Tembok China, Makin Tua Makin Menarik
Penulis : Abun Sanda

BEIJING, KOMPAS.com - Apa yang bagus dikunjungi kalau berkunjung ke China? Amat 
banyak obyek yang atraktif, tergantung kita menyukai apa. Kalau ingin 
mengunjungi sentra bisnis yang sudah berusia ribuan tahun, datanglah ke 
Shanghai, Guangzhou, Zhuhai, dan sebagainya. Hendak melihat pertumbuhan ekonomi 
yang amat cepat datanglah ke Shenzhen.

Atau hendak melihat raut China sejak ribuan tahun silam hingga sekarang 
datanglah ke Beijing. Ibu kota Republik Rakyat China ini memang menyimpan 
peninggalan sejarah yang memukau. Di sini di antaranya terdapat tembok besar 
atau tembok raksasa China yang mulai dibangun secara perlahan tahun 722 sebelum 
Masehi.

Ia mulai disatukan dan disempurnakan sebagai satu rangkaian tembok raksasa 
sejak tahun 220 sebelum Masehi, yakni tatkala kaisar pertama China, Qin Shi 
Huangti.berkuasa. Kaisar yang memersatukan China ini praktis disebut sebagai 
kaisar yang membangun tembok besar (Changcheng).. Ketika dihitung ulang, 
diketahui bahwa panjang keseluruhan tembok besar mencapai 8.850 km, hampir 
sembilan kali panjang pulau Jawa.

Panjang 8.850 km itu tentu bukan main-main. Kalau naik mobil dengan kecepatan 
100 km per jam, kemudian mobil melaju terus tanpa henti dan tanpa menggunakan 
rem, maka panjang tembok besar baru dicapai ujungnya setelah melaju selama 88,5 
jam. Bukan main. Kemudian kalau hendak menempuh dengan berjalan kaki, dengan 
kecepatan enam kilometer per jam, bayangkanlah sendiri berapa lama baru Anda 
akan tiba di sana.

Hal yang membuat puluhan juta wisatawan mau datang melihat tembok besar ini 
memang sangat bervariasi. Pertama tentu panjangnya yang amat fantastis. Kedua, 
Changchen tidak sekadar panjang, tetapi juga tampak sangat gagah. Ia berdiri 
kalem dan kokoh di atas bukit-bukit di kawasan dataran tinggi di belahan utara 
Tiongkok.

Pada musim dingin, temperatur bisa mencapai minus 30 derajat celcius, bahkan di 
daerah tertentu, minus 40 derajat celcius. Tak heran, pembuatan tembok besar 
memakan banyak korban. Tiap pembangunan 10 km minimal menelan satu korban 
meninggal. Patut diketahui, ketika itu pemahaman tentang kesehatan dan asupan 
makanan yang berkualitas masih kurang. Cara berpakaian dan bekerja dengan aman 
pun belum banyak diketahui.

Ketiga, tembok besar memberi banyak fantasi. Misalnya perjalanan ke puncak 
tembok, suasana di sekitar tembok maupun belanja di sana selalu menyenangkan. 
Dan China sebagai negara yang mampu meraih setidaknya 40 juta wisatawan asing 
per tahun, sangat tahu bagaimana memperlakukan turis asing. Misalnya, siapa 
yang mampu naik ke salah satu puncak tembok China bisa mendapat plakat, yang 
dibubuhi cap dan nama si pendaki. Tinggal bayar 20 yuan, Anda sudah dapatkan 
plakat, mirip medali yang keren.

Keempat, perjalanan ke tembok China mudah. Start dari Beijing, Anda naik mobil 
atau taksi selama satu jam 15 menit. Lalu hamparan tembok sudah berada di depan 
mata Anda. Pulang dari mendaki tembok besar, Anda sudah bisa bicara besar bahwa 
Anda sudah mencapai salah satu “puncak” tembok. Anda pun pasti tertarik untuk 
memotret, menggunakan kamera milik Anda untuk memotret sebanyak mungkin. Pulang 
ke rumah, Anda pasti bercerita sudah naik tembok besar China dan ikut memotret. 
Cerita tentang perjalanan itu yang paling asyik.

Cerita, potret diri, plakat, oleh-oleh tembok China dan sebagainya kemudian 
menjadi daya tarik luar biasa China. Di tembok besar inilah yang dikehendaki 
pemerintah China. Semakin banyak orang tahu, semakin banyak yang ingin ke sana. 
Semakin banyak wisatawan yang ingin datang melihat tembok besar yang dari tahun 
ke tahun tampak makin menarik.

Kita bisa belajar dari formula China ini “memarketingkan” diri. Obyek wisata 
kita banyak, indah dan mudah dijangkau, dan warga negara Indonesia ramah-ramah.

Editor :
Rusdi Amral

Kirim email ke