dan kita pernah memberikan pinjaman beras ke negara Filipina, 
namun sejak itu kemampuan swasembada pangan ini semakin menurun akibat 
investasi pemerintah di bidang pertanian semakin berkurang setiap tahunnya. 

Negara Indonesia pada tahun 1998 pernah dipaksa negara maju untuk menurunkan 
tarif beras sampai 0 persen dan Indonesia dilarang memberikan subsidi pupuk. 
Akibatnya petani Indonesia tidak mampu bersaing dengan beras impor yang lebih 
murah.

Kebijakan pemerintah yang menurunkan tarif impor pangan merupakan bagian dari 
komitmen perdagangan bebas, melalui World Trade Organization (WTO) dan Free 
Trade Agreement (FTA) sehingga menjadikan harga pangan impor di Indonesia 
menjadi rendah harganya. 

Menurut Free Trade Watch (FTW, Desember 2011), sejak pemberlakuan Asean China 
Free Trade Agreement (ACFTA) pada tahun 2011, angka impor dari China hingga 
Juli 2011 mendapatkan posisi pertama dengan nilai Rp 14.311 (juta) disusul 
Jepang di posisi kedua dengan nilai Rp 10.449 (juta) kemudian Amerika Serikat 
(AS) Rp 5.095 (juta).

Hancurnya Kedaulatan Petani dan Pangan Lokal

Negara Indonesia sebagai negara keempat terbesar jumlah penduduknya (230 juta 
jiwa) setelah China, India, dan Amerika, menjadikan bangsa ini sebagai sasaran 
empuk negara-negara yang surplus produksi pangannya. Amerika, Kanada, Jepang, 
China , Eropa dan Australia merupakan sebagian negara yang surplus produksi 
pangannya dan berlomba memasukkan berasnya ke negara kekurangan beras, seperti 
Indonesia, Bangladesh, dan Filipina. 

Sebagai contoh, pemerintah Amerika Serikat (AS) mengeluarkan banyak dana untuk 
membantu petaninya yang hanya berjumlah 9 ribu orang saja (rata-rata 200 ha per 
petani) dan mereka juga diberikan subsidi, air, kredit dan promosi ekspor yang 
hal ini juga dilakukan untuk menjaga pangan nasional mereka. Selain hal itu, 
petani AS juga diberikan. Tanpa adanya bantuan yang diberikan oleh 
pemerintahnya, maka mustahil bagi petani Amerika dapat bersaing dalam pasar 
beras global dan mampu mengekspor produksi berasnya serta kondisi ini sangat 
jauh berbeda dengan kebijakan yang diterapkan oleh pemerintahan Indonesia 
(Khudori, Ironi Negara Beras 2008)

Hancurnya produksi pangan dalam negeri diakibatkan karena tidak adanya 
perlindungan pemerintah terhadap pertanian dan industri pangan itu sendiri, 
baik skala kecil maupun menengah. Tidak adanya subsidi telah menghancurkan 
sistem produksi pertanian rakyat. Barang impor menguasai pasar nasional dan hal 
ini tidak terelakkan lagi, sebab harga barang impor jauh lebih murah.

Mahalnya produk pangan nasional, diakibatkan oleh rendahnya dukungan pemerintah 
dan disusul kemudian oleh adanya penambahan biaya produksi pertanian dan pangan 
yang mahal. Penghapusan subsidi, rusaknya infrastruktur, rendahnya fasilitas 
pembiayaan bagi petani serta mahalnya biaya energi menjadi faktor utama 
mahalnya harga pangan nasional. ***

Penulis adalah aktivis Eksekutif Nasional WALHI

Baca Juga Artikel Berita Terkait 
Jumat, 29 Jun 2012 00:02 WIB
Negara Gagal Momentum untuk Berbenah
Rabu, 27 Jun 2012 00:01 WIB
Negara Gagal atau Menjanjikan?
Selasa, 26 Jun 2012 08:25 WIB
Ribut-ribut soal negara gagal
Senin, 25 Jun 2012 10:30 WIB
Soal negara gagal, ini jawaban Seskab Dipo Alam

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke